Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Sahabat Takkan terganti


__ADS_3

Degh..


Dannis


Entah mengapa firasat buruk terhadap Dannis langsung dirasakan Emily. Mengingat selama ini yang selalu ada untuknya adalah Dannis.


Emily langsung berlari keluar dari kamar mandi untuk segera memberitahu Dannis bahwa ada yang mengancamnya dan mengancam orang-orang yang membantunya.


ketika menemukan mobil sport Dannis masih terparkir, ia sedikit lega. Dannis memang menemaninya namun tidak ikut masuk ke dalam gedung, hanya menunggunya di dalam mobil.


Emily mengetuk kaca mobil, memastikan orang yang dicarinya masih stay di dalam." mas, mas Dannis." panggil nya. Emily terus berusaha mengetuk kaca dan terus memanggil, namun tak juga ada yang membukakannya.


Emily benar-benar panik, tubuhnya terasa lemas tak berdaya, dia tak sanggup membayangkan jika Dannis menjadi korban karena dirinya. Emily menutup wajahnya dengan kedua tangan serta menangis sesenggukan di samping mobil dannis.


"Emily...Hei kamu kenapa nangis ??" terdengar suara seseorang yang tak asing baginya, Lalu memegang kedua tangannya membantunya berdiri.


Suara itulah yang ia sedang cari. Tangisnya berhenti dan langsung melihat orang yang berada di depannya. Bukannya terdiam tapi tangisnya makin menjadi. Malahan tanpa terasa ia memeluk Dannis dengan erat, Tapi Dannis tak berani memeluknya balik karena ingin menjaga marwah Emily.Sedangkan Emily yang sudah lebih tenang baru menyadari posisinya dan segera melepaskannya.


"Maaf mas aku refleks, mas Dannis kemana aja ?? Aku gedor-gedor kaca nggak ada orang. Aku kirain mas Dannis kenapa-napa.


Dannis yang melihat kepanikan Emily sampai sebegitunya malah tertawa geli. Namun, dalam hatinya ia sangat senang gadis itu mengkhawatirkan nya.


"Mas Dannis kenapa malah tertawa sih..!!! Aku serius panik tadi liat mas nggak ada di mobil."


"Aku tadi haus, makanya cari minum di warung itu. Kamu kenapa sampai segitu paniknya." tanya Dannis yang terlihat menahan tawanya.


" Ya syukurlah kalau begitu, mas. Aku sangat lega kamu baik-baik saja."


" Memangnya ada apa, wajah kamu sampai pucat begitu ?." selidik Dannis


Emily kemudian menceritakan kepada Dannis bahwa ada yang mengikutinya sewaktu pergi ke kamar mandi. Seorang laki-laki yang ia tak kenal, dan memberikan ancaman akan mencelakai siapa aja yang berani mendekati dan mencampuri masalahnya itu. Dannis yang mendengar hal itu berpikir sesuatu yang sudah ia prediksi akan terjadi, namun dirinya harus tetap terlihat tenang di depan Emily.


"Sudah kamu tenang saja, itu hanya ancaman yang sengaja dibuat supaya kamu terpuruk lagi dan merasa tidak percaya diri lagi. Aku baik-baik saja, sudah jangan di pikirin. Lebih baik kita pulang saja ya ?.


Emily hanya mengangguk patuh dengan perkataan Dannis. Kemudian masuk ke dalam mobil. Dannis mengemudikan mobilnya dengan laju meninggalkan tempat itu. Tanpa mereka sadari ada yang mengintai mereka sedari tadi.


...***...


Keesokan harinya seorang gadis yang sangat membenci Emily, perawakan tinggi,dengan body yang ideal, kulit putih, dengan wajah yang cantik, sedang mengamuk di ruang kelas yang masih sepi.


" Emily sialan, aku tidak akan tinggal diam. Aku tidak terima kalau sampai kamu balikan lagi sama Dannis. Apa lebihnya kamu, sampai kamu bisa mendapatkan apa yang kamu mau." Delisa menggenggam erat kepalan tangannya.


"Del, udah biarin aja kenapa sih. kamu juga udah putus kan sama Kak Dannis. Kamu juga yang salah, kamu mendapatkan cinta Kak Dannis dengan cara berbohong.kalau kamu kayak gini terus kamu sendiri yang sakit hati." Mei sahabatnya mencoba menasehatinya.


Mendengar omongan Mei seperti itu Delisa bukannya sadar, tapi malah makin mengamuk. Dia meminta Mei agar tidak usah ikut campur kalau hanya mau membela Emily.


Delisa seperti orang yang sedang depresi berat, setelah menangis ia tertawa lagi, begitu seterusnya hingga muncul ide di kepalanya untuk membalas Emily.


"Gue tahu caranya bikin Lo hancur Ly, tunggu saja. Kita lihat bagaimana dirimu tanpa sahabat-sahabat mu." kata Delisa dengan seringaian yang mengerikan.


...***...


Bella...

__ADS_1


Bella...


Bella....


Seseorang memanggil Bella yang sedang berjalan menuju kantin untuk mencari Vina. Mereka sudah janjian untuk makan siang sama-sama. Mendengar panggilan itu sang empunya nama pun melihat ke belakang.


"Hei Clarissa, ada apa ?" tanya Bella


"Aku mau minta bantuan sebentar aja, kamu ada waktu nggak ?"


"Ada, tapi jangan lama-lama ya soalnya aku ada janji sama Vina mau makan siang bareng."


"Iya sebentar aja, aku mau minta bantuan untuk diajarin mengerjakan soal matematika ini. aku bingung sama rumusnya, mana bentar lagi di kumpul Bel..please tolongin gue ya."


Bella bingung mau jawab apa, Ia kepikiran sama Vina yang sudah menunggunya di kantin sendirian karena Emily dipanggil untuk ke ruangan kepala sekolah. Tapi kalau menolak Clarissa juga dirinya tidak enak karena kelihatannya memang sangat butuh bantuan dirinya.


Sementara di Kantin Vina belum memesan makanan karena dirinya sedang menunggu Bella. Padahal perutnya sudah sangat lapar.


"Duh, Bella mana sih lama banget. Nggak tau apa ya kalau perut sudah keroncongan, cacing udah pada demo ni."


Melihat Vina yang duduk sendirian Delisa menjalankan misinya. Dia datang menghampiri Vina dan duduk di sebelahnya.


"Hai Vin, tumben Lo sendirian aja. Sohib-sohib Lo pada kemana ?"


"Emangnya kenapa, nggak ada urusan sama sekali ya sama Elo. jawab Vina dengan sengit.


"Emang nggak ada urusannya sama gue, kalo Lo sendirian mau gue temenin. Tadi pas gue kesini ,gue ngelihat Emily sama Bella lagi keluar tuh naik motor entah kemana.,",


"masak sih Bella sama Emily keluar, kalo iya kenapa mereka nggak ngasih tau gue ya. jangan-jangan Emily kenapa-napa lagi." Bisik Vina di dalam hatinya.


" Nggak mungkin lah mereka seperti itu, kita itu bukan hanya sahabat tapi sudah seperti saudara kandung. udahlah Lo jangan coba hasut gue. Nggak bakal ngaruh sama gue." ketus Vina yang langsung beranjak pergi meninggalkan Delisa.


"Kalo elo nggak percaya Lo bisa lihat sendiri ke depan." teriak Delisa.


...***...


Sementara itu Emily yang dipanggil ke ruang kepala sekolah diminta untuk mencairkan uang, uang pesangon sebagai apresiasi yang diberikan untuknya karena telah berhasil mengharumkan nama sekolah.


Emily bingung harus dengan siapa Ia pergi mengambilnya. Sedangkan dia tadi di antar oleh papanya. Dia terus berjalan ke depan sampai dia menemukan Bella yang sedang duduk dengan Clarissa. Emily pun tersenyum, karena tau dengan siapa dia harus berangkat.


"Bella, anterin gue yuk ke bank.Diminta sekarang sama pak kepala sekolah."


" Ya udah yuk sekalian jalan-jalan pening otak gue kelamaan belajar."


Bella yang sudah terlalu lama duduk dan sudah lumayan pening membantu Clarissa menjawab soal matematika itu lupa kalau dirinya sudah terlalu lama tidak menghampiri sahabatnya Vina. Mereka langsung saja berjalan menuju parkiran dan akan berangkat. Tepat di sisi lain ada Vina yang akan mencari mereka malah menemukan mereka persis dengan apa yang tadi Delisa katakan.


"Emily, Bella..."Teriak Vina sambil berjalan penuh amarah menghampiri mereka berdua." Tega Lo berdua ya seperti ini di belakang gue, dari tadi gue nahan lapar karena nungguin sahabat gue ternyata yang gue tungguin lagi enak-enakan mau jalan-jalan."


Bella dan Emily yang melihat Vina marah-marah itu merasa heran, kenapa tiba-tiba Vina datang-datang langsung marah dan mendorong tubuh Bella dengan kasar sampai terjatuh." Hei Vin, Lo kenapa ? tenang dulu, ini tidak seperti yang kamu lihat." ucap Emily berusaha menenangkan Vina.


Namun Vina yang sudah tersulut amarah tidak mau mendengarkannya. malah balik memarahi Emily. "Diem Lo, Lo sama aja tau nggak sama Bella." ucap Vina yang langsung berlalu meninggalkan mereka.


"hahahaha, uh...gue puas banget ngelihat pertunjukkan ini. Sekarang Vina besok Bella yang akan ninggalin Lo Emily. Untungnya saja aku tadi sempat mendengarkan percakapan bu Sofi dan kepsek, jadi dengan mudah aku mengatur siasatnya." Delisa benar-benar puas dengan apa yang Ia lihat.

__ADS_1


"Gimana ini Bel, Vina sepertinya salah paham sama kita." Emily sangat khawatir dengan Vina.


"Biarin dulu dia tenang, gue beneran lupa Ly punya janji sama dia di kantin."


"Aku juga yang salah ngajak kamu karena nggak tau kalau kalian jadi pergi ke kantin."


"Ya udah ayo kita ke bank dulu. kita jelasin nanti sama Vina.


...***...


Sepulang dari bank Bella dan Emily bergegas mencari Vina di dalam kelas namun tak menemukannya. Sedangkan Emily memutuskan untuk mencari nya di ruang perpustakaan.


Tepat dugaan Emily, Vina berada disana. Emily pun langsung menghubungi Bella. Bella bergegas menghampiri kedua temennya itu.


"Vin...Teriak Emily." mendengar teriakan Emily itu Vina langsung berjalan hendak pergi dari sana. Namun Emily lari dan berhasil menghentikan langkah Vina.


"Vina, nggak begini caranya nyelesein masalah. Ayo kita bicarakan semuanya dengan baik-baik." Ujar Emily.


Vina yang masih marah itu membuang wajah, sedikitpun tak melihat ke arah Emily. Bella pun datang menghampiri kedua sahabatnya itu dan menimpalinya.


" Katanya kita sahabat tapi kenapa Lo menuduh kita seperti itu Vin."


Emily mengerdipkan matanya seolah mengkode Bella agar lebih halus bicaranya.


" Iya Vin, ayo kita omongin baik-baik ya jangan saling tuduh begini, biar nggak ada salah paham lagi." Pinta Emily kepada Vina.


Vina pun luluh dengan kelembutan Emily dan menurutinya.


" Gue sedih aja apa yang dibilang oleh Delisa ke gue itu bener, Lo berdua itu nggak perduli sama gue. Gue udah capek lama-lama nunggu di kantin, kelaperan hanya supaya bisa barengan makannya sama kalian, kalian malah mau ninggalin gue gitu aja." Bella dan Emily langsung terkejut mendengar nama Delisa disebut oleh Vina.


"Ya maaf Vin, kita berdua nggak ada maksud seperti itu. Jadi pas kita berdua mau nyamperin Lo ke kantin, Di tengah jalan gue dimintain tolong sama clarissa bantuin dia ngerjain tugas matematika, gue kira nggak lama ternyata lama. setelah itu Emily datang minta tolong juga sampai aku lupa janji sama kamu, Emily juga lupa karena buru-buru." jelas Bella.


"Tunggu dulu, tadi Lo sebut nama Delisa, memangnya dia bilang apa sama Lo ?" tanya Emily.


"Ya persis seperti yang gue sangka sama kalian." ucap Vina masih sedikit cuek


"Dasar oon, ngapain juga Lo percaya sama Delisa yang jelas-jelas Lo tau dia itu benci banget sama Emily. Dia itu sengaja mau misahin kita, karena dia tau Emily bakalan hancur jika kehilangan kita." Tegas Bella.


Vina kemudian diam dan tampak berpikir, bahwa yang dikatakan Bella itu ada benarnya juga.


" Iya ya bel, kenapa gue baru nyadar ya." ucap Vina.


"Masih aja itu anak ya mau gangguan gue, ngejahilin gue seakan nggak ada kapoknya."


"Ly...Bel....maafin gue ya udah salah sangka sama kalian. Habis gue itu kemarin bener-bener lapar udah gitu ditambah lagi gue ngelihat apa yang di ucapkan Delisa bener."


"Ya udah nggak apa-apa lain kali jangan seperti itu lagi ya, kita itu sahabat nggak ada yang boleh saling pilih kasih, nggak ada yang boleh saling iri. Karena sahabat sejati itu takkan pernah terganti Vin."


"Iya, lain kali itu dengerin dulu penjelasan kita, jangan asal main tuduh aja, jangan sampai kita bisa terpisah hanya karena perbuatan orang yang iri sama kita."


"Iya gue minta maaf ya sama kalian berdua". ucap Vina sambil memeluk keduanya.


"Kita juga minta maaf ya sama Lo Vin..." kata Bella dan Emily.

__ADS_1


"Mempunyai sahabat sejati itu tak ternilai harganya. mereka siap menemani kita dikala suka dan duka. bukan hanya ada di saat kita suka dan berpaling jika kita berduka. maka dari itu Sahabat sejati itu takkan terganti sampai kapanpun." Lirih Emily di dalam hatinya.


__ADS_2