
Di kamar bekas Sugeng
Hani mulai mengeliat."Hoooaaammm...jam berapa ini," batin hani.
d"Arrrrrgggg..." teriak Hani sambil memegangi kepalanya.
"Kenapa aku," guman Hani.Dia pun beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi dengan langkah semboyongan.
Bruk...
Hani tak sadarkan diri di kamar mandi, sedangkan Adit sudah meninggalkan rumah menuju kantornya.
"Hatiku kok ga enak ya," guman Adit saat memasuki ruangannya. Kayak orang linglung Adit pun menyandarkan tubuhnya di kursinya kemudian berdiri membuka tirai jendela menutupnya kembali,duduk lagi membuka laptop,menutup laptop, beranjak lagi lalu duduk lagi tak lama di panggilnya kepala HRD.
"Ris ...bisa ke ruanganku," ucap Adit sambil menggenggam telepon.
"Iya ,pak," jawab Aris.
tok..
tok
tok
"Masuk," sela adit.
"Bapak memanggil saya," tanya Aris kepala HRD
"iya...tolong data ini diperiksa,"
Aris menerima berkas dari Adit.
"Tolong carikan art,Ris buat bantu bantu istriku,"
"Lah pembantu yang kemaren kemana pak,"tanya Aris.
"Di bawa Herlan ke Sulawesi,heran tu anak art ajja di bawa, celetuk Adit. Palaku pening tolong keluar Ris dan jangan ada yang ganggu aku,"
Aris pun undur diri meninggalkan Adit yang pelan pelan merem.
Tak terasa hampir 2 jam Adit tertidur begitu pula dengan Hani yang tergeletak di kamar mandi mulai siuman.
"Aaacch...sakit," keluh Hani sambil memegangi kepalanya.
"Ko bisa ketiduran di kamar mandi,sih," dumel Hani ga jelas di rapikan bajunya kemudian disisirnya rambutnya. "Perutku mual mual apa aku hamil,ya?tanya hati Hani dengan kebimbangan di sisi lain ada kebahagiaan tapi d hatinya yang paling terdalam,dia ingin menubda,dia masih ingin kuliah menggapai citanya.
Hanipun merambat memegang wastafel.
Hoek....Hoek...dia memuntahkan semua isi yang ada di perutnya.
Hoek...Hoek...kek...kek...Hani memuntahkan sampai air yang kekuning Kuningan.
hek...hek...
"Kenapa aku," Hani bertanya tanya dalam hati.
"Sepi amat kemana mas Adit," sekali lagi Hani bertanya tanya setelah keluar dari kamar Sugeng.
__ADS_1
Kruk...
kruk...
Suara perut Hani berbunyi,ia mengelus perutnya seakan akan ia tahu kalo ia hamil dan anak yang di dalam perutnya minta makan. Di ambilnya mie instan dan telor tiga butir di tambah sawi hijau dua helai dan cabe rawit Made in setan di potongnya tipis tipis .Bau wangi pun menyeruak ke seluruh ruang makan membuat Hani tersedak karena bau dari cabe.
"Uhuuuk....uhhuuukk, sialan," umpat hani.
Ditarohnya mie yang telah matang di mangkok,
"Heeemmmm...sedap...mari makan," ucap Hani seolah olah di rumah itu ada orang.
*Derrrttt...
Derrrttt
Deeeerrrtt...
Suara ponsel Hani bergetar panggilan dari mas Adit.
"Halo sayang, sedang apa kamu," tanya mas Adit mengalihkan dari panggilan suara ke panggilan Vidio.
"Makan ," sungut Hani.
"Kenapa tadi tidak pamit. Kenapa ninggalin Hani begitu saja hhhhh," cerocos Hani bak kereta sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia.
"Ya maaf..." Rajuk Adit.
"Ada urusan penting,yank biar besok Resto ada yang nanggani sedangkan aku bisa masuk sekolah," jelas Adit hati hati..
"O....gitu," Hani manggut-manggut dengan bibir di buat buat manyun.
"Ihhh...Istriku kalo cemberut nggemesin dech,jadi pingin nyubit," kelakar Adit .
"Apaan sih," gerutu Hani dengan mulut di monyong monyongin.
"Tu kan,mancing mancing mas pingin pulang nich, goda Adit sekali lagi. Jadilah kita berangkat 2 hari lagi prepare,dech kita ke Jogja sekalian jenguk istri om Prayudi," terang Adit. Hani yang mendengar nama Prayudi kaget ia pun teringat dengan Daramitha sahabatnya yang mempunyai pacar bernama Prayudi tapi nama Prayudi kan banyak mungkin saja Prayudi yang lain.
"Asyyiiiikkk..."Hani melonjak kegirangan tanpa sengaja menekan tombol merah membuat putusnya pembicaraan yang mana membuat Adit kalang kabut.
"Yah ...ko di matiin ," tulis Adit.
"Maaf,yank kepencet," balas Hani
"Yank berangkat nanti sore aja,yuk pingin maem gudeg Jogja ma itu itu makanan khas Gunungkidul, yank...yank ...ntar lagi ya perutku mual mual," tulis Hani sekali lagi. Diapun meletakan hapenya di meja kemudian berlari ke kamar mandi.
"Kenapa sih mual mulu, kayak orang hamil saja.
Feeling seorang wanita yang sudah menikah dan setiap hari selalu dikeloni.
"Huuuuhh.." keluh Hani mengusap bibirnya dengan air tak lupa ia pun berkumur kumur.
"lemes..." keluhnya sekali lagi.
"Telpon bunda apa,ya,"guman nya tidak jelas.
Hani pun mengambil ponsel nya,ditekannya nomer bunda.
__ADS_1
"Halo bunda,"
"hallo sayang,"
"Kamu kenapa udah kangen saja ma bunda," goda bunda.
"Muntah terus bunda," isak Hani.
"Datang bulan ngga..." tanya bunda was was.
"Engga...bunda ..,Hani ga mau hamil bunda. Hani ingin kuliah," isaknya sekali lagi.
"Ga mau hamil tapi Hani ga pake pengaman,"
"Pokoknya Hani ga mau hamil," jerit Hani membuat Adit kaget.
Adit yang baru datang dari kantor mendengar jeritan Hani langsung menuju arah suara Hani.
"Hani kenapa sayang...Hani kenapa," tanya Adit penasaran bercampur kaget setengah mati bagaimana tidak pulang harusnya di sambut manis istri kecilnya eh malah di sambut dengan teriakan.
"Hiks...hiks..." tangis Hani semakin menjadi jadi.
"Halo...han,"
"Halo..." ucap bunda di sebrang kawatir dengan putrinya yang labil ia tidak ingin sesuatu terjadi pada Hani seperti ketika bunda kehilangan Alia.
Tubuh Hani melemas ponsel berpindah ke tangan adit.
"Hallo bunda," sahut Adit parau mulutnya seakan akan kering saat menerima tubuh Hani.
"Aku tidak mau hamil," pekik Hani tiba tiba,membuat Adit kelimpungan senam jantung.
"Bunda...maaf ..ditutup dulu ya bunda," seru Adit .Aditpun mematikan ponsel secara sepihak,di dekapnya Hani.
"Kenapa sayang," tanya Adit hati hati. Tangan Adit menghisap rambut Hani.
"Pokoknya Hani ga mau hamil," lirih Hani.
Aditpun memapah tubuh Hani masuk ke dalam kamar di rebahkan tubuh itu kemudian di selimuti nya. Tangannya membelai tubuh hani yang mengacuhkan Adit.
"Aku salah apa ," sesal hani.air matanya tumpah.
"Pak ...pak...Adit ....aku salah apa ...harusnya yang nikah sama pak Adit adalah mbak Alia," isak Hani.
"Kamu kenapa sayang," tanya Adit.
"Aku mual mual ...kata bunda aku hamil.aku ga mau ...aku ga mau punya anak di usia 19 tahun," terang Hani.
"Sssssttttt....Hani ...anak adalah karunia Tuhan seandainya kamu hamil kan punya suami ada yang salah,jelas Adit pelan-pelan takut menyinggung perasaan Hani. Terus ngajak ke Jogja ngapain kalo tidak bikin anak," papar Adit dengan senyum simpulnya.
"Batalin saja ..."
"Enak saja batalin tiket sudah dipesan sayang,hotel juga sudah di booking seminggu,"
"Tapi Hani ga mau hamil," cekat hani.
"Sayang memang sudah di test po,memang sudah periksa ke dokter PO," tanya Adit dengan sedikit dibumbui rayuan supaya bisa mencairkan suasana hati Hani.
__ADS_1
Hani pun berpaling ke arah Adit. Di usapnya airmatanya.
"Buruan gih beli testpack," suruh Hani .