
"Kamu mau jadi pendamping hidupku, bersedia menjadi ibu dari anak-anakku kelak, Emily Putri Zahrana ?" tanya Aksa kembali.
Mata Emily berkaca-kaca mendengar hal itu, ia melepaskan tangan Aksa dari wajahnya. Dan,...
Perlahan dirinya mundur dan berlari menjauhi Aksa, Aksa yang melihat Emily seperti itu merasa bingung, apa ada kata-kata darinya yang salah ?
"ada apa dengan Emily, kenapa dia malah berlari menjauhiku setelah aku menyatakan seluruh perasaan yang ada di hatiku. Apakah ada yang salah dengan kata-kata ku." Aksa masih diam karena merasa bingung.
Tak lama Aksa kemudian berlari berusaha mengejar Emily, dia harus memastikan semuanya dengan jelas.
"Emily,.. Emily,.." Teriak Aksa yang sudah kehilangan jejak wanita itu.
" Emily.., kamu dimana. Kenapa kamu malah pergi, kalau ada kata-kata ku yang salah mohon maafkan aku." Teriak Aksa yang tak berhenti berlari mencari Emily.
Kaki Aksa terasa sudah lemah untuk berlari lagi, ia beristirahat sejenak. Saat sedang bersandar di sebuah pohon, Aksa mendengar suara seorang wanita yang sedang menangis dibawah pohon.
Melihat dari warna dan pakaian yang dikenakan wanita itu, Aksa merasa jika wanita itu adalah Emily. Namun dia juga merasa ragu, tapi tak mau larut dalam keraguan Aksa menghampirinya. Aksa perlahan mendekati wanita itu untuk memastikan apakah wanita benar Emily atau bukan.
" Emily..," panggilnya lirih.
Wanita itu menaikkan kepalanya sehingga menampakkan wajahnya. Dan benar saja, seperti dugaan Aksa jika wanita yang dihadapannya itu adalah Emily.
Aksa yang benar-benar merasa takut kehilangan dan takut terjadi apa-apa dengan wanita yang sangat dia cintai itu refleks menarik tubuh Emily dan memeluk nya dengan erat. Beberapa kali ia menciumi kepala Emily dengan penuh kasih sayang. Sedangkan Emily yang masih dalam rasa kesedihan hanya diam dan masih belum sepenuhnya menyadari.
"Emily Putri Zahrana, dengarkan aku baik-baik." Ucap Aksa sambil menangkup wajah Emily dengan kedua tangannya.
"Kalau kamu belum bersedia menjadi kekasih sekaligus menjadi pendamping hidupku kamu bisa menjawab nya nanti, tidak harus sekarang. Aku siap menunggu sampai kamu bersedia, Kamu jangan seperti ini lagi, aku takut terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." Ucap Aksa dengan sangat lembut dan tulus.
Namun berbeda dengan Emily, semakin ia mendengar ungkapan ketulusan dari Aksa semakin deras air matanya mengalir di pipinya.
__ADS_1
"Kak, aku..a..a..ku ," Ucap Emily terbata-bata.
"Kenapa, Ada yang sakit, katakan mana yang sakit Ly ?" Air mata Aksa tak terasa ikut berderai seakan mengikuti rasa yang dirasakan Emily.
"Aku takut nanti kakak akan ninggalin aku kak, Aku tidak mau berharap lagi dengan sebuah hubungan, jika nanti semua itu akan berakhir menyakitkan." Ujar Emily dengan suara serak serta air mata yang terus berderai.
Aksa sungguh tidak mengerti dengan wanita dihadapannya itu, Aksa lalu membawa Emily kembali ke tempat mereka dinner tadi. Setelah sampai di meja, Aksa membantu menyiapkan kursi untuk Emily duduk lalu memberikan segelas air kepada Emily agar merasa lebih tenang.
" Kamu yang tenang ya, tidak usah di jawab kalau belum siap." Ucap Aksa
Jauh di dalam lubuk hati Emily ia ingin menjawabnya segera, namun ia sungguh takut jika setelah Aksa tau keadaan dirinya yang sebenarnya, Aksa akan pergi begitu saja meninggalkan nya. Dia bingung harus berterus terang atau tidak dengan Aksa. Namun Emily mengingat satu pesan dari Bu Sofi dahulu ketika masih di SMA, jika dirinya tak harus menceritakan semuanya kepada siapapun termasuk dengan suaminya kelak. Karena itu adalah aib yang sudah Allah tutupi sedemikian rapat, lalu untuk apa harus menggalinya lagi dan kenapa harus dia membongkar aib sendiri.
"jujur sebenarnya aku masih takut dan trauma menjalin suatu hubungan, tapi tidak aku pungkiri aku juga ingin mempunyai seseorang yang bisa menjaga dan melindungiku, aku harus berterus terang saja kepadanya agar aku lebih tenang, terserah bagaimana akhirnya dia mau menerimaku atau tidak setelah aku berterus terang" pikiran dan hati Emily selalu berlawanan.
Tapi ia lebih mengikuti kata hatinya untuk berterus terang kepada Aksa, entah nantinya Aksa akan menerima nya atau tidak. Sekarang yang terpenting baginya ia harus jujur terlebih dahulu.
"Kak, aku mau bicara sesuatu. Tapi sebelum aku cerita, aku minta satu hal sama kakak, apapun keputusan kakak setelah mendengar cerita aku ini, aku minta itu jadi rahasia kakak seumur hidup kakak, jangan sampai kakak membagikan cerita ini kemana-mana.bisa janji ?" Aksa pun mengangguk tanda bahwa ia menyanggupi apa yang diminta Emily.
Emily masih menatap Aksa serius, dihatinya masih ragu dia harus bercerita sesuatu yang jelas akan membuka aibnya sendiri, sedangkan ia takut setelah bercerita laki-laki itu bisa menjaga rahasianya atau tidak.
"Ngomong apa Ly, kamu dari tadi itu nangis terus kenapa ? jangan buat aku semakin bingung, aku paling nggak bisa kalau lihat wanita menangis." Ujar Aksa yang tangannya menggenggam erat tangan Emily sambil sesekali mengusap air mata Emily.
Sungguh malam ini rasanya Emily membutuhkan tenaga super untuk membuat suatu kejujuran yang ia tak tahu kejujuran nya ini akan membawa keberuntungan atau musibah lagi untuknya.
" Kak, aku ini sebenarnya.., masih belum bisa membuka hati terlalu lebar, karena jujur jauh di dalam lubuk hati ini masih banyak menyimpan luka karena pengkhianatan, karena tidak ada rasa dihargai, dan rasa lainnya yang intinya susah untuk aku jelaskan. Aku ini type orang yang memegang teguh prinsip ku kak, sekali ada pengkhianatan maka aku akan melepaskan orang itu, Dan sulit bagiku untuk percaya lagi meskipun aku masih ada rasa yang mendalam untuk orang itu. Apa kakak bisa janji untuk itu bisa setia kepadaku ?. Jika iya, aku siap untuk menjadi apa yang kakak mau, namun jika tidak maka lupakan semua rasa yang ada di hati kakak sekarang juga." ucap Emily yang membalikkan hatinya dan mengurungkan niatnya untuk membuka rahasianya, Dia belum siap untuk jujur.
Aksa yang mendengar penuturan Emily itu spontan saja mengulum senyum menahan rasa untuk tertawa, dirinya sudah sedari tadi mendengarkan serius bahkan pikirannya sempat buruk sangka kemana-mana itu, ujung-ujungnya hanya diminta untuk setia.
"Emily sayang, dengerin kakak. Jika kamu jadi milik kakak, kakak tidak akan berjanji namun akan membuktikan jika kakak akan setia selalu,akan berusaha selalu memberikan kasih limpahan kasih sayang untukmu dan tidak akan menyia-nyiakan kamu. karena kakak buka tipe laki-laki yang suka mencintai banyak wanita. Kalau kamu belum yakin dengan ucapanku, ayo kita nikah saja langsung, supaya kakak bisa lebih leluasa menjagamu" ucap Aksa yakin.
__ADS_1
Tentu saja Emily dibuat melongo oleh ucapan Aksa yang langsung begitu saja ingin mengajaknya menikah, Emily sangat belum siap karena merasa masih ada yang disembunyikan olehnya dari Aksa.
Emily terkekeh mendengar ucapan Aksa. "Kita jalani saja dulu kak, Bagaimana kalau kita hanya komitmen tanpa saling mengikat kak ? jadi kalau seumpama kakak lelah menungguku kakak bisa memilih yang lain,begitu juga sebaliknya."
"Tidak, aku tidak akan mau kalau hanya berkomitmen, itu berarti sama saja kita memainkan sebuah perasaan. Aku mau kamu jadi kekasihku, calon pendamping ku. Dan aku akan menunggumu sampai kamu bersedia untuk menjadi istriku." pinta Aksa yang tentu saja merasa keberatan dengan permintaan Emily.
"Bagaimana, apa kamu bersedia ?" tanya Aksa kembali sambil menatap serius kepada Emily.
Emily menarik nafas panjang, lalu menganggukkan kepalanya pelan sebagai ungkapan ia menyetujui ucapan Aksa." Tapi dengan satu syarat kak, boleh kan aku mengajukan syarat ?".
Aksa meras geli mendengar ucapan Emily," Apa lagi syarat nya, Ay ?" tanya nya seraya mencubit dan menarik hidung Emily yang mancung.
"Jika nanti kakak mendengar berita buruk tentangku, seperti gosip dan lainnya. kakak harus tanya dulu ya sama aku kebenarannya, jangan dipercaya begitu saja." pintanya
"Emily sayangku, cintaku, kekasihku, itu bukan syarat tapi itu keharusan. Dalam menjalani sebuah hubungan saling percaya, saling terbuka itu harus ada agar hubungan itu awet dan langgeng, jadi nggak perlu diminta itu akan aku lakukan, dan itu juga berlaku untukmu."
Kata-kata Aksa memang selalu membuat hati Emily terbang menari-nari seperti kupu-kupu yang menari indah di taman yang penuh bunga. Hatinya merasa lega, dan pastinya suatu saat dia harus mengungkapkan yang sebenarnya kepada laki-laki yang baru saja menjadi kekasihnya itu, karena itu merupakan permintaan Aksa untuk saling terbuka namun ia belum bisa untuk melakukan nya.
"Jadi mulai hari ini kita jadian ya, status kita berubah menjadi sepasang kekasih ?." Ucap Aksa menggoda Emily yang tersipu malu, membuat wajahnya semakin terlihat menggemaskan.
" Aku rasa seperti itu. " jawab Emily yang masih merasa agak canggung.
Mereka berdua tersenyum bahagia malam ini, bisa mengutarakan perasaan masing-masing.
Drrtt...Drrtt...Drrt . ponsel Emily bergetar ada sebuah panggilan masuk.
Setelah menerima panggilan tersebut, wajah Emily yang semula penuh kebahagiaan seketika berubah menjadi muram.
"Akankah kebahagiaan ini hanya sementara bagiku" bisik Emily yang seraya menutupi kegelisahan hatinya dengan senyum palsu untuk menutupinya dari Aksa.
__ADS_1