
Benar, orang itu masih saja menggangguku setelah meminjam Tipe-X dia malah berusaha untuk mencotek jawabanku. Orang itu selalu mencuri-curi pandang pada lembar jawaban milikku.
Pandainya aku, ku biarkan orang itu mencotek semua jawabanku karena sebenarnya jawaban itu aku salahkan semua. Aku hanya bisa tersenyum tipis melihat kebodohan orang itu, dia pikir aku bodoh apa. Mengijinkan dia mencontek begitu saja.
"Rasain itu, suruh siapa mencontek jawabanku bukan dapat nilai bagus malah dapat nol kamu. Cih! menggunakan alasan meminjam Tipe-X tapi niat sebenarnya adalah mencuri jawaban sangat tidak sopan dan mengganggu saja." Aku tertawa dan membicarakannya dalam hati.
Orang memang selalu mencari keuntungan dari orang lain tapi orang juga lupa bahwa ada sebagian orang memiliki pemikiran yang licik seperti ular.
Di olimpiade ini, banyak sekali orang yang punya niatan untuk melakukan kecurangan, mereka semua berusaha mendapatkan nilai bagus dengan cara apapun kecuali aku yang sama sekali tidak perduli pada olimpiade ini.
Aku melihat kanan dan kiri semua orang sibuk ada yang mengintip jawaban temannya, ada yang konsentrasi, ada juga yang mengeluarkan contekan yang di bawa dari rumah dan ada pula yang santai-santai saja seperti halnya aku.
Pengawas olimpiade kini tinggal satu orang saja mungkin pengawas itu keluar ketika aku sibuk membaca soal yang sangat mudah itu, aku hanya fokus di angka sedangkan untuk teori aku susul belakangan.
Aku mengerti cara kerja olimpiade ini karena itu aku lebih fokus pada angka atau hitung-hitungan, semakin banyak angka yang yang aku selesaikan maka nilainya akan semakin besar pula.
Pengawas yang masih tinggal malah menatap ke arahku lalu dia berdiri dan menghampiri tempat dudukku. Aku hanya pangling saja kenapa tiba-tiba pengawas itu menuju ke arahku.
Semua orang menatapku seakan-akan aku berbuat kesalahan fatal dan tidak bisa di maafkan. Pengawas semakin dekat entah kenapa hatiku malah tidak tenang seperti memiliki perasaan aneh pada wajah pengawas itu.
"Ada apa ini kenapa rasanya kepalaku sakit melihat pengawas ini, ada hubungan apa aku dengan dia. Aku rasa tak asing wajah itu tapi aku melihatnya di mana lalu ada masalah apa hingga aku merasa pusing begini, sepertinya aku harus menanyakan hal ini pada ayah dan ibu. Aku harus tau kenapa aku pusing melihatnya apa hubunganku dengan apa?" dalam batinku mencari jawaban dari semua ini tapi sayang tak ada yang bisa aku temukan.
Semakin aku mencari tau semakin sakit kepalaku, aku tak biasanya seperti ini aku juga tidak pernah begini. Pasti orang ini ada kaitannya denganku tapi aku tidak tau kaitannya di mana.
Akibat hal ini aku berdiri dan langsung pergi meninggalkan ruangan. Aku tidak perduli dengan yang lain karena rasa sakit itu terus bertambah seiring menatap wajah itu, mata pengawas itu sangat meterius banyak sekali pertanyaan yang keluar dari matanya.
Saat aku keluar aku secara tidak sengaja menabrak seseorang pria dia tinggi, putih bersih dan gagah. Aku tak terlalu memperdulikan kejadian itu aku langsung pergi tanpa meminta maaf padanya.
__ADS_1
Pria itu secara spontan meneriakiku dari kejauhan.
"Heeey cewek aneh, nabrak kok gak minta maaf! Dasar aneh!" pria itu meneriakiku sedangkan aku terus melangkah dan mengabaikan perkataannya.
Suasana ruangan yang baru saja aku tinggalkan menjadi sangat ricuh akibat perbuatanku. Banyak siswa yang ikut-ikutan keluar begitu saja sepertiku. Mendengar hal itu, juri menganggap hal ini sangat fatal. Akhirnya aku di panggil ke ruangan para juri.
Aku di seret secara paksa oleh staf di sana, aku merasa diriku ini seperti penjahat yang baru saja meluncurkan aksi kejahatannya. Aku sungguh kesal terhadap perlakuan dari para staf.
Kepala sekolah juga di panggil ke dalam ruangan juri, saat kepala sekolah tiba para juri tak berguna itu mulai mengoceh kepadaku. Aku hanya bisa diam mendengarkan perkataan pedas yang beberapa kali di lontarkan.
Aku hanya bisa meneteskan air mata, aku bukan pemberani seperti orang lain. Aku hanya bisa menerima perkataan dari juri maupun kepala sekolah. Mereka tidak mau mengerti keadaanku, tak memberiku kesempatan untuk menjelaskan kenapa aku meninggalkan ruangan.
Juri itu sangat egois dia hanya mementingkan argumennya menganggap dirinya paling benar saja. Akibatnya, aku melakukan hal yang sama lagi. Ku tinggal tempat itu dengan berlari kemudian aku menelepon Paman Riko untuk menjemputku.
Sangat tidak tahan rasanya, telingaku sungguh panas mendengarkan itu semua. Tak berapa lama, kepala sekolah ternyata mengejarku dia ingin aku tetap melanjutkan olimpiade itu.
"Pulang, tidak ada yang harus di perjuangan di sini!" jawabku dengan sinis kepada kepala sekolah.
"Tapi, semuanya belum selesai. Kenapa kau ingin pergi ingat sekolah membutuhkanmu!" ucap kepala sekolah.
"Maaf, kepala sekolah terhormat. Aku tau sekolah tidak membutuhkan aku melainkan membutuhkan piala bergengsi itu! Cukup, aku sudah tau semuanya jangan karena kau kepala sekolah lalu bertindak semaunya sendiri." Balasku pada kepala sekolah.
"Hei! berani sekali kau mengatakan hal itu, benar kami tidak membutuhkanmu! Masih banyak di luar sana yang menginginkannya, kami hanya membutuhkan otakmu bukan dirimu!" kepala sekolah meneriakiku.
"Baiklah, tunggu surat pengunduran diriku di atas mejamu besok! Ingat kembalikan semua yang aku berikan pada sekolah itu! Jika dalam waktu satu kali dua puluh empat jam kau tidak mengembalikannya pasti kau akan menanggung akibatnya." Aku mengancam kepala sekolah.
Tidak tau kenapa aku merasa mejadi seperti orang lain tidak seperti biasanya. Apa ini semua akibat sering di cemooh oleh kepala sekolah atau karena hinaannya padaku.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian, Paman Riko menelepon diriku.
Drrrtttt, Drrrtttt, Drrrtttt
"Eh, ada telepon masuk dari Paman Riko. Hello Paman ada apa? Paman sudah sampai di mana?" aku angkat telepon dari Paman Riko.
"Tidak ada masalah apapun Non, ini saya sudah hampir sampai lima menit lagi Nona harap menunggu dengan sabar." Kata Paman Riko.
"Baiklah, aku putuskan teleponnya sekarang." Ku akhiri panggilan saat itu.
Kepala sekolah masih melihatku dengan tatapan kebencian, mana perduli aku dengan tatapannya. Intinya besok pagi surat pengunduran diri dari sekolah harus sampai di tangannya. Setelah itu, aku harus mendaftar pada sekolah baru lagi.
Aku memang membuat keputusan sendiri tanpa persetujuan dari ayah dan ibu. Tapi, aku akan menceritakan ini semua pada mereka meskipun nantinya pasti akan kena marah lagi.
Saat itu aku lupa bahwa ayah dan ibu masih tidak memaafkan aku karena perlakuanku saat sarapan. Ayah dan ibu tetap mencapku sebagai anak yang tidak tau aturan.
Aku sungguh bingung harus berbuat apa....
**Hai para reades 😊
Selamat literasi tetap semangat jalani hari 😘
Jangan lupa bahagia hari ini 😂
Selamat menunaikan ibadah puasa 😚 bagi yang menjalankannya 🙂
Salam hangat dari author pemula ❤️**
__ADS_1