
Aku terbangun dari mimpi kelam ku tertindas akan rasa takut yang terus menghantui ku, teras yang terasa dingin dengan tali kecil yang mengikat kaki ku. Aku seperti terkurung di dalam sebuah jeruji besi yang bahkan gelap dan begitu sepi.
"Heh! wanita ******. Akhirnya kau sadar juga, kau tahu dirimu ada dimana?" tanya Vanessa.
"Aku? aku dimana?" tanya Riana bingung.
"Kau berada di dalam kepalan tangan ku, akhirnya aku bisa menculik dirimu. Seorang model cantik yang mencoba untuk menikahi CEO muda yang kaya." gumam Vanessa.
"Kau Vanessa?!, lepaskan aku!. Apa mau mu?" tanya Riana.
"Hanya ingin membalaskan dendam suami ku." gumam Vanessa.
"Dendam? suami mu? kau punya suami?" tanya Riana.
"Iya, dulu dia rekan kerja calon suami mu. Tetapi ia di usir." gumam Vanessa.
"Di usir karena apa?" tanya Riana.
"Karena calon suami mu ingin mengungkapkan kasus korupsi suami ku!" bentak Vanessa.
"Bukan kah itu bagus, suami mu sudah jelas-jelas salah!" bentak Riana.
"Tidak! jika saja Raesha tidak ada. Maka suami ku akan sukses dan kaya raya seperti calon suami mu!" gumam Vanessa.
"Bodoh! kau bodoh!" bentak Riana.
Vanessa yang tidak bisa menahan emosinya, menyuruh dua orang pria pesuruhnya untuk memukuli Riana hingga meninggalkan noda luka yang lumayan parah pada daerah sekitar kepala dan wajahnya.
"Aku yakin! Raesha akan membuat mu menyesali segala perbuatan mu!" bentak Riana.
"Panggil saja dia, Raesha si bodoh itu tidak akan menolongi mu lagi. Dia itu pria bodoh yang hanya di butakan dengan kekayaannya. Jika memang dia sangat mencintai mu, seharusnya dia tidak akan mengusir mu dan membuat mu menjadi korban." gumam Vanessa.
"Tidak!, dia bukan pria bodoh. Aku tahu dia hanya sedang sangat emosional. Aku yakin dia akan datang dan menghukum dirimu beserta suami mu" bentak Riana.
Vanessa yang kala itu sedang direndam lautan emosi pada pikirannya, mulai menaikan nada bicaranya dan menampar wajar Riana dengan kencang sehingga menyebabkan darahnya keluar dari mata Riana.
"Sekali lagi lo bicara seperti itu, gua ga sengan untuk menghancurkan diri Lo." bentak Vanessa sembari menjambak rambut Riana.
Riana hanya mengerang kesakitan sesekali tangannya mencakar muka Vanessa. "Selama apapun dia menjemput ku, aku akan tetap menunggu Raesha. Aku yakin dia masih mencintai ku." gumam Riana.
"Dasar keras kepala!" bentak Vanessa sembari menghempaskan tubuh Riana dengan kasar.
Riana terkapar lepas dengan balutan darah pada tubuhnya ia hanya bisa menahan rasa sakit lukanya, sesekali mengerang kesakitan.
Sementara itu Raesha yang masih tertunduk lesu meratapi kebodohannya, mendapati dirinya melakukan kesalahan ia pun merasa sangat gagal sebagai seorang calon suami.
__ADS_1
Akan menjadi penyesalanku sepanjang hidup, jika senyum bahagia Riana tidak akan pernah bersinar lagi. Disini aku mengkhawatirkan keadaanmu yang tak Nampak dalam pandanganku, namun egoisnya aku hingga membuat mu terluka.
"Kalau diingat, aku lupa kalau kita pernah berjanji untuk saling melindungi semasa SMA." gumam Raesha.
7 tahun yang lalu.
Raesha POV
Matahari memancarkan sinar bahagianya di pagi yang manis itu. Aku melihat gadis dari kelas atas berjalan dengan tasnya yang berat sembari memegang buku favoritnya. Yang aku tahu dari gadis itu adalah ia sangat ingin menjadi dosen.
Matanya yang berbinar membuat ku luluh, tubuh mungilnya dan gaya berjalannya yang khas melekat dalam pikiran ku. Saat itu aku memulai pengalaman indah ku.
Saat jam istirahat aku sengaja melewati kelasnya saat menuju kantin, aku hanya ingin tahu apa yang sedang ia lakukan, siapa saja yang akrab dengannya dan bahkan bagaimana sikapnya saat berbicara kepada teman- temannya. Yang ada di pikiran ku saat itu ketika melihatnya dari luar kelasnya adalah "익숙한 채로 걸을 수 있을까."
(Bisakah kita berjalan dengan penuh keakraban?).
"Riana!" gumam ku dengan perasaan yang berdegup kencang.
"Iya kak? ada apa?" tanya Riana.
"Ingin menunggu bersama?" tanya diriku saat itu yang entah kenapa ingin menghabiskan waktu bersama dengannya.
Aku tidak tahu genre buku apa yang sangat dia suka, tapi terakhir kali aku lihat buku yang suka Ia bawa kemana-mana adalah "Cinta dan legenda di balik aksara Korea". "Riana, itu buku apa?" tanya diriku kala itu.
"Ah ini kak?, buku novel kesukaan ku." gumam Riana.
"Buku novel? tentang apa?" tanya aku yang mungkin sangat ingin tahu lebih dalam tentang mu.
"Buku ini berjudul, cinta dan legenda di balik aksara Korea. Buku ini tentang serangkaian peristiwa pembunuhan istana Gyeongbok. Dimana satu persatu para cendikiawan Jiphyeonjeon tewas mengenaskan." ucap Riana.
"Lalu kaitannya dengan cinta dan legenda aksara Korea itu apa?" tanya ku sembari melihat buku novel yang ia bawa.
"Kaitannya adalah dalam buku ini pembunuhan terjadi saat pada masa penciptaan aksara korea atau hangeul." gumam Riana.
"Dirimu menyukai genre seperti itu?" tanya ku.
"Iya kak, karena bagi ku tanpa adanya sejarah kita tidak akan pernah tahu bagaimana nasib bumi saat ini. Oh iya kak aku duluan ya." gumam Riana.
"Iya Riana." jawab ku kala itu.
Ah senangnya bisa akrab dengan dirimu walaupun masih sedikit canggung saat berbicara dengan dirimu. Kau tahu Riana dimasa yang akan datang dirimu akan menjadi yang paling bahagia. Aku janji.
Hari demi hari aku lewati, akhirnya aku dan Riana pun mulai akrab kami membicarakan soal masa depan. Aku mengatakan bahwa aku sangat menginginkan dia bisa hidup berdampingan dengan ku.
__ADS_1
Aku lebih sakit saat melihat mu terluka, 우는 네 모습에 더 내 마음이 아파.
Raesha POV end.
Riana maaf kan mas yang saat ini tidak bisa melindungi mu, mas memang bodoh membiarkan mu di culik. Mas justru malah menyalahkan mu seperti ayah ku menyalahkan ibu mu.
Ibu, aku minta maaf. Aku tidak bisa menjadi wanita kuat seutuhnya. Aku hanya bisa melihat foto mu dari liontin kalung ini sembari menahan rasa sakit berada di balik jeruji besi milik Vanessa. Aku sangat merindukan Ibu.
Riana POV
"Aku pulang bu." gumam ku saat itu.
Aku terkejut melihat seisi rumah berantakan, banyak pecahan kaca dimana-mana yang aku temui hanya adik ku. Aku menyuruhnya masuk kedalam kamar, aku berkeliling rumah dan menemukan ibu bercucuran darah dari kepalanya.
"Ibu! Bu! bangun!" bentak ku kala itu sembari menggoyangkan tubuh ibu.
Aku lantas menghiraukan telepon masuk dari kak Raesha, aku mendapati ibu tidak bernyawa. Aku sangat bingung apa yang sebetulnya terjadi kepada ibu. Saat itu air mata ku tidak bisa berhenti menangisi ibu. Aku hanya melihat ayah yang mabuk kala itu.
"Ayah! apa yang ayah lakukan kepada ibu!" bentak diriku yang hilang kendali.
"Ibu mu bodoh, kau tahu wanita ****** itu pergi bersama lelaki lain saat ayah sedang berjalan sore." ucap ayah Riana.
"Bukan kah ayah tahu? itu teman ibu semasa SMA. Ibu sama sekali tidak ingin selingkuh dari ayah!" bentak diriku.
"Diam kau anak kecil! memang dirimu mirip sekali dengan wanita ****** tersebut!" gumam ayah Riana.
"Ayah!" ucap diriku yang menangis.
"Diam!" gumam ayah sembari menampar muka ku.
Ayah ku mendorong ku dan meninggalkan diriku berserta adik ku saat itu. Itu terakhir kalinya aku melihat ayah. Aku menangis kejar saat itu. Menangisi kepergian ibu dan depresinya ayah akan pekerjaannya. Bayangkan bagaimana rasanya ayah sendiri yang seharusnya mengayomi dan melindungi keluarganya berubah menjadi ayah yang membunuh pasangannya sendiri beserta perasaan anaknya.
Ayah menyalahi ibu saat semua impiannya tidak terwujud, aku membenci ayah hingga saat itu.
Saat itu perasaan traumatis menyerang ku, aku takut akan laki-laki. Aku takut dengan bentakan, aku mulai takut kepada hal yang menurut orang lain wajar tetapi tidak menurutku. Luka yang ayah ciptakan kepada ku, membuat batin ku tumbuh menjadi wanita yang menutup diri.
Aku merasa hilang kendali saat di orang di sekeliling ku marah disertai bentakan, perasaan ku berdebar dan rasa takut ku muncul. Dari situlah nenek ku atau yang sering ku panggil ibu merawat diriku dan adikku.
Riana POV end.
"Berhenti lah bersedih Raesha! Riana kini membutuhkan pertolongan mu!" gumam Raesha.
__ADS_1