Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
22. Hope


__ADS_3

"Sayang, dirimu kenapa?" Tanya Mina.


"Aku di pecat pak Raesha, karena ingin mengungkap kasus tentang Vanessa." Gumam Steve.



"Astaga, terus kamu akan bekerja dimana?" Tanya Mina.


"Mungkin aku akan melamar kerja di perusahaan fotografi untuk pernikahan, lumayan kok gajinya." Ucap Steve.


"Baiklah, dimana pun kamu bekerja aku akan mendukung mu." Gumam Mina sembari memeluk Steve.


"Terima kasih." Gumam Steve.


"Kamu sudah tahu kabar Riana?" Tanya Mina.


"Belum, sejauh ini Riana tidak memberikan kabar apapun." Gumam Steve.


"Ah, aku rindu dengan Riana. Bisa - bisanya ia pergi selama ini." Gumam Mina.


Tak lama setelah mereka berbincang terdengar bunyi bel dari pintu rumah Steve. "Biar aku yang buka." Gumam Mina.


"Baiklah." Ucap Steve.


"Pak Raesha? Ada apa kemari" gumam Mina yang terkejut melihat Raesha.


"Steve ada?" Tanya Raesha.


Mina pun langsung menutup pintu rumahnya tanpa menghiraukan Raesha yang masih berbicara.


"Tolong lah!, Aku harus tahu keberadaan Riana dimana. Aku berhasil mengingat tentang Riana." Gumam Raesha.


"Kamu tidak tahu dimana Riana, seharusnya itu tugas bapak mencari dia. Bapak tidak tahukan bagaimana hancurnya hati Riana?" Gumam Mina dari dalam rumah.


"Iya saya tahu, justru saya sekarang ingin mencari Riana. Memang terlambat tapi begini adanya." Gumam Raesha.


Steve yang mendengar Raesha berbicara seperti itu kemudian berbicara kepada Mina untuk membukakan pintu. "Buka pintunya." Gumam Steve.


"Tapi sayang?" Gumam Mina.


"Tidak apa-apa, ini soal masalah calon istrinya." Gumam Steve.


"Baiklah." Gumam Mina.


Mina pun membukakan kembali pintu rumah Steve agar Raesha dapat masuk.


"Terima kasih." Gumam Raesha.


"Silahkan duduk pak." Gumam Steve.


"Iya, apakah kau tahu tentang keberadaan Riana?" Tanya Raesha.


"Terakhir kali ia menelepon dan berkata "tolong jaga Raesha" seperti itu, dia tidak mengatakan dimana dia berada hingga saat ini." Gumam Steve.


"Jadi kalian tidak ada yang tahu keberadaan Riana?" Tanya Raesha.


"Iya, mungkin bapak bisa pergi ke apartemennya." Ucap Mina.


"Baiklah." Gumam Raesha.


Raesha, Mina dan Steve bergegas pergi menuju apartemen Riana dan mencari tahu keberadaan Riana.


"Tahu kode apartemennya pak?" Tanya Steve.

__ADS_1


Raesha pun kemudian mengotak-atik kode apartemen Riana. Mungkin tanggal jadian aku dengan Riana? Eh sebentar kitakan tidak pernah pacaran atau tanggal lahir Riana? Kok salah ya. Coba tanggal lahir ku, ah ternyata bisa.


"Apartemennya berantakan sekali, seperti ada orang yang mengacak - acak." Gumam Steve.


"Riana kalau emosi sudah diambang batas dia akan membanting barang di dekatnya." Gumam Mina.


"Separah itu kah?" Ucap Steve.


"Iya, dia kesulitan mengatur emosinya saat merasa kecewa." Ucap Mina.


Memang salah ku, yang melupakannya dan membuatnya pergi. Seharusnya aku tidak bertingkah ceroboh, pasti disaat dia mengalami masa kritis ia ingin sekali aku yang berada di sisinya.


"Liat kamarnya saja berantakan, mengerikan." Gumam Mina.



"lebih baik kalian melihat dapur dan ruang tamu, biar kamar Riana aku yang mengecek." Gumam Mina.


"Oke." Gumam Steve.


"Aku sudah mencari di dalam kamarnya, aku hanya menemukan struk belanjaan. Dia hanya membeli mie , air putih beserta nasi kotak." Ucap Mina.


"Malam setelah dia menelepon?" Gumam Raesha.


"Iya." Gumam Mina.


"Steve kau dimana?" Ucap Raesha.


"Coba kemari, bukan kah ini Riana?" Ucap Steve sembari menunjuk majalah yang ia bawa dari depan kamar apartemen Riana.


"Iya itu Riana!" Teriak Mina.



"Jadi dia menghilang selama satu bulan itu bekerja dengan majalah Ceci sebagai model untuk parfum?" Gumam Steve.


"Coba buka halaman selanjutnya, mungkin kita salah lihat." Gumam Raesha.


"Tidak mungkin pak, ini Riana. Aku tahu sekali karena aku pernah bekerja sama dengannya." Ucap Mina.


"Benar ini Riana." Ucap Steve.



"Baiklah, terima kasih telah membantu. Boleh majalahnya untuk saya?" Ucap Raesha.


"Silahkan saja pak." Gumam Steve.


"Oh iya Steve, saya minta maaf atas kejadian di kantor. Kamu bisa kembali bekerja dengan saya." Ucap Raesha.


"Tidak usah pak, saya akan melamar kerja di perusahaan lain saja. Saya takut bapak terganggu dengan kehadiran saya." Ucap Steve.


"Tidak, saya mohon. Kembali lah ke kantor saya, saya butuh orang seperti mu." Gumam Raesha.


Steve hanya terdiam di saat Raesha mengatakan hal itu kepadanya.  "Tidak apa-apa, kantor ku akan selalu terbuka untuk mu." Gumam Raesha.


"Baiklah pak, saya akan bekerja kembali disana." Gumam Steve.


Raesha pun mengangguk tersenyum ke arah Steve dan Mina sembari meninggalkan apartemen Riana.


Itukah cara mu menghilangkan kesedihan karena ulah ku? Mencoba untuk menyibukkan diri dengan menjadi model. Entah aku bodoh atau dungu, aku hanya terus menunggu dan berharap pada waktu kau kembali seperti dulu. Aku tahu kamu tersenyum bukan karena bahagia, tetapi itu hanya sampul untuk menutupi luka.


Raesha dengan pikirannya yang kosong tertunduk menyesal atas kelakuan bejatnya kepada calon istrinya sendiri, dia menduakannya , meninggalkannya dan bahkan hampir menikahi wanita lain.

__ADS_1


"Raesha!" Bentak Vanessa.


"Iya?" Tanya Raesha.


"Kau pergi kemana?, Ruang kerja mu berantakan. Apa yang salah dengan mu?" Tanya Vanessa.


"Seharusnya aku yang tanya, apa yang salah dengan mu? Kau ini siapa?" Gumam Raesha.


"Aku?, Apa kau lupa?. Ini aku Vanessa pacar mu" gumam Vanessa.


"Pacar? Bohong!. Aku ingat sekarang seharusnya wanita yang aku nikahi adalah Riana bukan kau" bentak Raesha.


"Kamu hanya mengigo, aku yang kau nikahi!" Ucap Vanessa.


"Tidak, apa alasan mu melakukan ini kepada ku?" Tanya Raesha.


"Apa yang kau katakan? Aku tidak mengerti sama sekali?" Gumam Vanessa.


"Jangan berpura - pura!, Siapa Hendra?" Gumam Raesha.


"Oke-oke, pada saat hari Riana kecelakaan aku meracuni minuman mu. Disaat kau lupa ingatan aku berpura - pura menjadi pacar mu." Ucap Vanessa.


"Kenapa kau lakukan itu?" Ucap Raesha.


"Aku ingin mengambil harta mu!, Aku iri dengan Riana. Oleh sebab itu hari dimana ia menjalankan tugasnya aku menyuruh seseorang untuk merusakan pesawat yang Riana tumpangi." Ucap Vanessa.


"kurang ajar! , Bagaimana kau tahu jenis pesawat apa yang ia tumpangi." Teriak Raesha.


"Aku tahu karena aku menyadap pesan masuk dari handphone mu. Tidak hanya itu, orang yang aku suruh sudah sering melukai Riana." Ucap Vanessa.


"Apa?melukai!" Bentak Raesha.


"Iya, apakah ingin dengar?" Tanya Vanessa.


"Kau wanita keji!" Ucap Raesha.


Satu Minggu yang lalu..


"Tolong!" Gumam Riana yang terus berlari dari kejaran lelaki tinggi.


"Mau lari kemana lagi kau nona?" Olok lelaki tersebut.


"Berhenti lah!, Kalian ada masalah apa dengan ku?" Gumam Riana.


"Berhenti berada di samping Raesha atau dirimu akan terluka!" Gumam lelaki tersebut sembari mendorong kencang tubuh Riana kearah tumpukan besi.


Itu sebabnya pada hari ketiga dia berlibur kakinya terdapat luka? Apakah karena tindakan jahat Vanessa.


"Jadi oleh sebab itu setiap Riana tertidur dan aku sering melihat luka, itu karena mu?" Gumam Raesha.


"Iya!" Bentak Vanessa.


"Aku akan membatalkan pernikahan kita, pergi kau dari sini!" Gumam Raesha.


"Tidak!, Jika kau membatalkan pernikahan ini. Maka Riana akan ada dalam bahaya besar dan itu karena mu." Ucap Vanessa.


"Kurang ajar!" Teriak Raesha.


"Pilihan mu ada dua, Riana dalam bahaya atau Riana mati saat ini juga!" Bentak Vanessa.


Bagaimana ini? Jika aku menikahi Vanessa maka Riana akan menjadi wanita yang aku sakiti dan aku tidak akan bisa memaafkan diri ku sendiri.


"Baiklah, aku akan menikahi mu!, Tapi berhenti lah menyakiti Riana." Gumam Raesha.

__ADS_1


"Bagus!" Ucap Vanessa.


Pernikahan ini tidak akan pernah terjadi dan aku akan menggagalkannya, bersabar lah Riana aku akan datang menemui mu.


__ADS_2