Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
26. Rencana


__ADS_3

"Kau menyelamatkan mas?" Tanya Raesha.


"Tidak mungkin aku membiarkan mu di rebut wanita lain, dasar bodoh!" Gumam Riana sembari memukul dada Raesha kesal.


"Maukan maafkan mas?" Tanya Raesha.


"TIDAK!" bentak Riana.


"Maafkan mas ya, yang bodoh tidak bisa membuat Vanessa pergi." Gumam Raesha.


"Tidak apa-apa, aku tahu mas bodoh!. Aku benci mas, ingin menyudahi hubungan kita tadi!" Bentak Riana yang menangis tersayat hatinya.


"Maafkan mas ya." Gumam Raesha sembari memeluk Riana.


"Mas jahat! Mas tidak tahu bagaimana sakit hatinya aku!" Gumam Riana.



Raesha pun langsung mengajak Riana masuk kedalam mobilnya dan pergi menuju apartemen Raesha.


"Mungkin memang kata maaf sudah bosan kamu dengar, baiklah kita mulai semua ini dari awal mau?" Tanya Raesha.


"BODOH!, aku tidak ingin memulai dari awal. Kita lanjutkan apa yang telah kita mulai" ucap Riana sembari membuang mulanya.


"Baiklah, mas tahu kamu sangat marah sekali dengan mas. Mas memang bodoh, ketika kamu kecelakaan mas benar-benar lupa seakan ada pengaruh obat. Pikiran mas buyar saat itu." ucap Raesha sembari menunjukkan kertas pembungkus obat yang ia temui di depan meja kantornya.


Riana pun langsung memeluk Raesha dengan erat seraya menyalahkan Raesha atas kepedihan luka dihatinya. "Mas jahat! Mas bodoh! Mas mengecewakan! Kenapa mas bisa bilang ingin menyudahi hubungan kita. Aku sudah lelah menunggu bertahun-tahun lamanya agar kita bisa menjadi satu. Tapi dirimu dengan mudahnya bertekuk lutut dihadapan wanita yang sama sekali tidak mas sukai dan bahkan cinta. Mas selalu mengundurkan waktu pernikahan kita, mas bilang uang mas atau apapun itu belum siap! Tapi giliran wanita itu meminta dipercepat mas setuju! Aku kecewa mas!.


Aku ini calon istrimu dan bahkan kita sudah tunangan. Kenapa mas menduakan aku!" Ucap Riana kesal sembari menangis.


"Maafin mas, mas memang salah selalu mengundur tanggal pernikahan kita. Mas hanya belum siap, takut kamu mengalami kesulitan. Ternyata mas salah, itu semua hanya pemikiran mas saja. Baiklah, mulai besok kita akan merencanakan pernikahan kita. Besok kita cari veneu yang bagus." Gumam Raesha.


"Benar ya? Tidak minta izin ke ayah atau ibu?" Tanya Riana.


"Baiklah pertama, mas minta restu kedua orang tua kamu." Gumam Raesha.


"Baiklah, kalau begitu. Mas janji kan? Tidak akan kabur lagi?" Tanya Riana.


"Mas janji, sangat janji dengan mu." Gumam Raesha.


"Jangan membuat janji yang mas nanti tidak bisa tepati." Gumam Riana.


"Maksudnya?" Tanya Raesha bingung.


"Mas selalu janji, tapi tidak ada satupun yang ditepati. Aku takut di saat mas bilang janji kepada mu, mas ingkar." Gumam Riana sembari memukul dada Raesha.


Maafkan mas ya, tidak bisa jadi lelaki baik untuk mu. Dari kata sempurna sepertinya masih jauh, terima kasih ya telah setia kepada ku. Aku akan berusaha membahagiakan mu apapun yang terjadi. Percayalah!.


"Sekarang tenangkan lah pikiran mu, ingin istirahat di apartemen mu atau disini? Kalau di apartemen mu, mas antar" gumam Raesha.


"Aku di apartemen ku saja." Gumam Riana.


"Mas antar pulang ya." Gumam Raesha.


"Iya mas." Gumam Riana.


"Tapi ini sudah terlalu malam, apa tidak ingin menginap di apartemen mas?" Tanya Raesha.


"Nanti mas tidur dimana?" Tanya Riana.


"Mas bisa tidur di sofa, kamu tidur saja di kamar mas." Gumam Raesha.


"Hm, baiklah." Gumam Riana.


"Selamat tidur Riana." Gumam Raesha.


"Mas juga." Gumam Riana.


Sementara itu tidak jauh dari kediaman Raesha, terdapa pria misterius yang memantau apartemen Raesha.


"Bos, kapan kira-kira akan meneror Raesha?" Tanya anak buah tersebut.


"Nanti setelah cerita dongeng mereka selesai." Gumam bos besar tersebut.


"Memang bos ingin melakukan apa?" Tanya anak buah itu sembari membuka pintu mobil.


"Aku ingin menyerang sisi terlemah Raesha yaitu Riana." Gumam bos itu sembari memasuki mobilnya.

__ADS_1


Keesokan harinya Riana pun menjalankan aktivitas seperti biasa, ia pun mengunjungi pihak kepolisian untuk meminta keterangan kenapa mereka berdua melakukan hal tersebut.


"Pagi Riana, mas buatkan sarapan untuk mu. Ayo dimakan dulu." Gumam Raesha.


"Iya mas." Jawab Riana mengantuk.


"Bangun atau mas kecup." Gumam Raesha.


"Mager mas." Gumam Riana yang tertidur di atas meja makan.


Raesha pun berjalan memindahkan Riana ke atas sofa dan mengecup kening Riana.


"Mas pasti mau nakal." Gumam Riana.


"Tidak kok." Ucap Raesha.


"Tidak salah lagi." Gumam Riana.


Raesha pun mencium nakal bibir Riana dan mendorong masuk lidahnya kedalam mulut Riana. Sesekali ia pun mengulum lidah Riana yang membuat Riana mengeluarkan suara cantiknya. "Hmph." Gumam Riana yang menahan setiap permainan dari Raesha.


"Mas!" Bentak Riana.


Raesha tampak menghiraukan Riana, ia mencium manis leher Riana "Aahh mas." Ucap Riana yang mengerang geli.


"Mas! NAKAL!" Gumam Riana.


"Ah, iya maaf-maaf. Mas kebablasan." Ucap Raesha.


"Nakal!" Bentak Riana.


"Maaf, ya sudah kita sarapan sekarang." Gumam Raesha.


Riana dan Raesha pun sarapan berbarengan, setelah sarapan Riana pun pergi mandi dan meminta izin untuk pergi.


"Mas aku izin ingin pergi ya." Gumam Riana.


"Kemana?" Tanya Raesha bingung.


"Keluar, ada perlu. Mas tidak kerja?" Tanya Riana.


"Tidak, hari ini mas ingin istirahat makanya mas jadikan hari liburan untuk semuanya." Gumam Raesha.


"Disuruh?" Tanya Raesha.


"Iya, pasti mereka ada alasan untuk mencuri cip tersebut. Tidak mungkin mereka asal curi aja, waktu aku menciduk rumah Hendra mereka mempunyai segala macam bentuk file kertas dan aku lihat di atasnya ada semacam lembaga. Aku yakin pasti mereka di paksa untuk melakukan itu dan kenapa Vanessa selalu mencari pria kaya, mungkin hasil dari keuangan mereka didedikasikan untuk orang yang menyuruh mereka seperti ganti rugi." Gumam Riana.


"Lembaga? Jadi mereka hanya pion untuk menutupi pelaku aslinya?" Tanya Raesha.


"Iya, mungkin saja sekarang kita belum aman. Saat aku melihat data-data yang Hendra kumpulkan disana belum ada perusahaan mas. Past orang di balik dalang tersebut menginginkan data perusahaan mas. Itu sebabnya aku ingin menanyakan hal ini kepada mereka berdua." Gumam Riana sembari memasukan alat perekam dan make upnya.



"Mas ikut ya." Ucap Raesha.


"Yakin mau ikut? Bukan kah mas masih benci dengan Vanessa?" Tanya Riana.


"Tidak, mas juga ingin tahu." Gumam Raesha.


Riana dan Raesha pun kemudian pergi menuju kantor polisi untuk meminta kejelasan dari Vanessa dan Hendra.


"Permisi pak saya ingin mengunjungi Hendra dan Vanessa." Ucap Riana.


"Oke, anda silahkan tunggu disini ya." Ucap polisi tersebut.


"Baiklah." Jawab Raesha.


"Ada apa kalian kemari?" Jawab Hendra.


"Kami ingin menanyakan sesuatu." Jawab Riana.


"Menanyakan apa? Bukan kah yang kemarin sudah jelas?" Tanya Vanessa.


"Tidak, waktu saya melihat kamar Hendra. Saya menemukan beberapa file dan diatasnya ada nama lembaga. Apa kalian disuruh seseorang?" Tanya Riana sembari menyalakan perekam suara secara diam-diam.


"Kami tidak bisa beri tahu." Tanya Vanessa.


"Jika kalian tidak beritahu, kalian akan berada di balik jeruji besi tersebut selamanya. Kalian yang akan masuk penjara sedangkan yang menyuruh kalian akan bebas menghirup udara segar." Gumam Riana.

__ADS_1


"Tidak mungkin!" Bentak Vanessa.


"Bapak, masih punya berkas yang kemarin?" Ucap Riana kepada pihak kepolisian.


"Ada, sebentar." Jawab polisi tersebut.


"Percayalah sama saya, saya akan pastikan kalian aman." Gumam Raesha.


"Ini Bu." Gumam polisi tersebut.


"Coba kalian pahami kalimat ini dan setelah  saya mencari mengenai surat ini. Ketika ada data bocor mereka akan menyalakan kalian." Gumam Riana.


"Maksud mu? Kita hanyalah pion?" Tanya Vanessa.


"Iya, disini saya butuh bantuan kalian untuk membocorkan data apa yang mereka inginkan." Gumam Riana.


"Kalian ingin bekerja sama dengan kami?" Tanya Hendra.


"Ya, kalian akan aman." Gumam Riana.


"Berapa bayaran dirimu?" Tanya Hendra.


"Berapa pun yang kamu inginkan." Ucap Riana.


"Baiklah, lelaki tersebut sering menggunakan mobil berwarna hitam dengan plat B 4C0 T. Ia sering menggunakan  jas berwarna hitam dan topi hitam. Tapi hati-hati ia sering membawa body guardnya." Gumam Hendra.


"Ia selalu membawa berkas-berkasnya yang berada di dalam bagasi mobil." Ucap Vanessa.


"Kalian tahu tempat persembunyiannya?" Tanya Riana.


"Tahu." Gumam Hendra.


"Bisa beritahu kami?" Tanya polisi tersebut.


"Bisa, tapi bebaskan kami. Kami berjanji akan bekerja untuk kalian asal ada bayaran yang sesuai." Gumam Hendra.


"Baiklah." Ucap kepolisian tersebut.


Kepolisian tersebut membebaskan Vanessa dan Hendra tetapi mereka tetap diawasi oleh pihak yang berwajib sampai percobaan masa tahanan mereka usai. Riana memberikan fasilitas apartemen untuk mereka berdua, dengan catatan mereka bekerja dengan Riana dan pihak kepolisian.


"Raesha." Gumam Vanessa.


"Iya?" Tanya Raesha.


"Maafkan aku, mungkin kesalahan diriku tidak bisa kalian maafkan. Aku mengaku salah." Gumam Vanessa.


"Tidak apa-apa." Gumam Raesha sembari meninggalkan Vanessa.


"Kau kan model dan juga Pramugari pasti punya ide cemerlang." Gumam Hendra.


"Aku akan pikirkan cara terbaiknya, kau cari informasi yang banyak dan jangan mengecewakan aku. Dirimu akan bekerjasama dengan polisi ini dan Alex." Gumam Riana.


"Permintaan mu merupakan perintah untuk ku. Sebentar Alex Ferguson yang merupakan mata-mata terbaik dunia?" Tanya Hendra.


"Ya, kenapa?" Gumam Riana.


"Astaga! Aku sangat menggemarinya. Baiklah aku akan mencari informasi terkait data-data tersebut" gumam Hendra.


Riana dan Raesha pun kemudian pergi keluar dari kantor polisi tersebut, tetap di ujung pintu terdapat Vanessa yang mencoba untuk berbicara dengan Riana.


"Riana maksdunya Bu Riana. Aku minta maaf atas kesalahan-kesalahan ku merebut Raesha. Aku memang salah dibutakan oleh kesenangan ku sendiri." Ucap Vanessa.


"Mas bisa pergi duluan ke dalam mobil? Ini masalah wanita" ucap Riana.


Raesha pun mengangguk paham atas apa yang Riana omongi ia pun bergegas menuju mobilnya.


"Kesalahan? Apakah maaf cukup untuk menebus semua kesalahan mu? Kau mencelakai ku dan kau juga merebut satu-satunya lelaki yang paling aku cintai. Dan dengan ringannya kau bilang maaf? Sehari saja aku terlambat Raesha sudah menjadi milik mu. Dan kau masih bisa berpikir itu karena kesenangan mu?" Tanya Riana.


"Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku sangat menyesal. Memang benar aku bodoh seharusnya aku tidak melakukan ini dan sekarang mereka menjadikan ku pion." Gumam Vanessa.


"Sudah lah, aku telah memaafkan mu. Aku disini hanya melindungi Raesha bukan untuk apa-apa itu sebabnya aku memerlukan mu, karena dirimu dan Hendra dekat dengan lelaki yang aku maksud. Setelah itu kau dan Hendra pergi lah menjauh dari hadapan ku dan Raesha." Gumam Riana.


"Baiklah Riana, terima kasih." Ucap Vanessa sembari meninggalkan Riana ke dalam kantor polisi.


Entah yang kulakukan sudah benar atau belum? Hati ku masih sangat hancur. Entah hati ku kecewa karena Raesha atau karena Vanessa. Aku tidak bisa merasakannya lagi.


Di pikiran ku hati ku kosong, aku tidak tahu harus bagaimana lagi menyembuhkannya.

__ADS_1



__ADS_2