
Seorang pemuda memakai kaos putih dilapisi jaket jeans merah, Dengan mengenakan celana chinos hitam, Sepatu casual berwarna sepadan dengan jaket yang Ia kenakan.
Wajah tampan dan baby face menambah kesempurnaan penampilan pemuda itu.
Wanita yang melihatnya pasti akan langsung terpesona dengan kharisma yang dimilikinya.
Dannis....
Sang mantan kekasih Emily itu tengah berhenti di sebuah toko bunga.
Membeli sebuah bucket bunga Lily untuk sang Mantan kekasih yang masih menempati posisi ratu di dalam hatinya.
"Berapa mb ?"tanya nya.
" Seratus delapan puluh ribu, mas." kata penjual bunga sambil menyerahkan seikat bunga Lily.
"Ini mb, terimakasih ya. kembaliannya buat mb nya saja." ucapnya sambil berlalu.
Disepanjang jalan Dannis sibuk memikirkan apa yang harus Ia jelaskan kepada orangtua Emily.
Bagaimana Ia harus menghadapi Emily. Apa yang harus ia katakan, dan entah darimana dirinya harus memulai ceritanya.
Kesalahan yang Ia buat sungguh sangat fatal sekali. Ia percaya begitu saja dengan cerita Delisa waktu itu.
Delisa, teman sekelas Emily sewaktu Emily masih duduk di bangku kelas X kala itu.
Delisa memberitahunya bahwa Emily mempunyai kakak kelas pria yang dianggap sangat spesial.
Bahkan Delisa mengatakan bahwa Emily telah diam-diam selingkuh memadu kasih dengan kakak kelas tersebut.
Delisa mengaku dirinya melihat sendiri. Namun saat itu, Delisa melarang Dannis untuk menceritakan semua itu kepada Emily.
Dengan bodohnya ia langsung percaya dan langsung memutuskan hubungan dengan Emily secara sepihak.
"Bodoh, tolol banget kamu jadi orang Dannis. Bisa-bisanya dengan mudah lpercaya gitu aja dengan Delisa, Ahhhhh....." Dannis memukul setir kemudi mobilnya. Ia kesal sendiri dengan dirinya yang dengan mudah percaya begitu saja dengan karangan cerita Delisa.
Kurang lebih 15 menit perjalanan dari toko bunga, Dannis sampai di depan gerbang rumah Emily.
Satpam pun langsung membukakan gerbang untuknya karena si satpam sudah sangat mengenali siapa pemilik mobil itu.
Dannis langsung masuk dan memarkir mobil di halaman depan.
"Selamat malam Den, Sudah lama nggak pernah main kesini." Sapa si satpam.
"Iya ni pak, lagi banyak kesibukan di kampus. Emily nya ada pak ?.
"Sepertinya sih ada den, Neng Emily belakangan ini hampir nggak pernah keluar rumah, den."
"Oh, begitu. Baiklah. Boleh saya masuk, pak ?!."
"Silahkan, den."
Hati Dannis berdetak tak beraturan ketika hendak memencet bel. Ia memberanikan diri untuk memencet bel tersebut.
Tak menunggu waktu lama, tampak seorang wanita paruh baya membukakan pintu tersebut.
"Assalamu'alaikum, bi."
"Wa'alaikumsalam, Eh den Dannis. Silahkan masuk den, Wah lama ya nggak pernah main kesini." Mira yang sengaja pura-pura tidak mengerti keadaan.
"Iya bi, ada kesibukan. Emily nya ada bi ?!." tanya Dannis.
"Ada, ada den. sebentar ya bibi panggilkan dulu."
"Terimakasih ya bi."
"Sama-sama den, den Dannis tunggu dulu disini sebentar."
__ADS_1
Saat Mira sedang berjalan masuk, Dila menghampiri ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang. karena kebetulan Ia mendengar suara bel berbunyi.
Dila mengecek siapa yang ada di ruang tamu, Dila melihat sosok yang tak asing lagi baginya. Dan sudah lama dirinya tak melihat wajah pemuda itu.
"Assalamu'alaikum, eh nak Dannis. Udah lama, nak ?"sapa Dila.
"Wa'alaikumsalam, tante. Baru aja tan. Bagaimana kabarnya Tante, sehat ?" kata Dannis berbasa-basi.
"Alhamdulillah sehat. kamu sendiri bagaimana ?tante lihat semakin fresh saja wajahnya." Dila berusaha bersikap santai.
"Alhamdulillah sehat juga tante, tante bisa aja wajah kusut gini dibilang fresh."
"Emm,,tante. Sebenarnya kedatangan saya kesini..."
Belum selesai Dannis berbicara, Dila memotong pembicaraannya. Karena Dila tak ingin Dannis menjelaskan apapun kepadanya. baginya itu urusan anak muda.
"Sudah, kamu nggak usah jelaskan ke tante. Jelaskan saja nanti sama Emily ya, sepertinya juga dia sudah dipanggil sama bi Mira dan sedang menuju kesini. Kamu tunggu dulu ya, tante kedalam dulu."
"Iya tante..., nanti tolong sampaikan salam saya untuk om juga ya tante."
"Oke, enjoy ya."
Dila berlalu meninggalkan Dannis.
Disisi lain di lantai atas, Emily memperhatikan obrolan mama dan Dannis.
Emily kemudian turun, berjalan pelan-pelan menuju ruang tamu. Tak lupa Ia tetap bersikap ramah kepada Dannis.
"Bisa Ly, kamu bisa. Kuatkan hatimu Ly .Anggap saja Ia teman biasa. jangan gugup Ly." bisik Emily di dalam hati.
"Hai mas, apa kabar tumben main kesini ? sapa Emily.
Sementara pemuda yang mendengar suara itu, terpaku mematung melihat gadis yang sedang berdiri di depannya itu.
Dannis melihat Emily itu semakin terlihat cantik, Aura keanggunannya semakin terpancar. Suara khas nya yang memanggil dirinya dengan sebutan "mas". Yah, Sosok dan suara itu yang sudah lama tak pernah Ia dengar dan Ia lihat kini sedang ada di hadapannya dan Ia bisa mendengarnya kembali.
Dannis sedikit gugup.
" Nggak, nggak ada yang salah Ly. kamu terlihat makin cantik saja. Oh iya, ini ada bunga untukmu." Dannis memberikan Bunga yang ia beli di jalan tadi.
Emily kembali tersenyum.
" Wah repot-repot mas, terimakasih banyak ya. Tambah pinter ngegombal sekarang kamu ya mas. Ngomong-ngomong ada perlu apa, tumben main kesini lagi ?
Deg..
"Nggak ada perlu apa-apa, hanya mau main saja, kebetulan lewat sekalian ingin lihat keadaan kamu. Aku dengar kamu sedang ada masalah, makanya aku kesini."
Mata Dannis sedikit pun tak bisa berpaling dari sosok gadis di depannya, Tak di pungkiri dia sangat merindukan gadis itu.
"Wajah teduh dengan suara serak yang khas namun begitu lembut ini, kini hadir di depanku lagi, dan bisa kudengar lagi di telingaku." Dannis berbisik di dalam hatinya.
"Sudahlah mas, nggak perlu bahas itu lagi. Aku sudah menguburnya dalam-dalam mas. Pasti Bella ya yang sudah cerita, Emang dasar tu anak udah kayak ember bocor aja." gerutu Emily.
"Bukan, bukan Bella yang cerita sama mas. Kan Lily sendiri dapet nge WA mas waktu itu."
"Kapan mas ??"Emily mengerutkan alisnya
"Sudahlah katanya nggak mau bahas, ya udah nggak usah diterusin."
"**D**asar gadis polos. Nggak hilang-hilang kepolosanmu itu sayang, Jadi makin Gemess aku sama kamu tu."
Dannis merasa greget sendiri dalam hatinya.
Kemudian Dannis berpindah tempat duduk, mendekatkan dirinya ke tempat gadis itu berada.
"Ly, mas kesini mau meminta maaf atas kesalahpahaman Mas dulu kepadamu. Mas minta maaf sudah berprasangka buruk kepadamu. Mas juga minta maaf sudah memutuskan hubungan kita secara sepihak. Mas sangat menyesal, Ly." Dannis menundukkan wajahnya dengan pilu.
__ADS_1
"Degh.... "
Jantung Lily terasa berhenti berdetak.
"Kenapa baru sekarang kamu menyesal mas, setelah semuanya terjadi. Dan bahkan kamu pun tak perlu waktu lama untuk memiliki kekasih lagi setelah aku. Gara-gara kamu aku mengalami semua masalah ini mas, andai saja kamu datang jauh sebelumnya, pasti semua ini tidak akan terjadi kepadaku, kenapa baru hadir sekarang."
Emily berbisik dengan mata terpejam, menguatkan hatinya sekuat mungkin agar tidak terpancing emosi.
Emily langsung bergeser sedikit menjauh dari Dannis.
Dia khawatir tak mampu menahan perasaannya, Dan takut akan luluh hatinya, karena jujur saja jauh dalam lubuk hatinya Ia masih mencintai Dannis.
Laki-laki yang menjadi cinta pertamanya yang sudah kurang lebih 3th mereka bersama.
"Sudahlah mas, nggak usah dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu menjadi sebuah pelajaran untuk menata masa depan." ucap Emily tanpa melihat Dannis sedikitpun.
"Ly,..."
Suara Dannis berubah semakin parau terdengar. Tatapan matanya menyiratkan arti betapa dalamnya rasa yang Ia pendam.
"Ly, mohon maafkan aku. Berikan aku kesempatan kedua Ly."
Tampak Dannis meneteskan air matanya.
Bukan karena dia cengeng atau akting belaka. Namun karena dia masih sangat mencintai gadis di depannya.
"Deg...."
Kata-kata itu membuat hati Emily merasa semakin sesak.
Kata-Kata itu yang dulu sangat Ia harapkan. Namun harapan nya itu pupus ketika Ia melihat Dannis telah bersama wanita lain ketika itu.
Dan Wanita itu adalah orang yang menjadi tempat curhatnya kala itu. Sehingga akhirnya Ia mengalami kecelakaan tunggal, yang kemudian menjadi awal dari nasib buruk itu terjadi.
Andai saja Dannis tak melakukan semua itu, pasti dirinya takkan pernah mengalami semua hal buruk itu.
Tapi ia tak mau sepenuhnya menyalahkan dannis. Ini adalah takdir yang kuasa untuknya.
Emily tak kuasa menahan air mata yang sudah tak terbendung lagi. Sebuah kalimat keluar begitu saja dari bibir manis nya.
"Maaf...Maaf...Aku nggak bisa mas. Masih terlalu sakit hati ini mas mengingat semua kejadian itu. Kita jalani saja dulu apa adanya seiring dengan bergulirnya waktu tanpa sebuah ikatan."
Dannis akhirnya pasrah dengan apa yang diucapkan Emily. Tampak wajah penuh kekecewaan yang terpancar di wajah Dannis.
Dannis berpikir mungkin dengan cara itu dia bisa kembali dekat dengan Emily.
"Bagaimana, mas ?" Tanya Emily kembali.
Dannis masih terdiam tanpa kata, tak mampu untuk mengungkapkan apa-apa.
"Oke, baiklah. Kalau itu maumu, yang penting aku masih ada kesempata untuk dekat denganmu. Aku ada permintaan, Ly. Boleh aku antar jemput kamu pulang sekolah ?"
" Kalau itu tidak usah mas, nanti ngerepotin. Biar aku naik motor aja nggak enak sama tetangga, nanti dikira aneh-aneh."
"Ya nggak berdua saja, nanti kamu sama Alvin bisa ikut aku berangkat dan pulang sekolah. Kan bertiga jadinya." Pinta Dannis.
"Nanti aku tanya Alvin dulu ya, nggak bisa kasih jawaban langsung."
"Oke." Dannis lega mendegarnya.
"Silahkan diminum dulu airnya, dimakan makanannya. jangan kebalik nanti makanan diminum, airnya dimakan." Kata Emily dengan nada bercanda, Ia ingin memecah suasana.
"Eh pinter ngelawak ya sekarang, Siapa yang contohin kayak gitu."
"Kamulah..." mereka berdua saling melempar tawa.
Suasana pun berubah menjadi Canda tawa.
__ADS_1
"Mungkin nanti waktu yang akan menjawab semuanya, Hati ini akan terbuka kembali untukmu atau bahkan akan meninggalkan dirimu mas."