
Aku melihat seekor hewan yang aneh aku hanya terdiam melihat hewan itu terus mendekatiku. Hewan ini memiliki cahaya pada kakinya.
"Eh hewan apa ini seperti seekor serigala! Tapi kenapa kaki sebelah kirinya memiliki cahaya biru dan membentuk sebuah garis yang sangat unik. Apa aku sedang bermimpi lagi? Kenapa aku melihatnya di siang bolong begini? Bagaimana sekarang? Aku rasa harus segera pergi dari sini atau aku akan di terkam olehnya." Aku berdiri mematung dan menanyakan banyak hal dia hatiku.
Ketika hewan ini hampir sampai di depanku hewan ini malah berlari pergi meninggalkan aku kearah hutan yang sangat lebat. Kurasa hari ini aku sedang beruntung karena hewan itu pergi meninggalkan aku dengan cuma-cuma.
Hewan ini sudah jauh berlalu aku lanjut menaiki batu lalu manaiki batang pohon yang sama. Ternyata pohon yang aku panjat ini adalah pohon Teka. Pohon ini memang sangat sering tumbuh di pegunungan dan sangat subur.
Aku kembali menikmati suasana yang telah berlalu waktu itu, banyak sekali suara hewan. Aku juga memiliki peliharaan kesayanganku dia bernama Dondo. Tapi hari ini peliharaanku sedang di mandikan oleh pengurus binatang.
Jadwal mandi peliharaanku tiga kali sehari ini wajib dilakukan sebab aku benci kotor. Peliharaanku sangat penurut dia suka memberikan kejutan padaku.
Hari mulai gelap....
Aku bersiap-siap untuk menemui Paman Ho. Paman Ho sudah berjanji padaku tadi pagi tapi aku tak yakin dia akan menepatinya. Aku hanya bisa memberikan kesempatan pada Paman Ho masalah dia ingkar janji aku masih bisa mencarinya.
Sebelum bertemu Paman Ho aku meminta izin terlebih dahulu pada bibi karena setiap malam bibi akan menemaniku sampai aku tertidur lelap barulah bibi meninggalkan kamarku. Banyak orang di rumah yang menganggap bibi adalah pengasuhku tapi orang lain tidak salah mengatakan hal ini.
Bibi memang seperti pengasuh bagiku. Namun, lebih tepatnya bibi seperti pengganti ibu bagiku. Hanya bibi yang mau mendengarkan semua keluhan yang aku punya. Bibi adalah satu-satunya tempatku melabuhkan semua kasih sayang yang ada.
Umur bibi memang terbilang cukup tua tetapi staminanya sangat besar melebihi jiwa anak muda jaman sekarang yang kerjaannya hanya memerintah pada orang tuanya.
Aku takut suatu saat bibi akan meninggalkan aku sendirian. Di hatiku dan napasku hanya untuk bibi seorang jika aku di suruh memilih antara bibi dan ibu aku akan memilih bibi. Meskipun ibu yang melahirkanku namun ibu tak pernah memberikan aku kasih sayang yang ibu punya untukku.
Aku mencari bibi kesana kemari tapi tak kunjung pula menemukan keberadaan bibi. Akibatnya aku menunggu bibi di dapur, biasanya jam segini bibi akan menyiapkan susu untuk semua orang tak terkecuali aku.
__ADS_1
"Hah, di mana Bibi berada sekarang tak biasanya Bibi tiba-tiba menghilangkan seperti ini, Bibi kamu di mana dengan siapa sekarang berbuat apa? Sepertinya aku memang harus sedikit bersabar menunggu Bibi. Semoga saja Paman Ho belum sampai di taman belakang jika tidak aku tidak akan mendapatkan apa-apa hari ini. Aku harus gimana, ini sungguh membingungkan!" Aku mengepal tanganku dengan kuat.
Aku menunggu bibi hanya sekitar dua menit akhirnya bibi datang juga ke dapur. Aku dengan buru-buru langsung mengucapkan apa yang ingin aku katakan pada bibi.
"Bibi, kemana saja? Aku menunggu Bibi di sini dari tadi! Aku mau bilang aku akan menemui Paman Ho di taman belakang hanya lima menit saja aku akan kembali setelah itu. Jangan merindukan aku ya Bi," ucapku tanpa bernapas.
"Non, kenapa buru-buru banyak sekali pertanyaan yang anda tanyakan gimana cara bibi menjawab semua ini? Tolong sampaikan pelan-pelan bibi sudah tua," jawab bibi dengan menertawai tingkah konyolku.
Melihat hal ini, aku rasa aku akan berbicara pada intinya saja agar tidak buang-buang waktu nantinya.
"Begini Bibi aku akan menemui Paman Ho di taman belakang. Boleh ya Bi." Aku membujuk bibi dengan menyatukan kedua tanganku dan memasang wajah manisku.
Bibi membalas semua tingkahku dengan senyuman dia juga mencubit pipiku dengan sangat lembut. Mungkin bibi gemas melihat tingkahku.
"Terimakasih Bibi, aku mencintaimu." Aku menjinjitkan kakiku untuk memberikan bibi hadiah kecil yaitu kecupan manis dariku di pipi bibi tercintaku itu.
"Anak konyol!" seru bibi padaku.
"Konyol-konyol kau suka bukan Bibi!" Aku menggoda bibi dan berlari menuju taman belakang.
"Kimmy sudah semakin bertambah usianya aku tak tau kapan akan kesempatan yang tepat untuk menceritakan semua kebenarannya. Aku tau otak anak itu tidak seperti orang yang normal, dia dari kecil sudah sangat menggemaskan. Sayang sekali kesadarannya sudah berbeda. Aku sedih melihat hal ini terjadi pada bocah itu." Tutur bibi dalam batinnya.
Sesudah menggoda bibi aku melihat Paman Ho sudah menunggu di taman belakang. Tapi, Paman Ho terlihat seperti orang lain. Aku menyapa Paman Ho untuk memastikan memang dia adalah Paman dan bukan orang lain.
"Paa-aman?" aku meneriaki orang membelakangiku itu.
__ADS_1
"Nona Muda sudah sampai ya. Mari duduk Nona, Apa yang ingin anda sampaikan pada saya?" berbalik sekaligus menjawab perkataanku lalu menawarkan aku duduk di kursi yang tak jauh dari Paman Ho.
"Terus Paman, aku ingin menanyakan sesuatu boleh?" Aku duduk di samping paman.
"Tanyakan saja yang ingin Nona tanyakan tidak perlu ragu." Paman Ho mengalihkan pandangannya ke atas langit.
"Bisakah Paman memberitahuku seperti apa masa laluku?" Aku juga mengikuti Paman memandangi langit malam yang memang sangat indah dan dihiasi oleh bulan purnama serta bintang yang kelap-kelip.
"Saya akan menceritakan semuanya pada Nona tapi saya rasa ini bukan waktu yang tepat, saya sudah berjanji pada seseorang untuk menceritakan semuanya pada saat Nona berusia dua tahun. Sayangnya, saat ini Nona masih berusia sepuluh tahun." Paman malah memasang wajah sedih seakan-akan baru saja di tinggalkan oleh orang yang paling dia sayangi.
"Dua puluh tahun? Kenapa tidak mengatakannya sekarang saja? Mengapa harus menunggu aku berusia dua puluh tahun? Itupun jika Paman hidup jika tidak, siapa yang akan memberitahuku semuanya?" ujarku pada paman.
"Nona tidak perlu khawatir, saya sudah menyiapkan segala semoga saja hidup saya masih panjang. Agar saya bisa menceritakan segalanya secara langsung pada Nona Muda. Ini sudah larut saya pamit undur diri dulu, Nona Muda cepatlah masuk dan beristirahat." Paman Ho berdiri dan langsung meninggalkan aku begitu saja.
"Baiklah Paman, terimakasih!" Aku menyusul Paman Ho memasuki rumah.
"Maafkan saya Nona Muda, saya tidak bisa menceritakannya sekarang!" Dalam hati Paman Ho.
Halo semua gimana kabarnya sehatkan?
Akhirnya hari yang kalian tunggu sudah tiba!
Terimakasih sudah berkunjung 🤗
Salam hangat dari author pemula ❤️
__ADS_1