Malam Pertama Dengan Bos Papa

Malam Pertama Dengan Bos Papa
Bab 11


__ADS_3

"Maksud bunda apa." tanya Alia .


Mata Alia berkaca kaca.


"Maafin Alia bunda....Alia minta maaf ..." lirih Alia dia pun bersimbuh di kaki bunda.


"Alia khilaf..."


"Apa dengan minta maaf ...papa akan hidup kembali.," ketua bunda membuat hati Alia mencelos hebat.


"Maafin Alia bunda," raungnya sederet penyesalan mulai menghantui Sugeng yang berdiri di samping Adit.


"Bunda Sugeng akan bertanggung jawab," tegas Sugeng.


"Bertanggung jawab....hidupkan papa kembali." bentak bunda membuat seisi ruangan kaget.Hani yang tadinya memeluk jenasah papa langsung menghambur bunda. Dipeluknya bundanya.


"Bunda ikhlaskan papa bunda," bisik Hani merangkul tubuh bunda.


"Pergi kalian ...aku tidak Sudi melihat kalian," maki bunda marah. Ini.adalah pertama kalinya bunda marah bunda yang lemah lembut berubah karena kehilangan papa.


Alia dan Sugeng tak kuasa menahan tangis mereka pun bersujud di depan bunda memohon ampun.


"Bunda ...maafin Alia dan mas Sugeng," mohon Alia dengan penuh penyesalan.


"Apa dengan kalian menyesal papa akan hidup lagi hhhhh," seru bunda.


"Pergi dari sini..." teriak bunda.


"Apa yang kamu lakukan Al bunda tak pernah mengajarimu untuk jadi murahan," sesal bunda.


Bunda menangis memukul mukul dadanya.


"Bunda hentikan ...bunda ..," sergah Hani sambil memegang tangan bunda.


"Bunda gagal mendidik anak ...bunda gagal," histeris bunda.


Tubuh bunda lunglai merosot ke lantai Hani pun menjadikan. tubuhnya untuk sandaran bunda.


Adit yang melihat langsung memapah bunda di tidurkan nya bunda di brangkar. Alia maju mendekat dengan penuh airmata di peluknya sang bunda.


"Bunda maafin Alia...maafin Alia bunda,"


"Bunda maafin Sugeng bunda ...maafin Sugeng bunda..Sugeng janji bahagiakan Alia."


Keduanya menangis di sisi bunda. Tak lama kemudian bunda pun tersadar.


"Pa..." guman bunda.


"Bunda...maafin Alia ...Alia minta maaf bunda," lirih Alia.


Bunda pun mengelus rambut Alia.


"All...kenapa All...papa tidak akan hidup lagi,"


"Sssttt...bunda jangan begitu doain papa supaya tenang bunda," kilah Hani mencoba bijaksana.


Dipeluknya sang bunda. Bunda menghela nafas mengaturnya sedemikian rupa.


"Kita bawa papa pulang ," lirih bunda. Hani pun menggangguk ,menatap Adit dan Aditpun pergi untuk mengurus Administrasi.


Di rumah Bunda


Jenasah papa di mandikan,di kafani terus di solatkan. Bunda pun mencoba menerima kenyataan.


Hari menjelang sore papa di kuburkan di pemakaman komplek.


"Hani jangan pulang dulu ya,lirih bunda. Nunggu 7 harinya papa," bunda menatap Hani dan Hani pun mengganguk tapi ketika bunda menatap Alia bunda memalingkan mukanya. Dan hati Alia mencelos sedih.


"Maafkan aku bunda ," batin Alia ketika matanya bertemu dengan netra bunda. Hani menggiring bunda ke kamar di tatapnya sekeliling kamar di ambilnya foto papa .


"Kenapa pa...kenapa bunda ikut papa ," isak bunda membelai foto papa.


"Bunda istrirahat ya, " Hani pun merebahkan tubuh bunda di tempat tidur.


Hari ini genap 2 Minggu sejak kepergian papa. Hani dan Aditpun masih tinggal di rumah bunda begitu juga dengan Alia walaupun bunda bersikap acuh tapi Alia berusaha meluluhkan hati bunda.


"Han...bilang ma mbakmu ...kapan Sugeng mau melamar mbakmu," ucap bunda ketika berada di ruang makan. Spontan Hani kaget ada rasa gembira bunda kembali menerima mbak Alia.


"Bunda sudah maafin mbak Alia,"


"Percuma marah Han .. papamu juga tidak akan hidup lagi," seloroh bunda.


"Maafin Hani bunda...Hani dan mbak Alia belum bisa bahagiain bunda," Hani pun berdiri pindah kebelakang tempat duduk bunda dipeluknya wanita yang masih cantik di usia yang semakin menua itu.


"Ya...bunda maafin mbakmu...semua juga kesalahan bunda yang tidak bisa mendidik anak," papar bunda.

__ADS_1


"Bunda..." pekik Alia.


"Sakit bunda," Teriakan mbak Alia membuat kami kaget aku bunda dan mas Adit pun tergopoh gopoh ke kamar mbak Alia. Mbak Alia tertatih tatih dari kamar mandi sambil memegang perutnya.


"Bunda..."lirih Alia mata nya berair.


"Kamu kenapa Al," tanya bunda was was .


"Darah bunda .." Hani melihat kaki Alia berlumuran darah.


Brug...


Tubuh Alia lunglai nafas mulai tersenggal.


"Adit tolong bawa Alia ke klinik," panik bunda.


Di Sebuah klinik


"Dengan keluarga ibu Alia," tanya Dokter yang menangani Alia.


"Saya bundanya dok," sahut bunda.


"Suaminya bu Alia," tanya dokter lagi.


Dengan cepat Hani pun menjawab


"Suaminya di bekerja dok," sambil mengendikan matanya kepada Adit .


"Yah ...ponsel Adit ketinggalan bunda," sela Adit.


"Hani juga tidak bawa hape,"


Bunda menatap Adit dan Hani yang saling tatap.


"Tolong hubungi suaminya," kata dokter lagi.


"Ada dokter...kenapa dengan putri saya ,"


"Maaf Bu...tapi..."


"Tapi apa dok," potong bunda.


"Maaf kami tidak bisa menyelamatkan bayinya Bu Alia," jelas dokter.


Bunda terhuyung mundur dipeluknya Hani.


"Sabar bunda Tuhan lebih sayang pada dia bunda," ucap hani.


Setelah mendengar penjelasan dokter bunda,Hani dan Adit masuk ruangan di mana Alia berada.


"Bunda..." jerit Alia tangisnya makin menjadi jadi.


"Maafkan Alia ..maafkan Alia,"


"Sssssttttt...jari bunda menutup mulut Alia dipeluknya Alia.


"Maafkan bunda juga sayang," Mata Alia berkaca kaca.


.


"O iya yank...aku baru ingat Sugeng pulang ke Semarang ," bisik Adit takut denger bunda.


"Hhhhh...." mata Hani melotot.Dipikirannya Sugeng melarikan diri setelah kesalahan yang dia buat.


"Besok kita susul ke Semarang ," mantap hani.


"Brengsek berani ...beraninya ninggalin mbak," batin Hani. " Belum pernah liat Hani pecahin kepala orang." timpal Hani di sambut cengiran Adit .


"Sayang dengarkan mas Adit. Sugeng pulang mau jemput orang tuanya," mendengar penjelasan Adit Hani terdiam.


Di tempat yang lain


Sugeng


Kemaren aku sengaja pulang ke Semarang niatku ingin meminta restu sama ibu dan bapak.


"Ibu..." teriakku menyongsong ibuku yang menjemur pakaian di depan rumahku. Rumah yang sangat sederhana.Ibu membalikan badan.


"Sugeng," Ibu menyerukan namaku memelukku.


"Apa kabarmu nak, kamu lesu amat . kamu baru sakit," berondong ibuku.


"Ibu ...biarkan Sugeng istirahat dulu." sela bapak yang muncul di balik pintu depan.


Ibu pun melepas pelukannya mengajakku masuk ke dalam rumah. Akupun meletakkan tas ransel ku di kursi tempatku duduk.

__ADS_1


"Baik kamu geng," tanya bapak seakan akan mengerti arah yang akan ku bicarakan.


"Sugeng tak banyak waktu pak buk." kataku menunduk aku takut membuat sedih orangtuaku.


"Aku mau menjemput bapak dan ibu untuk ke kota," jelas Sugeng basa basi.


"Ada apa nak," tanya Ibu sedikit kawatir.


"Sugeng ingin melamar Alia buk pak,"


Spontan bapak yang mendengar mendadak shock. Inipun terdiam terpaku.


Satu detik 2 detik 5 menit sampai 10 menit suasana menjadi hening.


"Mendadak banget geng. ada apa ," tanya bapak.


"Maafkan Sugeng pak buk...maafkan sugeng, Sugeng khilaf," terang Sugeng.


Deg....jantung bapak serasa mau berhenti mendengar penjelasan Sugeng.


"Apa yang terjadi geng," tanya bapak penasaran.


Sugeng pun menceritakan yang terjadi sampai kematian papa nya Alia.


"Brengsek kamu geng,'


Plak ...plak...bapak menampar pipi kanan kiri Sugeng 2 buah cap telapak tangan menghias pipinya Sugeng.


"Maafkan aku pak buk..." lirihnya penuh dengan penyesalan.


"Buk ...beresin pakaian kita ..kita ke rumah Alia sekarang ," perintah bapak dengan muka marahnya.


"Pak ...ingat bapak punya penyakit jantung." Ibu berusaha meper bapak.


Bapak pun menghela nafas panjang.


"Sugeng ," guman bapak mencoba berdamai dengan kenyataan.


"Apa yang harus ku katakan pada pak lurah Bu," lirih bapak.


"Kita pikirkan nanti pak,sekarang kita harus ke kota menemui orangtua Alia." kata ibu bijaksana


"Pesan travel sekarang geng," perintah ibu.


"Terimakasih pak buk ...tapi Sugeng bawa mobil."


"Ya sudah ...kita berangkat ...Bu ..pamit ke tetangga ..titip sapi sama rumah,"


"Iya pak,"


Dengan cekatan ibu dan bapak berbenah tiba tiba ponselku berbunyi ku ambil ponselku.


"Adit...." guman Sugeng Ditariknya logo berwarna ijo ke atas.


"Ada apa dit.," tanya Sugeng.


"Kamu baru sampai di Semarang," / Adit


"Iya ...besok aku ke kota lagi/ balas Sugeng .


"Eh...brengsek ...kenapa kamu kabur hhhh..." maki Hani menyerobot hape Adit.


"Aku tidak kabur Han," jelas Sugeng tapi Hani tidak mau dengar dia terus saja memaki maki Sugeng.


"Sudah yank...sudah.." lerai Adit.


"Sabar gimana. ...anak kamu meninggal Sugeng ...mbak ku terkapar di rumah sakit kamu tau," Hani terus saja memaki.


Deg....


"Apa..." teriak Sugeng tertahan.


"Maafkan papa nak...raung Sugeng...maafkan papa.." batin sugeng tubuhnya terasa lemas.


"Halo...halo ..."


Sugeng pun mengeletakan ponselnya di meja tanpa mematikan panggilan dari Adit .


"Aaarrrrggg...." teriak Sugeng frustasi.


Bapak dan ibu pun menghampiri Sugeng. Ibu meraih ponsel Sugeng .


"Angkat brengsek ," maki Hani di dengarkan ibu.


"Tanggung jawab kamu." gertak Hani .

__ADS_1


Ibu pun kaget di matikan ponsel Sugeng secara sepihak di tatapnya mata Sugeng lekat lekat.


"Ayo ke kota ...'" Ajak bapak dengan tegasnya.


__ADS_2