
"Ay, coba ulangi lagi panggilan untukku tadi." ucap Aksa menggoda
" Udah ah malu aku kak, digodain terus." Emily menutup wajahnya dengan tangannya.
" Kak lagi sih,!" Aksa menampakan wajah cemberutnya.
" Iya hubby, jangan marah. makanya jangan godain Mulu, kan malu akunya." Aksa langsung tersenyum mendengar ucapan Emily, hari ini benar-benar membuat mood bahagianya meningkat.
Akhirnya setelah menyelesaikan makan malam, mereka tiba juga di halaman rumah, tampak Vina dan Bella sudah menunggu mereka di teras depan duduk santai,membaca buku sembari meminum teh hangat.
Aksa menggandeng tangan sang kekasih yang kini berjalan berdampingan dengannya. Aura bahagia sangat terlihat jelas di wajah mereka. Mereka berjalan menghampiri kedua orang yang sekarang tengah memperhatikan mereka.
Dari jauh Vina menatap mereka yang bergandengan tangan itu tampak tersenyum seakan mengerti kalau rencananya malam ini berhasil.
" Cie-cie ada aroma-aroma orang lagi kasmaran ni." Teriak Vina dari jauh menggoda Aksa dan Emily.
Bella yang tadinya tidak melihatnya dan fokus dengan buku yang dibacanya itu pun langsung berdiri dan bergegas melihatnya.
"Assalamu'alaikum."ucap Aksa dan Emily kompak.
"Wa'alaikumsalam, aduh kalau udah jatuh cinta itu dunia serasa milik berdua ya." ucap Bella menggoda Aksa dan Emily.
" Gimana kak, berhasil nggak ?" tanya Vina yang sudah tidak sabar mendengar cerita dari keduanya itu.
"Nggak disuruh masuk dan duduk dulu ni, langsung di introgasi disini kita ceritanya ?" Ucap Aksa.
"Emmm, ya deh masuk dulu gih. Silahkan duduk pangeran dan tuan putri." Ujar Bella sambil menunjukkan aksi layaknya pelayan yang sangat menghormati tuannya. Tingkah Bella sontak mengundang gelak tawa semua yang ada disana.
Aksa dengan antusias nya bercerita dan memberitahu keduanya, bahwa dirinya dan Emily kini sudah menjadi sepasang kekasih, Aksa ingin mereka menjadi saksi untuk dirinya yang akan selalu setia menjaga kepercayaan Emily dan akan mencintainya dengan setulus hati.
__ADS_1
" Wah, Alhamdulillah kalau begitu. Kita ikut senang mendengarnya, rencana kita tadi, nggak sia-sia begitu saja." Kata Vina dengan penuh semangat kemudian berubah menjadi jeritan yang histeris karena kakinya di injak keras oleh Bella. Dirinya baru menyadari kalau ia sudah kelepasan membongkar rahasia yang tadinya di tutup rapat.
" Emm, jadi tadi itu cuma akal-akalan nya kalian aja ceritanya, supaya aku sama kak Aksa bisa jalan berduaan, iya ?" ujar Emily yang berjalan menuju Vina dan seperti akan bersiap menyerangnya.
Emily menggelitik pinggang Vina dan Bella dengan bergantian, hingga keduanya merasa tak tahan saking merasa geli nya. Aksa yang melihat tingkah laku mereka bertiga hanya bisa tersenyum haru. Aksa baru kali ini melihat Emily tertawa selepas itu.
"Emily, aku janji akan selalu menjaga kepercayaan mu. Akan membuat kisah indah tentang perjalanan cinta kita. Aku sangat bahagia hari ini bisa memiliki mu walau belum sepenuhnya, Aku akan menunggu dirimu sampai kamu bersedia menjadi partner hidupku.," batin Aksa.
...***...
Beda hal nya dengan Emily yang tengah berbahagia malam ini, Devan yang kini mendekam di dalam penjara pun sedang merenung sendiri memikirkan wanita yang ia cintai. Ingin rasanya ia mendengar suara nya walau hanya dari telepon.
" Kenapa hatiku gelisah sekali, tidak ada satu pun surat dariku yang dibalas oleh Emily, apa dia sudah benar-benar melupakan aku. Emily asal kamu tau aku rela masuk ke dalam penjara ini demi menjaga namamu, bisa saja aku mengelak dan mengatakan jika kita melakukannya atas dasar suka sama suka, dan namamu akan menjadi rusak. Tapi kenapa kamu malah terkesan meninggalkan aku." monolog Devan dalam kekalutannya.
Saat Devan sedang melamun tiba-tiba saja datang seorang petugas, membuka pintu sel dan memberitahu Devan jika ada yang ingin menemui dirinya. Devan menyeringai dan tersenyum sinis, dirinya sudah mengetahui siapa yang datang. Dia berjalan mengikuti petugas yang berjalan lebih dulu di depannya.
Devan duduk di hadapan pria itu dan memulai pembicaraan setelah petugas menjauh dari dirinya.
" Apa berita perkembangan untuk kali ini. Bagaimana keadaan wanitaku ? apa dia baik-baik saja." tanya nya kepada pria suruhannya itu.
"Emily sekarang kuliah di Yogyakarta, bos. Saya belum mengintainya langsung sampai disana, namun bos tenang saja saya akan menugaskan anak buah saya yang disana untuk mengawasinya.
Devan terkejut mendengar hal itu, Ternyata Emily masih cukup percaya diri untuk kuliah, Devan mengira Emily tidak akan bisa seperti itu akibat perbuatannya itu.
"Aku disini menderita tapi kamu disana malah enak-enakan tanpa memikirkan aku. Seharusnya kamu sekarang menikah denganku." geram Devan dengan mengepalkan tangannya.
"Lalu bos terakhir kali saat sidang keputusan hakim Tetang vonis hukuman bos waktu itu, saya melihat Emily memeluk mesra seorang laki-laki. Dan saya juga melihat kalau laki-laki itu sering menemani dirinya kemana-mana bos." Ucapan pria suruhan Devan itu berhasil membuat Devan marah dan spontan menggebrak meja dihadapannya itu.
"Bre****k, siapa yang sudah berani mendekati wanitaku dia akan berurusan denganku. Apa kau punya fotonya ?
__ADS_1
Pria itu menunjukkan sebuah foto yang ia ambil ketika mengintai Emily dan Dannis saat di pengadilan kala itu.
" DAN....NIS ", ...
...***...
"Prangggg.." suara piring yang dipegang Emily jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Semua yang belum tidur mendengar hal itu dengan segera menghampiri nya.
" Emily, ya Allah Emily ada apa ini. Kenapa bisa jatuh ?"Tanya Vina yang terkejut mendengar suara gaduh di dapur.
" Gue nggak tau Vin, tiba-tiba saja perasaan gue nggak enak." Wajah Emily berubah menjadi pucat pasi.
" Ya Allah non wajah non pucat sekali, non Vina ayo bawa non Emily ke kamarnya biar semua ini bibi yang beresin ya." Ucapan bi Ona di anggukan kepala oleh Vina.
Vina kemudian membawa Emily ke kamarnya dan memberikan segelas air dan menenangkan nya. Ia tau pasti ada yang dipikirkan oleh sahabatnya itu.
" Lo kenapa Ly, cerita sama gue."Vina memulai membuka pembicaraan.
"Vin, gue juga nggak tau. Tadi itu gue merasa perasaan ada yang nyebut nama gue, dan gue tiba-tiba aja kepikiran sama mas Dannis, Vin."
"Mungkin Dannis inget sama Lo aja kali disana, kan belakangan ini dia jarang nelpon elo. Jujur sampai sekarang gue curiga kenapa Dannis dengan tiba-tiba pergi gitu aja Vin. Tapi, Bukan Dannis kali ini yang gue pikirin, Vin. Sekarang yang gue pikiran malah kak Aksa. Bagaimana kalau ancaman orang yang waktu itu juga berlaku buat kak Aksa, Vin. Bisa aja kan orang itu ada disini ngikutin gue terus bikin celaka kak Aksa atau memberi tahu kak Aksa tentang keadaan gue Vin." Ujar Emily.
"Sudah Ly, sekarang buang jauh-jauh pikiran buruk elo itu, kalau pun itu terjadi nanti gue yang bakal bantuin Lo. gue bakal bantu jelasin semuanya sama kak Aksa. Gue yakin kak Aksa akan tetap bisa menerima Lo, Ly." Vina menggenggam erat tangan Emily .
"Vin, Kenapa sekarang muncul keraguan dihati gue ya Vin, apa sebaiknya gue akhiri saja hubungan gue sama kak Aksa dan menjauh dari dia Vin. Dengan begitu dia nggak akan tau tentang keadaan gue, dan dia juga nggak akan celaka gara-gara gue, secara waktu itu jelas sekali orang itu bilang kalau siapapun yang dekat sama gue akan celaka."
"Ngomong apa sih Lo, Ly. itu sama aja Lo akan nyakitin kak Aksa, secara kak Aksa itu sayang dan cinta banget sama Elo. Udah ya, kalau Elo seperti ini itu sama aja elo belom move on sama masa lalu Lo. Lo buktiin dong kalau Elo itu bisa sukses dan bisa mencapai apa yang Lo mau. Lo bikin tu orang-orang yang membuat Lo menderita itu menyesal sudah melakukan semuanya itu sama Lo."
"Yang dikatakan Vina itu ada benarnya, kenapa aku harus takut dengan semua ini, aku harus berani Dan buktiin ke orang-orang yang sudah menghinaku. Aku bisa sukses dan bisa mendapatkan laki-laki yang baik. Semua sudah di atur dengan baik oleh sang pemilik kehidupan, kalau kak Aksa memang jodohku ngapain juga aku harus takut kak Aksa bakal ninggalin aku. Kalau kak Aksa ninggalin aku ya itu berarti dia bukan jodohku." monolog Emily yang berpikir akan segera berterus terang kepada Aksa.
__ADS_1