Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
20. Hati yang mendua


__ADS_3

"jika aku menghilang, jangan lelah untuk mencari ku. Tapi jika aku tetap tidak bisa kau temukan, aku akan tetap hidup di dalam hati mu." - Riana.


...


"Kepala ku." Ucap Raesha pusing.


"Hai pak, sudah siuman kah?" Tanya Vanessa.


"Sudah, kamu siapa?" Tanya balik Raesha.


"Saya Vanessa, pacar bapak." Ucap Vanessa dengan logat serius.


"Pacar?" Gumam Raesha.


"Mungkin bapak lupa, tadi bapak tidak sengaja jatuh dan kepalanya terbentur kursi." Ucap Vanessa sembari memberikan bubur beserta teh hangat.


"Kalau begitu panggil saja saya Raesha." Ucap Raesha kepada Vanessa.


Vanessa tersentak bahagia karena apa yang ia inginkan akhirnya bisa ia dapatkan, bukan hanya itu Vanessa berhasil menyingkirkan Riana dari kehidupan Raesha.


"Mari diminum tehnya pak eh maksudnya saya Raesha." Gumam Vanessa.



Sementara itu keadaan di rumah sakit begitu mengkhawatirkan Riana terlalu banyak kehilangan darah sehingga ia memerlukan 3 kali transfusi darah.


Phone call..


"Halo pak Raesha, kondisi Riana sangat mengkhawatirkan. Apa bapak bisa hadir sekarang di rumah sakit?" Ucap Steve panik.


"Riana, Siapa dia?" Gumam Raesha bingung.


"Calon istri bapak." Jawab Steve.


"Calon istri?, Tetapi pacar saya Vanessa. Mungkin kamu kelelahan jadi salah menelepon seseorang." Jawab Raesha bimbang.


Raesha pun kemudian mematikan teleponnya dan kembali mengingat kenangannya bersama Vanessa.


"Pak Raesha? Ada apa ini. Pasti Vanessa yang membuat pak Raesha seperti itu. Wanita kejam!" Titah Steve saat di ruang tunggu.


Aku terkejut mendengar pak Raesha lupa akan sahabat ku Riana, bagaimana tidak? Dia adalah calon suaminya. Tidak mungkin seorang calon suami melupakan calon istrinya sendiri, aku harus membantu pak Raesha mengingat Riana.


Pasti Vanessa yang membuat pak Raesha menjadi lupa dengan Riana, aku tidak akan membiarkan Riana meneteskan air matanya karena wanita ******** itu.


Steve pun naik pitam di buat Vanessa karena menganggu kebahagiaan sahabatnya tersebut. Aku harus bertemu dengan Vanessa sekarang , dia itu memang licik tapi bodoh. Steve kemudian beranjak dari ruang tunggu rumah sakit dan pergi ke kantor pak Raesha.


"Vanessa!" Gumam Steve.


"Apa sih lo." Jawab Vanessa.


"Apa yang lo kasih ke pak Raesha?" Tanya Steve.


"Cuman obat pelupa ingatan, kenapa?. Lagian Riana juga ga ada" gumam Vanessa.


"******** ya lo!" Bentak Steve.


"Jangan kurang ajar ya lo!" Balas Vanessa.


"Sekarang gua tanya?, bagaimana kalau lo yang di posisi Riana. Bakal hancur ga hidup lo?" Tanya Steve.


"Gue bodo amat, karena bukan gua ini. Bye ga ada waktu sama lo!" Bentak Vanessa sembari meninggalkan Steve.


Steve pun mengejar Vanessa dan menarik tangannya kemudian memojokkan Vanessa di sudut ruangan.


"Kalau lo berani - berani main jauh dengan pak Raesha, harga diri lo bakal hilang di tangan gua!" Gumam Steve sembari merabahkan tangannya didada besar milik Vanessa dan kemudian beranjak menuju paha Vanessa.


"Ahh, lepaskan aku Steve. Kau gila!" Teriak Vanessa.


"Aku memang gila, jika salah satu orang yang aku sangat lindungi terluka.", Ucap steve mengancam Vanessa.


"Berhenti lah Steve, tangan mu sangat tidak sopan!" Gumam Vanessa.


"Ah iya?, Maksud mu seperti ini?" Ucap Steve sembari meremas dada milik Vanessa. Vanessa tersentak terkejut karena dada miliknya di remas secara kasar oleh Steve.


"Ahh, Steve cukup!" Ucap Vanessa.


"Seperti itu tidak sopannya diri lo mengambil Raesha dari Riana. Gua pergi, ingat omongan gua." Ucap Steve sembari meninggalkan Vanessa.


Vanessa terbujur lemas karena dadanya di maini oleh Steve sebagai ancaman agar ia menjaga jarak dari Raesha. Tetapi tetap saja ancaman tersebut tidak berlaku bagi Vanessa.

__ADS_1


"Raesha..Raesha.." gumam Riana lemas dengan badan yang terbujur lelah.


"Ri, istirahat dulu ya. Dirimu belum pulih betul." Ucap Steve.


"Raesha.." ucap Riana.


Riana sedari tadi hanya terus memanggil nama Raesha, ia sangat ingin sekali Raesha menemaninya disaat seperti itu. Tetapi apa daya Raesha terpengaruh oleh obat yang di beri Vanessa sehingga ia melupakan memori mengenai Riana.


Sejatinya cinta dia tidak akan pernah salah umtuk pulang, ia tahu kemana harus pulang. Sekali pun ia salah, pasti akan merasakan hal yang berbeda. Mungkin untuk saat ini Raesha telah salah pulang dan kehilangan arah kemana ia harus menetap, sudah semestinya Riana merangkulnya kembali. Suatu saat nanti kamu akan menyadari pedihnya kehilangan, tapi terlalu lambat untuk memperjuangkan.


"Ri?" Gumam Steve.


"Aku harus bertemu dengan Raesha." Gumam Riana terbangun dari masa kritisnya.


"Ri jangan, kondisi dirimu itu belum stabil." Gumam Steve.


"Tapi, aku harus bertemu dengan Raesha." Ucap Riana.


"Ri, Raesha sekarang lagi sibuk dengan pekerjaannya. Secepat mungkin dia pasti menjenguk diri mu." Ucap Steve.


"Serius?" Tanya Riana.


"Iya, yang penting diri mu sabar untuk menunggu." Ucap Steve.


"Baiklah." Gumam Riana yang kembali tiduran.


Aku hanya tidak mau melihat Riana sedih saat ia menghampiri Raesha. Sudah cukup aku melihat tindakan jahat Vanessa kepada Riana.


"Steve, syukurlah aku masih bisa melihat diri mu." Ucap Mina.


"Sayang, terima kasih ya sudah menolong Riana." Ucap Steve memeluk Mina.


"Iya, dimana Raesha?" Tanya Mina heran.


Steve langsung menarik Mina keluar ruangan dan menjelaskan apa yang terjadi dengan Raesha.


"Seperti ini, kamu tahu Vanessa kan?" Tanya Steve.


"Vanessa yang kamu ceritakan sangat tergila - gila dengan Raesha itu bukan?" Tanya balik Mina.


"Iya betul, dia meracuni minuman Raesha dengan bubuk penghilang ingatan." Ucap Steve.


"Iya, jadi aku minta jauhkan Riana dari hal berbau Raesha untuk sementara waktu. Biarkan pikirannya tenang dulu ya sayang." Ucap Steve sembari merangkul Mina.


"Iya sayang, aku akan menjauhkan Riana dari hal mengenai Raesha untuk memulihkan kesehatannya." Ucap Mina.


"Aku akan membuat Raesha mengingat Riana lagi." Ucap Steve.


"Semangat sayang." Gumam Mina.


"Iya." Ucap Steve yang kemudian mencium kening Mina.


Tiga hari kemudian kondisi Riana mulai membaik, ada perkembangan yang signifikan dari Riana. "Riana sudah boleh pulang kok, tapi ingat jangan terlalu berlebihan dalam mengingat sesuatu. Memorinya Riana masih belum terlalu kuat." Ucap dokter kepada Steve, Riana dan Mina.


"Iya dokter, terima kasih." Gumam Mina kepada sang dokter.


Mina pun menggiring Riana keluar ruangan "Ri, karena dirimu sudah sembuh, aku traktir ice cream." Ucap Steve.


"Ice cream?" Tanya Riana.


"Iya, rasa vanilla." Gumam Mina.


"Baiklah, ayo!" Ucap Riana penuh semangat.



Riana beserta Steve dan Mina pergi menuju ke toko ice cream tempat biasa Riana dan Raesha membeli ice cream bersama.


"Steve, biar aku yang mengantri. Kau bersama Riana duduk saja." Gumam Mina.


"Baiklah, ayo Riana." Ucap Steve.


Riana hanya mengangguk mengikuti Steve duduk "Ri, kamu mau ikut liburan tidak di akhir pekan?" Gumam Steve.


"Liburan?, Tidak." Ucap Riana.


"Kenapa?" Ucap Steve heran.


"Aku ingin pergi beristirahat, kepala ku masih sakit." Ucap Riana.

__ADS_1


"Baiklah, Ri." Ucap Steve.


Tak lama setelah Riana dan Steve menunggu, Mina pun datang membawa ice cream yang sudah di pesan. Dari kejauhan Riana tidak sengaja melihat Raesha berjalan dengan seorang wanita di sampingnya.


"Ri, mau kemana?" Tanya Steve.


"Itu Raesha kan?, Aku tidak salah lihat kan?" Tanya Riana.


"Kamu salah lihat, sudah lanjutkan saja makan ice creamnya." Ucap Mina.


Riana menghiraukan Steve dan Mina yang sedang berbicara, ia kemudian mengejar Raesha dan menghampirinya.


"Raesha?" Ucap Riana.


Raesha menoleh ke arah Riana yang sedari tadi memanggil namanya.


"Iya, kamu siapa ya?" Tanya Raesha heran.


"Aku Riana mas." Jawab Riana senang.


"Riana, siapa?, Apakah kita pernah kenal sebelumnya?" Ucap Raesha.


"Aku calon istri mu mas, tidak ingat kah?. Mas bercandakan" Tanya Riana heran.



"Siapa ya? Maaf. Saya punya pacar namanya Vanessa bukan Riana." Ucap Raesha.


"Vanessa?" Jawab Riana bingung.


"Riana, itu bukan.." ucap Steve terputus.


"Kalian siapa ya?, Steve kamu kenapa bersama wanita ini?" Tanya Raesha.


"Dia sahabat saya pak, kami disini pergi makan ice cream untuk merayakan kepulangan Riana dari rumah sakit." Gumam Steve.


"Hm baiklah, Steve cepat kembali ke kantor ya. Saya menaruh tugas di meja kerja kamu." Gumam Raesha.


"Iya pak." Jawab Steve.


Raesha pun pergi meninggalkan mereka, tetapi Riana mengejar Raesha dan menarik tangannya.


"Ini aku Riana, kau jahat!. Kenapa kau tidak datang menemui ku di rumah sakit. Apa yang terjadi dengan diri mu!" Bentak Riana.


"Berhenti lah!" Jawab Raesha dengan menepis kasar tubuh Riana.


"Argh." Gumam Riana.


Mina yang melihat kejadian tersebut pergi menghampiri Riana untuk merangkulnya.


"Sudah lah sayang, kita cari restoran lain. Wanita sinting ini pasti sudah kehilangan akalnya." Gumam Vanessa.


"Kurang ajar!" Ucap Steve dalam hatinya sembari menahan emosi yang sedari tadi ingin ia keluarkan.


Raesha pergi meninggalkan mereka bertiga di depan toko ice cream tersebut, Riana hanya mampu menahan air matanya melihat perlakuan kasar Raesha kepadanya.


"Mina, aku pulang dulu ya ke apartemen ku." Ucap Riana.


"Ingin aku antar?" Gumam Mina.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Ucap Riana sedih.


Riana pergi meninggalkan mereka berdua dan pulang menuju apartemennya dengan raut muka sedih dan hati yang berantakan.


Sesampainya Riana di apartemennya ia membereskan bajunya dan mencari tiket untuk pulang sembari menangis sejadi-jadinya.


"Apa yang terjadi?" Gumam Riana sedih dan kemudian menangis.



"Semoga Riana tidak melakukan hal aneh." Ucap Steve.


"Wanita sialan itu memang kurang ajar" teriak Mina.


"Aku kembali ke kantor ya, kamu pulang saja ke rumah ku. Ini kuncinya." Ucap Steve sembari memberikan kunci rumahnya.


"Hm baiklah, jangan terlalu malam." Ucap Mina.


"Iya sayang." Ucap Steve.

__ADS_1


__ADS_2