Malam Pertama Dengan Bos Papa

Malam Pertama Dengan Bos Papa
Bab 16


__ADS_3

"Nach gitu dong senyum atuh," goda Adit .


"Buruan beli testpack," Rajuk hani membuat semakin gemas Adit. Hani mendorong tubuh Adit hingga tubuh Adit mau terjungkal.


"Sayang..." pekik Adit tangan kanannya memegang seprai takut terjerembab bisa bonyok dahinya.


Aditpun meninggalkan Hani untuk membeli testpek.


"Ya Alloh ...jika ini kehendakmu aku bersyukur ya Alloh ,batin Adit mengharap.


@@@


"Mbak...testpack ada," tanya Adit kepada pelayan apotek tanpa malu- malu.


"Ada pak...mau merk apa ,"


"Mang ada berapa merk, tanya Adit. Ambil semua,gih,terus kalo orang hamil biasanya minum susu apa cariin yang kwalitas terbaik beli 10 ya," ucap Adit.


Pelayan itu pun mengangguk.


"Total 5 juta,pak,"


Aditpun merogoh dompetnya di ambilnya kartu kecil tapi penuh dengan harta Karun itu.


Selesai pembayaran tak lupa mengucapkan terimakasih Adit pun keluar dari apotek balik menuju rumahnya.


Hoek


Hoek


"Arrrggg ...," jerit Hani frustasi.


"Lapar...pingin makan tapi tiap kali makan pasti muntah muntah terus," keluh Hani.


"Muntah lagi ..yank." tanya Adit kawatir. Telpon bunda ya ...biar di temenin bunda,"


Hani cuma menggelengkan kepala.


"Kenapa...???,


"Kasian bunda bolak balik...tidak mau jadi beban pikiran bunda," keluh Hani .


"Mana testpack ya ,"


"Nich..," Adit menunjukan dua kantung kresek hitam gede.


"Ya ampun ...banyak amat,"seru Hani terkejut melihat kelakuan adit.


"Aku bahagia sayang jika kamu hamil," lirih Adit takut membuat kesalahan. Dan mata Hani nyalang begitu tau jawaban Adit.


"Ennngggga...engga ...pokoknya engga," isak Hani sambil geleng geleng kepala.


"Sayang ...dengerin mas..mas cuuu..."


"Hentikan!, pokoknya engga ya engga Hani ga mau hamil Hani masih ingin kuliah seneng seneng," potong Hani.


"Iya...iya ..." tersirat wajah kekecewaan darinya.


"Maaf kan aku sayang tapi aku bener bener mencintaimu," bisik Adit sambil menggenggam tangan Hani.


"Hani tau...tapi Hani belum mau hamil."


"Di test ajja dulu," saran Adit.


"Tapi kan kalo test harus pagi lebih akurat...,"

__ADS_1


"Sekarang saja ga pa pa. besok pagi di test lagi,"


Hani pun melangkah menuju kamar mandi dengan membawa 10 testpack dengan merek yang berbeda.


satu menit


dua menit...


sepuluh menit


Hani keluar dengan mata sembab. Aditpun menatap Hani dengan was was.


"Sayang..." lirih Adit. Hani meninggalkan Adit yang berdiri di kamar mandi dan secepat kilat masuk melihat berbagai alat test masuk ke dalam bak sampah di ambilnya tanpa rasa jijik


Teng...Teng...


Dua garis merah," Yes aku akan jadi ayah," pekik Adit membuat Hani terkejut dan menangis tersedu sedu. Aditpun menghampiri Hani nemeluk tubuh kecil itu tapi Hani menyingkir seakan akan dia tidak mau di sentuh Adit.


"Sayang...," lirih Adit.


"Sudah di bilang aku tidak mau hamil," keluh Hani. Aku masih ingin kuliah," lanjutnya dengan mata yang berkaca kaca.


"Tapi jadi mahasiswi masih boleh hamil sayang ," terang Adit mencoba meluluhkan hati Hani.


"Aku ga mau...Aku masih ingin senang senang,ingin konkow...ingin nge mall bukannya habis kuliah suruh jaga bayi,"


"Sayang aku kan ga pernah batasi kamu bersama teman temanmu.please demi anak kita,"


Adit ingin mengelus perut Hani yang masih rata tapi tangan Adit di tepiskannya. Hani pun meraih selimut di kerukupinya seluruh tubuhnya.


"Hhhhhhh..," Adit menghela nafas dalam.


"Apa yang harus ku lakukan, kenapa begini, Adit bermonolog dalam hati, tunggu aku bisa hubungi Dara dan Sashy mereka sahabat Hani siapa tau mereka bisa bantu,tapi dapat dari mana nomer telpon mereka. O,iya om Prayudi ...aku pernah melihat Dara,siapa tau mereka kenal," batin Adit berdialog dengan hati.


Adit meninggalkan Hani keluar kamar membawa ponselnya. Di carinya nomer Prayudi.


"Ada apa,Dit." tanya Prayudi sedikit binggung karena sudah lama mereka lose kontak.Semenjak Om Prayudi menikah dengan Kiara kurang lebih lima tahun tapi sayang Kiara di vonis di tidak bisa mempunyai keturunan.


"Om kenal dengan Daramitha,"tanya Adit dengan penuh penekanan.


"Daramitha yang mana,dit." kilah Prayudi .


"Jangan mengelak om ... aku sudah tau semua atau aku bilang ke Kiara," ancam Adit.


"Apa apaan sih,Dit," pekik Prayudi.


"Maafkan aku om ...sebenarnya aku tidak mau berurusan dengan om Prayudi lagi, tapi ini masalah menyangkut Hani," batin Adit.


yudi pun terpaksa memberikan nomer dara ke Adit.


"Terima kasih om,jaga kesehatan om," ucap Adit sambil mematikan hape secara sepihak.


Selesai mendapatkan telepon Dara.


"Hallo,"


"Iya maaf ini siapa,ya? tanya Dara.


"Maaf Daramitha,ya,"


"Iya saya sendiri


"Ini aku Adit."


"Eh pak Adit ...kaget juga Dara di hubungi pak Adit.Ada yang bisa saya bantu pak," tanyanya basa basi.

__ADS_1


"Besok pagi datang ke rumah saya.aku serlock alamatnya."


"Ada apa,pak perasaan ulang tahun Hani masih 5 bukan lagi," tanya Dara.


"Kamu ga da janji dengan Prayudi kan,"


Deg....detak jantung Dara seakan mendadak berhenti ketika mendengar nama prayudi.


"Aku sudah tahu hubungan kalian.Sebaiknya kamu tinggalkan Prayudi kamu masih muda masa depanmu masih panjang," jelas Adit lebar lebar.


"Bapak tau," lirih dara.


"Besok ke sini Hani butuh kamu!" tegas Adit


"I ya," singkat Dara penuh rasa ketakutan.


Adit pun mematikan ponselnya menimang nimang gadget kesayangannya melangkah menuju sofa sambil memijit mijit kening Adit.


@@#


"Pa...pa...pa..." celoteh seorang anak perempuan.


"Anak papa dah mandi belom,nich." bisik sang papa sambil mengusel usel pipi yang gembul.


"Pa..pa...apain pegang pegang kakak," seru seorang lagi dengan nada cemburu.


Papa pun menengok sang putra yang berkacak pinggang dengan kaki di hentak hentakan.


"Papa ga sayang adik," serunya sambil terisak isak kemudian berguling guling memperhatikan papa. papa pun pura cuek terus menggoda sang kakak.


"Papa..." teriak anak laki-laki itu.


"Papa jahat aku tidak mau sama papa," papa cuma tergelak melihat sang putra marah karena cemburu minta di perhatikan.


"Uluh...uluuhh...jagoan papa ngambek," goda papa.


Anak laki-laki itu pun manyun sambil memainkan kaki nya dan bersedakep tentu saja wajahnya sambil melengos membuat papa semakin gemas ingin mencubitnya.


"Papa," teriak anak laki laki itu.


"Kamu semakin mengemaskan," cubit papa yang tentu saja membuat dia menjerit jerit minta perlindungan dengan mamih.


"Mamih..papi jahat," teriaknya dan sang mami keluar dengan muka cemberut.


"Pa..pa...mami ingin istirahat, adek cup...cup...mana ada jagoan mamih yang cengeng kita bales papa,yuk," ajak mami sambil menenangkan anak keduanya.


"Papa jahat masak cuma kakak yang di cium cium adek ngga," protesnya.


Papa hanya tergelak mendengar protes sang anak hanya karena iri minta di cium.


"Sayang ...sini...sini,mami ingin di cium,ga nich." goda papa. Wajah mami pun bersemu merah mendengar rayuan papa.


"Ga malu anak sudah mau tiga," elak mami padahal ingin di sun juga.


"Main kuda kudaan yuk pa," Rajuk anak itu.


"Papa yang naik kamu yang jadi kuda ...atau....mami.." mami pun melirik papa dengan ganasnya dan berlalu.


"Au....marah," guman papa.


"Yuk pa..."


anak itupun menaiki punggung papa dan berteriak "Ayo kudaku hiya...hiya..."teriaknya.


Satu putaran tidak apa apa dua putaran menghela nafas tiga putaran ngos ngosan empat putaran .

__ADS_1


Pletak...punggungku...


__ADS_2