
"Vanessa, aku punya rencana untuk mencelakai Riana." gumam lelaki aneh tersebut.
"Rencana?" tanya Vanessa.
"Aku ingin Riana di culik, lalu dijadikan umpan. Agar Raesha keluar lalu kita habisi mereka." gumam lelaki aneh tersebut.
"Tapi kapan kau akan menyerangnya?" gumam Vanessa.
"Nanti setelah semua berjalan sesuai rencana ku untuk sekarang kita terus beri teror kecil. Agar Raesha merasa ketakutan." gumam lelaki aneh tersebut.
"Baiklah. Aku ingin tinggal lebih lama dengan mu suami ku." gumam Vanessa.
"Boleh, bilang kepada Hendra kalau kamu pergi ke rumah ibu." ucap lelaki itu.
Sementara itu keadaan di rumah Raesha cukup berantakan karena Raesha mempersiapkan beberapa pertanyaan untuk calon suami adiknya dan Riana mempersiapkan beberapa makanan.
"Riana, liat pulpen mas?" tanya Raesha.
"Ada diatas meja rias ku." gumam Riana.
"Riana, sudah membereskan semuanya?" tanya Raesha.
"Sudah, makanan siap dan barang lainnya sudah aku rapihkan." gumam Riana.
"Baiklah, tinggal tunggu mereka berdua datang." gumam Raesha.
Tidak lama setelah itu, Vanya dan Calon suaminya tiba di depan apartemen Raesha.
"Biar mas yang buka." ucap Raesha sembari berjalan kearah pintu.
"Hai kakak! ini calon suami aku. Namanya Mark." gumam Vanya.
"Mark?" tanya Raesha.
"Jacob Mark, nama lengkapnya kak." ucap Vanya.
"Hai kak!" gumam Mark.
"Ah, silahkan masuk." gumam Raesha.
"Kakak mu sedikit mengerikan ya." ucap Mark.
"Hehehe." jawab Vanya.
"Kakak wanita itu siapa?" tanya Vanya.
"Dia tunangan kakak, namanya Riana." gumam Raesha.
"Hai!" gumam Vanya.
"Hai juga!, silahkan duduk" jawab Riana.
Vanya pun langsung duduk diatas kursi yang telah di siapkan dengan sejumlah makanan.
"Hmm, jadi ini calon suami mu?. Mark ya?" tanya Raesha.
"Iya, saya Mark." jawab Mark.
"Riana, tolong bawa Vanya ke dalam kamar ya. Ini membahas tentang laki-laki." gumam Raesha.
"Baiklah." gumam Riana.
__ADS_1
Riana pun mengajak Vanya pergi ke kamar, sedangkan Raesha tetap berada di ruang tengah bersama Mark.
"Kakak tunangan ka Raesha?" tanya Vanya.
"Eum iya." gumam Riana.
"Syukurlah akhirnya kak Raesha bisa menemukan wanita yang ia percaya. Kak Raesha itu sulit percaya kepada wanita. Jarang sekali aku melihat kak Raesha mau bekorban untuk wanita dan membiarkannya tidur di apartemennya. Dia tidak percaya karena dulu ibu kandungnya pergi meninggalkan ayah dengan lelaki lain. Kakak tahu? Hal gila yang pernah kak Raesha ucapkan adalah tidak ingin menikahi wanita manapun. Tapi kakak hadir mematahkan ucapan kak Raesha." gumam Vanya sembari memeluk Riana.
Riana hanya terdiam mendengar ucapan Vanya kepadanya, sembari meratapi cincin dijari manis sebelah kiri tangannya.
"Terima kasih ya kak telah menyelamatkan hidup kak Raesha." gumam Vanya.
"Iya sama-sama." jawab Riana sembari memeluk balik Vanya.
"Ahh sakit kak." gumam Vanya.
"Sakit? memang ada apa dengan pundak mu?" tanya Riana.
"Hanya luka." gumam Vanya.
"Luka? boleh kakak lihat?. Kalau itu luka kecil tidak mungkin kamu merasa sakit seperti itu" gumam Riana.
"Eum.." desah Vanya.
Riana pun melihat pundak Vanya dan mendapati luka lebam pada pundak Vanya. Tidak diketahui pasti alasannya karena apa, tetapi disana Riana berusaha mengobati luka lebam tersebut.
"Kamu kenapa? cerita kepada Kakak. Pasti sesuatu yang buruk terjadi padamukan?" gumam Riana.
"Sebetulnya.." gumam Vanya.
"Kenapa?" tanya Riana heran.
"Sebetulnya, aku dijual oleh ibu tiri kak Raesha. Karena mereka akan mengancam akan membunuh kedua orangtua Kakak. Wanita itu namanya.." gumam Vanya.
"Siapa?" tanya Riana.
"Lalu lelaki yang didepan ruang tamu itu siapa?" ucap Riana sembari mengobati luka pada Vanya.
"Dia adalah lelaki yang membeli ku, aku dan ia kenal saat kuliah. Dia sangat mencintai ku." ucap Vanya.
"Apakah kau mencintainya?" tanya Riana.
"Eum iya, tapi aku takut dengan perlakuan kasarnya." gumam Vanya.
"Tidak apa, nanti kakak yang berbicara dengan Mark." gumam Riana.
"Eum, baiklah kak. Jangan bilang tentang hal ini kepada Kakak, aku takut kakak akan marah." ucap Vanya.
"Baiklah." ucap Riana.
Sementara itu keadaan di ruang tengah begitu panas pasalnya Mark dibuat bungkam dengan 1000 pertanyaan yang di berikan kepadanya.
"Kakak keluar dulu ya, kamu tunggu disini saja." gumam Riana.
Vanya hanya membalas perkataan Riana dengan sebuah anggukan dari kepalanya yang menandakan ia setuju.
"Mark, apakah aku boleh menanyakan satu hal?" tanya Riana.
"Boleh kak." gumam Mark.
"Apa kamu sering berbuat kasar kepada Vanya? jujur saja. Aku dan Raesha tidak akan marah" gumam Riana.
"Kasar!?" Bentak Raesha.
"Sebetulnya iya kak, aku melakukannya agar ia tidak pergi dari ku." jawab Mark.
__ADS_1
"Kau tahu hal itu membuatnya ketakutan. Bukannya ia tidak pergi darimu, tapi hal itu sepertinya keterlaluan. Kalian bisa berbicara dengan sehat tanpa harus kasar kan?" tanya Riana.
"B-bisa kak, maaf." gumam Mark.
"Memang harus ada yang di ospek." ucap Raesha.
"Sudah lah." ucap Riana.
Hari itu Vanya, Raesha, Mark dan Riana menghabiskan waktu bersama di apartemen Raesha. Sudah sangat lama Raesha menginginkan kumpul bersama salah satu anggota keluarganya.
"Makan yang banyak ya Van." gumam Raesha.
"Mas sebentar ya, aku mau kebelakang dulu." ucap Riana.
"Baiklah." gumam Raesha.
"Kak aku izin mau ke kamar mandi sebentar ya."
"Ya, jangan lama!" ketus Raesha.
Mark menguntit Riana pergi, ia merasakan hal aneh pada Riana dari tadi siang.
"Yang ia pegang itu apa? surat dari dokter kah?" gumam Mark.
Buka tidak ya?Aku takut hasilnya semakin parah. Memang luka di kepala ku bekas hantaman benda keras itu membekas, tapi rasa sakitnya membuatku semakin lupa dengan beberapa kenangan.
"Sebentar bukannya kak Riana itu pramugari yang pesawat ia tumpangi saat bertugas mengalami kecelakaan?" tanya Mark heran.
Riana pun membuka isi surat tersebut dan membaca hasilnya. Saat ia sedang membaca hasil surat tersebut ia merasa sangat terkejut.
"Riana Aurora di diagnosis Amnesia Retrograde." . Astaga! Hasilnya! aku takut harus kehilangan memori ku tentang Raesha atau apapun itu. Aku harus mencetak foto kenangan ku bersama Raesha dan menempelkannya di buku catatan Ku. Agar ketika aku lupa aku bisa membacanya.
"Kok Kak Riana menangis? Sebentar dia akan keluar dari kamarnya. Sebaiknya aku bersembunyi agar aman setelah itu aku akan menyelinap masuk kedalam kamarnya dan melihat hasil dari isi surat tersebut." ucap Mark.
Sebaiknya aku ke kamar mandi dulu, mungkin perasaan ku akan tenang.
"Baiklah, kak Riana sudah keluar. Saatnya aku pergi melihat apa isi surat tersebut." ucap Mark.
Diam-diam Mark melihat isi surat tersebut dan mendapati tulisan bahwa Riana didiagnosa menderita amnesia retrograde. Mark kala itu dibuat tidak percaya saat membaca isi surat tersebut, pasalnya Mark percaya bahwa Riana adalah sesosok wanita yang lihai dalam hal menghafal.
"Riana?" tanya Raesha sembari menunju kama Riana.
Sial Kak Raesha mau ke kamar kak Riana, aku harus sembunyi lagi.
"Iya mas? aku di dapur sedang membuat minuman hangat. Aku merasa kurang enak badan mas" ucap Riana.
"Istirahat lah sayang." gumam Raesha.
"Iya mas, setelah ini aku istirahat." ucap Riana.
"Baiklah, mas antar ke kamar mau?" ucap Raesha.
"Sebaiknya aku keluar dari kamar kak Riana." gumam Mark.
Mark pun kemudian keluar dari kamar Riana dan berjalan diam-diam menuju ruang tamu. "Iya mas." ucap Riana.
Kasihan kak Raesha ia sama sekali tidak tahu bahwa kak Riana menderita penyakit dan bahkan akan merusak memorinya.
Mata-mata Vanessa yang berhasil mendapat informasi mengenai Riana merasa sangat bangga karena usahanya untuk mencelakai Riana berhasil.
Phone call
"Bu Riana mengalami amnesia menurut diagnosa dokter." gumam Pesuruh Vanessa
__ADS_1
"Bagus lah, setelah ia lupa ingatan. Kita culik lalu pancing Raesha keluar." gumam Vanessa tertawa jahat.
"Baiklah Bu!" jawab semangat pesuruh itu.