
"Eum... Kepala ku sakit, ini dimana?" Gumam Riana dengan nada yang bertanya - tanya.
"Kamu di kantor mas sayang , mas semalem yang ngejemput kamu. Kamu itu kemarin malam ketiduran di bangku tunggu bandara." ucap Raesha sembari membelai rambut Riana.
"Ah iya , kemarin malam aku sangat mengantuk mas. Mas aku rindu." ucap Riana dengan nada memelas.
"Sama mas juga rindu dirimu. Sebentar lagi sarapan akan datang, kamu makan yang lahap ya habis itu minum obat." Ucap Raesha dengan nada serius kepada Riana.
"Minum obat?, Bagaimana mas tahu aku sakit?" Tanya Riana dengan nada heran.
"Semalam isi tas mu jatuh dan mas tidak sengaja liat salah satu obat jatuh dari tas mu. Kenapa kamu tidak bilang ke mas kalau lagi sakit?" Tanya Raesha sembari mendekati mukanya ke muka Riana.
"A..aku tidak mau membuat mas khawatir dengan kondisi ku, aku tahu bahwa mas sedang sangat sibuk. O..oleh sebab itu aku menyembunyikannya dari mas." jawab Riana dengan gugup.
"Mas jadi sedih, kamu menyembunyikan apa yang kamu rasakan. Mas juga berhak tahu apa yang terjadi dengan diri mu." jawab Raesha dengan tegas.
"I-iya mas, aku tidak akan mengulanginya lagi." jawab Riana dengan nada memelas.
Kemudian Raesha pun mencium bibir manis calon istrinya tersebut sebagai hukuman karena Riana tidak memberitahu apa yang dia rasakan kepada Raesha.
Riana yang pagi itu mendapatkan perlakuan manis dari Raesha pun mendadak terkejut dan kemudian hening.
__ADS_1
"Ingat ya sekali lagi kamu tidak bilang apa-apa ke mas , mas bakal cium kamu. Itu hukuman buat mu karena nakal." ucap Raesha kepada Riana dengan nada serius dan sedikit kesal. Riana pun hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa dia mengerti dengan apa yang Raesha katakan.
"Permisi pak, ini sarapan pagi ini." Ucap salah satu OB dari perusahaan tersebut.
"Taruh saja di meja." Titah Raesha.
OB tersebut pun mengangguk dan menaruh sarapan tersebut di atas meja dekat sofa tidur Riana dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Kamu makan dulu ya sayang, biar bisa cepat minum obat nanti." Ucap Raesha kepada Riana.
Raesha pun membiarkan Riana menghabiskan sarapannya dan dia pun fokus kembali ke pekerjaannya. Riana yang merasa seperti diabaikan , mulai menjaili Raesha.
"Mas??" Gumam Riana.
"Mas, aku rindu. Ayo sarapan bareng, aku tidak ingin sarapan sendiri." celoteh Riana dengan nada meminta.
"Dasar gembul ku ini, yaudah ayo kita sarapan bareng. Mas juga rindu kamu." ucap Raesha kepada Riana. Riana pun kemudian menatap mata Raesha sembari mengeluarkan air mata. "Bohong!!, mas tadi mengabaikan aku" Celoteh Riana dengan nada kesal.
"Sayang aku tidak bohong, tadi mas hanya meneruskan beberapa data yang belum selesai. Sudah ya jangan nangis, nanti mas unyel lembut pipi mu." Ucap Raesha sembari membelai rambut Riana.
Raesha pun membawa Riana menuju sofa tidurnya dan kemudian sarapan bersama.
__ADS_1
"Waktu kamu jadi pramugari , ada orang lain yang ingin berbuat nakal ke kamu tidak?" Tanya Raesha dengan serius.
"Tidak mas, Mina yang menjaga ku. Jadi tidak ada yang berani mengganggu ku, karena banyak yang takut dengan Mina." jawab Riana.
"Hmm..oke. Besok kan hari Sabtu , ingin pergi ke kebun binatang tidak?" Tanya Raesha.
"Ayo mas , aku ingin lihat kembaran mas." jawab Riana sembari tertawa.
"Oke, kalau begitu, izinkan mas buat sibuk hari ini ya. Sebagai gantinya kamu boleh berkeliling kantor mas, nanti kamu di temani sama sekertaris mas." Gumam Raesha.
"Oke mas, semangat kerjanya." Titah Riana.
"Kalau begitu kamu siap-siap mandi ya, nanti setelah mandi mas panggilkan sekertaris mas." gumam Raesha.
"Oke aku mandi dulu ya mas , tapi mas kamar mandinya jauh tidak?" Tanya Riana.
"Di ruangan mas juga ada kamar mandi, itu sayang kamar mandinya." Ucap Raesha.
"Oh iya , tidak terlihat mas." Titah Riana sembari tertawa.
"Dasar kiyowo ku." Ucap Raesha.
Riana pun pergi untuk mandi dan Raesha pun kembali berkutik pada meja kantornya yang di penuhi oleh berkas - berkas coretan ide serta nama segala macam perusahaan yang ingin berkerja sama dengan perusahaannya.
__ADS_1