
Mark dan Vanya akhirnya memutuskan bermalam di apartemen Raesha. Paginya Riana yang saat itu tahu bahwa dirinya harus menerima terapi memutuskan pergi berdiam- diam dari apartemen Raesha menuju rumah sakit.
Sesampainya Riana dirumah sakit, ia langsung menemui dokter kang untuk menerima terapi. Di sela-sela Riana menerima tetapi, ada seorang misterius secara diam memfoto Riana dan dokter kang. "Kalau tidak tetapi dengan rutin, ingatan mu akan memburuk. Bahkan perlahan kamu akan melupakan semuanya." ucap dokter kang.
"Separah itu kah?" tanya Riana.
"Tidak hanya disitu, selain kamu memiliki amnesia. Dikepala mu ada bekas luka yang cukup besar dan itu akan berbahaya untuk jangka umur mu." gumam dokter kang.
"Jangka umur? maksudnya?" tanya Riana Heran.
"Seperti ini kamu ada diagnosa Hematoma intrakranial yang muncul pada rongga kepala. Kondisi ini disebabkan karena adanya kerusakan pada pembuluh darah otak, sehingga dirimu membutuhkan penanganan medis untuk mencegah kerusakan otak permanen." ucap dokter kang.
"Kerusakan otak permanen? separah itu dok? adakah cara lain untuk menyembuhkan itu?" tanya Riana gemetar.
"Ada, pada umumnya untuk hematoma intrakranial yang meluas terkadang perlu ditangani dengan operasi. Tindakan yang bisa dilakukan adalah pengeluaran darah dengan membuka tulang tengkorak atau kraniotomi." ucap dokternya kang.
"Hm baiklah dok." jawab Riana gemetar.
"Saya harap kamu bisa menerima keadaan, saya yakin penyakit kamu akan sembuh." ucap dokter kang.
"Saya hanya tidak mengira, diri saya bisa mengalami hal seperti itu." gumam Riana.
"Ini disebabkan karena pengalaman mu menjadi pramugari." ucap dokter kang.
"Kecelakaan itu." ucap Riana.
"Selama ini, kamu akan mendapatkan pengobatan rutin. Datang kembali lusa." ucap dokter kang.
"Baiklah terima kasih dok." ucap Riana.
Riana pun pergi dari rumah sakit itu dengan rasa sedih yang amat dalam. Kadang, aku berusaha keras untuk mencari jawaban yang sebenarnya tidak pantas untuk dipertanyakan.
"Apakah aku pantas bersanding denganmu?" atau "Apakah jalan hidupku akan berakhir tanpa bersanding dengan mu?". Aku terlalu khawatir pada hal kecil sehingga melupakan diriku sendiri.
"Vanya, liat Riana!?" teriak Raesha.
"Tidak kak, mungkin beli sarapan kali kak." jawab Vanya.
"Aku pulang." gumam Riana.
"Habis darimana?" tanya Raesha.
"Ah ini, beli sarapan." gumam Riana.
__ADS_1
"Oalah." gumam Vanya.
"Ya sudah mari sarapan dulu." jawab Raesha.
"Hmm." jawab Riana.
Sementara itu Mark yang usil dengan kucing Riana dibuat kebingungan dengan sikap Riana.
"Mas aku mau ngomong." gumam Riana.
"Ngomong apa?" tanya Raesha.
"Ini penting, bagaimana kalau di kamar saja?" tanya Riana.
"Baiklah." ucap Raesha.
"Mas aku merasakan hal aneh pada Vanessa dia itu bunglon mas. Aku lihat dengan mata kepala ku sendiri mas saat aku beli sarapan. Tidak mungkin Vanessa bergandengan dengan lelaki lain dan menyebutnya sebagai "Suami". Mas tahu kan kalau Vanessa itu dekat dengan Hendra." gumam Riana.
"Ngga mungkin sayang, Vanessa udah menjadi baik sekarang." gumam Raesha.
"Mas masa ga percaya aku? Aku ngelihat sendiri mas. Gimana kita mau nikah mas, kalau mas ga percaya aku?" tanya Riana.
"Sayang, mungkin kamu salah lihat." ucap Raesha.
"Tidak mungkin mas, aku tidak sedang mengigau." jawab Riana.
"Mas!" bentak Riana.
"Apa sayang? sudah lah. Kamu itu hanya masih trauma" gumam Raesha.
"Apa mas senang aku yang terus menerus menjadi korban?" tanya Riana.
"Sayang jangan bicara seperti itu, kamu ini!" bentak Raesha.
"Kalau memang mas tidak percaya, biar aku saja yang mencari kebenarannya. Aku tahu mas tidak percaya dengan ku karena mas tidak merasakan bagaimana menjadi diriku!" ucap Riana.
"Riana!, berhentilah bertingkah layaknya anak kecil. Kalau kamu masih seperti itu mas tidak akan menikahi mu!" bentak Raesha.
"Baiklah, memang sepertinya mas senang aku terluka. Kalau itu pilihan mas, aku akan pergi dari apartemen mas. Aku tidak akan kembali, aku paham sedari dulu aku tidak cocok dengan mas." gumam Riana.
"Kurang ajar! dimana tata Krama mu. Inikah yang mas dapat, calon istri mas yang kurang ajar dengan mas. Kamu ingin pergi? silahkan! Jangan pernah injak kaki kamu di apartemen mas" bentak Raesha.
"Baiklah! memang mas tidak benar mencintai ku. Aku kira dengan menaruh kepercayaan kepada mas, mas bisa menjadi salah satu orang yang mendukung ku. Ternyata aku Salah, mas membela Vanessa karena dia pintar dalam urusan perkantoran di kantor mas. Baiklah aku anggap kita selesai mas." gumam Riana.
__ADS_1
"Oh tentu, silahkan pergi dari apartemen mas. Kemasi semua barang mu." ucap Raesha.
"Baiklah!" bentak Riana.
"Dasar wanita gila!" bentak Raesha.
Riana pun mengemasi semua barangnya dan pergi dari apartemen Raesha dalam keadaan sedih. Mark yang kala itu menyapa Riana merasa sangat di acuhkan. Aku tidak menyangka bahwa mas tidak mengerti bagaimana takutnya aku saat dicelakai oleh Vanessa. Seberapa mengerikannya hingga aku mengidap penyakit ini. Mungkin Tuhan tahu bahwa hidup ku tidak akan lama oleh sebab itu dia memisahkan ku dengan Raesha.
"Dasar wanita itu, ternyata selama ini aku salah telah menaruh hati padanya! wanita sinting. Bagaiman bisa seseorang yang telah mengakui kesalahannya kembali membuat kejahatan. Sinting" gumam Raesha sembari pergi menuju kantornya.
"Kak, kenapa kak Riana pergi?" Tanya Vanya.
"Berhentilah menanyakan soalnya, Wanita itu sinting." gumam Raesha.
"Kakak!, Bagaimana bisa kakak mengatakan hal itu kepada kak Riana. Kakak sebaiknya mengejarnya dan pergi minta maaf" ucap Vanya.
"Vanya! berhentilah jangan membuat ku marah. Riana itu memang pantas di usir" gumam Raesha yang kemudian pergi.
"Vanya, kakak mu sedang emosional. Sebaiknya kita kemasi barang kita lalu pulang menuju apartemen ku." gumam Mark.
"Mark, aku sangat senang kak Raesha mempunyai seorang calon istri seperti kak Riana. Aku tidak menyangka sifatnya yang ceroboh membuat ia menuruti emosinya dan menghilangkan kak Riana." gumam Vanya.
"Biar aku yang bicara kepada kakak mu nanti, sebaiknya kita ikut pulang. Kakak mu sedang emosi berat. Bagaimana luka mu?" tanya Mark.
"Mendingan, kak Riana yang mengobatinya." jawab Vanya.
"Ah syukurlah, sebaiknya kita pulang." gumam Mark.
Mark dan Vanya memutuskan untuk pergi dari apartemen Raesha. Entah apa yang mengacaukan pikiran Raesha sehingga membuatnya marah besar terhadap Riana.
Phone call
"*Bu sepertinya Riana dan Raesha sedang berantam. Ia memutuskan hubungan secara sepihak untuk Riana. Saya menemukan Riana sedang berjalan di trotoar dekat dengan jalan setapak yang sepi."
"Wah, sepertinya sedang ada suami dan istri yang masih calon berantem. Yang harus kau lakukan adalah culik Riana sepertinya Raesha pun tidak akan perduli jika Riana menghilang"
"Baiklah Bu Vanessa, setelah itu apa yang harus saya lakukan?"
"Kurung dia di ruangan yang sama seperti wanita yang ingin di jual kepada lelaki malam. Tapi ingat untuk wanita yang ini kau harus jaga dengan baik dan jangan biarkan sedikitpun noda luka pada tubuhnya."
"Baiklah Bu"
"Dan satu lagi, Jangan jual Riana kepada siapapun. Biar aku saja yang menyiksanya"
"Oke bu, tugas kami terima*"
__ADS_1
Senangnya Riana bisa menculik diri mu, saatnya kamu merasakan hal yang sama seperti ku. Bagaimana rasanya ditindas dan diperlakukan buruk. Raesha itu bodoh.