Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
15. Mungkin cinta butuh pengorbanan


__ADS_3

Riana pun pergi keluar dari mall tersebut untuk melupakan lelaki misterius yang menabraknya tadi tanpa memikirkan bahwa lelaki tersebut lah yang akan membuat hidupnya celaka.


"Kenapa semua orang berlari - lari?" Ucap Riana dengan bingung. "Permisi kenapa orang - orang berlarian ke tengah jalan?" Tanya Riana kepada salah satu orang di jalan tersebut.


"Ada korban tabrak lari!" Ucap wanita bertubuh tinggi tersebut.


"Serius!?" Gumam Riana.


"Iya." Jawab wanita itu.


Riana pun kemudian membantu korban tabrak lari tersebut dengan bekal ilmu yang dia pelajari semasa menjadi traine peramugari.


"Permisi , biarkan saya membantu. Saya bisa menangani luka kecelakaan ini, tolong siapa pun telepon ambulance." Titah Riana.


Sementara itu Raesha terlihat sangat kesal mendapati Riana tidak mengangkat teleponnya. "Riana kemana sih, biasanya dia mengangkat telepon ku!?" Jeletuk Raesha. Riana pun membiarkan handphonenya terus - menerus berdering selama membantu korban tersebut.


"Ini sudah sore dan dia belum juga pulang!?" Gumam Raesha.


Riana pun mengantar korban tersebut menuju rumah sakit. "Permisi dimana ruangan anak saya dirawat!?" Tanya salah satu lelaki tinggi berserta seorang wanita di belakang lelaki tersebut.


"Di ruangan itu bu." Ucap suster di rumah sakit tersebut.


Kedua orang tua tersebut pun bergegas menuju keruangan yang diberitahu oleh suster tersebut, sesampainya di ujung ruangan tersebut mereka mendapati Riana sedang duduk dengan baju yang di penuhi oleh darah.


"Kamu yang menolong anak saya?" Tanya wanita tersebut. Riana pun kemudian menoleh dan mendapati bahwa wanita tersebut adalah sahabatnya semasa sekolah menengah atas.


"Sica?" Ucap Riana.


"Bagaimana kamu tahu nama ku?" Gumam Sica.


"Aku Riana , apa kamu melupakan ku?" Tanya Riana.


"Ah, Riana. Terima kasih telah menolong anak ku, kalau kamu tidak ada. Mungkin dia tidak bisa tertolong." Ucap Sica.


"Sama - sama, aku tidak menyangka kalau dia adalah anak mu." Gumam Riana.


"Perkenalkan ini suami ku, namanya Daniel." Ucap Sica.


"Salam kenal." Gumam Riana.


"Iya, terima kasih telah membantu kami." Gumam Daniel.


"Iya , sama - sama." Ucap Riana.


Kemudian dokter pun keluar dari ruangan tersebut, dan mengatakan sesuatu.


"Adakah disini yang merupakan keluarganya?" Tanya dokter tersebut.

__ADS_1


"S..saya ibunya." ucap Sica.


"Saya minta maaf , anak ibu tidak bisa tertolong." Ucap dokter tersebut. Ruangan tersebut pun menjadi hening dan kemudian di banjiri oleh air mata.


"Ini bercandakan dok?" Ucap Sica.


"Saya tidak bercanda, pertolongan pertama yang diberikan oleh Riana membantu menahan darah agar tidak keluar terlalu banyak. Tetapi setelah kita melakukan berbagai hal, ternyata tengkorak bagian belakang kepala anak anda rusak dan menghambat jalannya oksigen." Ucap dokter tersebut.


"Tolong bilang ke dokter , kalau ini bohong kan?" Ucap Sica kepada Daniel.


Riana yang melihat semua itu , tidak bisa menahan air matanya. Melihat begitu besar cinta seorang ibu kepada anaknya.


"Riana ini bercandakan?, Pasti dokter berbohongkan?" Tanya Sica.


Riana pun hanya menahan air matanya , mendengar Sica menanyakan hal tersebut. "Sica dengarkan aku, anak mu sudah bahagia pasti dia bangga mempunyai seorang ibu seperti mu." Gumam Riana.


"Kenapa tidak ada yang percaya!?, Aku yakin anak ku masih les musik sekarang." Gumam Sica.


Daniel dan Riana yang melihat Sica seperti itupun merasa sedih dan terluka.


"Riana, terima kasih sudah membantu. Kamu boleh pulang, Sica biar saya yang urus. Dia butuh waktu lama untuk menyembuhkan luka di hatinya, tolong nanti datang ke pemakaman anak kami." Ucap Daniel.


"Iya, baiklah. Saya pergi ya." Ucap Riana.


"Iya." Gumam Daniel.


Riana pun pergi meninggalkan mereka berdua dan pergi untuk pulang.


"Kamu dimana Riana?, Ini sudah malam. Apa kamu tidak cek handphone mu , sudah berapa kali mas menelepon."


"Iya, aku sedang di jalan. Tunggu saja mas."


"Suara mu kenapa?"


"Aku tidak apa - apa."


"Mas jemput saja ya, ini sudah malam."


"Tidak usah, nanti mobil mas akan kotor. Aku jalan kaki saja."


"Tapi sebentar lagi akan turun hujan."


"Aku bisa meneduh sebentar."


"Tidak , mas jemput saja. Kamu dimana?"


"Baiklah, aku berada didepan minimarket. Tempat biasa kita membeli cemilan."

__ADS_1


"Baiklah tunggu disana, mas akan jalan sekarang."


"Baiklah."


Raesha pun mematikan panggilan dan menuju ke tempat dimana Riana berada. Sembari membawa jaket agar Riana tidak kedinginan. Riana kemudian masuk kedalam minimarket tersebut dan membeli mie untuk dia makan.


"Permisi mba, jadinya berapa?" Tanya Riana.


"15.000, maaf kenapa baju anda dipenuhi noda darah?" Tanya kasir tersebut.


"Saya habis menolong korban tabrak lari." Ucap Riana.


"Ah, kamu yang ada di berita tadi siang. Jangan duduk di luar , duduk saja di dalam sebentar lagi akan turun hujan." Ucap kasir tersebut.


"Iya mba, terima kasih." Gumam Riana.


Riana pun pergi duduk dan memakan mienya sembari menunggu Raesha.


"Aku sangat kasihan kepada Sica, dia begitu menyayangi anaknya." Gumam Riana.


Massage on.


"Kamu dimana?, Mas sudah didepan minimarketnya."


"Aku ada didalam minimarket, aku akan keluar."


"Baiklah, mas membawakan mu jaket."


"Okei."


Riana pun pergi keluar dari minimarket tersebut, Raesha yang mendapati Riana dengan bekas noda darah di bajunya pun merasa khawatir.


"Kamu kenapa?" Tanya Raesha.


"Aku baik-baik saja." Gumam Riana.


"Bohong, jelaskan kepada mas!?" Tanya Raesha dengan nada sedikit membentak Riana.


"A..aku tadi menolong korban tabrak lari, dan dia merupakan anak dari sahabat ku dulu sewaktu SMA." Gumam Riana.


"Jadi , kamu lama karena menolong anak teman mu?" Tanya Raesha.


"I..iya mas." Ucap Riana.


"Tapi bukan berarti kamu mengabaikan telepon mas, seharusnya kamu tadi mengangkatnya." Ucap Raesha.


"I..iya aku minta maaf." Gumam Riana sembari menundukkan kepalanya kebawah.

__ADS_1


"Ini sudah kesekian kalinya, kamu tidak mengangkat telepon mas. Kamu tahu kan mas khawatir?" Tanya Raesha.


"I..iya aku minta maaf, apakah maaf tidak cukup?. Aku sudah mengakui kesalahan ku karena tidak mengangkat telepon mas, ada hal lain kenapa aku tidak mengangkatnya. Kenapa mas begitu marah kepada ku!?" Tanya Riana.


__ADS_2