
Hari berganti hari, Hubungan Emily dan Dannis semakin dekat. Tiap harinya Dannis rela mengantarkan dan menjemput Emily sekolah dengan suka hati.
Karena dengan cara itulah ia bisa mendekati Emily lagi.
Dannis juga berharap apa yang ia lakukan saat ini bisa menghapus semua kesalahannya pada Emily.
Seperti biasa, Dannis mengantar Emily sampai ke depan pintu gerbang sekolah.
Namun tanpa mereka sadari ada yang mengikuti mereka berdua dari kejauhan.
"Aku masuk dulu ya mas, kamu hati-hati di jalan." ucap Emily.
"Iya, kamu yang semangat ya belajarnya." Jawab Dannis
Alvin yang merasa tidak nyaman dengan tingkat kebucinan Dannis itu tiba-tiba saja bergumam.
"Udah dong, ada anak dibawah umur ini." Sungut Alvin.
Siapa sangka , kata-kata Alvin malah membuat Emily dan Dannis tertawa.
Sehingga menambah kekesalan bagi Alvin sendiri.
Lalu tak berselang lama Dannis pun pamit, dengan sifatnya yang usil itu ia menarik pelan hidung milik Alvin sehingga yang punya meringis kesakitan.
Kemudian dari sisi lain Vina dan Bella yang tidak sengaja melihat adegan itu, segera datang menghampiri Emily.
"Cie...cie.... yang tiap hari di antar jemput, makin lengket nih yeeeee...!" Bella sengaja menggoda sahabatnya itu.
"Apaan sih Bel, aku sama Dannis cuma teman dekat nggak lebih."
"Hmmmm, teman dekat, teman dekat. ntar juga balikan." Bella mencolek dagu Emily.
"Nggak akan, nggak akan balikan. Rasanya itu lebih nyaman kayak gini aja dulu, Bel."
"Ly, nggak baik menggantungkan perasaaan orang. Nanti kamu bakal kena karma." Vina berusaha memberi masukan kepada Emily.
"Yang menggantung itu siapa, aku hanya ingin semua ini mengalir aja dulu Vin. Jujur aku masih sedikit trauma rasanya dengan kejadian kemarin."
" Kamu nggak ada niatan balas dendam kan sama Dannis ?." Vina menatap tajam Emily dengan penuh selidik.
Emily hanya memberikan senyuman tanpa memberikan jawaban.
"Ly, aku sebagai sahabat hanya ingin mengingatkan saja. Kalau ingin membalas atas semua yang sudah dia lakukan ke kamu itu jangan sampai keterlaluan loh ya, nanti imbasnya akan berbalik ke kamu sendiri." tegas Vina.
"Siap Vina...." kata Emily.
"Udah ah ayo, ngapain lama-lama berdiri disini."ujar Bella.
Mereka akhirnya masuk ke dalam sekolah dan berjalan menuju ke dalam kelas.
Sementara itu orang yang sedari tadi mengikuti Emily itu berusaha mendengarkan apa yang mereka bertiga bicarakan. Tapi untung saja orang itu tidak berhasil.
__ADS_1
"Sialan, aku nggak bisa dengar apa-apa !. Emily dan Dannis juga kelihatan semakin mesra. Aku nggak bisa terima semua ini." Delisa sangat geram melihat kebersamaan Emily dan Dannis.
...***...
Dannis sedang duduk di balkon sebelah kantin sekolahnya. Dia duduk manis sambil senyum-senyum sendiri mengingat moment-moment dirinya dengan Emily.
"Woi bro, senyam-senyum sendiri. Udah mirip sama orang gila aja." Ledek David, sahabat Dannis.
"Sialan, aku disamain sama orang gila."Ketus Dannis.
"Ya habisnya kamu senyum-senyum sendiri, nggak ada orang. Apa coba namanya kalau bukan orang gila ?"
"Hatiku lagi seneng aja Dav, Alhamdulillah hubungan ku dengan Emily berjalan baik walau tanpa ikatan."
"Ya syukurlah kalau begitu nis, lain kali jangan mudah terpengaruh lagi sama omongan orang lain kalau kita nggak lihat sendiri bener atau nggak nya." Ucap David sambil menepuk bahu Dannis.
" iya Vid, Untung aja kamu cepet nyeritain semuanya Dav, Kalau nggak, pasti aku akan terus menjalani hubungan dengan wanita pembohong itu, dan akan kehilangan sosok wanita yang sangat aku sayangi. thanks ya."
"Iya sama-sama. Bye the way gimana kabar si Emily, baik-baik aja kan dia ? gimana kelanjutan kasus nya itu."
Dannis Menghela nafas panjang.
"Emily sih kelihatannya baik-baik aja, malahan kemarin dia cerita kalau dia berhasil dapat juara 1 Olimpiade ekonomi, bro. Salut banget aku sama dia, hebat banget tu cewek dalam keadaan ada masalah tapi tetap bisa ngukir prestasi. Kalau masalah kasusnya itu dia belum mau terbuka , Dav."
"Emily itu wanita tangguh nis, kamu tu bener-bener rugi udah menyia-nyiakan dia.Tapi kamu yakin nis tetap mau balikan sama dia ?, Maaf sebelumnya ya, dia kan sekarang sudah nggak..." ucapan David kepotong.
"Yakin Dav, aku yakin banget. Lagian kalau di juga semua kejadian yang dia alami secara tidak langsung karena aku, Dav. Aku merasa bersalah aja gitu, selain itu juga aku masih sayang banget sama dia. Selama aku ngejalanin hubungan dengan siapa pun, nggak ada yang aku rasakan nyaman, senyaman aku waktu bersama dia."
"Aamiin.. Iya Dav. Yuk masuk kita udah di tunggu." Ajak Dannis.
...***...
Suara bel berbunyi sebanyak 3 kali, menandakan pelajaran akan segera dimulai. Namun hari ini berbeda, siswa-siswi kelas XII diminta untuk berkumpul ke lapangan karena kepala sekolah akan memberikan pengarahan untuk siap dalam mengerjakan ujian try out hari ini.
Semua murid mendengarkan arahan kepala sekolah dengan baik, kecuali Delisa. Matanya sibuk melihat sinis ke arah Emily.
"Kita lihat saja nanti Emily, bagaimana kamu akan menjadi pusat perhatian orang-orang dan akan dimarah habis-habisan oleh pengawas." Delisa terlihat menyunggingkan bibirnya tersenyum penuh kedengkian.
Emily menyadari ia sedang dipantau oleh Delisa, Namun ia berpura-pura tidak melihatnya.
"Apa yang kamu perbuat, akan menjadi Boomerang sendiri bagi dirimu ,Delisa."
Akhirnya arahan pun selesai, semua murid dibubarkan. Sebelum memasuki ruang ujian, guru pengawas ujian diberikan tugas untuk memeriksa satu persatu tas peserta ujian dan mengecek perlengkapan ujian.
Semua berbaris rapi, pengawas memeriksa satu persatu hingga giliran Emily pun tiba.
Delisa yang berdiri dari barisan yang bersebelahan dengan Emily pun merasa tidak sabar ingin segera melihat Emily di marah oleh petugas dan akan menjadi tontonan orang banyak.
Emily maju, tas nya diperiksa dan seluruh peralatan ujiannya dikeluarkan dan diberikan oleh petugas untuk dibawa masuk. Emily lolos begitu saja.
Delisa yang sudah menanti dari tadi tercengang bukan kepalang.
__ADS_1
"Sial, kenapa dia bisa lolos gitu aja, Bagaimana bisa peralatan itu bisa ada di tasnya lagi. Kan sudah aku keluarkan semua,bahkan sudah menyembunyikan semuanya tadi." Delisa sangat bingung, padahal jelas-jelas dirinya telah mengambil perlengkapan ujian milik Emily dari tas nya.
Saat Delisa sedang kebingungan, tanpa sadar giliran dirinya diperiksa.
Emily yang melihat keadaan Delisa dari dalam kelas sudah tidak sabar ingin melihat sebuah pertunjukan yang direncanakan oleh Delisa untuknya namun kembali pada diri Delisa sendiri.
Delisa maju dan menyerahkan tas nya kepada petugas. Petugas terlihat mengeluarkan semua isi tas miliknya.
"Ada apa pak, kenapa isi tas saya di berantakin begitu.Perlengkapan saya , kenapa tidak ada di tas saya, pak ? tanya Delisa panik.
"Justru saya yang harusnya bertanya sama kamu, kamu ke sekolah ini niat untuk fashion show atau mau ujian ? isinya hanya make up semua." Pengawas berteriak membentak keras Delisa hingga menjadi pusat perhatian semua orang."
"Rasakan kamu, Del. Makanya jangan main-main sama aku sekarang. Aku yang sekarang nggak selugu dulu, Sa. Maaf, Sa. Aku terpaksa kembaliin jebakan yang sudah kamu buat sendiri." Emily tersenyum menyeringai merasa puas.
Flashback on
Pada saat Emily pamit ke kamar mandi untuk membersihkan noda di bajunya. Emily meletakkan tas nya di atas wastafel kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Ternyata Delisa membututi dirinya sampai kesana.
Saat Emily masih di dalam, Delisa tak menyia-nyiakan waktu, ia mengambil tas kecil yang berisi peralatan ujian Emily dan langsung membawa nya keluar serta menyembunyikan nya. Delisa yang berjalan mengendap-endap membuat curiga seseorang yang melihatnya. Orang itu adalah Bella yang tak lain adalah sahabat Emily. Bella sengaja tidak menegurnya agar Delisa merasa kalau tidak ada yang mengetahui tingkah lakunya itu.
Setelah Delisa pergi, barulah Bella masuk dan memberitahu Emily. Emily memeriksa tas nya yang ternyata perlengkapan ujiannya dicuri. Emily sangat marah dan kemudian muncul ide jahilnya.
"Lo bantu gue bisa bel ? tanya Emily.
"Bantu apaan ? tanya Bella.
"Lo kenal kan t sama si Fatin si kutu buku itu ?"
"Iya kenapa ?" Bella heran.
"Lo bilang sama dia kalau ia dan Delisa di panggil sama wali kelasnya. Dipanggil untuk apa gitu, dan bilang ke mereka untuk tanya saja langsung ke wali kelasnya. Setelah dia pergi nanti apa yang dia perbuat ke gue akan gue kembalikan ama dia, biar tau rasa dia."
"Baiklah aku mengerti".
Setelah Bella berhasil mengelabuhi Fatin, Fatin pun mengajak Delisa ke kantor,, Delisa meninggalkan Tas miliknya di kelas. Saat itulah Emily beraksi, kebetulan kelas juga dalam keadaan kosong."
"So What Del, kali ini aku tidak bisa mentolerir sikapmu lagi, sudah cukup." Emily merasa geram dengan tingkah Delisa yang tidak ada habisnya iri dengan Emily.
Flashback off
Delisa telah mendapatkan hukuman, yaitu berlari mengelilingi lapangan basket dengan tiga kali putaran sebelum ia di izinkan masuk.
Saat Delisa akan selesai dengan hukumannya. Emily izin dengan pengawas akan pergi ke kamar mandi, Namun bukan untuk buang air, melainkan untuk mengambil peralatan Delisa yang ia sembunyikan.
Emily menghampiri Delisa yang masih sedikit ngos-ngosan setelah lari mengelilingi lapangan.
"Del, ini perlengkapan ujianmu bukan ? tadi aku nggak sengaja nemuin ini jatuh di kamar mandi pas mau buang air kecil." Kata Emily dengan senyum penuh kemenangan.
Tentu saja Delisa paham maksud Emily, ia mengepalkan tangannya tak mampu untuk marah, karena kalau sampai dia bertengkar dia akan dihukum lagi oleh pengawas.
Emily maju satu langkah dan berbisik di telinga Delisa.
__ADS_1
"Jangan berani macam-macam sekarang sama aku, Sekali lagi kami macam-macam.Aku akan buat seribu macam balik ke kamu." Emily pergi berlalu meninggalkan Delisa yang masih sangat kesal dengan dirinya.