Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Aku Minta Maaf


__ADS_3

Setelah penat menghadapi berbagai masalah dalam minggu ini, rasanya Emily ingin melepas nya dengan berlibur, kebetulan hari ini Minggu, hari bersantai berkumpul bersama keluarga, Atau orang-orang terkasih.


Emily dan keluarga hari ini berencana pergi ke sebuah tempat wisata. wisata yang terletak disebuah puncak, yang memiliki udara sangat dingin. Disana terdapat banyak sekali sebuah wahana untuk sekedar berselfi, kumpul keluarga. Hamparan rumput yang hijau, sungguh tempat yang cocok sekali untuk melepas penat dan menenangkan pikiran.


Butuh waktu sekitar 2 jam, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Saat sedang duduk santai, Roy memulai obrolan.


"Sayang, apa kamu nggak berencana mengajak Dannis ? tanya Roy secara tiba-tiba kepada putrinya.


Emily yang ditanya seperti itu hanya memberikan senyuman yang entah apa artinya yang ia sendiri tidak tahu. Roy yang tidak menerima jawaban apapun dari putrinya hanya diam saja, mungkin ada sesuatu yang tak bisa di jelaskan sekarang oleh putrinya. Lalu Roy pun menggoda putranya dengan bertanya perihal yang hampir sama.


"Dan kamu nak, kapan kamu kenalin cewek kamu ke kita ?"


Alvin yang saat itu kebetulan sedang minum tersedak oleh air yang diteguknya. Emily membantunya menepuk-nepuk punggungnya agar merasa lega. Roy dan Dila yang melihat reaksi putranya terkekeh geli.


"Kamu itu Alvin, ditanya sama papa malah tersedak gitu." ledek Dila merasa lucu dengan reaksi putranya.


" Ya habisnya papa aneh-aneh aja yang ditanya." ketus Alvin sambil melirik tajam ke arah papa nya.


"Loh, papa kan cuma tanya sama kamu. Salahnya dimana coba ?" Roy malah terus menggoda putranya itu.


"Aku masih nggak kepikiran hal itu pa, ma. Punya kakak satu cewek aja ribetnya minta ampun. Apalagi mau ditambah punya pacar lagi." ucap Alvin seraya melirik Emily dengan niat menggoda kakaknya lalu mengambil ancang-ancang untuk berlari.


"Eh sialan banget Lo ya, Lo ngatain gue ya. Awas Lo ya, kalau dapet gue glitikin Lo ya sampai ngompol".


Emily mengejar adiknya sehingga terjadi lah aksi saling kejar dan pergulatan namun penuh dengan candaan diantara mereka di Padang rumput hijau itu. Wajah kebahagiaan terpancar di wajah Emily dan keluarganya. Sudah lama mereka tak merasakan kehangatan dan berkumpul lagi seperti ini.


"Sudah, sudah nak kesini semua,kita makan bareng dulu, ini mama sudah masak makanan kesukaan kalian." Teriak Dila.


Alvin dan Emily yang sedang bercanda itu pun langsung bergegas lari menghampiri kedua orangtuanya.


" Yeay aku menang, yang kalah dapat makannya belakangan." Celetuk Alvin yang berniat menggoda kakaknya.


" Ma...Alvin...." rengek Emily manja kepada sang mama.


"Sudah-sudah, kalian itu kayak anak kecil aja. Sudah pada besar juga, itu liatin anak-anak yang masih kecil aja bisa akur main." Ucap Roy seraya menunjuk ke arah salah satu pengunjung yang anak-anak nya masih kecil.


"Bhahahaha." Mereka semua tertawa lepas.

__ADS_1


...***...


Menjelang sore, Emily dan keluarga telah tiba dirumah. Baru saja Emily turun dari mobil,ternyata ia melihat pintu utama terbuka.


"Sepertinya ada tamu, tapi siapa yang bertamu sore begini ". ujar Roy penasaran.


" Iya, siapa ya, coba kita lihat dulu ke dalam." Ucap Dila yang langsung menggandeng lengan suaminya untuk berjalan masuk.


"Alvin kamu bantu kakakmu menurunkan barang-barang itu ya." Sambungnya.


"Iya ma..." jawab Alvin.


Dila dan Roy berjalan masuk ke dalam untuk melihat siapa tamu yang ada di dalam.


"Assalamu'alaikum ", Roy memberi salam kepada seseorang yang duduk di sofa menggunakan kaos lengan panjang putih dengan celana jeans.


"Wa'alaikumsalam, Om Tante." jawab pemuda itu yang langsung berdiri menggapai tangan keduanya untuk dicium dengan hormat.


" Udah lama nis ?" Tanya Roy


"Nggak, baru aja nyampek, Om." Jawabnya dengan cepat.


" Rencana aku mau ikut sama paman ke Kalimantan Om." jawab Dannis yang terlihat sedikit menampakkan wajah sendu.


"Apa .. Kalimantan ?? Teriak Emily yang tanpa mereka sadari sudah sedari tadi berdiri mendengarkan pembicaraan mereka. Ia kemudian berjalan menghampiri kedua orang itu. Roy yang sadar akan ada drama diantara anaknya dan teman dekatnya itu langsung berpamitan untuk pergi bebersih diri.


"Ehm, Nis sepertinya om mau mandi dulu ya, rasanya badan Om sudah lengket dan bau sekali." ucapnya


"Silahkan, om."


Selepas Roy masuk, Emily memasang wajah cemberut sambil melipat tangannya di atas perutnya. Ekspresi Emily yang seperti itu bukannya membuat Dannis khawatir tapi malah membuat Dannis semakin merasa gemes gregetan.


"Masya Allah, ciptaanmu ini sungguh buat hamba gemes, bibirnya yang mungil dan merah itu rasanya ingin hamba cicipi. Semoga engkau permudah aku untuk bisa menghalalkannya nanti."


"Kenapa malah bengong sih, nggak ngerti apa ada yang lagi marah ?." Ucap Emily yang membuyarkan lamunan Dannis.


Dannis tersenyum dan berjalan menghampiri nya, memisahkan tangan yang berlipat tadi lalu mengajak gadis itu duduk. Di elus lembut tangan itu lalu ditempelkan ke arah wajahnya.

__ADS_1


"Kalau marah ni silahkan, siap di tampar, atau mau di elus juga nggak apa-apa." ucap Dannis dengan senyum menggoda.


Perlakuan Dannis yang manis terhadapnya semakin membuat Emily bingung dengan perasaannya.


"Mas, kamu yang terbaik, kamu yang paling mengerti aku, sangat menghargai aku, dan cintamu itu sangat tulus. Dan sungguh hati ini ingin memilikimu lagi, Tapi keadaanku yang tidak memungkinkan kita untuk bersama mas. Kau layak mendapatkan yang lebih baik dariku, Sungguh aku tak pantas untuk kau miliki." lirih Emily di dalam hatinya.


Dannis yang melihat air mata itu jatuh kembali langsung merasa sangat khawatir.


" Hei, kamu kenapa disuruh mukul malah nangis. Ada apa ?". Dannis merasa serba salah ingin memeluk tapi tidak bisa, tidak dipeluk tangis Emily makin menjadi, hingga akhirnya ia putuskan hanya mengusap-usap kepala Emily Saja.


"Kamu serius mau ke Kalimantan mas, kamu mau ninggalin aku gitu aja ?." Tanya nya.


"Bukan mau ninggalin, tapi aku harus ikut sama paman ku kesana karena ada urusan yang harus aku selesaikan. Kalau sudah selesai urusan disana aku kembali lagi kesini nemuin kamu, dan bahkan...."


Belum selesai Dannis bicara bibirnya di tutup lebih dulu oleh Jari Emily. Sejenak mereka berdua saling bertatapan mata, merasakan keheningan dan saling merasakan detakan jantung masing-masing seakan saling menyelami perasaan satu sama lainnya.


"Mas, kamu harus tau awalnya niatku untuk kembali dekat kepadamu untuk membalas sakit hatiku, Namun hati berkata lain. Hatiku tak bisa berbohong mas, Hatiku ini masih mencintaimu mas, Tapi aku tidak bisa bersama mu lagi."


Degh,


Dannis merasakan desiran panas dalam tubuhnya. Jantungnya seakan ingin berhenti berdetak mendengar pernyataan Emily. Apa yang ia berusaha tahan ingin rasanya ia luapkan. Ingin rasanya ia peluk tubuh gadis yang berada di depannya itu namun tak mampu ia lakukan.


"Emily, aku maafkan jika itu tujuan awalnya kamu menerima untuk dekat denganku lagi, tapi mendengar ucapan mu yang masih mencintaiku namun tak bisa lagi bersamaku hatiku sakit, Ly. Apa maksud dari semua ini ?".


"Aku masih sayang dan cinta sama kamu mas, tapi aku tidak bisa bersamamu lagi, karena....."ucapannya terpotong.


Emily berpikir tak mungkin ia akan berterus terang kalau dia tidak bisa bersama dengan Dannis lagi karena takut akan membuat Dannis dalam bahaya dan dirinya merasa sudah tak pantas untuk Dannis lagi. Pasti Dannis tidak akan menerima alasan itu. Sedangkan ia ingin Dannis mendapatkan yang terbaik. Niat yang awalnya ingin membalas sakit hatinya namun ia terjebak sendiri dengan situasi hatinya.


"Emily, karena apa ? katakan, beri aku jawaban yang jelas." Dannis semakin penasaran dengan apa yang akan dikatakan Emily.


" Karena kamu akan pergi jauh, kita nggak mungkin kan menjalani hubungan jarak jauh dengan waktu yang lama." jawab Emily berbohong.


Dannis terdiam menatap lekat mata sendu di depannya, namun mata itu tak sanggup menatap matanya balik. Dan Dannis cukup tau yang sebenarnya bahwa gadis di depannya itu sedang berbohong, Tapi ia takkan memaksa apa yang sebenarnya menjadi alasan gadis itu, yang ia tau ia tetap harus meyakinkannya.


"Baiklah kalau begitu keputusanmu, aku cukup tau kalau kau mencintaiku dan aku pun mencintai mu. karena tak ada syarat harus memiliki status yang mengikat untuk bisa mencintai, aku hanya berpesan kepadamu, kalau aku selalu mencintaimu dan selalu ada untukmu walau raga kita tak bisa saling memiliki."


"Mas, aku minta maaf ya... benar-benar minta maaf. Hanya kata maaf ya aku bisa ucapkan."

__ADS_1


Dannis dengan segera merangkul kepala gadis itu dan merapatkannya di bahunya.


" Tidak usah memohon maaf, kalau begitu aku mohon pamit ya. Jaga dirimu baik-baik, semoga Allah bisa mempersatukan kita dalam hubungan yang lebih baik."


__ADS_2