
Tak terasa sudah hampir satu setengah tahun Emily dan kedua sahabatnya tinggal di kota pelajar tersebut. Emily sudah seperti terlahir kembali di kota itu, ia bisa melanjutkan pendidikan nya dengan mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuanya, sahabatnya, dan keluarga barunya di Jogja dan yang pastinya mendapat dukungan dari sang kekasih dambaan hatinya, siapa lagi kalau bukan si Aksa.
Pagi itu Emily, Vina dan telah bersiap untuk pergi ke kampus. Jangan tanyakan Bella kemana, tentu saja ia sudah berangkat lebih dulu sebab ia harus mempersiapkan beberapa kebutuhannya untuk ujian prakteknya.
Sebelum berangkat Emily dan Vina menyempatkan untuk sarapan dulu, karena semuanya sudah dihidangkan di atas meja untuk mereka. Jadi tidak enak saja jika mereka langsung berangkat tanpa menyentuh makanan tersebut. Akan sama saja mereka tidak menghargai asisten rumah tangga nya kakek Toni yang telah dengan senang hati menyiapkannya untuk mereka.
Drrtt..drrttt...drrtt... getaran benda pipih itu diiringi dengan alunan musik.
Dan getaran yang disertai alunan musik tersebut berasal dari benda pipih milik Emily. Emily yang sedang menyantap sarapannya itu langsung menggapainya, melihat nama yang tertera di layar Hp nya, tertera sebuah panggilan yang tertulis "MamaLove".
" Hallo, assalamu'alaikum ma."Ucap Emily dengan gembiranya, orang yang paling ia rindukan saat ini.
" Wa'alaikumsalam sayang, apa kabar anak mama disana, mama kangen banget sama kamu nak. Kamu belum liburan sayang ?."Ujar Dila yang ingin memastikan keadaan putrinya itu."
"Lily baik ma, Lily harap mama, papa dan adik semua juga dalam keadaan baik, semoga senantiasa diberikan kesehatan. Aku belum libursn ma, tapi sebentar lagi mau ujian, doa kan agar semuanya lancar ya ma supaya bisa untuk lanjut ke semester berikutnya. Apa papa juga ada disana sekarang ma, sampaikan sama papa ma, kalau putrinya ini sangat merindukannya ."
"Aamiin, semoga ujianmu nanti lancar dapat nilai yang terbaik. Papa udah berangkat ke kantor nak jam segini, kebetulan papa hari ini harus datang lebih awal karena ada jadwal meeting katanya. Jadi papa harus mempersiapkan bahan untuk meeting lebih dulu. Kalau kamu kangen sama papa, kamu kan bisa telpon papa langsung nak."
"Iya sih ma, tapi Lily sungkan takut ganggu papa,ma. Oh iya ma, nanti kalau udah liburan Lily mau menghabiskan waktunya dirumah boleh ya ma."Ucap nya seraya mengambil telor ceplok yang sudah disediakan di meja makan oleh bi Ona.
"Iya sayang, yang penting sekarang kamu baik-baik disana, jaga kesehatan. Oh ya Nak, apa kamu ada dengar kabar tentang sesuatu ?." Tanya Dila untuk memastikan jika putrinya belum mendengar kabar yang akan ia disampaikan.
" Iya ma, siap Mama juga ya. Aku nggak pernah dengar kabar apapun ma, memangnya ada kabar apa ma?" Emily merasa penasaran dengan apa yang disampaikan oleh mamanya.
__ADS_1
Sejenak keadaan menjadi hening, tidak ada suara apapun terdengar dari seberang sana. Dila merasa ragu untuk menyampaikan kabar tersebut kepada putrinya. Namun jika hal tersebut tidak disampaikan, ia takut akan ada sesuatu dengan putrinya. Ia harus menyampaikan kabar tesebut agar putrinya lebih berhati-hati.
"Mama, mama masih disana. Halo mama..?mama baik-baik aja kan..?." Suara Emily membuyarkan lamunan Dila.
" Eh-he Iya nak." Sahut Dila ia agak sedikit gugup menjawabnya.
" Kabar apa ma." selidik Emily yang semakin penasaran dengan gelagat mamanya yang tak biasa.
"Apa kamu sudah mendengar kabar tentang Devan, nak ?." Tanya Dila ragu.
Degh,
Hati Emily merasa berdesir kala mendengar nama itu." Devan, ada apa memangnya dengan orang itu ma ?". Emily kembali bertanya kepada mamanya dengan perasaan yang resah.
" Di..a..Dia..Dia sekarang sudah bebas Ly." Dila mengungkapkan fakta yang begitu membuat Emily terkejut.
Dengan segera Vina membantu Emily untuk duduk dengan posisi yang bagus dan berusaha menenangkan nya. Vina mengambil segelas air putih lalu memberikan nya kepada Emily.
" Lo kenapa Ly, ada apa ?coba Lo tenangin diri dulu. ceritakan pelan-pelan ya." ujar Vina yang terus berusaha menenangkan Emily.
Sementara itu ponsel milik Emily yang terjatuh itu masih tersambung dengan mamanya, dan Vina menyadari itu. Vina segera mengambilnya dan meneruskan panggilan itu.
" Halo nak.., Emily kamu baik-baik saja kan sayang." terdengar isakan tangis mama Emily yang sangat khawatir terhadap putrinya.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum tante, maaf ini aku Vina. Tante nanti aku hubungi tante lagi ya, sekarang aku mau nenangin Emily dulu ya tante." Ucap Vina yang kemudian panggilan tersebut ia matikan.
Sementara di seberang sana Dila berharap semoga putrinya baik-baik saja.
Vina lekas membawa Emily ke dalam kamarnya, tak lupa ia menghubungi temannya dan teman Emily yang satu kampus dengan mereka untuk memberitahu dosen bahwa mereka izin karena ada urusan penting. Vina sangat khawatir melihat keadaan Emily yang menatap sendu namun seperti kosong, bahkan tak mampu untuk menceritakan apa yang terjadi,
"Sebenarnya kabar apa yang elo terima, Ly. Sampai kamu merasa terpukul dan histeris begini. Ya Allah aku mohon kuatkan dirinya jangan sampai ia terpuruk seperti dulu lagi."monolog Vina dibalik kekhawatiran nya.
Ponsel Emily pun kembali berbunyi, ada sebuah panggilan masuk namun Vina melihat itu bukan dari mama nya, melainkan dari Aksa kekasih hati Emily saat ini.
Vina tak berniat ingin mengangkat panggilan tersebut karena melihat kondisi Emily yang seperti ini.
" Emily, Lo denger gue kan ?." lirih Vina yang dijawab hanya dengan anggukan oleh Emily.
"Coba cerita sama gue pelan-pelan, siapa tau Lo bisa lebih plong hatinya. Tapi kalau Lo belum siap nggak apa-apa nanti saja ceritanya.
Sekarang Lo harus tenang dulu ya, kalau Lo seperti ini gue jadi ikutan panik. Kita nggak mau kan semua orang dirumah ini tau tentang Lo." Vina duduk disamping Emily yang masih menangis dalam diam.
" Vin, kenapa rasanya semua ini nggak adil buat gue ya Vin. Gue aja masih terpukul, dan bahkan trauma itu masih ada dan membekas, rasa sakit itu belum pulih. Bahkan mungkin cacat yang gue bawa ini akan menggores luka seumur hidup. Tapi kenapa hukuman yang ia terima begitu cepat berlalu Vin. Ini tidak adil sekali buat gue, Vin." Emily menyandarkan kepalanya di pundak Vina.
Vina diam tak bergeming, karena jujur dia sendiri bingung mau berpendapat bagaimana.
Ponsel Emily kembali berbunyi, namun kali ini nomor yang tak dikenal yang tertera di layar tersebut.
__ADS_1
❤️❤️🌹🌹
Hai kakak readers mohon maaf lama tidak bisa up, karena ada sesuatu yang harus author selesaikan 😊😘🙏🏻