Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Melanjutkan Study


__ADS_3

Pagi itu Emily disibukkan untuk persiapan berangkat keluar kota untuk lomba olimpiade berikutnya.


"Kak...udah siap belom ? Kak Dannis udah datang." Teriak Alvin.


"Iya tunggu sebentar, kakak mau ambil buku yang ketinggalan dulu di atas."


Emily terburu-buru naik ke atas, hingga kurang hati-hati dan ia pun terpeleset. Untungnya saja belum terlalu tinggi ia menaiki tangga itu.


"Aaaahhhhhhh," teriak Emily.


Alvin dan Dannis yang mendengar teriakan Emily pun bergegas lari mengejarnya.


"Aduh, sakit banget." keluh Emily.


"Lily..."


"Kakak"


Alvin dan Dannis datang menghampirinya, mereka berdua terlihat sangat panik.


"Nggak apa-apa hanya keseleo sedikit saja." jawab Emily sedikit meringis.


Dannis mengambil posisi jongkok untuk melihat keadaan kaki Emily.


"Kamu lain kali hati-hati, ini bahaya banget sayang." Dannis keceplosan memanggil dengan sebutan sayang.


Namun Emily merasa sangat terenyuh mendengarkan kata-kata itu.


"Entah rasa apa yang aku rasakan ini, rasa benci atau benih-benih cinta yang masih ada di hati ku untuknya."


Dannis meniup-niup dan memijat kaki Emily yang sakit, sesekali melirik sang empunya kaki yang meringis.


"Udah enakan ?" tanya Dannis


"Udah mas."


"Alvin kakak minta tolong ya, ambilkan buku kakak yang di atas meja belajar itu."pinta Emily ke adiknya.


"Its oke."Alvin pergi ke atas untuk mengambil buku itu.


Sementara itu Dannis terus mencoba memijat dan sesekali meniup kaki Emily yang terkilir.


"Maaf ya sedikit sakit ini, lain kali kamu tu hati-hati,semoga aja bisa sembuh kalau nggak gimana mau berangkat keluar kota sekarang ?" ucap Dannis


"Kan ada kamu mas yang bisa nemenin aku selain Alvin."


"Ya nggak bisa lah, nggak enak sama guru pembina mu. Masak mau lomba keluar kota ngajak cowok yang bukan keluarganya, apa kata orang nanti."Jelas Dannis.


"Iya juga ya, terus gimana mas,masak nggak jadi ikut gara-gara kaki keseleo ?"


"Udah nggak boleh manja gitu, hanya terkilir sedikit. nanti saja hilang apalagi udah kena tiupanku, pasti hilang." Dannis mengerdipkan matanya membuat Emily tersipu malu.


Emily mencoba berdiri dan menghentakkan kakinya." Eh serius Lo, Ajaib banget bisa hilang sakitnya. Kok bisa mas ?" Emily senang bukan kepalang.

__ADS_1


"Kan aku udah bilang, kena tiupanku bisa hilang. Karena itu tiupan kasih sayang."


Emily lagi-lagi tersipu, wajahnya terlihat merona.


Alvin yang sedang turun menyaksikan itu semua langsung berdehem.


"Ehm, Dunia serasa milik berdua ya." ucap Alvin.


"Apaan sih Lo dek, biasa aja kali."


" Udah ayo berangkat, nanti kamu telat." kata Dannis.


Mobil sport milik Dannis melaju dengan cepat, di dalam mobil Dannis bertanya tentang keributan beberapa waktu lalu antara Emily dan Delisa.


"Ly, beberapa waktu lalu aku denger kamu berantem sama Delisa ?"


Emily diam sejenak, kemudian menjawabnya dengan sedikit tertawa


"Kamu tau dari siapa mas, pasti dari kamu ya dek ? Emily bertanya dengan 2 cowok yang berada di dekatnya sekaligus.


"Iya". jawab mereka juga dengan kompak.


"Iya mas, tapi nggak berantem secara langsung, habis dianya yang bikin masalah duluan sama aku. Ya sudah aku kerjain balik aja." jawab Emily dengan senyum semringah.


Emily menceritakan semuanya dengan detail, Alvin dan Dannis yang menyimaknya pun ikut tertawa mendengar cerita Emily.


Tak terasa mobil itu telah sampai di depan gerbang sekolah. Kebetulan Emily juga sudah di tunggu oleh Sofi dan Farid untuk berangkat langsung ke acara lomba di luar kota.


"Aku pamit ya mas, Bye..."


" Ochip".


...***...


"Dan sebagai Juara pertama adalah Emily Putri Zahrana perwakilan dari sekolah SMA 4 KARYA BANGSA." Pengumuman siapa yang menjadi juara sudah di umumkan. Lagi-lagi angka 1 menjadi angka keberuntungan nya.


"Alhamdulillah, LiLy kamu menang lagi ibu seneng banget dengernya. selamat ya nak,"


"Terimakasih Bu, sebenarnya ibu lah yang hebat sebagai pembimbing Emily, kalau nggak ibu yang bimbing pasti Lily nggak akan bisa seperti ini." guru dan murid itu saling berpelukan.


Pemenang juara 1 di ajang olimpiade itu juga mendapatkan tawaran beasiswa dari 3 universitas ternama. Namun Emily belum memutuskannya. dia akan membicarakannya dulu kepada kedua orangtuanya.


...***...


Malam itu juga Lily pulang kerumah, dia mengabarkan semua tentang Berita gembiranya itu, termasuk kepada Dannis.


Satu notifikasi pesan masuk ke hp Dannis. "Mas, Alhamdulillah aku dapat juara 1 lagi. Makasi ya doanya."


Dannis yang melihat pesan itu langsung tersenyum sangat bahagia,dan mengirim balasan langsung.


"Wah selamat ya, aku turut bangga kepadamu. Kejar terus cita-cita mu. aku akan setia menunggumu."


Emily membaca balasan dari Dannis, hatinya terasa teriris membaca pesan itu.

__ADS_1


"Mas, sebenarnya dendam ku kepadamu sudah luluh seiring berjalannya waktu, ingin rasanya aku kembali ke dalam pelukanmu. Tapi entah mengapa, hati ini enggan mas. Enggan karena merasa tidak pantas diri ini mendampingi dirimu, mengingat keadaan ku yang seperti ini mas." lirih Emily.


Sesaat kemudian Emily sampai dirumahnya, sudah ia duga penghuni nya pasti belom pada tidur karena menunggu kedatangannya.


"Assalamu'alaikum, aku pulang."


"LiLy, waduh sudah papa duga pasti pulangnya bawa kado emas. selamat ya nak." Roy memeluknya penuh kasih.


Semuanya yang ada disitu, Alvin, mamanya, dan bi Mira pun mengucapkan selamat dan turut bangga.


"Kalau begitu kamu langsung istirahat ya,nak."


"Baik pa, Emily pun langsung bergegas ke kamar dan beristirahat karena dia sudah merasa lelah sekali dengan perjalan jauhnya.


...***...


Setelah perjalanan kemarin yang melelahkan hari ini Emily dapat bonus untuk boleh berlibur sekolah.


Sehabis mandi dan shalat subuh, ia pun terlelap kembali hingga pukul 08.00 pagi. Emily mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jam weker di sebelah ranjang tidur. Ia bangun dengan malas, badannya sungguh sangat lelah.


Ia pergi lagi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, habis keluar dari kamar mandi ia mengecek handphone nya ada 2 panggilan tak terjawab dari Dannis. Serta menyelipkan sebuah pesan, mungkin karena dirinya tidak mengangkat panggilannya.


"Ly, nanti sepulang mas kuliah kita keluar jalan-jalan yuk. hanya aku dan kamu. oke ???."


Entah kenapa dirinya merasa senang mendapat pesan itu. Dengan cepat Emily membalasnya.


"Siap mas, aku izin dulu sama papa dan mama ya. nanti aku kabarin lagi."


Setelah membalas pesan, Emily merasakan perutnya berbunyi. Dia lapar belum sarapan bahkan belum makan dari kemarin sore.


Ia turun ke bawah untuk pergi ke dapur, Ia melihat meja makan sepi tidak ada orang satupun.


"Sepi banget, papa udah berangkat kerja, mama juga palingan sudah berangkat kursus, Alvin sekolah. Hmmm enakan masuk sekolah aja kalau tau gini." gerutu Emily sembari mengoles selai coklat di atas roti gandum miliknya.


"Sayang, lapar ya..." Tanya Roy


yang sontak suaranya membuat kaget Emily.


"Papa, bikin Emily kaget saja".


"hahahaha, maaf sayang, maaf." Roy langsung duduk di sebelah anaknya.


"Nak, papa mau tanya sama kamu. Kamu kan tiga hari ke depan sudah selsai ujian akhir. Papa mau tanya kamu mau melanjutkan kuliah dimana ?"


"Emmmm, kemarin itu aku kan juara 1 pa. Dan dapat tawaran beasiswa di tiga kampus besar. Di Yogyakarta, Surabaya, dan Jember pa."


"Terus rencana kamu mau pilih yang mana ?"


"Belum Lily pikirin sih pa, nanti aja ya setelah ujian selesai."


"Papa mengikuti kamu saja nak, yang penting kamu nyaman dan bisa mencari ilmu dengan baik disana. Dan satu lagi pesan papa hati-hati nak. Masa depanmu ada di tanganmu sendiri bukan di tangan orang lain" Roy menggenggam tangan Emily penuh harap.


"Papa....Love you.." Emily memeluk Roy sangat erat.

__ADS_1


"Love you too nak, kamu dan adik kamu Alvin adalah lentera hati papa dan mama, sayang."


__ADS_2