
Setelah seharian mengikuti segala rangkaian di Kampus, Bella sampai dirumah lebih dulu karena tes terakhir di kampusnya sudah selesai, dan Alhamdulillah dirinya lulus dan dinyatakan sudah sah sebagai mahasiswi disana. Tapi jujur saja dia sedari tadi dirinya memikirkan Emily, secara sahabatnya itu kan sudah...-, lalu bagaimana kalau tes yang berlaku di tempatnya itu juga berlaku di tempat Emily. Bella menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Dia tidak bisa membayangkan jika seandainya Emily juga mengikuti tes itu, yang pastinya Emily akan di blacklist dari daftar calon mahasiswi disana.
Bella tak tinggal diam begitu saja, segera ia mencari smartphone nya dan mendial salah satu nomor yang termasuk di favorit kan di smartphone nya itu.
" Halo Vin, kamu sekarang dimana, Emily ada sama lo nggak sekarang ?"
Bella langsung menjejalkan pertanyaan nya tanpa memberi kesempatan Vina untuk menjawabnya.
"Eh, lo mau nanya apa mau introgasi gue sih, satu-satu aja nanya nya." Ucap Vina mendengus kesal karena dia sudah lelah menunggu antrian tes.
" Iya maaf, gue kepikiran aja sama Emily, Vin." lirih Bella.
"Emily baik-baik aja sekarang, Lo nggak usah khawatir." sahutnya.
"Sekarang ?, berarti tadi dia nggak baik-baik aja dong !." selidik Bella
"iya tadi waktu mau berangkat kesini, setelah Lo turun dari mobil itu dia sempat meminta untuk pulang ke Surabaya, karena merasa takut lebih dulu."
"Kenapa bisa begitu,! memangnya apa yang terjadi ?".tanya Bella rasa penasaran nya semakin menjadi.
Dan Vina akhirnya menceritakan kejadian sewaktu dirinya dan Emily sewaktu akan berangkat ke kampus. Mendengar cerita Vina tentu saja membuat Bella menjadi bertambah khawatir . Dirinya takut kalau sahabat nya itu bakal kambuh lagi depresinya.
" Tapi Alhamdulillah, sekarang dia sudah lebih. bisa mengontrol emosinya , Bel. Jadi Lo tenang aja ya. Eh, Bel udahan dulu ya, ini sudah mau giliran gue maju." Vina akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.
"Syukurlah kalau begitu, semoga saja Emily lolos dari tes, pasti semua bisa memakluminya." harap Bella.
Akhirnya, Bella yang merasakan badannya agak lengket karena keringat ,hasil ia berpanas-panasan seharian penuh itu pun segera berlari menuju kamarnya dan berendam lama di bath up untuk menyegarkan kembali tubuhnya.
...***...
Sementara itu di kampus lain terlihat sosok gadis yang menampakkan wajah yang sangat cemas dan khawatir. Jantung nya berdebar tak menentu, bukan karena ia akan mendapat pernyataan cinta dari seseorang, namun karena ia merasakan takut kalau dia akan menjadi bully an lagi setelah ada yang mengetahui kondisinya.
Saat merasakan cemas yang berlebihan, tiba-tiba badannya terasa begitu lemah. Emily kemudian pingsan tak sadarkan diri, tubuhnya terkulai begitu saja di lantai. Orang-orang yang melihatnya tentu saja bergegas untuk memberikan bantuan. Terlihat seorang pria menggendong Emily dan membawanya ke ruang kesehatan.
__ADS_1
Pria tersebut berniat untuk menunggu gadis yang pingsan itu hingga sadar.
"Masya' Allah, wajah gadis ini begitu cantik. Cantik natural tanpa polesan make up yang tebal. Wajahnya begitu teduh, melihat nya dalam keadaan tidak sadarkan diri saja membuat hati adem apalagi kalau dia sadar ya." bisik Azmi di dalam hatinya.
Kemudiaan Azmi yang merupakan ketua BEM di kampus tersebut meminta bantuan kepada rekannya untuk mencari identitas calon mahasiswi tersebut, agar bisa menghubungi kerabatnya.
Azmi masih memperhatikan wajah gadis yang sedang terbaring itu. Selagi dia menunggu temannya mencarikan data, ia memeriksa tas milik gadis itu. Bukannya dia mau lancang tapi ia ingin menghubungi orang terdekatnya siapa tau ia mendapatkan lebih cepat apa yang dia cari.
"Tok..tok..tok.." terdengar suara orang mengetuk pintu.
" Masuk,"perintah Azmi.
" Maaf kak, ini data yang kakak minta. Tapi sepertinya dia disini bukan tinggal bersama orangtuanya tapi tinggal dirumah salah satu sanak keluarga." kata Siska yang merupakan sekretaris BEM.
" Oke , terimakasih banyak ya." Ucap Azmi.
" Sama-sama kak kalau begitu saya tinggal dulu." Siska langsung berlalu pergi meninggalkan Azmi.
Azmi yang sudah membaca data ditangannya itu pun langsung mengetahui nama gadis itu, ternyata ia adalah salah satu mahasiswi yang diterima melalui jalur prestasi. Dan itu artinya gadis itu sebenarnya tak perlu mengikuti tes apapun lagi, dirinya sudah jelas ke terima menjadi mahasiswi.
Saat sedang membaca data lengkap tentang siapa gadis tersebut, gadis yang berada di atas UKS itu pun sadar, dan perlahan membuka mata melihat sekeliling nya. Ia mencoba bangun untuk duduk.
" Eh kamu hati-hati, pelan-pelan."
Ucap Azmi dengan nada cemas.
Emily langsung menatap asal suara itu, ternyata ada orang lain disana.
"Kamu siapa ?" tanya Emily lirih karena masih merasa sedikit pusing.
" Kenalkan aku Azmi, mahasiswa semester 3, aku yang membawamu kesini waktu kamu pingsan." jawab Azmi ramah.
"Oh kalau begitu aku ucapkan terimakasih banyak ya kak,sudah bawa aku kesini, maaf jika aku merepotkan dirimu."
" Iya sama-sama Emily, sudah menjadi kewajiban kita untuk saling membantu." Kata Azmi.
__ADS_1
Emily menaikkan alisnya heran, dari mana laki-laki yang baru dikenalnya ini tau namanya sedangkan ia merasa belum memperkenalkan namanya.
Namun Azmi yang seakan bisa membaca mimik wajah Emily itu pun langsung menjelaskan nya.
" Oh, maaf aku tadi meminta salah satu temanku untuk mencari datamu agar bisa menghubungi salah satu kerabat mu, dan aku membaca nama yang tertera disana." Jelas Ardan.
Emily tersenyum mendengar penjelasan kakak senior nya itu, Dan ia meminta bantuan untuk turun dari ranjang dan ingin duduk di kursi saja. Dengan sigap Azmi membantunya.
"Emily, kalau tidak salah kamu masuk kesini atas jalur prestasikan. Lalu untuk apa kamu ikut ngantri untuk ikut tes disana ?" tanya Azmi.
Emily yang ditanya seperti itupun merasa heran juga.
" Bukannya semua calon mahasiswa baru harus ikut tes kak ? tanya Emily.
" Semua Calon mahasiswa memang harus ikut tes, tapi ada pengecualian nya. Pengecualiannya khusus untuk yang mengikuti jalur prestasi di Fakultas ini bebas dari tes apapun itu." Azmi menjelaskan.
Wajah Emily langsung terlihat sumringah, matanya terlihat berkaca-kaca mendengar penjelasan dari Azmi. Ia merasa lega tidak harus melakukan tes itu, dan itu artinya ia langsung ke terima menjadi mahasiswi di Fakultas manajemen dan bisnis.
"Hai, kok malah bengong." suara Azmi membuatnya sadar dari lamunannya.
" Terimakasih banyak ya kak infonya, terimakasih juga atas bantuannya. kalau begitu aku pergi duluan ya kak, aku juga sudah merasa lebih enakan." Ucap Emily yang akan beranjak begitu saja, dia sudah tidak sabar ingin memberi tahu berita gembira ini kepada sahabat nya. namun lengannya dipegang dan di tahan oleh Azmi.
" Tunggu sebentar, sebaiknya aku antar kamu pulang ya." Azmi menawarkan diri, dan kalau boleh jujur Azmi masih agak penasaran dengan gadis di depannya itu.
"Nggak usah kak, aku bisa pulang sendiri, di Fakultas sebelah ada sahabat ku disana sudah menunggu." jawab Emily.
Azmi yang masih penasaran itu pun tak kehabisan akal untuk mengenal Emily lebih dekat. Dia melihat sosok berbeda dari gadis itu, selain cantik dia juga pintar,dan tampilan nya pun berbeda dari gadis-gadis seumurannya yang lebih mementingkan fashion dibandingkan prestasinya.
" Kalau begitu boleh aku meminta nomor handphone mu ? tanya Azmi.
Emily terlihat berpikir dulu sebelum bertindak, karena bagaimanapun mereka baru kenal. Tapi akhirnya Emily memberikan nomornya juga, karena dia berpikir pria di depannya ini tidak mungkin orang yang jahat.
"Gue kasi ajalah ya nomor gue,Lagi pula Azmi adalah ketua BEM, siapa tau saja dia bisa bantu gue jika sewaktu-waktu gue ada kesulitan." Bisik Emily di dalam hati.
" Bagaimana Ly, boleh ? tanya Azmi sekali lagi.
__ADS_1
" Boleh kak," Emily kemudian memberikan nomor handphone nya lalu buru-buru untuk pamit.