Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
27. Musuh dalam selimut


__ADS_3

Phone call


"Halo Riana?" Gumam Daniel.


"Halo, ada apa pak?" Tanya Riana.


"Hari ini ada pemotretan untuk sponsor minuman air mineral toreta. Bisa hadir?" Tanya Daniel.


"Dimana pak?" Tanya Riana.


"Di perusahaan tempat minum tersebut, jaraknya lumayan dekat dengan kantor Raesha." Gumam Daniel.


"Baiklah pak." Gumam Riana.


Raesha yang heran perihal siapa yang menelepon Riana kemudian ia pun menanyakan pada Riana.


"Riana itu siapa?" Tanya Raesha.


"Itu pak Daniel, dia bilang ada pemotretan di perusahaan toreta." Gumam Riana.


"Mas antar ya kesana." Gumam Raesha.


"Hm, iya mas." Gumam Riana cuek.


"Kamu kenapa?" Tanya Raesha.


"Tidak kenapa-kenapa. Aku baik-baik saja." Ucap Riana.


"Kalau ada apa-apa cerita." Ucap Raesha.


"Aku rasa tidak ada lagi hal yang harus di ceritakan." Ketus Riana.


Apa yang terjadi?bukan kah tadi pagi dia masih baik-baik saja?. Apakah dia kecewa karena ulah ku?.


Riana yang terdiam di dalam mobil Raesha hanya bisa menahan rasa kecewanya sembari melihat cincin tunangan yang ia kenakan. Maaf mas aku hanya kecewa karena ulah mu, mungkin sebentar lagi akan membaik walaupun tidak sama seperti dulu.


"Sudah sampai, mau mas antar sampai ruang kerja mu?" Tanya Raesha.


"Iya mas." Gumam Riana.


Riana dan Raesha pun masuk kedalam perusahaan tersebut dan mendapati Daniel yang tengah mempersiapkan konsep pemotretan Riana.


"Daniel?" Ucap Raesha.


"Eh, Raesha? Apa kabar?" Tanya Daniel.


"Baik, bagaimana dengan mu?" Tanya Raesha.


"Baik juga, calon istri mu cantik sayang kalau di sia-sia kan." Gumam Daniel.


Raesha terdiam mendengar omongan Daniel, apakah ia tahu masalah ku?.


"Riana siap di posisi ya." Gumam Daniel.


Riana pun bersiap dengan pakaian olahraganya sembari memegang botol air mineral dengan pose cantiknya.


"Satu..dua.. tiga." Gumam tukang foto di ruangan tersebut.



"Cantiknya, Raesha kau mau lihat?" Gumam Daniel.


"Boleh." Sembari berjalan ke arah Daniel dan melihat foto Riana.


"Dinda cepat kasih baju ganti untuk Riana, sesi selanjutnya ia akan difoto bersama model lelaki yang sedang naik daun." Gumam Daniel.


"Apa? Foto sama model lelaki?" Tanya Raesha.


"Sudah lah, tidak gigit." Gumam Daniel.


Astaga! Seperti ini kah pekerjaan mu sekarang? Tidak apalah lebih baik dibandingkan menjadi pramugari.


"Ya, agak sedikit mendekat sedikit biar bagus di kamera." Gumam juru foto tersebut.


"Seperti ini?" Tanya model lelaki tersebut.



"Iya, pertahankan." Gumam juru foto itu.


"BAGUS! Saya suka" ucap Daniel.


"Sudah selesai kah pak?" Tanya model lelaki tersebut.


"Belum, satu kali foto lagi." gumam Daniel.

__ADS_1



"Sudah, kalian boleh pulang. Ini sangat bagus dan saya sangat suka." Gumam Daniel.


"Baiklah Daniel, saya dan Riana pergi dulu." Gumam Raesha.


"Iya, hati-hati." Gumam Daniel.


"Mas maaf ya tadi aku foto dengan model lelaki. Itu sudah pekerjaan ku." Gumam Riana.


"Iya tidak apa-apa." Ucap Raesha.


"Baiklah." Ucap Riana.


"Mari kita makan, mas tahu kamu lapar." Gumam Raesha.


"Iya mas." Gumam Riana.


Mereka pun pergi ke restoran biasa mereka sering kunjungi, para pelayan dan Bahakan manager disana hapal dengan mereka.


"Mas yang antri ya, nanti mas pesani makanan kesukaan kamu." Gumam Raesha.


Riana pun mengangguk dan mencari tempat duduk untuk menunggu makanan datang, tampak dari depan meja makannya ia melihat sebuah pasangan yang tampaknya tidak pernah akur.


Sang wanita menyiram air kepada lelakinya? Apa mereka putus? Kenapa? Padahal lelakinya hendak melamarnya. "Dengar aku hampa, karena dirimu bermain dengan wanita lain. Aku tahu kamu itu mencintai ku, tapi tidak seperti ini. Sana sini oke, aku manusia aku juga punya perasaan. Bahkan robot sekarang pun punya perasaan. Jika memang kamu ingin melamar ku, berhentilah membuat ku terluka. Aku terlalu banyak terluka karena bersama mu, tolong sekali ini buat aku bahagia." Ucap sang gadis sembari meninggalkan pasangannya.


"Makanan datang, ayo makan dulu." Gumam Raesha sembari menaruh makanan di atas meja makan.


"Mas sebentar aku ingin ke kamar mandi." Gumam Riana.


"Baiklah." Gumam Raesha sembari duduk.


Riana pun pergi menuju kamar mandi, sesampainya ia disana Riana pun menangis sembari memegang cincin tunangannya.


Seharusnya kalau aku tahu kecewa itu sesakit ini, aku tidak akan memilihnya. Memang berharap kepada manusia akan menimbulkan sakit seperti ini, mungkin lebih baik aku memaafkan Raesha.


"Ayo, mas kita makan. Aku lapar." Ucap Riana.


"Baiklah, sejak kapan kamu ada disini bukan kah kamu di kamar mandi?" Tanya Raesha.


"Aku barusan keluar." Ucap Riana.


"Baiklah." Ucap Raesha.


Raesha yang menatap dalam Riana, menyesali segala perbuatannya. "Riana, maaf mas membuat kamu kecewa. Seharusnya mas bisa menyingkirkan Vanessa tanpa harus melukai mu." Tutur Raesha.


"Tidak apa-apa mas, adakalanya orang yang paling kita cintai adalah orang yang akan sering menyakiti. Aku akan belajar terbiasa dengan itu dan bersahabat dengan luka. Mungkin awalnya aku benci sekali dengan mas, aku kecewa, aku sedih tapi rasanya semua itu tidak ada gunanya. Mas juga tidak bisa mengubah keadaan dan tidak bisa membetulkan hatiku yang hancur layaknya piring pecah. Yang berlalu biarlah berlalu. Aku sudah memaafkan mas." Jawab Riana sembari melanjutkan makannya.


"Hmm baiklah, Mas akan berusaha untuk menebus kesalahan mas dengan membuat kamu bahagia." Gumam Raesha.



"Baiklah mas." Ucap Riana tersenyum.


Setelah mereka makan bersama Raesha membawa Riana pulang untuk beristirahat.


"TOLONG!!!" Gumam seorang wanita ditengah jalan yang sepi.


"Mau kemana kau wanita jalang! Orang tua mu sudah menjual mu kepada kami. Kemana pun kamu pergi, kami akan menemukan mu" gumam wanita yang khas dari pola suaranya.


"TIDAK!" Berontak wanita itu.


"Kevin dan Patrick ikat wanita itu sekarang juga!" Suruh wanita tersebut.


Tanpa lama Kevin dan Patrick mengikat wanita tersebut, wanita itu terpaku lemah karena dibius oleh lelaki tersebut. Setelah lelaki itu mengikat wanita tadi datang seorang laki - laki dengan mobil hitam.


"Hai, Vanessa mana wanita yang kau janjikan?" Gumam Daniel.


"Ini Daniel, mau kau apakan wanita tersebut?" Tanya Vanessa.


"Kau tahu bos perusahaan ku yang meminta." Jawab Daniel.


"Bagaimana dengan Riana dan Raesha?" Tanya Vanessa.


"Mereka akan melakukan balas dendam, tenang apapun akan aku beri tahu asal wanita ini dapat membuat bos ku puas." Jawab Daniel.


"Baiklah, kau memang mantan pacar yang baik." Gumam Vanessa.


"Hehe, senang berbisnis dengan mu." Gumam Daniel yang kemudian pergi sembari membawa wanita itu.


Sesampainya Daniel di perumahan bos besar tersebut tanpa lama ia pun memberikan wanita tersebut dan pergi setelah menerima bayaran yang besar dari bosnya.


Wanita tersebut pun kemudian tersadar "Aku dimana?" Tanya wanita tersebut.


"Kau dikamar ku Vanya." Gumam Mark.

__ADS_1


"Lepaskan aku" gumam Vanya.


"Tidak!. Aku akan melepaskan mu setelah aku mencicipi dirimu" gumam Mark sembari berjalan keatas ranjang tidurnya.


"Tidak!" Berontak Vanya.


"Teriak lah, bahkan Raesha pun tidak akan mendengar." Jawab Mark.


Mark yang sedari tadi hasratnya sudah bergejolak, ia pun menuruti nafsunya untuk menjelajahi Vanya. Vanya yang sedari tadi memberontak terpaku lemah karena kekuatan kalah dibandingkan kekuatan milik Mark. Ia dibuat terkunci oleh gerakan gerakan Mark.


"Mark berhentilah..., Aku akan menuruti kemauan mu." Gumam Vanya yang menahan permainan Mark kepadanya.


"Baiklah kalau seperti itu, bilang kepada Raesha bahwa kau akan dinikahi oleh diriku. Atau jari jemari ku akan menjelajah lagi disela-sela tubuh mu." Gumam Mark.


"Baiklah, tolong ambilkan handphone ku dan cari kontak Raesha lalu loud speaker." Gumam Vanya.


Phone call


"Halo ada apa Vanya?" Tanya Raesha


"Kak, aku ingin menikah dengan Mark. Apa kakak akan mengizinkan?" Tanya Vanya.


"Menikah?Besok bawa calon suami mu ke apartemen kakak." Gumam Raesha.


"Baik ka." Jawab Vanya.


Mark pun melepaskan ikatan yang membelit ditubuh Vanya dan membiarkan Vanya menggunakan kamar mandinya.


"Itu kakak kandung mu?" Tanya Mark.


"Bukan, dia kakak tiriku." Gumam Vanya.


"Dia galak?" Tanya Mark.


"Iya, ahh Mark!" Jawab Vanya terputus sembari terjatuh.


"Kau kenapa?" Tanya Mark panik.


"Punggung ku sakit." Rintih Vanya.


Mark pun memeriksa belakang tubuh Vanya dan mendapati luka lebam pada pundak Vanya.


"Pundak mu lebam, kenapa?" Tanya Mark.


"Aku tidak sengaja kena hantam oleh kayu saat diriku mencoba lari dari orang tua ku, aku sangat takut dijual seperti ini." Gumam Vanya.


"Astaga! Maafkan aku" jawab Mark.


Mark pun mengobati luka lebam pada Vanya dan membiarkan Vanya beristirahat.


"Yang menelepon mu siapa mas?" Tanya Riana.


"Adik tiri mas, dia ingin menikahi seseorang." Gumam Raesha.


"Oh, besok dia akan ke apartemen mas?" Tanya Riana.


"Iya." Jawab Raesha.


"Besok aku bantu untuk membuat makanan ya, tapi apa adik mas akan menerima ku?" Tanya Riana.


"Pasti dia akan menerima mu." Jawab Raesha.


Sementara itu Vanessa yang sedari tadi tampil cantik pergi dari apartemen bayaran Riana, dan mendapati lelaki misterius tersebut menjemput dirinya.


"Hai istriku sudah lama kita tidak tiduran satu ranjang. Ayo kita kerumah ku." Gumam lelaki tersebut.


"Iya sayang, aku muak tidur dengan Hendra. Kapan kau akan menyingkirkannya?" Tanya Vanessa.


"Secepatnya setelah aku menyingkirkan Riana dan Raesha." Jawab lelaki aneh itu.


"Raesha kali ini, ingin membalaskan dendamnya pada mu. Setelah kau mencelakai Riana." gumam Vanessa.


"Tenang aku punya rencana." gumam lelaki tersebut.


"Baiklah, aku merindukan mu." Gumam Vanessa.


"Aku juga!" Peluk lelaki tersebut.


"Riana! mas membelikan mu pakaian. Mau kau coba?" gumam Raesha.


"Baiklah." jawab Riana sembari mencoba baju tersebut.



"Bagaimana mas?" tanya Riana.

__ADS_1


"Kau cantik." gumam Raesha.


__ADS_2