Maju Selangkah Mati

Maju Selangkah Mati
Mimpi Lelaki Yang Sama


__ADS_3

Keluarga Tante Alexa sebenarnya adalah salah satu komplotan mafia banyak sekali rahasia yang di tutupi oleh keluarga Gu satu ini.


Setelah berbincang-bincang dengan Tante Alexa, Mie Gu menemuiku di kamar aku tidak tau apa yang ingin dia bicarakan padaku tapi aku tidak pernah memiliki firasat buruk terhadapnya.


Aku menyambutnya dengan senyuman meskipun senyum ini palsu namun bagi Mei ini adalah sungguhan.


Mei dan aku sebenarnya tidak pernah saling berkenalan. Aku tak tau niat dia menemui diriku untuk apa.


Saat dia menatapku dan melangkah ke arahku. Mei sepertinya sedang mencari sesuatu di kamarku ini. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya padanya.


"Mei, apa yang kau cari?" tanyaku pada Mei.


"Gue hanya mencari potongan kertas yang tidak sengaja gue tinggalkan di sini!" balasnya padaku.


"Kau mengingat warna kertas itu dan meletakkannya di mana tadi?" Aku berdiri dan mengambil Mei.


"Sepertinya di dekat kasur ini tapi kenapa tidak ada di sini, apa Mama mengambilnya tadi?" Mei bertanya dengan wajah panik.


"Memang isi kertas itu apa? Tadi kurasa Tante Alexa memang mengambilnya ketika aku hendak ke kamar mandi." Aku memberi tau hal yang sebenarnya terjadi.


"Ini sangat bahaya kamu harus bantu gue mendapatkan kembali kertas itu. Kalau tidak, maka...." Mei tiba-tiba menghentikan perkataannya.


"Maka apa? katakan yang sebenarnya!" gertakku pada Mei.


"Gue gak bisa jelasin sekarang lo gak bakal paham!" Mei menjawabku dengan sangat kasar.


"Sudah! Pergi dari kamarku aku tidak suka di bentak!" aku mengusir Mei dari kamarku.


Hal tadi, benar-benar membuatku marah. Aku sangat letih dengan kejadian hari ini. Kemudian, aku membaringkan kembali tubuh ini pada ranjang kesayanganku.


"Apa isi kertas itu? Kenapa Mei sampai membentakku hanya karena sepotong kertas aku rasa itu adalah hal yang sangat rahasia. Sebaiknya, aku tidur saja dulu lain kali aku harus menanyakan ini pada Mei." Aku menutup mata dan menarik selimut kemudian mematikan lampu.


Sedangkan di ruang tamu Tante Alexa, ibu, ayah dan kakak sedang membincangkan sesuatu.


"Aku sangat kaget mendengar kabar ini, kenapa bisa seperti ini?" tanya tante.


"Haduh, Kakak kau tidak tau? Kimmy itu ank yang kurang baik setiap hari pekerjaannya hanya membuat masalah padahal dia memiliki otak yang pintar! Berbeda halnya dengan Canlan anak manis yang penurut tak pernah berulah seperti Kimmy." Ibu mulai membanding-bandingkan aku dengan kakak.

__ADS_1


"Tak tau aturan sama sekali anak itu, apa kau sudah memberikan pelajaran padanya agar tidak mengulangi kesalahan-kesalahan yang sudah dia buat." Balas tante.


"Sudah Kakak ipar, malah dia makin berani padaku dan adikmu. Kemaren saja dia berani menjawabku di meja makan, bagaimana caraku mengatasinya?" ayah berjalan menuruni tangga.


"Benar sekali itu Tante, aku sebagai Kakaknya sangat menyayangkan sikap adikku itu. Semoga saja dia cepet tersadar dengan kesalahannya pada Ayah dan Ibu." Timpal kakak.


"Canlan benarkah? Tapi Tante rasa tidak seperti itu. Soalnya tadi Tante baru saja selesai mengobrol dengan anak itu dia sangat baik dan ramah pada Tante." Sembari mengangkat gelas yang ada di depannya dan meminumnya setelah usai berbicara.


"Benar itu Tante, Adik mungkin hanya mencari muka saja pada Tante. Coba saja Tante lihat kelakuannya besok pagi. Adik pasti akan berulah lagi!" kakak terus berusaha menjatuhkannya nama baikku di hadapan tante.


"Oke, kita lihat saja besok. Semoga yang kamu katakan hanya omong kosong saja, aku tidak bisa menilai Kimmy hanya dengan sekali bertemu!" Tante Alexa bangkit dari duduknya dan langsung meninggalkan mereka semua.


Aku mulai memimpikan laki-laki yang sama seperti di hari ulang tahun saudariku sama seperti waktu itu kali ini aku tetap tidak bisa melihat wajah dari laki-laki itu.


Laki-laki itu tetap memberikan isyarat seperti waktu itu tapi kali ini dia seperti ingin mengajakku ke suatu tempat. Laki-laki ini terus berlari menjauh dari pandanganku.


Karena rasa penasaranku semakin merajalela aku memutuskan untuk mengejarnya. Laki-laki ini berlari sangat cepat membuatku kelelahan.


Aku tanpa sengaja melihat wajahnya di sela keletihan yang aku rasakan. Laki-laki ini adalah pria paruh baya yang sangat asing bagiku. Namun ketika dia memalingkan wajahnya padaku aku mulai merasakan keakrabannya padanya.


Rasa penasaran ini semakin tak terkendali aku tak bisa menahannya. Akibatnya, aku terus bertekad mengejarnya lagi dan lagi. Tapi, saat aku hampir saja menangkapnya ada sesosok wanita cantik.


Mimpi ini seperti sudah aku lewati dulu, aku tak tau apa yang sebenarnya terjadi karena aku kehilangan ingatan masa kecilku tak ada satupun yang bisa memberi petunjuk padaku.


Tiba-tiba wanita dan laki-laki ini pergi bersama dan meninggalkan aku dengan senyuman samar.


Saat itu, hatiku seperti sedang retak dan jantungku seketika berhenti berdetak. Aku merasa sudah mati dan meninggalkan dunia ini, tetapi tiba-tiba aku melihat sebuah cahaya yang begitu terang.


Cahaya ini seperti memiliki magnet yang menarik tubuhku ke arah cahaya. Aku tidak bisa melakukan apa-apa karena kekuatan cahaya ini semakin besar ketika aku memberontak.


Aku sudah masuk di dalam cahaya tadi dan secara spontan aku terbangun dari tidurku. Tubuhku di penuhi oleh keringat dingin, napasku tak beraturan seperti memang benar-benar mengejar orang itu.


Tubuhku lelah, tanganku gemetaran dan kepalaku sakit. Aku mendengar langkah kaki yang mendekati kamar ini.


Benar saja, pintu kamarku ada yang mengetuk. Terdengar suara dari luar memanggi-manggil diriku dengan sebutan nona.


Tok, Tok, Tok....

__ADS_1


"Nona, Nona, Nona."


"Nona apakah anda ada di kamar, ini saya Bibi Law." Terus mengetuk pintu.


"Iya, tunggu sebentar Bibi aku datang!" aku berteriak dari dalam kamar.


"Siap Nona, saya tunggu anda membuka pintu." Bibi menjawab pertanyaanku.


Aku masih mencari kunci kamar. Sebab, aku lupa meletakkannya di mana tadi sebelum tidur.


Bibi terus memanggilku, akhirnya aku menemukan kunci kamarku. Aku hendak membuka pintu kamar tapi jendelaku malah terbuka lebar.


Aku berteriak lagi pada bibi untuk menunggu lagi sebentar.


"Bibi bisakah kau menunggu sekitar lima menit saja, aku masih mencari kunci kamar." Teriak sembari melangkahkan kakiku ke arah yang berbeda.


"Baiklah Nona, bibi akan menunggu semoga kuncinya bisa anda temukan dengan cepat," balas bibi.


"Oke Bi, tunggu ya!"


Aku terus mendekati jendela kamarku, langkah demi langkah aku menuju ke tempat jendela. Angin di luar sangat kencang.


Ketika aku sampai di jendela tiba-tiba....


"Apa yang terjadi Kimmy? Apa kau berusaha menakut-nakutiku," ucap Author.


"Jangan kepedean jadi orang! Aku sedang mengerjai pembaca. Hahahaha...."


**Hai para reades 😊


Maaf saya belum bisa mampir dinovel kalian, hari Kamis saya akan melunasi semuanya 😉


Maklum ujiannya belum kelar 😣


Terimakasih sudah mampir 😘


Semoga semuanya tetap di berikan kesehatan dan rejeki yang berlimpah 🙏

__ADS_1


Salam hangat dari author pemula** ❤️


__ADS_2