Malam Pertama Dengan Bos Papa

Malam Pertama Dengan Bos Papa
Bab 17


__ADS_3

"Punggungku,"teriak Adit .Di kuceknya matanya. Ternyata Adit bermimpi ia jatuh dari sofa.


"Huuuufffff," Dia menghela nafas panjang dan mulai tampak mengeluh. Adit pun bangkit berjalan menuju kamarnya dengan memegangi pinggangnya.


"Owhhhh...pinggangku," gumannya.


Malam beranjak merayap berganti pagi sang Surya mulai malu malu tampak dari peraduan,sinarnya mulai mencoba menembus korden di kamar Hani.


"Eeeergggghhh..._" suara parau Hani ketika bangun tidur.


"Pagi sayang," ucap Adit, ingin mengecup kening Hani tapi tangan Hani dengan cepat menepiskan.


"Emmmm...em..." mendadak muka Hani memerah perut nya bergejolak tak bersahabat di sibakan selimut dengan buru buru.


Hoek...


Hoek..


Hani pun berlari di depan wastafel kamar mandi. Dan Adit menyusulnya memijit tengkuk hani ada rasa nyaman ketika adit berada di dekatnya tapi tidak tau mengapa Hani seakan akan belum menerima kehadiran yang bayi yang ada di rahimnya.


"Tuhan...capek," keluh Hani di dalam hati sambil mengusap bibirnya.


"Ke dokter,ya," bujuk Adit.


"Sudah ku bilang jangan sentuh Hani," bentaknya. Adit tersurut mundur hatinya teriris sembilu baru kali ini dia di bentak seorang wanita hingga membuat matanya berkaca kaca.


"Kenapa mau nangis,!" sekali lagi Hani bersuara keras tanpa Adit sadari airmatanya mulai menetes.


"Cengeng," teriak Hani.


"Sudah sayang mas Adit minta maaf...mas Adit minta maaf." tiba tiba tubuh Adit luluh lantak di lantai.


"Badan gede ko letoy,diteriaki begitu saja dah ambruk," ketus Hani lagi lagi Adit menangis sesenggukan.


"hiks...hiks...hiks ..." tangis Adit.


"Buruan mandi terus kerja ingat jangan sentuh Hani," Teriak hani.


Seperti sapi yang ke cocok hidungnya Adit pun masuk kamar mandi sedangkan Hani ke dapur membikin susu dan roti buat sarapan.


"Yank...dasinya pakein," panggil Adit sambil menenteng tas dan dasinya.


"Jongkok...dah gede ga bisa pake dasi, jongkok....jangan pandang wajah hani. Hani ga suka." Dengan cepat Hani memasangkan dasi di leher Adit dan Aditpun begitu menurut.


"Ingat pulang sekolah langsung pulang jangan ke resto," pesan Hani dengan nada tak bersahabat. Apalagi...hhhh.." ketus Hani sambil berkacak pinggang.


"Salim..." Adit pun mengulurkan tangan kemudian Hani mencium tangan Adit senyum merekah membias di bibir Adit serasa kedapatan lotre puluhan juta padahal uang di Atmnya melebihi hadiahnya.


"Eh...susunya di habisin ...bekal sandwichnya," tunjuk Hani.


"Iya.."jawab Adit.


"Good boy," ucap Hani seraya mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Mobil Adit meninggalkan rumahnya menuju SMU di mana dia bekerja sedangkan usaha resto sudah di serahkan sama Aris dan asisten baru nya.


Tak lama sesudah tuan rumah pergi, mobil Dara datang.Dara memenuhi janjinya pada Adit untuk berbicara mengenai kehamilan Hani.


tok...


tok...


"Mikum..espada ...Hani sayang," teriak Dara.


"wa Alaikum salam..." ucap Hani girang mendengar suara Dara. Hanipun membuka pintu dan memeluk tubuh sahabatnya.


"Tumben ...tau dari mana rumahku," tanya Hani.


"Dara gitu loh." balas dara sambil menepuk dadanya.


"Alah ...dada kerempeng saja di pamerin,"tukas Hani di sambut kekehan tawa dara.


"Ambilkan minum,gih haus tau," seloroh Dara.


"Males ach ambil sendiri saja tu di kulkas terus makanannya kamu sekalian goofood ya, sekalian pingin rujak bebeg."


"Kebiasaan, ngomong ngomong kamu hamil pingin rujak segala," tanya Dara basa basi sambil berjalan menuju arah lemari pendingin.


"Di test positif...aku ga mau ke dokter karena aku ga mau hamil," terang Hani menunjukan raut sedih.


"Ke dokter,yuk habis maem," bujuk dara."Aku sudah pesan semua pesanannya,"


Dara pun menegak minuman sampai tandas tak lama kemudian makanan online pun tiba mereka menyantap makanan itu.


Dua jam mereka mengobrol panjang lebar akhirnya Hani luluh diajaknya dia ke dokter.


"Mbak sudah nikah ," tanya dokter ketika melihat Hani menangis saat menatap sesuatu yang mirip.kacang polong berada di perut Hani.


"Su...sudah dok," sahut Hani.


"Selamat ya mbak," ucap Bu dokter. jangan lupa minum susu dan vitamin," terang Bu dokter lagi.


"Terimakasih,dok," lirih Hani dan Dara bersamaan.


Selesai Hani dan Dara ke dokter mereka pun pulang tak lupa mampir ke minimarket beli makanan kecil.


"Ngomong ngomong baru nih mobil," selidik Hani.


"Iya ...om Prayudi yang beliin," sahut Dara.


"Kamu ga mau putusin om Prayudi dia itu punya istri loh,Dar."


"Aku tau ...tapi aku semakin ga bisa lepasin om Prayudi," lirih Dara.


"Aku sayang kamu Dara,apalagi kakakku sudah meninggal,"


"Aku tau...tapi biarlah om Prayudi menjadi bagian hidupku," ucap dara tanpa ada penyesalan bagi dara yang adalah segalanya dengan uang dia bisa mengubur kenangan di masa lalu.

__ADS_1


"Ga takut ma istri om Prayudi." Tegas Hani seakan akan ingin mengancam sahabatnya untuk berhenti menjadi simpanan.


"Tau ach.."jawab Dara. aku tahu Han kamu bermaksud baik tapi kamu tau kondisi mamaku seorang single parents." Dara membatin.


Dara menghela nafas panjang diikuti dengan Hani. Suasana menjadi hening sejenak.


"Ngomong ngomong ...pak Adit sudah tau," Dara mulai memecah keheningan.


"Sudah kemaren sore...aku tidak mau dia tahu karena aku tidak menginginkan bayi ini," jawaban keterusterangan Hani membuat Dara terperanjat.


"Kenapa," tanya Dara hati hati.


"Aku ingin kuliah ingin menjadi dokter," kilah Hani berurai air mata.


Darapun menghentikan mobilnya di depan rumah pak Adit.


"Ayo ...turun mumpung om Prayudi ngga telepon kita ngobrol bareng," ajak Hani sambil membuka pintu mobil.


"Okey...kita telepon Sashy ," seru Dara


Mereka pun melenggang masuk ke dalam rumah. Duduk di ruang tamu dengan pintu yang di buka lebar.


"Kamu sendirian, tanya Dara. Ga da pembantu?" tanya Dara selidik.


"Pembantu yang kemaren keluar," jelas Hani sambil mengeluarkan minuman ringan dalam kantung kreseknya.


"Jangan minum itu," cegah Dara tak baik dengan kesehatan bayimu," imbuhnya.


"Bodo amat," jawab Hani seenaknya.


"Han ...dara mulai Menganti posisi duduk di depan Hani .


"Jangan seperti anak kecil, kamu sudah jadi istri bentar lagi jadi ibu,"tutur Dara


"Sudah ku bilang aku ga mau hamil," bentak Hani membuat jantungnya berdebar.Suasana menjadi diam membisu.


"Maaf..." selanya memecah hening.


Its oke sayang," ucap Dara mencoba berbinar .


Mereka berdua bercanda tertawa dengan camilan sekantung kresek habis dan dua botol sprite habis tiada sisa setetes pun.


"Kamu masih tinggal di apartement itu kan," tanya Hani.


"Udah ngga ya . om Prayudi udah beliin aku rumah ,"


"Gila sampai segitu cintanya om Prayudi padamu,Dar,"


Dara cuma mengulas senyum kaku.


"Kapan kapanain boleh," tanya Hani menirukan bocah yang ada di serial Upin Ipin.


"Bolehlah..." jawab Dara di sambut tertawa Hani.

__ADS_1


__ADS_2