
Sama yang di lakukan dengan papanya Hani membayar hutang dengan menggadaikan anaknya bedanya aku di jadikan simpanan sedangkan Hani yang pada awal mula menjadi pengiring berakhir dengan menjadi pengantin.
Aris datang membawa Sania. Kutatap wajah Sania dalam dalam
"Cantik..gumanku, apa Hani tidak cemburu ya," pikiran Dara bermain ke sana ke mari. Awas kalao menggoda laki sahabat gue," batin Dara dengan penuh kesinisan.
"Pagi pak Yudi," sapa Sania
"Pagi Sania bagaimana sudah komplet koper tuan dan nyonya kecilmu" tanya Prayudi.
"Siap pak..."
"Kamu bersama pak Andi, aku dan isteriku membawa mobil sendiri." jelas Prayudi .
7 jam mereka lewati akhirnya sore hari mereka tiba di Jogja.
"Malioboro," histeris Dara. Aku bolehkan jalan jalan," tanyanya dengan sedikit merajuk. Dara mengambil ponselnya tak ingin berlama lama dia pun menelpon sahabatnya.
Kring...
Kring...
Kring...
"Ayo angkat.." guman Dara.
"Telpon siapa," tanya Prayudi yang fokus pada setir mobilnya.
"Hani" jawab Dara. Dara mencoba sekali lagi.
Kring...
Kring..
Kring..
"Hallow...Dara.."
"Kemana ajja lu," tanya Dara.
"Emmm...
"Jangan jawab lu lagi enak enakan y" potong Dara.
"Gue ada di rumah sakit."lirih Hani.
"What ...siapa yang sakit? tanya Dara tercengang.
"Gue...hampir saja gue kehilangan janin gue."
Ciiiiit....
Ciiitt...
Prayudi mengerem mobil secara mendadak.
"Adduuh...om kalo ngerem pelan pelan donx, sakit nich jidat ku kena dashboar," omel Dara.
"Habis om kaget ...anak somplak itu sakit"
"Hani om ...Hani bukan anak somplak ' kesel Dara membela temanya.
"Iya ...iya itu bibir pingin di cium ya manyun manyun kayak ikan ******," goda Prayudi lalu menoel pipi Dara.
"Sakit tau," gerutu Dara membuat om Prayudi terssnyum senang.
Prayudi dan Dara pun menuju rumah sakit diikuti mobil Sania.
"Hallo Dit aku dah sampai lobby rumah sakit."
__ADS_1
"Om Yudi .." jawab Adit Kaget
Adit pun berpamitan menuju lobby.
"Om..." seru Adit melambaikan tangan.
"Pak Adit gimana Hani," cerocos Dara.
"Alhamdullillah baik."
"Kamu ya Dit sudah tau istri hamil masih saja di gempur" celoteh om Yudi.
"Apaan sich om.'elak Adit.
"Sore tuan...saya Sania,saya asisten tuan yang baru ." Sania pun menunduk hormat. Adit menatap Sania dari ujung rambut sampai ujung kaki membuat Sania salah tingkah.
"Ya ampun bosku ganteng banget" batin Sania berteriak hore.
"Heeemmm.."
"Hanya itu, di puji kek atau di jabat tanganku kek." gerutu Sania.
"Aku dengar Sania jangan mengerutu." sarkas Adit.
Prayudi berjalan sambil menepuk pundak Sania.
"Yang sabar neng...bosmu memang begitu." Dan Sania pun mengangguk .
"Gantengkan arogant sama wanita lain taoi bucin ma istrinya" tekan Dara seolah olah memberitahu kalo dia adalah suami sahabat ya. Mendengar ucapan Dara tangan Sania mengepal.
"Kita lihat saja nanti, batin Sania. Kita lihat saja nanti."
Mereka berjalan beriringan menuju kamar di mana Hani di rawat.
Ceklek pintu di buka.
"Kamu ma siapa" tanya Hani mencoba menetralisir rasa kagetnya.
"Tu ma tu bangka dan asisten baru suamimu." bisik Dara dianggukin senyuman s
.
"Ha..ha ...tapi kamu doyan kan ," canda Hani diikuti dengan deretan gigi Dara.
Satu jam mereka mengobrol dan rasa kantuk lelah menyelimuti Dara melihat wajah sang kekasih Prayudi pun berpamitan menuju hotel tempat mereka menginap.
"Kamu suka" tanya Prayudi setelah memparkirkan mobilnya di depan area hotel. Dara tercenggang melihat pemandangan sekitar
"Waow...indahnya" guman Dara.
"Yuk kita masuk sudah ga tahan" Ajak Prayudi.
"Heee..." Dara memukul tubuh Prayudi dan Prayudi tertawa lepas.
"Mang ngapain ...orang kebelet pipis" kekeh Prayudi. Besok meeting kalo main takut kesiangan." goda Prayudi.
Di tempat yang berbeda dua orang anak manusia saling adu mulut saling tampar.
"Kamu kenapa Ded?" tanya Sandra penuh dengan penekanan rasa cemburu menyelimuti hatinya. Tangan sandra mengayun memukul dada Deddy.
"Kamu jahat Ded...kamu jahat.." seru Sandra.
"Kita sudah putus san, tidak ada yang perlu di pertahankan," tegas Deddy.
"Tapi aku masih mencintaimu,aku sayang kamu," isak Sandra.
"Aku mencintai Hani dan tolong berhenti mengejarku" tegas Deddy sekali lagi.
Sandra berlari meninggalkan Dedy dengan penuh rasa kecewa.
__ADS_1
"Semoga kamu bahagia" ucap Deddy menatap punggung Sandra yang tertelan kegelapan.
Sedangkan di di rumah sakit
"Sania kamu istirahatlah di losmeb tempat kami menginap pak Andi yang akan mengantarkan kamu" jelas Adit. Sania lalu menunduk hormat meninggalkan Adit dan Hani.
"Sayang aku lapar " seru hani setelah anak di dalam perutnya meronta ronta minta makanan.
"Mau apa lagi" tanya Adit.
"Mau makan bakso beranak yang pedes boleh ya ." pinta hani dengan memelas.
"Jam 11 sayang..gimana kalo besok," tawar Adit.
"Ya udah gih beliin pecel lele aja tanpa nasi ya trs ayam goreng 5 tidak boleh kurang," lirih Hani memainkan jari jari tangannya.
"Oke sayang " Adit meninggalkam Hani seorang diri.
"Bete...mas Adit pergi."batin Hani manyun.
Tak berapa lama ponselnya berbunyi pucuk di cinta ulam pun tiba baru mau memikirkan Deddy orannya sudah chatting duluan.( eh ...Hani mana orang tu kepikiran dulu )/ othor.
( Suka suka Hanilah othor juga yang bego, Hani juga ciptaan othor) othor tepok jidat guling guling nglempar panci he...he..he..
"Hallo bumil cantik," tulis Deddy.
"Wuiihh..gue dibilang cantik ...kaca mana kaca..." batin Hani berteriak meronta ronta ke g-ran. lama sekali Hani ga membalas.
"Cantik..I miss you.." rayu Deddy dalam bentuk chat di hape.
"Iiiihhh...dia bilang miss you...di bales ngga ya.." guman Hani tentu saja dalam hati bahaya tu kalo teriak teriak. ( Sadar oe..sadar ..lu punya swami mana lagi bunting) othor. Hhuuuuhh...othor rese nggangguin orang saja teriak Hani.
"Bales ach."
"Hai juga ..." sapa Hani senyum senyum.
"Vc dong.kangen nich." tulisnya lagi.
"Ada mas Adit." balas Hani. Deddy mengirimkan foto Adit yang kebingungan nyari sisa ayam dikarenakan kurang satu sedangkan warung tenda semua sudah habis tinggal terong goreng.
"Hei...kamu di mana ko ada mas Adit." tanya Hani.
"Aku ada di lobby sayang, boleh aku ke ruangmu" tulis Deddy disertai emot harapan.
"Eggghh...sudah malam Ded, kamu pulang saja ga enak sama mas Adit kalau mas Adit tiba tiba datang gimana," jelas Hani.
"Ga akan ketauan .." balas Deddy.
"Ko hatiku jadi dag..dig ...dug...deng ya" hati Hani mulai berperang.
"Ingat Han kamu sudah punya swami" jinput menasehsti.
"Kamu juga suka Deddy kan Han biarkan Dia masuk bercintalah dengan Deddy."jinhin mulai mempengaruhi Hani.
"Hani..." sapa Deddy melongokan kepalanya.
"Hei..." balas Hani dengan hati berbunga bunga.
Akhirnya Deddy datang dan Jinhit mulai mengejar jinput.
"Tarohan mana...lu kalah tarohan" teriak jinhit membawa sapu hendak memukul jinput
"Sial kalah lagi." sesal jinput lari terbirit birit.
Setengah jam mereka berdua ngobrol ketika hendak pamit tiba tiba Adit datang dari balik pintu.
Yesss...
yess ..
__ADS_1