
Sugeng melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Ciiiiiittt....
Brak...
Mobil Sugeng menabrak pembatas jalan. Kaca depan pecah berantakan sedangkan pengemudi dan penumpang kepalanya berlumuran darah.
ko
"Aaaachhh....,"lirih Sugeng.
"Ibu....," rintihnya sambil mengapai gapai tangan sang ibu tapi yang di panggil seakan akan tak merespon dirinya.
Orang orang pun kaget pak polisi yang berpatroli pun dengan sigap mengevakuasi sugeng dan kedua orangtuanya.
*
"Kenapa hatiku tidak enak," batin Alia sambil membenarkan selimutnya.
"Kamu ingin sesuatu Al,"tanya bunda yang sedari tadi duduk di samping Alia.dan Alia pun menggangguk kecil.
"Bunda....bunda liat sini," panggil Hani sambil melambaikan tangannya.
"Liat dech ...bunda," Hani memberikan hape Hani ke bunda ditatapnya kolom berita. Bunda tersurut mundur.
"Astagfirullah..,"pekik bunda tertahan.
"Ssssssttt....bunda jangan keras keras," bisik Hani kawatir. Tapi mata Alia menangkap sesuatu yang tidak beres.
Bunda menyeret Hani keluar ruangan.
"Adit mana Han,"tanya Bunda menahan airmata.
"Mas Adit langsung ke TKP bunda,bagaimana ngomongnya dengan Alia,Han," ujar bunda menatap Hani.
"Kita ngomong pelan pelan bunda," kata Hani mencoba menguatkan bunda.
"Tuhan ..cobaan apa lagi ini , aku kehilangan suami dan calon cucuku ..sedangkan anakku menanti pria sekarat di luar sana," guman bunda.
"Sabar bunda," Elus Hani yang seakan akan tahu kesedihan batin bunda dan bunda pun menggangguk pelan.
Hani mendekati kakaknya di peluknya Alia.
"Mbak yang sabar ya...yang kuat ya ," Hani berusaha mengkuatkan kakaknya.
"Ada apa dek," tanya Alia penasaran,raut muka Hani semakin gugup ia pun tak tega menatap wajah kakaknya.
"Mbak...Hani tergugu airmatanya tumpah. Bunda yang tau pun berlari mendekati dua putrinya.
"Kamu yang sabar ya Al."
"Bunda kenapa menangis,kamu juga han. mbak sudah ikhlas dengan kepergian anak embak," sela Alia tak kuasa bersedih melihat orang yang amat di sayangnya menangis. Hani pun mengusap air matanya kemudian pelan pelan memberitahukan keadaan Sugeng.
"Mbak...mas Sugeng kecelakaan ,"jelas Hani.
Bak di sambar petir di siang bolong tiba tiba hati Alia mencelos hebat,nyeri di dadanya.
Tidddddaaaaakkk....." jerit Alia mengema membuat seisi ruangan terkaget.
"Mbak ...sadar ...mbak sadar..." Hani pun menguncang guncangkan tubuh Alia yang tak sadarkan diri dan bunda hanya menangis merangkul tubuh itu.
"Mbak...dokter..dokter.." teriak Hani manggil dokter. Tak selang beberapa menit dokter dan suster pun datang memeriksa Alia.
__ADS_1
"Bagaimana anak saya dok," tanya bunda masih di selimuti rasa was was.
"Maaf Bu...pasien harus di bawa ke ruang ICU,"
jederrrr....
Aku dan bunda tersurut mundur saling mengkuatkan.
"All..."rintih bunda
"Mbak...," ratap Hani. Hani pun secepat kilat menelpon Adit.
Kring....krinng....kring...
kring....kring...kring....
"Hall0, yank," sapa Adit .
"Bagaimana mas Sugeng yank," tanya Hani penasaran.
"Yank...sugeng....sugeng...
"Sugeng kenapa,dit tanya bunda semakin penasaran bercampur was was.
"Sugeng,ibu dan bapaknya meninggal,Bun," jelas Adit dengan gemetar.
Di rumah sakit Semarang
"Keluarga bapak Sugeng," tanya suster.
"Iya ..saya d0k,tunjuk Adit.
"Maaf orangtua Sugeng tidak bisa kami selamatkan dan mas Sugeng sendiri sedang kritis ," jelas Suster.
"Iya sus. bisa ketemu dengan Sugeng,"
Suster pun mengizinkan Adit untuk menemui Sugeng yang kritis.
"Geng...kamu harus kuat geng,"
"A...diiit ...guman Sugeng.
"Ti..tip ...a...lii..a...bilang aku mencintainya," lirih Sugeng dengan nafas yang tersengal sengal.
"Maafkan aku," imbuhnya. Adit yang sejak tadi mendengarkan dengan menempelkan telinganya ke mulut Sugeng jadi kaget ketika nafas Sugeng berhenti dan layar monitor be erubah menjadi garis panjang.
Tut....Tut...Tut..
,"Su...geng....dokter," teriak Adit menjadi jadi.
"Innalilahi " lirih dokter sambil memeriksa detak jantung Sugeng yang berhenti.
"Yang tabah ya pak," ucap dokter sambil melepas kacamatanya.
"Apa maksud dokter hhhh," bentak Adit.
"Pak Sugeng meninggal dunia," kilahnya.
"Arrrrrgggg.....kenapa geng. kenapa ...bagaimana ku katakan Dengan Alia ," Adit menjambak rambutnya tubuhnya merosot ke lantai.
"Aaarrrrggg...," sesal Adit." Harusnya kamu tidak ku izinkan pulang," sesalnya lagi di pukul nya lantai marmer rumah sakit.
Selang berapa menit Sugeng meninggal cahaya putih masuk ke dalam ruang ICU tempat Alia di rawat.
__ADS_1
Muncul sosok berpakaian putih mencoba memeluk Alia.
"Sayang ...maafkan aku ," bisiknya.
"Mas Sugeng...Alia pun terbangun di tatap nya lelaki itu . dipeluknya tubuh itu. kita jalan jalan ya sayang," ajak Sugeng . Dan Alia pun.mengangguk. Mereka duduk di sebuah taman sambil berpegangan.
"All.. maukah kamu menikah denganku," tanya Sugeng sambil berjongkok. tanpa basa basi Alia pun mengangguk pelan
"Ya aku mau," balas Alia.
"Jika aku pergi ke Semarang apakah kamu akan mengikuti aku,"
"Tentu saja karena kamu suamiku,"
"lihat Al burung di sana ," tunjuk Sugeng.
"Cantik.ya all," bisik Sugeng.
Mata Alia berkaca kaca saat netra bertemu dengan netra.
"Kamu sossweet." Alia sesenggukan menjawabnya rasa bahagia membuncah di sanubari Alia.
"Bunda telah merestui kita," lirih Alia malu malu.
"Papa juga merestui kalian ," seru papa Rebo tiba tiba muncul di belakang mereka.
"Papa..." Alia pun menoleh senyum mengembang. Alia melangkah menuju sang papa dipeluknya tubuh papa begitu pula Sugeng menubruk tubuh pak Rebo.
"Terimakasih papa," ucap Alia .
"Terimakasih pak Rebo,"sahut Sugeng.
"Bahagialah,nak..kalian pantas buat bahagia," jelas pak Rebo.
Awan biru terang tiba tiba berganti seketika dengan mendung hitam pekat.Hujan mulai membasahi bumi begitu pula dengan bunda dan Hani derai tangis bercucuran dari mata mereka ,saat lampu ruang ICU berubah warna dan dokter tertunduk lesu.
"Maaf kan kami Bu...putri ibu tidak bisa kami selamatkan," sela dokter .
"Bunda," jerit Hani.seakan akan tidak ingin kehilangan kakaknya ia pun menerobos masuk dipeluknya erat tubuh yang terbujur kaku.
"Mbak...mbak bercanda kan,"
"Bangun mbak...bangun...Hani sama siapa." isak Hani.
"Mbak ...Hani pun membuka selimut yang menutupi wajah Alia di ciumi wajah itu untuk yang terakhir kalinya. Bunda pun menyusul mendekati Alia.
"Bunda sudah maafin kamu nak, bunda yakin kamu telah bertemu cinta sejatinya," bisik bunda.
"Bunda ...suruh kakak bangun bunda..suruh kakak bangun.." pinta Hani dengan nada memelasnya. Bunda hanya menggelengkan kepala sambil mengusap air matanya.
"Hani...biarkan kakakmu pergi dengan tenang ," lirih bunda mencoba kuat walaupun sebenarnya ingin rasanya bunda menangis .
"Bunda..." Hani pun beralih memeluk bunda.Air mata mereka terus bercucuran ketika tubuh Alia di dorong ke luar ruangan.
"Mohon ibu dan mbak selesaikan administrasi dulu,sela suster.
"Iya,sus," sahut bunda.
Hani dan bunda pun menuju ruang Administrasi. Mobil ambulans pun meninggalkan rumah sakit menuju rumah bunda Hani.
Begitu pula dengan Adit selesai memakamkan Sugeng dan orang tuanya Adit pun pulang ke kota.
"Selamat tinggal kawan ...semoga kamu bahagia di sana ," ucap Adit sambil meremas tanah pusara Sugeng.
__ADS_1