Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
34. Jackson


__ADS_3

Dimana Jackson, sudah hampir satu jam menunggu dan dia belum datang. Tapi sepertinya mukanya tidak asing.


"Maaf menunggu lama pak, saya Jackson." gumam Jackson.


"Saya Raesha, bukannya sebelumnya kita pernah bertemu?" tanya Raesha.


"Iya, sewaktu jumpa antar perusahaan." ucap Jackson.


"Saya hanya ingin Riana kembali." gumam Raesha.


"Bagaimana jika kita bekerjasama. Saya juga sangat ingin kakak saya kembali." ketus Jackson.


"Bagaimana? aku tidak tahu dimana tempat Vanessa menculik Riana" gumam Raesha.


"Saya tahu, tapi kita harus mencari umpan dan menarik sang pelaku kedalam umpan tersebut." gumam Jackson.


"Baiklah, bagaimana caranya?" tanya Raesha.


"Sebetulnya, yang di inginkan Vanessa adalah Bapak. Jadi bisakah bapak bertingkah layaknya umpan?" tanya Jackson.


"Umpan? bisa. Beri tahu saya bagaimana saya harus bertindak?" tanya Raesha.


"Bapak harus bertindak seperti kehilangan Riana atau bapak memohon kepada Vanessa tetapi di samping itu bapak harus mengumpulkan informasi." gumam Jackson.


"Baiklah terus?" tanya Raesha.


"Informasi itu nantinya bisa kita gunakan untuk melawan Vanessa dan suaminya." gumam Jackson.


"Baiklah." jawab Raesha.


"Tapi aku punya rencana lain." gumam Jackson.


"Rencana bagaimana?" tanya Raesha.


"Bapak ikut saja dengan ku, karena ini sangat rahasia. Saya takut mata-mata Vanessa membocorkannya." gumam Jackson.


Di sisi lain mereka membuat rencana, nampaknya nasib buruk akan menimpa Riana. Vanessa cepat atau lambat akan mengirimkan Riana pergi keluar negeri. Distance is just a test to see how for love can travel and God knew my heart needed you. Aku tahu kamu tidak diam, pasti kamu sedang menyusun cara agar aku dan kamu bisa bersama kembali. Aku harap dengan adanya hal ini kamu jadi bisa menghargai waktu mu bersama ku. Tentang aku di ganggu? aku tidak berbohong bukan.



"Bawa Riana pergi!, kita harus cepat" ketus Vanessa.


"Tidak!!" bentak Riana yang memberontak.


"Sudah nurut saja!!, sesampainya kau disana dirimu tidak akan dirusak" ketus Vanessa.


"Bohong, kamu itu pembohong besar!" bentak Riana.


"Tidak, sudah nurut saja daripada aku lukai dirimu sekarang." gumam Vanessa.


"Sampai kapan aku nurut dengan mu! aku tidak ingin. Lepaskan aku!!" ketus Riana.


"Dasar, wanita sialan." gumam Vanessa yang kesal dengan tingkah Riana. Vanessa yang kesal kemudian mengambil kayu yang terdapat di depan ruangan lain dan ingin memukulnya kepada Riana.


"Apa!? pukul saja! kau wanita ****** sebetulnya. Memadu kasih dengan banyak lelaki hanya untuk harta!" bentak Riana.


"Aku!? dengar wanita buta. Dulu ayah mu aku bunuh hanya untuk membalaskan dendam tetapi karena dendam ku masih ada, Aku mengincar mu!" gumam Vanessa.


"Dendam mu hanya karena uang!! Kau yang merusak hubungan kedua orang tua ku dan kau juga yang meminta ganti rugi!" ketus Riana.

__ADS_1


"Dasar wanita sialan!!" gumam Vanessa sembari memukul Riana dengan keras.


Riana terjatuh ke lantai seketika karena pukulan yang di lantunkan oleh Vanessa, Vanessa yang kesal langsung menyuruh lelaki bayarannya untuk mengangkut tubuh Riana kedalam mobil dan membawanya ke luar negeri.



"Dengar!! siapapun yang tidak menurut dengan omongan ku. Aku akan melakukan yang kejam seperti yang aku perbuat kepada Riana!!" bentak Vanessa yang kemudian pergi bersama suaminya keluar untuk mengirimkan Riana keluar negeri.


Jackson yang dari tadi menjelaskan rencana nya kepada Raesha dibuat terkejut dengan pesan masuk bahwa Riana telah dibawa keluar negeri. "Pak, sepertinya kita harus bergerak cepat." gumam Jackson. Raesha bergeming diam dan kemudian menanyakan kepada Jackson apa yang terjadi kepada Riana. "Apa yang terjadi kepada Riana?" tanya Raesha keheranan.


"Riana, dibawa oleh Vanessa ke luar negeri. Saya tahu markas mereka di luar negeri. Apakah bapak ingin ikut?" tanya Jackson.


Tanpa pikir panjang Raesha mengiyakan omongan Jackson dan menyetujuinya. Raesha pun kemudian mengabari Steve dan juga Hendra.


"Bapak mengabari siapa?" tanya Jackson.


"Steve dan juga Hendra. Yang saya tahu Hendra itu pacar dari Vanessa." gumam Raesha.


"Hendra? Vanessa itu mempunyai suami. Pasti dia menggunakan Hendra untuk menjadi kambing hitam" gumam Jackson.


"Suami?" tanya Raesha.


"Iya, suaminya dulu rekan kerja bapak yang ketahuan korupsi." gumam Jackson.


"Apa!?, lelaki itu?" ucap Raesha terkejut.


"Sepertinya nasib Hendra akan buruk, sebaiknya bapak memberitahu tentang hal ini." ketus Jackson.


"Benar." gumam Raesha.


"Sifat Vanessa selalu seperti itu, mencari aman untuk dirinya sendiri. Sudah banyak yang menjadi korban karena dirinya." gumam Jackson.


"Saya baru tahu, saya kira selama ini Vanessa datang hanya untuk bekerja saja. Tapi ternyata selama ini dia mengincar Riana." ucap Raesha termenung.


"Baiklah, terima kasih." gumam Raesha.


"Iya sama-sama pak, saya pamit." gumam Jackson.


"Iya." jawab Raesha.



Aku harus pergi mengejar kakak ku, aku harus ada di perusahaan ku sebelum mereka. Setelah itu aku akan menjebak Vanessa dan suaminya, sebelumnya aku akan menelepon polisi setempat untuk mengepung mereka. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka kabur. Aku telah berjanji dengan mendiang ayah untuk selalu menjaga kakak dimana pun ia berada.


Raesha bergeming diam memandangi layar handphonenya sembari melihat foto-foto Riana, Ia hanya menyayangkan dirinya yang hanya mampu diam membisu melihat Riana di culik. Kelakuan bodohnya masih membekas di ingatannya kala itu. Mengusir Riana dari apartemennya. Maafkan aku Riana, aku memang belum pantas melindungi mu. But I choose you. And i'll choose you, over and over. Without pause, without a doubt, in a heartbeat. I'll keep choosing you. Hatiku terlanjur memilih mu, hukum aku saat kita bertemu agar aku bisa menghargai hadirnya dirimu. Disela-sela Raesha sedih, Hendra pun menelepon Raesha untuk menanyakan keberadaan Vanessa.


Phone call


"Pak Raesha? tahu kemana Vanessa?"


"Vanessa? sebetulnya ada yang ingin saya katakan pada mu"


"Apa pak?"


"Sebetulnya, Vanessa telah memiliki suami. Dirimu digunakan Vanessa sebagai kambing hitam."


"Apa!? ini bercandakan pak?"


"Saya serius, sekarang Vanessa telah menculik Riana dari hidup saya. Mereka sedang menuju luar negeri untuk menjual Riana kepada bos besar disana."

__ADS_1


"Cerita yang saya dengar bukan hasil karangan kan pak?"


"Bukan, ini asli. Riana diculik oleh Vanessa. Jika rahasia Vanessa terbongkar maka kau yang akan disalahkan atas segalanya."


"Pak!? saya tidak menyangka"


"Saya juga sama, Kini Riana hilang dari pandangan saya. Saya mohon bawa kembali Riana! saya menyesal telah mempercayai Vanessa"


"Pak!? halo, apakah bapak sedang mabuk?"


"Riana!! aku sangat merindukan mu. Ini semua karena Vanessa sialan! Aku sangat membenci dia"


"Pak!? saya akan kesana sekarang"


"Aku mabuk? aku tidak mabuk!. Aku frustasi melihat cinta ku di culik oleh pacar mu yang nantinya akan menjadi kan mu sebagai kambing hitamnya!"


"Tunggu sebentar pak!"


Hendra pun mematikan teleponnya, kemudian ia pun pergi bergegas menuju rumah Steve lalu pergi menuju perusahaan Raesha. "Steve!! Steve!!, apakah kau di dalam?" gumam Hendra yang heran.


"Sebentar, siapa?" tanya Steve setengah mengantuk.


"Ini aku, Hendra!" teriak Hendra.


"Oi Hendra, ada apa?" tanya Steve.


"Sepertinya pak Raesha frustasi berat, bisakah kau mengantar ku ke perusahaan pak Raesha. Saya sangat khawatir, tadi saat aku menelepon pak Raesha. Dia mengatakan hal penting mengenai Vanessa." gumam Hendra.


"Baiklah, aku akan izin kepada istri ku. Untungnya dia sedang ada di rumah sakit." gumam Steve.


"Buru Steve! kita tidak ada waktu. Ini soal Riana dan juga Vanessa" gumam Hendra.


"Sebentar!!" teriak Steve.


Raesha malam itu kehilangan akalnya dan hanya terus berteriak nama Riana. Karena frustasi yang ia rasakan, rasa frustasinya akhirnya mengalahkan akalnya.



Aku bodoh memang, wanita yang aku cintai saja bisa hilang dari hadapan ku. Bagaimana dengan semuanya, Adik ku atau bahkan hal yang sangat ingin aku lindungi. Mungkin aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai sehingga aku terus saja gagal dalam hal melindungi. Riana ku.. maafkan mas. Ada hembusan rindu dan sejuta rasa penyesalan di setiap rasa kehilangan mas.


"Mas, Aku menunggu mas menyelamatkan ku. Disini dingin dan sangat menyeramkan aku takut." gumam Riana yang kala itu merupakan khayalan Raesha.


"Maafkan mas Riana, mas tidak bisa melindungi mu. Mas bodoh!" bentak Raesha.


"Tidak mas, mas tidak bodoh. Aku menunggu mas hadir disini. Selamatkan aku mas." ucap Riana.


"Mas ingin, tapi mas takut akhirnya melukai dirimu kembali." gumam Raesha.


"Mas, aku percaya mas akan menyelamatkan ku. Aku yakin!!" gumam Riana.


"Kenapa kau begitu yakin?" tanya Raesha.


"Aku sangat yakin, karena mas tidak pernah meninggalkan ku disaat-saat aku terjatuh. Saat air mataku terjatuh, mas tidak pernah meninggalkan ku. Senyuman mu membuat ku yakin bahwa kita bisa bersama-sama." gumam Riana.



"Yakin terhadap mas? mas tidak ingin kehilanganmu Riana! tidak bisakah kau tinggal disisi mas?" bentak Raesha.


"Aku tak bisa mengalahkan kesedihan

__ADS_1


hidup dan hari yang sangat sengsara mas. Karena mas bersedih terus tanpa usaha lambat laun aku akan menjauh dari mas. Jadi jangan tinggalkan aku disini sendirian maka aku tak hanya akan tinggal dalam ingatanmu." gumam Riana.


Raesha hanya terdiam sedih memandangi kebodohannya malam itu di tengah hujan yang menerpanya.


__ADS_2