Married with CEO : Happiness

Married with CEO : Happiness
30. Kecewa


__ADS_3

"Mark, apa kak Raesha benar-benar marah dengan kak Riana?" tanya Vanya.


"Tidak, dia sedang sangat emosi. Cara yang dia lakukan lah yang salah. Besok atau sekarang pasti hatinya kembali cair. Nanti aku bicara kepada kak Raesha. Jangan terlalu mengkhawatirkannya." gumam Mark.


"Baiklah Mark." jawab Vanya.



"Aku akan pergi ke kantor kak Raesha nanti, ada barang yang harus aku berikan. Kamu di apartemen ku saja ya." gumam Mark.


"Baiklah Mark." jawab Vanya.


Jika menyakitiku adalah jalan yang memang akan membuatmu bahagia, maka lakukanlah!.


Aku memang egois hanya mengkhawatirkan diriku sendiri, tapi semua itu aku lakukan agar aku dan dirimu bisa satu tanpa adanya sebuah kata pengacau. Lantas sekarang harus bagaimana diriku melupakanmu? Setiap nada adalah suaramu dan setiap hempasan angin adalah detak jantungmu.


Kemarin aku masih bisa mendengar tawa mu, tapi kini aku hanya bisa mendengarnya dalam kenangan, Kiranya aku belum sempat menjelaskan apa keinginanku, tapi dirimu sudahi kisah ini semau mu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku sangat takut terjebak diantara dendam dan amarah yang kau dan masa lalu mu ciptakan.


Entah apa yang membelenggu mu, sehingga kau lupa bagaimana hancurnya aku saat dendam masa lalu mu menghancurkan ku.


Sebuah notifikasi dari suatu aplikasi muncul pada bilah kanan layar ponselnya, Riana yang kala itu tertunduk lesu memutuskan untuk berhenti mengecek handphonenya. Dipikirannya saat itu hanya ingin pergi mengurung diri.


Vanya: "Kak Riana ada dimana sekarang?, kembali lah kak. Jangan pergi, diluar sangat berbahaya ka"


Vanya: "Kak? Halo"


Vanya: "Kakak, ku mohon. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada kakak"


"Sebaiknya aku pulang saja kerumah ibu, Aku akan bilang ke ibu kalau aku tidak jadi menikah dengan Raesha. Maafkan aku bu, anak perempuan mu gagal mewujudkan impian mu." gumam Riana sedih.


"Itu Riana kan?" gumam lelaki bertubuh besar yang diam-diam menguntit Riana.


"Iya, kau ingat yang dikatakan Bu Vanessa? kita harus menculiknya tapi ingat jangan ada satu luka pada tubuhnya." gumam teman dari lelaki bertubuh besar tersebut.


"Baiklah, aku mengerti." jawab lelaki misterius tersebut.


"Cepat keluarkan biusnya, agar ia tidak berteriak." gumam lelaki tersebut.


Lelaki itu pun mengeluarkan obat bius dan diam-diam mulai berjalan secara perlahan dibelakang Riana. Riana yang kala itu acuh terhadap sekelilingnya nampak tidak memperdulikan lelaki yang berjalan di belakangnya. Dengan cepat mereka pun menangkap Riana dan membiusnya, Riana yang kewalahan melawan lelaki tersebut akhirnya jatuh pingsan dalam biusan tersebut.


"Lepaskan aku.." bentak Riana yang kemudian terjatuh tidak sadarkan diri.


"Cepat bawa dirinya dan barangnya sebelum ada orang yang melihat." gumam ketua dari lelaki yang tadi.


Sementara itu Vanessa yang kegirangan berhasil melemahkan Riana mendapatkan telepon masuk dari seorang bos besar.


Phone call


"Bagaimana dengan model cantik yang kau janjikan?"


"Tenang, model itu sudah ada dan mulus. Tidak ada satupun luka pada tubuhnya aku jamin."


"Bawa dia ketempat ku dalam keadaan hidup-hidup. Aku tidak ingin dia mati, wanita itu akan menjadi umpan ku untuk memancing lelaki sialan itu keluar."


"Wah tujuan kita sama tuan, bagaimana jika kita bekerjasama?"


"sangat boleh, tapi pertama bawa Riana kepadaku!"


"Baiklah tuan, Riana akan aku antar kepada mu. Tapi izinkan aku bermain dengan pangeran kesiangannya."


"Tentu saja boleh."


Bos besar tersebut kemudian mematikan teleponnya dan membiarkan Vanessa bermain dengan pangeran kesiangan Riana.


Jika dugaan ku benar, Vanessa pasti menculik kak Riana dari Raesha.


Wanita sialan itu! Untung saja aku bisa menyelamatkan Vanya dari wanita ular itu, sudah cukup Vanya saja yang menjadi korban.

__ADS_1


"Permisi anda mencari siapa?" tanya resepsionis.


"Saya mencari Raesha." jawab Mark.


"Sudah buat janji?" tanya resepsionis.


"Belum, bisa tanyakan saja apa dia bisa bertemu atau tidak karena ada hal penting yang ingin saya sampaikan." gumam Mark.


"Baiklah, siapa nama anda?" tanya resepsionis itu sembari mengangkat gagang telepon.


"Mark." gumam Mark seraya memegang surat bersampul putih dengan logo suatu rumah sakit diujung kanan bawah.


Setelah lima menit menunggu akhirnya Raesha pun tiba dari kunjungannya ke mitra perusahaannya. Sesampainya ia diperusahannya Raesha langsung bergerak menemui Mark.


"Mark, ada apa?" tanya Raesha.


"Ini kak aku ingin bilang mengenai sesuatu hal." jawab Mark.


"Tentang pernikahan mu? ingin dimajukan? silahkan kakak setuju" gumam Raesha.


"Bukan itu kak." jawab Mark.


"Iya apa? atau kau ingin tema pernikahan yang lain?" tanya Raesha.


"Dengar dulu kak!" bentak Mark.


"Ada apa? kalau kamu datang kesini hanya untuk membahas Riana. Lebih baik kamu pulang" gumam Raesha.


"Tapi kak, ini sangat genting. Sebelum kakak berantam dengan kak Riana, kakak tidak tahukan mengenai kondisinya kak Riana?" tanya Mark.


"Kakak tidak ingin tahu dan tidak mau tahu, aku dan Riana telah putus." gumam Raesha.


"Aku yakin kakak tidak seperti itu, ini kak ambil surat ini. Baca ketika perasaan kakak telah membaik." jawab Mark.


"Surat dari rumah sakit?" tanya Raesha.


"Iya kak, aku yakin hati kakak masih mencintai kak Riana." gumam Mark.


"Kak!" gumam Mark.


"Lebih baik kau pulang." gumam Raesha.


Raesha pun mengusir Mark pulang, Mark yang nampak kesal dengan Raesha akhirnya memutuskan untuk pergi dari kantor Raesha.


"Kak lihat saja, kakak pasti menyesal!" gumam Mark.


Raesha yang nampak angkuh atas pendiriannya pergi meninggalkan Mark dengan meremas surat dari rumah sakit yang Mark berikan.


"Riana, Riana dan Riana kenapa banyak orang yang bilang begitu kepada ku!" bentak Raesha kesal.


"Permisi pak, bapak lihat Riana? seharian ini dia tidak ada kabar. Bahkan ketika aku susul ke rumah ibunya dan apartemen Riana tidak ada" gumam Steve.


"Ya, saya juga tidak tahu." gumam Raesha.


"Loh bukannya bapak calonnya?" tanya Steve.


"Ah yasudah lah." gumam Raesha.


Raesha pun meninggalkan Steve sendirian dengan muka kesalnya lantaran selalu ditanyai mengenai Riana.


"Coba aku hubungi Riana." gumam Raesha.


Raesha pun mencoba untuk menghubungi Riana, tetapi tidak mendapatkan suatu jawaban.


"Maaf, nomor yang anda tuju tidak bisa dihubungi."


__ADS_1


"Ah mungkin dia sedang menginap di suatu hotel." gumam Raesha.


Raesha yang gemas dengan surat yang di berikan Mark akhirnya memutuskan untuk membuka isi surat tersebut.


Raesha yang kesal sedari tadi mendadak berubah menjadi terkejut dan tidak terima atas surat yang ia baca.


"Riana Aurora dinyatakan di diagnosis mengalami Amnesia Retrograde."


"Ah sial!, kenapa gua harus tahu perihal surat ini dari orang lain. Dan kenapa gua harus tahu tentang Riana itu dari orang lain. Lalu gunanya gua kemarin 24 jam bersama dia itu buat apa kalau surat kaya gini aja gua ga tahu. Lo tuh bego Raesha!" bentak Raesha yang kesal dengan sikapnya.


Kenapa si sha? jaga perempuan aja lo ga bisa. Lo tuh Pria dewasa, Lo mau nikahin dia. Tapi jaga dia dan bahkan mengerti dia aja ga bisa. Bagaimana dia mau bahagia sama Lo kalau Lo aja ga bisa memberi dia kebahagiaan. Astaga lelaki macam apa lo.


Raesha pun sangat kesal dengan dirinya dan menyesali segala rasa egoisnya. Seharusnya ia tidak berlaku kasar pada calon istrinya tersebut.


"Sebaiknya gua hubungi dia lagi." gerutu Raesha sembari mengecek kontak Riana.


Tetapi jawaban yang di dapatkan Raesha pun tetap sama, Riana masih tidak bisa dihubungi.


Hingga pada akhirnya ia menemukan sebuah stasiun televisi yang berisi tentang kabar Riana.


Breaking news.



"Seorang model cantik bernama Riana Aurora dinyatakan hilang pada sore hari waktu setempat. Diketahui bahwa sebelum kejadian model cantik ini menghilang ia mengunjungi sebuah restoran ayam untuk membeli beberapa makanan. menurut keterangan pihak restoran Riana hanya memberi beberapa menu lalu pergi menuju apartemennya.


Hingga kini pihak kepolisian masih melacak keberadaan Riana, Menurut warga setempat dikabarkan terdapat dua orang lelaki misterius yang mengikuti Riana hingga akhirnya ia menghilang bersama dua orang lelaki tersebut.


Pihak kepolisian setempat sudah melacak isi CCTV pada jalan yang di lalui Riana. Menurut keterangan dari mereka, bahwa ada mobil dengan plat nomor B4C0T yang membawa Riana beserta dua orang lelaki tersebut pergi."


"Mark! Kak Riana di culik!" bentak Vanya terkejut.


"Apa!" gumam Mark.


Steve yang kala itu sedang berada dirumah bersama Mina, terkejut bukan main melihat berita Riana di culik oleh seseorang.


"Astaga Steve!, Riana di culik" gumam Mina.


"Bagaimana bisa! Aku mempercayakan Riana kepada Raesha bukan untuk di sakiti dan berakhir seperti ini. Lelaki sialan itu!" bentak Steve.


"Steve bersabar lah, jangan gunakan emosi mu. Coba bicarakan dengan baik." gumam Mina.


"Tidak bisa sayang, Bagaimana rasanya sahabat mu hilang padahal kamu sangat percaya dengan lelaki yang menjaga sahabat mu." gumam Steve.


"Aku pasti kesal!" bentak Mina.


Raesha mendadak menjadi sentimental dengan kabar Riana dan meluapkan emosinya secara membabi buta. Mulai sekarang dan seterusnya jika ada seseorang yang menggangu Riana atau bahkan membuat noda luka pada tubuhnya aku tidak akan segan untuk membunuhnya!. Cukup sudah Riana terluka karena diriku.


"Riana, maafkan mas!" gumam Raesha.


Steve pun akhirnya meminta izin kepada Mina untuk pergi melabrak Raesha, betapa kesalnya Steve melihat sahabat kecilnya di perlakukan acuh hingga akhirnya diculik.


"Raesha!" bentak Steve.


"Steve!?" gumam Raesha.


Tanpa basa basi Steve memukul muka Raesha hingga meninggalkan luka pada wajah Raesha. "Apa yang lo lakuin ke Riana? sampai dia hilang seperti itu?. Lo pria bukan? atau memang gua salah percayain dia kepada Lo?" tanya Steve kesal.


"Terserah Lo mau menganggap gua apa, tapi gua bukan bermaksud untuk menelantarkan Riana!" balas Raesha.


"Ga usah ngelak!" bentak Steve sembari menendang Raesha hingga terjatuh.


"Gua memang salah!, hari ini kami ribut dan gua mengusir dia. Gua ngusir dia karena dia sangat ketakutan dengan Vanessa" gumam Raesha.


"Eh Bambang! dari zaman lu di racuni Vanessa sampai lo seperti ini semua korbannya itu Riana!, Lo sadar ga sih? betapa bodohnya Lo sampai ga tahu rasa takut Riana?" gumam Steve.


Raesha hanya dia membeku mendengar perkataan Steve mengenai Vanessa selaku Sekertarisnya.

__ADS_1


"Waktu Riana kecelakaan, yang membuat Lo lupa tentang dia adalah Vanessa. Kedua Vanessa itu sangat menginginkan harta lo, sampai dia berani buat menyingkirkan Riana. Bukan hanya disitu saja, Vanessa bahkan menyuruh pria pesuruh untuk melakukan hal keji kepada Riana. Contoh untuk melecehkan Riana supaya Lo sama Vanessa bisa satu. Dan Lo buang Riana begitu aja. Sekarang Lo malah membuat impian Vanessa terwujud. Selamat Raesha! Gua ga yakin Riana bakal selamat, entah ini cuma prespektif gua atau bagaimana. Gua yakin Vanessa ada dibalik semua ini, karena dia tuh cuman mau Lo jadi miliknya!. Dan ingat kalau sampai Riana terluka gara-gara Lo, gua ga senggan buat ngehancurin lo" ucap Steve kesal kepada Raesha sembari meninggalkannya sendiri.


Raesha yang mendengar segala hal mengenai Vanessa dari mulut Steve akhirnya mendadak sangat menyesal dan menangisi semua perbuatannya.


__ADS_2