
Hani dan Adit pun bangun pagi pagi. Mandi tak lupa keramas merupakan jadwal penting mereka.
"Yang ...kamu antarkan Alia pulang gih," suruh Adit sambil mengeringkan rambut Hani.
"Tapi ...yank ...mbak Alia kan bisa pulang sendiri." Rajuk Hani yang seakan akan takut kehilangan Adit.
"Hayolah...cantik ntar sore mas jemput sekalian nganter Sugeng minta melamar Alia." jelas Adit .
"Okey...tapi..." tangan Hani pun menengadah.
"O iya ...ini Atm buat jajan. kamu setiap bulan aku tranfer 10 juta.terus yang ini buat belanja bulanan." Adit menyodorkan 2 kartu pada Hani.
Ya ampun yank...ini kebanyakan " Hani pun meloncat memeluk Adit.
"Acchh...jadi pingin lagi."
"Engga..,pekik hani.aku sudah keramas tau," lanjutnya manyun.
"Kirain mau lagi," Adit menyentil hidung Hani.
"Terimakasih sayang, love you too."
"love you too more my Hani."
Keduanya pun. berpelukan.
Tok...tok...tok..suara ketukan pintu.
"Dit..."panggil suara yang di luar.
"Ya sebentar geng. " sahut Adit.
Adit dan Hani pun keluar.Hani sudah mengenakan tas selempangnya tak lupa tangan kanannya memegang hape.
"Han..bawa mbakmu pulang dulu ya ," pinta Sugeng.
"Siap boss,"
"loh mbak sudah siap," tanya Hani sambil menatap koper milik Alia.
"iya," sahut Alia menggangguku kecil
"Taksi online sudah di depan menunggu. hati hati Al. " Sugeng mengecup kening Alia dan mengusap sang jabang bayi yang masih ada dalam perut Alia.
"Yank ...hati hati .." sela Adit. tanpa malu malu Adit mencium bibir hani.di depan kakak dan calon kakak iparnya. Sugeng pun melayangkan tangannya ke pundak Adit.
"Sakit geng ," rintih Adit .
"Mentang mentang bos seenaknya ciuman ," celoteh Sugeng diikuti cengiran Adit dan Hani serta jari mereka membentuk huruf v.
Hani dan Alia pun meninggalkan rumah Adit menuju rumah pak Rebo.
"Papa,bunda.." tanya Hani memecah keheningan.
Alia menggeleng dengan raut muka sedih.
"Maafkan aku dek.seharusnya aku yang menikah dengan mas Adit.," lirih Alia dengan nada penyesalan.
"Sudahlah mbak .."
"4 hari ini aku bahagia,"
Hanipun memeluk Alia." Terima kasih sayang ," guman Alia .
__ADS_1
Taksi online pun tiba di depan rumah kami dimana. Ku ketuk pintu rumah bunda.
"BundA...bundA..." teriakku memanggil bunda.
"lampu depan masih nyala tumben ," Alia pun mengecek pintu samping.
"Di gembok All..."
"coba telpon papa," .
"Neng Hani ...bund dan pak rebo ada di rumah sakit." terang tetangga sebelah kami.
"Rumah sakit? ..."tubuh Hani bergetar hebat lemas lunglai kalau tidak ditopang mbak Alia mungkin sudah ambruk.
"Pak rebo kena serangan jantung," tambah tetangGa sebelah.
Alia pun. menghidupkan hpnya memang banyak miscal dari pak rebo.
"Terimakasih,Bu ," ucap alia.
"Hidupkan GPS cari hp papa mbak," kata Hani sambil mencoba berdiri.
Hani merogoh ponselnya di bukanya aplikasi berlogo hijau.
"Yank...cepat ke rumah papa ," ketik Hani.
Tak lama telepon pun berbunyi. Di usapnya layar hapenya terpampang wajah Adit.
"Kenapa yank," tanya Adit was was.
"Papa yank...papa ...." isak Hani
"Kenapa papa..."
"Tut....Tut...Tut....yank...yank...," teriak Adit.
Adit pun mencari keberadaan Sugeng yang bersiap berganti baju.
"Geng ...kita ke rumah pak rebo sekarang ,"
"Ada apa..." tanya Sugeng.
"Pak Rebo masuk rumah sakit," terang Adit.
"What ..."
flash back
Di rumah pak rebo
Sepeninggal Alia dari rumah bunda mencari Ali di kamarnya . Mata bunda tertuju di sebuah meja rias sebuah berbagai merk testpek tergeletak . di sampingnya sebuah buku harian milik Alia.
"Milik siapa , " batin bunda kaget hampir jantung bunda berhenti berdetak. Bunda pun berteriak memanggil papa.
"Pah...papah..." teriak bunda . Sang papa pun meletakan kopi nya di meja dan berjalan tergopoh gopoh mendekati bunda. Betapa kagetnya papa melihat seonggok taspek.
"Milik siapa ,Bun ," tanya Papa.
Bunda pun membuka diari Alia.
Dear...anak mama...deg..jantung bunda terasa berhenti takala membaca diari Alia . tangan bunda mengepal air matanya berjatuhan. Papa segera menyadari di sahutnya buku harian Alia.
Deg...jantung papa seakan akan berhenti airmata ya lolos begitu saja.
__ADS_1
Tiba tiba papa memegang dada sebelahnya. Nafas papa mulai tersengal sengal. Bunda yang ada di sebelah papa tiba tiba menjerit.
Papa jatuh tak sadarkan diri. Bunda pun berlari ke tetangga minta tolong ke tetangga tapi sebelum pergi bunda menyembunyikan diari dan tespek di laci meja rias.
Bunda terguguk saat menatap.sang suami di gotong di bawa ke mobil.
" Papa...papa yang kuat ya," bunda memegang tangan papa yang mulai mendingin. Di gosok gosokan tangan bunda ke tubuh papa.
Mobil yang membawa papa akhirnya sampai di rumah sakit . papa di taruh di atas brangkar Dokter pun berdatangan menghampiri papa.
"Yang kuat ya Bu,"ucap dokter sambil melepas kacamatanya.
"Suami saya bagaimana dok,"
"Bapak sedang di masa kritis,"
"Pa jangan tinggalin bunda pa." keluh bunda.
Papa di bawa ke ruang ICu detak jantung papa di monitoring sedangkan di dadanya terpasang berbagai selang yang menempel.
Tut...Tut...Tut....tiba tiba garis panjang memenuhi layar monitor. Suster yang mengawasi papa terkejut dipanggilnya dokter .
Bunda yang sedari tadi diluar panik ingin masuk ke ruang ICU.
Tak selang berapa lama dokter keluar dari ruangan .
"Yang sabar ya Bu , saya ikut berbelasungkawa," Ucap dokter ke pada bunda.
Jleb...bunda terhuyung mundur kemudian tak sadarkan diri. Dokter pun kaget ia pun berteriak memanggil.suster yang menutup tubuh papa dengan kain putih.
Bunda pun tersadar dipeluknya laki laki yang 25 tahun menemaninya.
"Papa..." histeris bunda.
"Jangan tinggalin bunda ,hiks...hiks...hiks..."
Alia melacak keberadaan papa. dan ketemu.Alia pun memesan taksi online. Beruntung Adit dan Sugeng cepat datang,Alia membatalkan pesanan taksi nya kemudian bersama mereka mencari papa di queen latifA.
Mobil adit melaju dengan cepat tak sampai satu jam sampai di rumah sakit.
Mereka melihat sang bunda memeluk tubuh kaku papa.
"Bunda.....panggil Hani setengah berteriak.
Hani memeluk bunda tapi ketika netra bunda menatap Alia wajah bunda melengos.
Deeeegggg....
Hati Alia berkecamuk ada perasaan bersalah dalam diri Alia.
"papa...Han.." lirih bunda.
"Papa...." Hani melepaskan pelukan bunda beralih ke tubuh yang di tutup kain itu,dibuka nya perlahan lahan di tatapnya wajah itu untuk yang terakhir kalinya.
"Papa...bangun pa....bangun," Hani menangis sejadi jadinya kedua tangannya menggoyang ngoyangkan lengan papa sambil berharap keajaiban datang .
Sugeng dan Adit melemas melihat papa .
"Yank...sudah biarkan papa beristirahat dengan tenang," hibur Adit.
Hana menengok Adit.
"Yank...bangunin papa yank...bangunin ..." lirih Hani.
__ADS_1
"Papa..." guman Alia mulai mendekat hendak membangunkan papa.
"Jangan sentuh suamiku," bentak bunda membuat kami terkejut dan Alia tersurut mundur.