Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Tidak Ada Kata Mustahil


__ADS_3

selamat membaca 📖


.


.


.


Setelah apa yang telah di raih saat ini, setidaknya Emily telah berhasil mematahkan hinaan orang-orang.


Termasuk cibiran salah satu sanak saudaranya.


"Masih naif saja, Sok jual mahal. Kenapa tidak diterima saja lamaran anak itu. Dirinya kan sudah seperti itu masa depannya sudah tidak ada bayangan, dan pastinya tidak akan ada laki-laki yang akan menerimanya dengan keadaan dirinya seperti itu."


Kata-kata itu selalu terngiang dalam ingatan Emily.


Mungkin dulu ia depresi dan sangat terpukul sekali mendengar kata-kata seperti itu.


Tapi tidak untuk kali ini, Justru kata-kata itu yang menjadi cambuk untuk dirinya, membuktikan semuanya dengan prestasi yg dia ukir.


Dirinya sangat bersyukur sekali bisa meraih juara 1 dalam ajang bergengsi tahun ini.


Selain bisa mengharumkan nama Sekolah, Ia juga bisa membuat bangga kedua orangtuanya.


Saat dalam perjalanan pulang, ia sungguh tak sabar ingin cepat sampai kerumahnya. Ia ingin segera memberitahu kabar gembiranya itu.


Dan dari kaca spion mobil depan, Sofi diam-diam memperhatikan anak didiknya itu. Dalam hatinya penuh kebanggaan dan kekaguman.


"Kamu gadis yang hebat Emily, kamu berhasil meraih semua itu dalam keadaan sedang dirundung sebuah masalah. kamu berhasil membungkam orang-orang yang telah menghinamu." Gumam Sofi di dalam hatinya tanpa menyadari bahwa dirinya juga tengah diperhatikan oleh seseorang di sampingnya.


Sekarang Emily hanya tinggal menyiapkan dirinya untuk mengikuti perlombaan selanjutnya di pulau seberang.


selain itu ia juga harus bisa memperoleh nilai spesial pada ujian akhir nanti.


Emily meyakini semua hal itu bisa membuatnya dengan mudah masuk ke perguruan tinggi yang dia inginkan.


Sesaat setelah itu, mobil silver milik Farid sampai di depan rumah Emily. Emily pun turun dan tak lupa bersalaman terlebih dulu kepada kedua gurunya.


"Sekali lagi selamat ya nak, ibu bangga sekali sama kamu."Ucap Sofi sambil memeluk Emily.


"Terimakasih Bu, saya juga mengucapkan terimakasih banyak sama ibu. Saya benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Bagaimana pun ini semua berkat bantuan ibu juga. Ibu yang sebenarnya lebih hebat, karena ibu lah yang sudah membina saya."


"Sama-sama nak, itu semua karena kamu sangat tekun belajar. Usaha takkan mengkhianati hasil, dan tidak ada kata mustahil bagi Allah jika sudah berkehendak."


"Iya Bu, kalau begitu saya pamit dulu. Oh ya, Pak Farid. Terimakasih banyak juga ya sudah di kawal sampai selesai."


"Tidak menerima ucapan terima kasih saja, besok saya menunggu traktiran mie ayam pak Karso pokoknya." jawab Farid dengan khas gaya bercandanya.


"Siap Pak, besok insya Allah saya traktir deh sama bu Sofi juga." Sahut Emily cengengesan.


"Kalau begitu kami pamit ya, salam sama kedua orangtuamu." Kata Sofi.


"In syaa Allah, bu. Hati- hati di jalan ya pak, bu !."


"Iya, kami pamit dulu. Assalamu'alaikum." Ucap Farid sambil melajukan mobilnya.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati !" teriak Emily seraya melambaikan tangannya.


Emily tersenyum lega melihat apa yang sedang ia bawa. Ia masih merasa seperti mimpi.


Emily kemudian meminta pak satpam untuk membukakan gerbang.


Satpam yang melihat apa yang dibawa Emily pun turut memberikan selamat kepada Emily.


"Wah, neng Emily hebat !!! dapat juara. Selamat ya neng."


"Terimakasih pak."


Emily lanjut masuk ke dalam rumah dengan hati yang berbunga-bunga.

__ADS_1


Namun sayang ketika dirinya masuk ke dalam rumah, Ia melihat keadaan rumah sangat sepi.


Ia berteriak memanggil semua penghuni rumah, namun tak satupun ada yang menjawabnya.


"Bi..., bi Mira."


Emily memanggil asisten rumah tangganya itu.


"Iya, neng LiLy. Ada yang bisa bibi bantu ?." Bi Mira menghampiri.


"Kenapa rumah sepi sekali bi, hari ini katanya papa libur ke kantor ?!. Mama juga tumbenan banget nggak ada dirumah. Si Alvin juga katanya tadi pagi sakit nggak masuk tapi koq nggak ada bayangan nya bi ?!." Tanya Emily sembari duduk di kursi meja makan dan meletakkan trophy yang ia dapat


"Iya neng, tadi tuan katanya mendadak dapat telpon dari kantor dan harus segera kesana. Nyonya juga tadi dapat telpon dari temannya katanya butuh bantuan. Kalau den Alvin ada di kamarnya neng lagi istirahat."


"Emmmm, gitu ya." jawab Emily merasa sedikit kecewa melihat rumah nya sepi.


Dia tidak bisa memberikan kejutan seperti yang ia bayangkan.


Mira memperhatikan apa yang dibawa oleh sang anak majikannya. Thropy lumayan besar dan bertuliskan sebagai pemenang juara satu Olimpiade ekonomi.


"Wah, neng Lily berhasil dapat juara 1 ya neng ?! Selamat ya..!! bibi bangga sama neng Lily."


"Iya bi,Alhamdulillah. Terimakasih atas ucapannya. Nggak sia-sia perjuanganku belajar sepekan ini. Aku juga mengucapkan terima kasih banyak juga sama bibi, Ini semua berkat doa dan dukungan bibi juga kan."


"Sama-sama neng, ini semua berkat kerja kerasnya neng Lily. Dan ingat pesan bibi neng, jangan mudah bangga dengan yang neng LiLy raih ya. Tetap harus rendah hati, agar semua yang neng Lily capai ini berkah."


"Iya bi, Terimakasih sudah mengingatkan. Ya sudah kalau begitu aku naik ke atas dulu ya bi, mau istirahat di kamar."


"Iya neng, jangan lupa mandi dulu bersihin dulu badannya, mau bibi buatkan air panas ?!."


"Tidak usah bi, mandi air dingin saja. Kebetulan di luar sana panas sekali bi cuacanya."


"Oh iya bi, nanti kalau mama dan papa pulang bilang aja Lily ada di kamar bi."


"Ok siap laksanakan neng."


Emily berlalu meninggalkan ruangan itu dan menaiki setiap anak tangga dengan lesu.


"Hmmm...akhirnya sampai juga."


Emily bernafas lega, ia meletakkan Thropy miliknya di meja belajarnya serta merebahkan diri sejenak di atas tempat tidur.Memejamkan mata sejenak, kemudian beranjak kembali menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang bau asap dan keringat.


Di dalam kamar mandi, Ia pun mengguyur kepalanya dan membasahi rambutnya dengan air.


Sesekali juga memijatnya untuk mendinginkan kepalanya yang terasa panas sejak ia selesai mengerjakan soal-soal tadi.


Emily merileksasikan sejenak tubuhnya dengan menikmati setiap air yang mengalir di tubuhnya.


Setelah cukup lama, ia pun keluar dari kamar mandi dan segera berganti pakaian.


"Kring...kring...kring...." suara telpon di kamar nya berdering.


Emily segera mengangkat telpon genggam itu.


"Hallo neng, lekas turun kebawah neng. Tuan dan nyonya neng..."


Suara Mira terdengar sangat panik.


"Papa dan mama kenapa bi ?" Emily pun ikut panik.


"Aduh Neng bibi juga nggak paham, cepet kesini neng. Bibi takut ini sendirian, segera ya neng tolongin bibi. Kasian Tuan dan Nyonya."


Emily meletakkan telpon itu dan langsung menyambar kerudungnya bergegas untuk turun kebawah.


Ia tak perdulikan rambutnya yang belum di sisir rapi. Dengan wajah yang masih natural belum ada olesan apapun.


Dia sangat panik sekali, khawatir terjadi apa-apa dengan kedua orangtuanya.


Saat akan menuruni anak tangga, ia melihat ke arah kamar Alvin dulu.

__ADS_1


Dia berinisiatif untuk meminta bantuan adiknya juga. Kebetulan pintu kamarnya terbuka dan Emily pun langsung masuk saja.


"Dek, Ayo tolong bantu ka....kak".


Emily terkejut melihat kamar adiknya kosong. Ia heran kenapa adiknya tidak ada disana.


"Kemana Alvin, katanya dia sakit tapi kenapa nggak ada di kamar. Ah sudahlah aku harus segera turun kebawah kasian papa dan mama."


Emily bergegas keluar dari kamar Alvin dan berlari turun ke lantai bawah.


"Bi, papa sama mama kena...pa...?!"


Belum selesai Emily bertanya, ia melihat sekeliling ruangan sudah dihiasi dekorasi bunga Lily yang indah sesuai dengan nama nya.


Dan dirinya juga melihat ada sebuah benda kotak yang terbungkus berwarna biru lengkap dengan pita berwarna emas.


"SURPRISE" teriak semua yang ada di ruangan itu.


Saking terharunya melihat semua itu, mata Emily berkaca-kaca merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Sebuah kejutan spesial untuknya dari orang-orang terdekat dan tersayang.


Emily merengek, menangis sejadi-jadinya.


" Kalian jahat, katanya papa sama mama kenapa-napa, Alvin juga katanya sakit !!"


"Uhhhh... Sayang, maaf kami tak bermaksud jahat. Kami hanya ingin memberikan surprise untukmu, nak." Ucap Dila sambil memeluk putrinya itu.


"Iya nak, maaf ya kami tidak bermaksud begitu. Sini peluk papa juga, sayang."


" Selamat ya nak atas pencapaianmu, Kami turut bahagia dan bangga kepadamu."Ucap Roy


"Emily, selamat ya geulis." ucap Vina dan Bella.


"Terimakasih banyak ya kalian sudah baik banget sama aku".


Emily melihat Alvin dengan tersenyum. Emily langsung segera mendekati sang adik.


"Selamat ya kakakku yang cengeng, jangan cengeng- cengeng lagi ya." Kata Alvin sambil mencubit kedua pipi kakaknya.


Namun dirinya tak membalas, melainkan memeluk adiknya dengan pelukan hangat.


"Makasi banyak ya Dek, dukunganmu sangat berarti buat kakak."


"Iya sama-sama, Kan kakak sendiri yang bicara sama aku. Tidak ada yang mustahil selagi kita masih berusaha. Drama nya dicukpukan dulu ya , sekarang kakak buka dulu bingkisan kotak itu ."


Mereka semua bersorak gembira ,senyum mengembang di wajah mereka.


Emily membuka benda yang terbungkus biru berpita emas itu.


Emily takjub melihat apa isi di dalam kotak besar itu.


"Wah, motor pa ??" tanya Emily dengan ekspresi bahagianya.


"Iya sayang, supaya kamu lebih semangat lagi belajarnya."


"Are you sure, pa ?"


Emily masih heran dengan hadiah itu, mengingat Ia tidak diizinkan lagi untuk naik motor oleh papanya.


"Yes, I'm sure honey. Ini semua buat kamu. kamu pantas mendapatkan ini semua. Tapi ingat pesan papa, yang hati-hati."


"Siap papa, Lily akan hati-hati. Lily akan pegang janji Lily kali ini." Terima kasih ya pa, ma."


Mereka bertiga berpelukan erat saling menyalurkan rasa kasih dan sayang.


"Alvin di anggurin ni, nggak ada yang peluk gitu ?!." celetuk Alvin.


"Sini nak, papa dan nama sayang kalian berdua."

__ADS_1


Terimakasih Rabbku, rasa ini adalah karunia terindah darimu. Semua ini terjadi atas kuasamu. Dibalik kesusahan pasti ada kemudahan. Engkau selalu ada disisi orang-orang yang sabar. Terimakasih telah memberikan aku kedua orangtua yang hebat, adik yang terbaik. Sahabat-sahabat baik yang selalu ada untukku, dan orang-orang terdekat yang selalu mensupportku. Kalian sangat berharga bagiku."


__ADS_2