Malam Pertama Dengan Bos Papa

Malam Pertama Dengan Bos Papa
Bab 6


__ADS_3

"Yah...gagal ," batin hani


Adit dan Hani meninggalkan butik itu mobil sedan hitam melaju ke arah rumah sakit dimana Bu Lusia Sumiyati menginap.


"Mbak adalah pasien yang bernama Lusia Sumiyati," tanya Adit dengan sopan.


Bu Lusia Sumiyati ...korban percobaan bunuh diri...diruang VVIP klas 1," jelas sang perawat.


"Okey mbak ..."


"Bu Lusia ...Bu sum ," kikik Hani .


"Ada yang lucu," toleh Adit sambil menggapai tangan Hani untuk digandengnya.


"Engga...lucu aja...dia yang cinta eh...nikahnya ma aku ,"


"Tu gara gara papamu tu, pake duit kantor ga kira kira,"


"Enak saja salahin papa,kenapa tidak milih mbak Alia," sembur Hani cemberut.


"Iya...iya salah Aku ....aku tu suka kamu sejak MOS kelas satu,"


"Acchh....segitu cantik nya aku sehingga pak guru suka padaku," kataku dengan pedenya.


Pak Adit mengacak acak rambut Hani sehingga sang pemilik cemberut.


"Rusak kan rambut Hani ,"


"Ha...ha..ha..."lengking pak Adit nyaring membuat para pasien menatapnya. risih tentu saja risih melihatnya.


"sssuuuuttt..." tangan Hani pun menempel ke mulut pak Adit membuatnya tersadar bahwa ia ada di rumah sakit.


"Nic dia ...kamarnya." lirih pak Adit di ketiaknya pelan pelan kamar Bu lusia.


"Permisi Bu..." sapa pak Adit ramah sang pemilik kamar pun terkejut bukan main.hati terasa berbunga bunga melihat sang pujaan hati tapi rasa itu pupus bagai bunga yang di siram dengan obat tanah layu menguning ketika Hani hadir di belakang pak Adit.


Muka Bu Lusia pun melengos.


"Mari ..mari masuk pak ," mbok Romlah.


"Selamat sore Bu Lusia," sapa pak Adit Ramah begitu pula dengan Hani yang memasang wajah begitu ramah renyah bak krupuk.udang manis asin dan gurih .


"Sore," jawab Bu Lusia memalingkan muka dan tentu saja hatinya begitu getir menatap dua orang sejoli.


"Bu Lusia baik baik saja kan,tanya Adit sekali lagi. Ada buah tangan buat Bu Lusia ,"


"Terima kasih pak Adit."


Hani hanya menatap mereka bercakap cakap .


"ibu siapa ya Bu Lusia tanya Hani.


"Saya yang mengasuh Lusia sejak kecil"


"Oh...kamu Hani ya ...cantik kamu baik pantas pak Adit lebih milih kamu,"


"Acchh..ibu bisa saja,"


Tiba tiba handphone Hani berbunyi nyaring.

__ADS_1


Pak Adit dan Bu Lusia pun menengok.kearah Hani.


Gambar Alia terpampang di layar Hani.


Ditariknya logo ijo keatas.


"hallo mbak ," jawab Hani.


"Aku nginep di rumah kamu ya,"


"Serius mbak Alia mau ketempat hani. oke...oke ...Hani oteweh pulang."


Hani pun mengendikan mata ke arah pak Adit untuk berpamitan.


"lekas sembuh ya buk , kembali mengajar lagi." pak Adit mengulurkan tangan untuk pamit.


"Move on Bu," God Hani sambil mengedipkan mata.


"Terimakasih pak Adit." lirih Lusia tanpa mau menatap Hani.


Hani dan Adit pun meninggalkan Lusia yang berbaring di brangkar rasa kecewa menyeruak di dadanya.


"Tega kamu,dit," batin Lusia


*


Dirumah Adit


Tok...tok...tok...


"Rumah bagus kaya gini kenapa tak punya pembantu sih.," gerutu Alia.


"Capek tau..." keluhnya. keringat mengalir di antara dia pelipisnya bajunya pun basah oleh keringat dan bau parfum membuat orang membaunya ingin merasa muntah.


"Ademmm..."batinnya.


Dua jam Alia menanti sampai ketiduran akhirnya sebuah mobil hitam terparkir di depan garasi.


Dua orang pemilik rumah pun menyambut Alia dengan Gedeg.


"Malu maluin aja,' omel Hani saat melihat sang kakak ndlosor ngekep koper.


"Al....Al..." lirih pak Adit sambil jongkok menggoyangkan tangan Alia dan sang empu sontak mengerjap kan mata.


" Eh pak Adit...eh Hani...Hani ....peluk mbak ..." renggek Hani air mata pun sejadi jadinya keluar.


"suuuuutttt.. bisa diem ngga mbak...malu didenger tetangga ," sewot Hani.


"Mbak boleh ngungsi ya di rumah Hani 2 Minggu saja,"


"Tapi...."


Hani menatap Adit dan Adit mengangguk tanda setuju.


"Iya dech," angguk hani.


Pak.Adit pun membukakan pintu.


"Masuk Al ," Adit mempersilahkan masuk.

__ADS_1


"Terimakasih dit."


"O ya ada pembantu tapi dia tidak menginap jadi kalo lapar masak sendiri ya.," ucap Hani.


"Terus mbak tidur dimana Han," tanya Alia.


"Alia tidur di kamar Sugeng ya.," sambung Adit senyum senyum.


"Ada kamar yang lain ngga," tanya Alia sekali lagi.


"Tidak ada kak...lagian Sugeng sudah bisa kredit perumahan kak. dia jarang ke sini." jelas Hani dianggukin Adit.


"Makasih ya dek ..." ucap Alia.


Matahari tergelincir dari ufuk timur ke barat cahayanya keemasan mulai nampak, hawa dingin mulai menyeruak.


"Dek makanan dah siap.," teriak Alia memanggil sang adik. Tau apa yang dilakukan sang adik tentu saja masih bergelut dengan seprei bantal dan guling.


"Eh..mbak Alia " sapa Herlan ramah.


"Makan sekalian her ," ajak Alia yang memang sudah kenal dengan Herlan dan Adit karena mereka teman dan bos Sugeng pacar Alia.


"Wach...wach...sering masakan enak nich.' puji Herlan yang sepanjang dia tau Alia pandai memasak.


"Udang nya enak " comot Herlan mulutnya tak mau berhenti mengunyah udang.


" O ya mereka belum bangun ," tanya Herlan .


"Ha..ha...biarin aja ntar kalo lapar ya datang ke dapur," celoteh mbak Alia riang seakan akan tidak ada beban di hatinya.


Selesai makan Herlan bersiap ke kamarnya diikuti Alia ya kamar mereka bersebelahan.


*


Di kamar Alia mengedarkan pandangan sekeliling ditemukan foto menggantung Antara dia dan Sugeng airmata pun turun dengan derasnya.


"Maafkan aku ...geng ..." lirih Alia terisak isak.


Diraihnya pigura itu di tatapnya lekat lekat kemudian di dekapnya dalam dada.


"Aku akan merawat anak kita geng,' batin Alia.


Alia mengelus perutnya yang rata berjalan menuju kasur busa sederhana.


"Aku takut geng.," lirih Alia.


"Aku takut kamu tidak mau mengakui anak ini," batinnya lGi.


Alia menolak menikah dengan Adit karena Alia telah melakukan hal yang tidak boleh dilakukan dengan Sugeng.


Alia memberikan sesuatu yang sangat berharga yang hanya dipersembahkan untuk suaminya seorang .


Tapi takdir berkata lain Alia dan Sugeng dibutakan oleh napsu hingga Alia berbadan dua dan Sugeng belum mengetahuinya.


Genap usia 2 bulan kandungan Alia bahkan sang adik pun tidak pernah mengetahui kehamilan Alia.


Alia pun menyimpan rapat rapat rahasia ini dia takut di usir ayah dan bundanya.


Satu satunya orang yang bisa membantu dan dimintai tolong adalah Hani dan Adit tapi Alia tidak tau harus memulai dari mana.

__ADS_1


Mata Alia tidak bisa terpejam bayangan Sugeng menampik untuk tanggung jawab menari nari.


"Tiiiddaaakkk aku tidak mau menggugurkan anak ini," teriak Alia menekan untuk bersuara keras.


__ADS_2