
"Assalamu'alaikum, papa, mama, kalian ada dimana ??" Emily masuk ke dalam rumah namun tidak langsung menemukan kedua orangtuanya.
Dirinya mencari keberadaan kedua orangtuanya tersebut karena sudah tak sabar ingin memeluk dan mencium tangan kedua orangtuanya, mengucapkan terimakasih atas segala dukungan keduanya selama ini.
"Papa sama Mama disini nak, di ruang tengah." teriak Dila.
mendengar jawaban mamanya, Emily langsung saja berlari, lalu saat ia menemukan mama dan papa nya berada ia langsung memeluk, menciumi keduanya secara bergantian.
"Hei, anak papa seneng banget. Gimana hasil pengumuman nya nak ?" tanya Roy.
Pertanyaan itu langsung dijawab dengan senyum semringah oleh Emily, "Alhamdulillah Lily lulus, ini semua berkat doa dan dukungan mama, dan papa jadi semuanya dilancarkan."
"Alhamdulillah," jawab Roy dan Dila bersamaan.
"Terus temen-temen kamu gimana, lulus semua kan ?" sambung Roy.
Lily mengangguk mengiyakan pertanyaan papa nya, Lalu tertunduk dengan raut wajah yang sedih. Dan tak terasa meneteskan air mata, ia kembali mengingat masa-masa sulit kemarin. Roy dan Dila yang melihat putrinya seperti itu langsung memeluknya.
"Habis bahagia kenapa sekarang menangis sayang, kamu kenapa?" Roy heran dengan tingkah putrinya itu.
"Pa, ma, maafin segala sikap dan perbuatan Lily belakangan ini ya. Lily sudah buat papa sama mama malu, sedih, kecewa. Lily sudah bikin hati mama dan papa hancur, tapi papa sama mama tetap ada buat Lily."
"Sudahlah nak, jangan mengingat hal-hal seperti itu lagi. Jadikan semua itu sebagai pelajaran untukmu agar kamu lebih dewasa, lebih selektif dalam memilih teman, lebih bijak dalam bersikap, dan yang terpenting jangan mengulangi lagi semuanya." Dila mengelus lembut rambut putrinya yang sedang merebahkan kepalanya dalam pangkuannya itu.
"Iya ma, pa.. jawab Emily terisak dengan tangisnya.
...***...
Malam harinya tiba-tiba Alvin masuk ke dalam kamar Emily. Emily yang melihat Alvin masuk tanpa permisi itupun terkejut. Dia melihat ada kesedihan diwajah adiknya.
Emily memeluk lengan Alvin dan mengajaknya duduk di pinggir tempat tidur, Emily membuka omongan dengan memberikan sebuah pertanyaan kepada adiknya.
"Kenapa dek, sedih gitu mukanya, atau kamu ada lagi ada masalah ?"
Alvin masih enggan menjawab pertanyaan sang kakak, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Ada apa dengan anak ini ya, masuk kamar pasang muka sedih gini." bisik Emily.
Suasana menjadi sangat hening, Emily hanya diam saja menunggu suasana hati sang adik tenang terlebih dahulu. Mau bertanya juga percuma karena Alvin belum mau menjawab pertanyaan darinya.
"Kak, gue denger Lo mau kuliah di Yogyakarta ya." Tanya Alvin membuka topik pembicaraan.
__ADS_1
"Iya dek, kakak emang dari dulu pengennya kuliah disana. Semoga saja diberikan kelancaran dan kemudahan. Kamu doain kakak terus ya."
Alvin bergelayut manja, ia menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak. "Kalau kakak ke Jogja, terus aku disini sama siapa. kalau aku kesepian siapa yang nemenin aku ngobrol lagi ."
Emily tercengan mendengar penuturan sang adik, ia pun menahan ketawanya. Bagaimana seorang Alvin yang biasanya sering ribut, berantem, sering jahil dengannya bisa berkata seperti itu.
"Lo sehat kan dek ?" Emily menempelkan tangannya ke kening nya Alvin.
"Apaan sih kak, gue baik dibilang sakit. Ntar gue jahilin di bilang suka usil, Lo pengen gue gimana coba." kata Alvin ketus.
"Idih, gitu aja marah adek kesayangan kakak ini, Kalau marah-marah nanti cepet keriput Lo, dek." Emily meledek sang adik.
" Kak, kebawah yuk nimbrung bareng mama papa, kita ngobrol bareng.
" Ayo dek, kita bikin kerempongan di bawah."
...***...
Suasana di ruang tengah, tampak Dila sedang menemani sang suami menonton acara kesukaan sang suami. Apalagi kalau bukan Acara sepakbola.
"Ma, kok aku ngerasa sepi banget ya. Anak-anak pada kemana, masak udah tidur jam segini."tanya Roy.
" Ada di atas pa, mungkin lagi belajar atau nggak mungkin sibuk sama hp masing-masing.
Saking asyiknya mereka berdua mengobrol, sampai tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka
sedang merencanakan sesuatu di dapur.
Emily Dan Alvin sedang membuat sempol ayam di dapur untuk dijadikan camilan bersama di ruang keluarga.
Bi Mira hanya membantu menyiapkan bahan-bahan nya saja. Setelah selesai Sempol itu pun dibawa ke ruang keluarga secara diam-diam.
"Taraaa,.. kejutan...mama, papa, coba tebak kita bawa apa ??" Emily dan Alvin berhasil membuat kejutan untuk papa mamanya yang seketika langsung tampak raut wajah gembira dari kedua orangtuanya.
"Hai anak-anak mama, kirain udah pada tidur." sambut Dila yang sangat merasa bahagia sekali.
"Iya, kirain papa udah pada tidur. Baru ini papa sama mama membicarakan kalain, kami sangat merasa kesepian sayang." kata Roy sambil mengerucutkan bibirnya dengan nada manja.
"Aduh papa, manja banget sih. ini Lily dan Alvin buatin sempol spesial buat kita santap bersama." Ucap Emily yang menunjukkan makanan buatannya dengan sang adik.
"Coba sini papa tes dulu enak apa nggak ni buatan kalian." seraya mengambil Sempol yang terletak di atas meja.
__ADS_1
" Emmmm enak banget ini ma, cobain deh ma."
"Enak dong, kan kita bikinnya pake cinta dan kasih sayang." celetuk Alvin
" Emmm, masya' Allah. Anak mama sama papa memang paling the best pokoknya." Dila mencium kedua buah hatinya tersebut.
Suasana ruang keluarga itu terasa hangat dengan kebersamaan kecil yang mereka ciptakan. Saling bertukar cerita, Saling memberikan suapan satu sama lainnya, hingga mereka merasa kenyang.
"Emmm.... Alhamdulillah kenyang banget. Ternyata Sempol buatan ku sama kakak sangat enak. Besok kalau kak LiLy udah di Jogja aku bakalan kangen deh bikin camilan bareng seperti ini." Ujar Alvin dengan wajah memelas.
"Jangan gitu ah dek, kakak kesana juga kan mau belajar bukan mau menetap. kalau liburan ya bakalan pulang lah, rumahku kan disini."
"Kasian, pasti kamu kesepian ya nanti, karena nggak ada yang di ajak ribut." Dila menggoda putranya.
"Iya bener banget, ma. Nggak ada yang aku ajak berantem lagi."
Ucap Alvin terkekeh melihat ekspresi Emily yang melongo mendengar kenyataan jika dirinya hanya teman untuk di ajak bertengkar saja oleh adiknya.
"Ma....masak aku di kangenin hanya karena nggak ada yang di ajak berantem aja sih." Emily merajuk manja dengan sang mama.
"Pa, belain aku dong. Kak Lily minta perlindungan sama mama, aku minta perlindungan nya sama papa." Rajuk Alvin ke sang papa.
"Masya'Allah, kalian kok seperti anak kecil yang rebutan mainan aja sih, udah pada gede juga." ucap Roy seraya menarik hidung keduanya.
Roy kemudian berpindah duduk disebelah putrinya, "Kamu benar-benar sudah siap nak di negeri orang ?."seraya mengelus rambut sang putri seakan masih berat melepasnya.
"Insya Allah, siap pa. Kita harus mengejar cita-cita kita walaupun jauh sekalipun dengan niat yang sungguh-sungguh Insya Allah berhasil."
"Awas nanti kalau kerjaan Lo hanya mainan terus disana," Ancam Alvin dengan sinis khasnya.
"Eh tenang aja, nanti kalau gue betah disana. Gue nggak bakalan pulang kesini, biarin aja l kesepian disini sendiri."
"Eh, tu kan bertengkar lagi kan. Mama hukum nanti keduanya ya." Ujar Dila.
"Emily rasanya udah nggak sabar banget mau mencoba banyak hal baru disana. Yogyakarta, I'm coming."
" Begini saja, besok pas Alvin libur kita kesana untuk survei tempat dimana kamu akan menetap selama disana." ucap Roy.
Semua tatapan langsung mengarah ke sang kepala keluarga, lalu dengan kompak bertanya. " Serius pa ?."
" Serius dong, kita melihat keadaan disana sekaligus liburan keluarga yang sempat tertunda kemarin."
__ADS_1
Seketika semuanya merasa sangat senang, membayangkan akan berlibur ke Yogyakarta.