Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Ulang Tahun Kakak


__ADS_3

Tepat setelah, aku menolak ajakan ayah untuk bermain siapa yang menyangka bahwa keesokan harinya adalah hari ulang tahun saudariku.


Rasa kesal ini masih membara siapa yang ingin datang ke acara ulang tahunnya. Sungguh menyebalkan aku tak pernah mengira rencana pesta ulang tahunnya sangat megah dan mewah.


Siapa yang tidak tau selera keluargaku yang kaya raya ini. Keluargaku sangat senang menyambut hari ulang tahun saudariku tercinta itu.


Orang tuaku mengadakan pesta di hotel berbintang, tak tanggung-tanggung orang tuaku menyewa semua ruangan benar dari bawah hingga atas. Buang-buang uang saja.


Aku benci dengan acara ulang tahunnya kali ini maklum saja kemarin kakak menyakiti hatiku dan kakak tidak ada niatan untuk meminta maaf padaku. Sungguh keterlaluan! Aku sangat tidak suka hari ulang tahunnya.


Aku berencana untuk menghancurkan acara ini tapi aku masih memandang wajah ayah dan ibu jika tidak.


Ayah sudah menyiapkan kue yang begitu besar tentu saja harganya mahal. Sedangkan ibu meminta bantuanku untuk memilih dekorasi yang cocok.


Rasa sebalku semakin memanas sebab kelakuan dari kakakku yang tidak tau diri itu. Aku melihat kakak sangat senang dengan acara ulang tahunnya sekarang ini, kakak sibuk memilih gaun yang cocok dipakai ketika pesta dirayakan.


Banyak sekali orang yang di undang dalam acara ini, padahal ayah dan ibu tau aku tidak suka keramaian. Tentu saja ini membuatku semakin tidak suka.


Ibu sudah memilihkan baju yang akan aku kenakan di pesta nanti malam. Semua orang sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing berbeda denganku. Aku hanya menatap dari kejauhan tanpa berbuat apa-apa.


Semua orang bergegas menuju ke hotel yang sudah di pesan oleh ayah kemarin malam. Sedangkan, aku tetap berada di rumah bersama Bibi Law.


"Bi, aku sangat lelah hari ini." Keluhku pada Bibi Law.


"Nona istirahat saja biar Bibi yang memberi taukan pada Tuan dan Nyonya," ucap Bibi Law.


"Tapi, hari ini adalah ulang tahun saudariku. Apakah pantas jika aku tidak menghadirinya?" Tanyaku pada Bibi Law.


"Jika Nona, memang lelah kenapa harus di paksakan," kata Bibi Law.


"Bibi, bisakah aku tidur di pangkuanmu sebentar saja." Pintaku pada Bibi Law.


"Tak perlu di tanyakan Anak manis." Duduk di sampingku.


"Aku sungguh letih Bibi." Membaringkan tubuhku, lalu meletakkan kepalaku pada pangkuan Bibi Law.


"Tidurlah Nona! Pasti bisa mengurangi lelahmu." Mengelus kepalaku dengan lembut.


"Baiklah, bolehkah aku meminta satu hal lagi?" Tanyaku pada Bibi Law.

__ADS_1


"Silahkan utarakan saja." Senyum manis padaku.


"Aku ingin di dongengi sesuatu Bibi, bolehkah?"


"Tak masalah, Bibi ceritakan sekarang tapi janji Nona harus tidur ya!"


Aku hanya menganggukkan kepala lalu memejamkan mataku. Bibi Law mulai bercerita tentang kehidupan seorang ratu di masa lalu.


Cerita itu memang kuno tapi pesannya sangat penting bagi orang yang mendengarnya apalagi untukku.


Aku mulai terlelap dalam tidur yang menyapa dan mengajakku singgah sejenak. Pikiranku mulai berterbangan kesana-kemari.


Dalam mimpi aku bertemu seorang pria yang mengisyaratkan sesuatu yang sungguh aku tidak bisa menebak apalagi memahami maksud dari isyarat yang diberikan padaku.


Aku sungguh ingin tau isyarat yang diberikan oleh laki-laki misterius itu. Wajahnya buram sulit untuk dikenali.


Beberapa jam kemudian, aku mulai terbangun dari tidur yang membingungkan itu. Setelah itu, aku langsung membuka handphone dan mencari tau isyarat itu.


Sayang beribu kali sayang tak ada satupun informasi dari isyarat itu. Aku rasa saatnya berpikir jernih, tidak boleh terbawa oleh arus mimpi. Aku tau mimpi hanyalah bunga tidur tapi, sebagian dari itu ada juga yang nyata.


Hari ini aku putuskan untuk tidak mencari tau lagi tentang mimpiku. Namun, aku merasa harus segera menyelesaikan rasa penasaran yang ada saat ini.


"Kimmy sini." Teriak ibu.


"Iya Bu, tunggu!" Balasku.


"Cepat lelet banget sih kamu ini, sudah tau Kakakmu hari ini ulang tahun malah tidak membantu adik macam apa kamu ini!" Protes ibu kepadaku.


Aku hanya bisa diam mendengar perkataan ibu yang lumayan menyakitkan hati.


"Diajak bicara malah gak jawab, maunya kamu apa sih Kim. Sana bantu Kakakmu sekarang! Dia menunggumu di taman belakang cepat!" Sentak ibu.


"Oke." Ku balas dengan nada dingin.


Hampir saja aku melangkahkan kakiku untuk menemui sang kakak tapi ibu malah melanjutkan perkataannya.


"Udah sana jalan! Masih nunggu apa lagi?" Sorak ibu.


Geram aku sungguh geram pada ibu ingin aku teriak padanya walaupun aku tidak bisa melakukan hal itu.

__ADS_1


Aku hanya anak lemah, penurut dan cengeng baimana bisa aku menjadi jagoan tanpa ada bantuan dari belakang layar.


Dengan sangat terpaksa aku menemui kakak. Aku sangat tidak ingin bertemu dengan kakak dan tidak ingin juga memandangi wajahnya.


Malam pesta ulang tahun ....


Akhirnya malam mulai menyapa, aku sudah berpakaian rapi dan bersih. Bibi Law sudah mendandaniku dengan sangat cantik melebihi kecantikan kakak yang berulang tahun.


Banyak sekali tamu yang seliweran di mana-mana membuat kepalaku pening melihatnya. Akibatnya, aku duduk saja sambil makan makanan yang sudah di sediakan.


Satu hotel sudah penuh dengan tamu undangan. Ayah dan ibu naik turun untuk menyambut kedatangan semua tamu. Kakak juga sibuk menyambut kedatangan teman-teman sekolahnya.


Ada juga sebagian orang yang menyapaku dengan hangat. Tapi, aku membalasnya dengan acuh tak acuh. Tamu itu juga sudah tau sikapku sangat dingin pada orang lain.


Setelah menunggu lama, saatnya acara potong kue. Semua orang mulai menyanyikan lagu ulang tahun untuk saudariku kecuali aku yang hanya diam melihat semuanya terjadi.


Aku seperti orang asing yang tak sengaja berpijak di salah satu tempat baru. Begitu yang aku rasakan, ayah ibu tidak memperhatikan aku.


Orang tuaku sibuk menantikan potongan kue pertama dari kakak. Akhirnya, ibu dan ayah mendapatkan potongan kue pertama mereka menggigit kue itu dengan sangat bahagia.


Tak lupa juga ibu dan ayah mendoakan kakak, aku tak pernah melihat ini terjadi ketika pesta ulang tahunku.


Ternyata ayah dan ibu sudah menyiapkan hadiah yang sangat indah dan langka untuk kakak. Aku tetap menyimak tanpa mengucapkan sepatah katapun dari mulut indahku.


Kakak kemudian memotong kue yang kedua, dia memberikan itu pada seseorang laki-laki yang sebaya dengan dirinya. Aku tak menyangka kakak tidak memberikan potongan itu padaku.


Rasa kecewaku semakin besar pada kakak. Aku tak pernah mengira dia akan memberikan potongan kue yang kelima padaku. Ayah hanya tertawa mengira ini adalah sebuah lelucon.


Aku sungguh malu dengan tingkah kakak yang keterlaluan padaku. Karena itu, aku pergi dari pesta ulang tahun yang membosankan itu.


**Halo kak 😉


Terimakasih sudah mampir😊


Jangan lupa Like, Rate 5 dan Komen 😘


Semangat buat yang puasa dan yang tidak harus lebih semangat🥰


Salam hangat dari author pemula ❤️**

__ADS_1


__ADS_2