
Kabar mengenai Devan yang sudah bebas dari jeruji besi itu cukup membuat Emily sangat syok.
Ponsel Emily kembali berbunyi, namun kali ini nomor yang tak dikenal yang tertera di layar tersebut. Vina menatap ponsel lalu ganti melihat ke arah Emily, dirinya ragu mau menjawab panggilan itu. Akan tetapi melihat keadaan Emily ia memberanikan diri untuk mengangkatnya.Vina membawa ponsel Emily dan bergegas keluar dari kamar itu.
" Halo, Assalamu'alaikum dengan siapa ini ?" Tanpa basa basi Vina melontarkan pertanyaan itu.
" Halo, akhirnya aku bisa mendengarkan suaramu itu. Suara yang sangat aku rindukan." jawab seseorang dari seberang sana.
Vina membekap mulutnya sendiri, ia bisa menebak siapa orang diseberang sana yang menghubungi Emily. Dengan segera Vina menghilangkan rasa takut dalam hatinya yang tak bisa diungkapkan itu.
" Maaf ini dengan siapa ya, sepertinya anda salah sambung." Ucap Vina dengan nada kesal. " Jika tidak ada yang penting sebaiknya aku matikan saja panggilan ini." Sergahnya lagi.
" Ayolah, aku tau ini kamu. tidak mungkin aku salah sambung. Emily ini aku, Devan." Ucap Devan lirih.
Glek, Vina menelan salivanya. Sebenarnya dia merasa sangat gugup, namun lagi-lagi perasaan itu ditepisnya.
" Maaf, sepertinya anda salah sambung." Vina menjawab dengan nada ketus dan langsung saja mematikan ponsel itu. Vina sengaja melakukan hal itu agar Devan tidak kembali menelpon Emily.
...❤️❤️❤️...
Sebulan telah berlalu, sejak kejadian itu Emily terlihat lebih tegar dan bahkan lebih energik. Karena dirinya tak mau terus larut dan terjebak dalam kisah masa lalu yang kelam.
Liburan semester yang dinanti telah tiba, Emily yang sudah merindukan keluarganya tentu saja tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Hari ini dia berencana untuk menghubungi Aksa dan memberitahu kalau dirinya mungkin akan lama berada di kota kelahirannya.
Emily mengirim kan pesan kepada Aksa, "Assalamu'alaikum Kak, kak besok kan sudah mulai liburan semester. Aku mau pamit, mau pulang ke Surabaya. Aku dah kangen banget sama mama,papa, dan adikku.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu pesannya langsung dibaca dan sesaat kemudian langsung di balas oleh Aksa. " Nggak boleh" jawab Aksa singkat.
Emily mengernyitkan alisnya merasa tak percaya dengan balasan pesan Aksa. " Kenapa tidak boleh kak, aku kan mau pulang ke rumahku sendiri. Jangan egois dong kak, Boleh atau nggak aku tetap berangkat. Aku hanya berniat memberi kabar saja sama kakak!" Balas Emily dengan emoticon geram.
__ADS_1
Di seberang sana Aksa terkekeh geli membaca balasan pesan dari wanitanya itu. " Lugu banget sih kamu, ngedumel sendiri, Dasar gadis keras kepalaku." gumamnya.
Aksa kembali melihat ponselnya, merasa tidak puas dengan sebuah pesan ia kemudian mendial tombol vid call. Tak sampai semenit tampak wajah gadis cantik sedang cemberut memenuhi layar ponselnya.
" Assalamu'alaikum tuan putri, kenapa wajahnya di tekuk begitu. nanti kalau lecek gimana ?" gurau Aksa.
" Kertas emangnya lecek, Kakak sih kenapa sok-sok an nggak ngasi izin aku pulang ? aku kan sudah kangen banget sama keluarga aku kak.!, Tapi dikasi izin atau nggak aku tetap berangkat!" Ucapannya seraya menjulurkan lidah kesannya meledek Aksa dari jauh.
" Ih, sudah berani ya sekarang ngeledek kakak. Awas kamu nanti ya kalau ketemu. Kamu tu makanya kalau orang mau ngomong dengerin dulu, kan Kakak belum selesai ngomongnya."
" Memang ada kelanjutannya ?? pasti nanti ujung-ujungnya harus belajar nurut dari sekarang sama calon suami. Iya kan ?" Emily hanya asal menebak fakta yang akan diucapkan Aksa,karena itulah senjata ampuh ucapan Aksa selama ini.
Aksa mengulum senyum melihat wajah menggemaskan sang kekasih dari layar ponselnya. Ia berinisiatif akan menghampiri Emily ke kampus nya saja, karena bagi Aksa bertemu dan berbicara secara langsung lebih jelas dari pada sekedar berbicara melalui layar ponsel.
"Ya sudah, vidcall nya kakak matikan dulu ya. Kakak sedang ada rapat penting, nanti di sambung lagi ceritanya.ok !!" Aksa ber-alibi saja, padahal dia ingin membuat kekasihnya terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Emily berdecak kesal dengan tingkah Aksa yang memutuskan panggilan secara sepihak. Emily yang tak mau larut dalam kekesalannya, segera meneruskan langkah nya untuk pergi menemui Vina di pelataran perpustakaan.
Dari jauh dirinya sudah bisa melihat Vina yang duduk santai sembari membaca sebuah novel di bawah pohon Cemara yang tumbuh dengan rindangnya.
Baru saat akan berteriak memanggil Vina, tiba-tiba dari belakang ada yang membekap mulut Emily. Dan membawanya beralih ke belakang dinding perpustakaan sebelah barat, persis di sebuah kolam ikan yang lumayan besar penuh dengan beraneka jenis ikan Koi yang menambah kesan indahnya kolam tersebut.
Merasa tangan yang membekapnya itu sudah agak longgar, Emily hendak berteriak meminta tolong. Karena khawatir orang yang membekapnya itu akan berbuat macam-macam kepadanya.
" To...- Kak Aksa !!!" Emily yang akan menjerit meminta tolong seketika dibuat terbelalak oleh sosok yang ada dihadapannya yang ternyata adalah kekasih hatinya sendiri.
Emily memukul-mukul lengan Aksa dengan buku yang sedang ia pegang, Ia memukul dengan tenaga yang lumayan agak keras, karena merasa kesal telah dijahili habis-habisan oleh Aksa.
" sayang sakit sayang, udah dong mukulnya. nanti ketampanan ku bisa hilang.!" ucap Aksa yang sesekali meringis menahan sakit akibat serangan Emily.
__ADS_1
" Rasain, makanya jadi orang jangan suka jahil. tadi katanya mau ada rapat tapi kenapa tiba-tiba muncul disini." Emily menatap tajam ke arah Aksa.
" Iya maaf, tadinya mau kasih kamu surprise gitu lo. Eh ternyata malah digebukin." Ucap Aksa dengan wajah yang memelas, karena sebenarnya saat di Vidcall Emily, Aksa memang sedang menuju ke kampus Emily.
Emily yang merasa bersalah langsung mengajak Aksa untuk duduk di bangku putih panjang yang berada di sebelah kolam ikan tadi.
" Iya maaf kak, kakak sendiri ngapain tiba-tiba nongol disini ?."
" Kakak mau ngelanjutin obrolan yang di vidcall tadi. Rasanya lebih enak kalau bicara secara langsung. Kamu boleh pulang ke Surabaya liburan nanti, Tapi dengan satu syarat." Ujar Aksa
" Syarat, syarat apa ?" Emily terkejut mendengar perkataan Aksa.
" Kalau pulang liburan nanti, kamu nggak boleh pergi sendiri , me-". perkataan Aksa terpotong.
" Aku nggak sendiri kak, aku bareng Vina dan juga Bella. A- ku." omongan Aksa di sergah begitu saja oleh Emily dan lalu disergah balik oleh Aksa.
Aksa berbicara dengan jari telunjuk menutup bibir Emily agar tak memotong kembali ucapannya.
" Aku belum selesai ngomong sayang, kamu boleh pulang tapi syarat nya harus denganku.! nggak ada kata tapi ,nggak ada kata apa-apa lagi, no debat ,by!" ujar Aksa.
"Hmmmm" jawab Emily sekenanya.
" Kenapa cuma hm ?" tanya Aksa heran.
" Kakak kenapa mau ikut sama aku, terus kerjaan kakak disini bagaimana kak ?". tanya Emily dan Aksa berdiri kemudian menjawab pertanyaan Emily sambil berjalan meninggalkan wanitanya disana terpaku.
" Kalau aku nggak boleh ikut ya sudah, kamu juga tetap disini nggak boleh kemana-mana." ucap Aksa sembari mengulum senyum, ia merasa berhasil menjahili kekasihnya.
" Kakak ,tunggu tapi..." belum sempat Emily mengejar Aksa dan bernegosiasi. Ia terpaku melihat seseorang dibalik pepohonan rindang persis di sebelah Aksa berdiri.
__ADS_1