Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
21. Kau jahat!


__ADS_3


Kau mampu berlari dengan menebar senyum, sedangkan aku terpaku tak sanggup memelukmu, karena bagimu keadaanku ini adalah ketiadaan yang tak pernah ada. Diriku adalah sepatu kaca yang tengah berjalan diatas paku, terasa amat perih ketika dirimu tengah asyik bergandengan tangan dengan wanita lain yang jauh lebih sempurna di bandingkan aku. Di saat sesungguhnya hati masih ingin bersama keadaan memaksa untuk berpisah dan di saat rindu masih sebesar semesta keadaan memaksa untuk meredam.


Enam tahun yang lalu..


Nama ku Riana, mungkin ini akan menjadi awal bagaimana aku dan Raesha akrab. Waktu tahun pertama masuk sekolah di SMA, guru ku mendaftarkan aku untuk ikut dalam organisasi yang sama sekali aku tidak inginkan tetapi tetap saja aku jalani.


Aku terpaksa ikut dengan setengah hati, awalnya aku canggung dengan lingkungan organisasi. Aku memiliki trauma masa kecil di saat aku memulai percakapan dengan orang di sekeliling ku.


Tepat pada hari kedua aku duduk bersebelahan dengan lelaki tinggi dan mempunyai senyum yang manis, saat pertama kali aku melihat lelaki tersebut terlintas di dalam benak ku lelaki ini berbeda. Dia sangat menjunjung tinggi derajat wanita, memperlakukan wanita lembut seperti ia memperlakukan ibunya. Tepat di waktu perkenalan, aku mulai menanyai namanya.


"Kak permisi, nama kakak siapa?" Ucap Riana sembari menjulurkan tangannya.


"Nama kakak Raesha, kamu sendiri siapa?" Jawab Raesha membalas jabat tangan Riana.


"Saya Riana kak." Gumam Riana dengan senyum manis di mulutnya.


Hingga akhirnya aku dan ia di terima di dalam satu organisasi yang sama, saat itu perasaan ku senangnya bukan main. Semesta seakan berbahagia melihat aku tersenyum untuk pertama kalinya.


"Akhirnya bisa satu organisasi dengan kak Raesha." Ucap Riana.


Bahagia itu ada dua, ada yang sendirian ia bahagia dan ada yang sudah bersama tapi ia sengsara. Tetapi pada tahun pertama aku bergabung dengan organisasi itu rasa malas dan juga ambisi ku untuk belajar sangat lah tinggi, sehingga aku benar - benar memulai perjuangan ku pada tahun kedua menjabat.


Di saat itu lah aku diam - diam mencuri pandang untuk melihat kak Raesha, awalnya terasa aneh menaruh rasa padanya. Tuhan kadang unik dalam menempatkan perasaan suka, wanita pecicilan seperti diriku bisa menyukai lelaki pendiam seperti itu.


Kau tahu? Setiap pulang sekolah aku tidak langsung pulang tetapi menunggu kak Raesha selalu di jemput ayahnya. Itu sebabnya aku terbiasa terlambat pulang ke rumah.



Sesampainya di rumah aku di marahi oleh ibu ku karena terlambat pulang dan melewati jam makan malam. Saat itu aku terlalu takut untuk bilang bahwa aku menyukainya. Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk bercandaan dengan kak Raesha.


Saat itu hari Rabu, organisasi ku ada acara kebetulan kak Raesha hadir saat acara tersebut. Setiap hari kak Raesha selalu membawa tas yang berat hingga akhirnya aku membongkar tasnya , ciri khas dari kak Raesha adalah ia selalu membawa kertas HVS dan pinsil kemana pun ia pergi.


"Kak kenapa di dalam tas kaka banyak sekali kertas hvs kosong dan pinsil?" Tanya Riana heran.


"Kalau saat itu ada yang penting bisa Kaka catat di kertas itu." Jawab Raesha.


"Kan ada handphone kak." Gumam Riana.


"Kalau batrainya habis kita tidak bisa menggunakannya dan lagi pula melatih menulis bagus." Gumam Raesha.


Riana hanya mengangguk paham karena ia mengerti dengan kebiasaan Raesha. Pada hari selanjutnya aku terus menerus menunggu Raesha pulang dengan harapan bisa berbincang sebentar, Riana terus melakukan hal ini hingga akhirnya membuah kan hasil.


Pada saat itulah kak Raesha mulai memberiku surat dengan bungkus berbentuk tabung, di dalam surat itu ia menuliskan kata - kata motivasinya agar aku tetap semangat dalam sekolah.


Sampai sekitar tiga bulan aku tidak membalas surat yang kak Raesha berikan, karena pertama kalinya aku menerima surat seperti itu dari seorang cowok.


"Ri, itu surat dari siapa?" Tanya Kaka tingkat kelas ku yang akrab dengan ku.


"Dari kak Raesha." Ucap Riana.


"Sudah pernah di balas?" Tanya kakak tersebut.


"Belum kak, kak Raesha mengasih surat ini sudah dari 3 bulan yang lalu. Aku takut jika membalasnya dia tidak menyukai ku sama sekali." Gumam Riana.


Kakak tersebut melihat isi surat tersebut dan mengatakan bahwa sebetulnya ia mulai menyukai Riana.


"Dia mulai menyukai mu." Gumam kakak tersebut sembari memberikan suratnya kepada Riana.


"Menyukai ku?" Jawab Riana heran.

__ADS_1


"Aneh tidak lelaki pendiam tiba - tiba memberikan surat kepada wanita dan isinya memotivasi. Keculai kalau kakak yang kasih kamu pasti sudah tidak heran, karena kakak pecicilan. Balas lah surat tersebut dia pasti menunggui balasannya." Ucap Kaka tersebut.


Riana terdiam mematung sembari memikirkan perkataan yang di lantunkan oleh kak Daniel kepadanya. Seminggu kemudian Riana menuliskan surat balasannya dan ia memberikan suratnya Raesha.


Mulai dari saat itu Riana dan Raesha bertukar surat, hingga akhirnya Riana mendapatkan surat dengan berisikan "kamu adalah salah satu wanita yang ingin saya nikahi." dari Raesha.


Dari situlah awal hubungan diriku dengan kak Raesha di mulai, kami saling komitmen untuk saling percaya.


"Tapi sayang mas, mungkin komitmen itu sudah tidak berlaku lagi untuk ku. Seakan tidak ada celah untuk aku hadir disisi mu." Gumam Riana sembari mengemasi barangnya dan beranjak keluar dari apartemennya untuk pergi jauh dari kota yang ia tinggali sekarang.


Aku pergi ya mas, jaga diri. Aku akan kembali di saat luka di hati dan juga kepala ku benar - benar sembuh dan di saat itu tiba aku akan mencari mu.


Sementara itu keadaan di rumah Steve sangat lah sunyi, Mina dan Steve hanya mengkhawatirkan kondisi Riana. Mereka khawatir kalau Riana akan melakukan hal - hal yang aneh.


Steve mencoba menelepon Riana dengan harapan Riana mengangkat telepon darinya.


"Ri, kamu ada dimana? Kenapa bunyinya sangat berisik" gumam Steve.


"Aku pamit ya, aku ingin pergi kesuatu tempat. Tolong jaga Raesha ya, aku hanya ingin melupakan memori yang sedih ini." Gumam Riana.


"Hah?, Pergi kemana?" Tanya Steve heran.


"Sudah, tidak usah tahu. Aku akan kembali, setelah luka ini sembuh." Gumam Riana yang mematikan teleponnya.


"Bagaimana dengan Riana?" Tanya Mina.


"Dia pergi dan akan kembali lagi, biarkan ia pergi kita jangan mengejarnya. Pasti dia butuh ruang dan waktu sendiri, kita hanya membantu pak Raesha untuk ingat dengan Riana." Ucap Steve.


Satu bulan kemudian kondisi di kantor Raesha sedikit berantakan karena ulah Vanessa berbeda di saat Riana hadir disana, Riana sangat memperhatikan kantor Raesha dengan baik dan memberikan waktu untuk Raesha bekerja. Vanessa hanya memikirkan harta yang Raesha punya berbeda dengan Riana yang hanya memikirkan tanggal pernikahannya.


"Aku tidak mau ya, kamu sibuk bekerja terus. Lagi pula kamu ini sudah kaya, kamu punya karyawan." Gumam Vanessa.


"Aku bekerja agar aku punya uang dan perusahan ini tidak mati." Jawab Raesha.


"Tapi itu akan boros, sebar undangan saja sudah cukup!" Bentak Raesha


"Kamu kan sudah kaya, katanya pekerja keras tapi kok untuk urusan pernikahan saja pelit!" Balas Vanessa.


"Kalau tidak hemat, kita akan kekurangan uang. Belum lagi kamu minta cincin berlian dan kalung yang kamu lihat di tv dengan harga mahal!" Gumam Raesha yang naik pitam di buat Vanessa.


Steve yang tidak sengaja menguping pembicaraan Raesha dengan Vanessa tersentak terkejut. Hal pertama yang Steve pikirkan adalah Riana.


"Vanessa merebut terlalu jauh, apakah ia mengabaikan ancaman ku?. Tidak bisa dibiarkan Vanessa harus di hukum." Gumam Steve.


Steve kemudian menjalankan aksinya ia menyewa seseorang untuk mencoreng harga diri Vanessa agar Raesha berubah pikiran untuk menikahi Vanessa.


"Ya sudah!, Aku akan pergi jalan - jalan ke mall." Gumam Vanessa yang kesal dengan Raesha.


Vanessa pun pergi ke arah parkiran mobil untuk mengambil mobilnya, tepat saat ia ingin mengambil mobilnya dari belakang ada seseorang yang memukul Vanessa hingga membuatnya pingsan.


"Argh, punggung ku." Gumam Vanessa tersentak terkejut mendapati dirinya dalam kondisi terikat.


"Lepaskan akuuu!" Teriak Vanessa.


"Berhentilah menganggu Riana, carilah lelaki lain." Ucap Steve.


"Kau yg melakukan ini?" Tanya Vanessa.


"Iya, berhenti lah!" Gumam Steve.


"Tidak!, Sampai kapan pun tidak!" Bentak Vanessa.

__ADS_1


"Steve! Apa yang kau lakukan!" Gumam Raesha.


"Pak, sadar lah yang seharusnya kau nikahi itu Riana. Dia calon istri mu, dia menahan rasa sakitnya akibat ulah mu." Gumam Steve.


"Kurang ajar!, Tahu apa kamu?" Gumam Raesha.


"Kau dan Riana telah bertunangan, aku tahu karena Riana yang menunjukkan cincin tunangannya!" Gumam Steve.


"Tidak mungkin Steve, calon istri saya sendiri saja adalah orang yang kamu Sandra!" Bentak Raesha.


"Sadar lah pak!, dimana akal sehat bapak" gumam Steve.


"Tidak sayang, lelaki itu berbohong." Ucap Vanessa.


"Diam kau wanita ular!" Bentak Steve.


Tidak tinggal diam Raesha pun langsung memecat Steve dan menyuruh satpam untuk membukakan tali yang mengikat di tubuh Vanessa.


"Pak, lihat saja saat bapak mulai ingat tentang Riana, bapak akan sangat menyesal. Karena Riana tidak ada lagi disini!" Bentak Steve yang kemudian pergi membereskan meja kerjanya.


Raesha pun merasakan sakit kepala yang amat hebat di bagian kepalanya, ia merasa melihat seorang wanita cantik yang sangat sabar dalam menghadapinya.


"Vanessa sekarang kamu pulang saja ya, biar supir yang antar." Gumam Raesha.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Vanessa.


"Tidak kok sayang, kamu pulang ya. Besok lagi kita bertemu." Gumam Raesha sembari meninggalkan Vanessa.


Saat berjalan menuju ruangannya, Raesha tidak sengaja terbayang sesosok yang sangat mengganggunya.


"Riana?" Ucap Raesha yang kemudian mencari berkas - berkas di dalam meja kerjanya.


Siapa Riana? Kenapa dia terus - menerus menghantui ku. Senyumnya dan gaya berbicaranya seakan tidak asing. "Bapak itu sudah tunangan dengan Riana!", Tunangan?. Bukan kah selama ini Vanessa yang hendak aku nikahi, kenapa semua orang menanyakan Riana kepada ku?.


Tidak sengaja Raesha mendorong setumpuk berkas yang Vanessa ikat menjadi satu. Sebentar itu biodata siapa? Memang ada di perusahaan ini yang bernama "Riana Aurora" ?. Raesha pun mengambil biodata tersebut dan kemudian membacanya.


Di sela-sela Raesha membaca terdapa foto Riana yang terjatuh dengan satu surat tulisan.



Ini kan surat yang ditulis Vanessa, buat apa dia menulis surat? Bukannya dia membenci surat seperti ini? Dengan sengaja ia pun membuka surat tersebut dan membacanya.


Dear my luv boyfriend Hendra.


Kau tahu, aku sudah berhasil merebut Raesha dari Riana. Tenang sebentar lagi aku akan menikahi Raesha dan kemudian membunuhnya.


Dengan begitu kita bisa menikah dan menikmati harta kekayaan Raesha, karena nanti warisannya akan turun kepada ku. Selangkah lagi kita akan menuju kemenangan.


Riana berhasil kabur saat ia tahu aku dan Raesha bersama, dia mengira Raesha telah menduakan dirinya. Riana yang bodoh..


Jujur aku tidak mencintai lelaki tinggi , bodoh dan kuno ini. Aku hanya ingin mengincar hartanya  itu sebabnya aku berakting baik di depannya dan sering mengancam dia jikalau ia ingin memutuskan hubungan dengan ku.


Aku harap lelaki bodoh ini hilang ingatannya agar tetap terus bisa kita tipu, Hendra aku mencintai mu.


From Vanessa.


Raesha yang membaca isi surat tersebut pun kemudia naik pitam dan ingin menghancurkan Vanessa tapi di satu sisi ingatannya akan Riana kembali terbentuk.


"Vanessa sialan!, Memang benar dalang dari semua ini bukanlah Riana tapi wanita itu. Bodohnya diriku percaya dengan begitu saja!" Gumam Raesha membanting semua barang yang ada di mejanya.


Riana aku mengingat mu, iya aku ingat! Kau calon istri ku. Aku harus mencari mu, aku berharap kau baik - baik saja. Maafkan calon suami mu yang bodoh ini, aku memang salah. Setelah ketemu kau boleh menghukum ku.

__ADS_1


Raesha pun langsung beranjak dari ruang kerjanya menuju rumah Steve untuk meminta kejelasan dimana Riana berada dan meminta maaf atas perlakuan kasarnya. Vanessa yang kembali kedalam kantor Raesha terkejut melihat seisi ruang kerja Raesha berantakan dan mendapati surat yang ia tulis untuk Hendra terbuka.


"Gawat surat itu! Aku harus mencari Raesha." Ucap Vanessa.


__ADS_2