Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Olimpiade


__ADS_3

Pagi itu Sofi berniat untuk berangkat ke sekolah lebih pagi, Ia ingin mencari update info tentang olimpiade yang akan di selenggarakan satu Minggu lagi.


Entah mengapa pikirannya selalu berpusat pada satu anak didiknya.


" Emily ".


Sofi ingin sekali mengikut sertakan Emily dalam Olimpiade tahun ini. Walaupun dia agak sedikit ragu, mengingat Emily sedang ada masalah.


"*Semoga Emily siap mengikuti Olimpiade ini, semoga dia bisa konsentrasi untuk belajar ."


"Ah...dari pada diriku berandai-andai, ada baiknya aku tanyakan dulu kepada anaknya. Semoga saja dia bisa, ini kesempatan yang bagus untuk meraih segala impiannya ke depan*."


Setelah selesai menyiapkan apa saja yang mau ia bawa, Sofi pun segera berangkat ke Sekolah dengan mengendarai motor maticnya itu.


Selang berapa menit kemudian ia pun sampai di sekolah, memarkirkan motornya di tempat biasanya.


Sofi lalu bergegas masuk ke dalam kantor, menuju meja kerjanya. mengeluarkan laptop nya.


Ia segera mencari informasi terbaru untuk olimpiade itu.


Disitu tertera lomba akan di adakan Senin depan dengan menyertakan beberapa syarat. Dan syukurnya semua persyaratan itu sudah ia persiapkan.


Kini tinggal memanggil Emily saja untuk menanyakan kesiapan dirinya.


"Semoga saja anak itu bisa dan siap untuk ikut." Ucapnya.


Saking seriusnya dengan pekerjaannya itu, Sofi tidak menyadari ada yang masuk ke ruangan dan sedang memperhatikan nya.


Farid, guru dan sekaligus rekan kerja Sofi. Sejak masuk ke ruangan, sengaja diam saja karena tidak ingin mengganggu.


Tapi akhirnya dia tidak tahan juga untuk tidak menyapa wanita itu.


"Pagi Bu", sapa pak Farid.


"Eh, pak. Pagi juga. Loh, bapak kapan masuk ruangnya ? tiba-tiba sudah di dalam aja." Sofi merasa heran.


"Gimana ibu mau ngelihat saya masuk, ibu dari tadi asyik banget dengan pekerjaan ibu. mungkin kalau ada ular di dekat ibu, ibu nggak bakal lihat juga!." Sahut Farid dengan candaan.


"Pak Farid bisa saja bercandanya." kata Sofi dengan wajah yang merona karena malu.


"Tadi datangnya lebih pagi ya Bu.. ?"


Farid berjalan menghampiri meja kerja Sofi.


"Iya pak, saya mau mempersiapkan segala sesuatu untuk olimpiade nanti, saya mau mendaftar kan salah satu anak didik saya."


" Wah, berarti sibuk banget ya bu Sofi sekarang."


"Hehehe, lumayan pak. Semuanya harus benar-benar dipersiapkan dengan baik jika ingin hasil yang baik. Memangnya ada apa pak, ada yang bisa saya bantu ?" tanya Sofi.


" Nggak Bu, nggak ada apa-apa silahkan dilanjutkan." Ucap Farid, Wajah nya menampakkan sedikit kekecewaan.


"Baik pak, terimakasih. Selamat bekerja pak." Sofi tersenyum entah kenapa kalau dirinya berdekatan dengan Farid, dia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya.


Padahal malam ini Farid sudah berencana ingin mengajak Sofi dinner.


Tapi sepertinya harus diurungkan dulu niatnya itu karena melihat Sofi masih sangat sibuk.


Farid terus memandangi Sofi dari meja kerjanya, sesekali ia memalingkan wajahnya saat Sofi melihat kearahnya.


Farid memang merasakan rasa yang berbeda sejak beberapa bulan ini kepada Sofi.


Dirinya sangat mengagumi pribadi wanita itu, selain Sofi memiliki paras yang cantik, Sofi juga memiliki dedikasi yang tinggi dalam mengabdi.


"Semoga lain kali aku bisa ngobrol berdua, dan bisa lebih dekat dengan Sofi. Aku harus mengungkapkan rasa ini, apapun jawaban dirinya. Tapi semoga saja bisa bersambut." harapan Farid di dalam hatinya.


...***...


Sementara di tempat lain Emily sedang menikmati lezatnya Batagor mang Dadang, Bella menikmati bakso, dan Vina yang memang tak bisa berpaling dari mie ayam.

__ADS_1


Di sekolah tempat Emily ini memang lebih banyak menjual kuliner. Ada Bakso, Mie ayam, Batagor, Siomay, dan masih banyak lagi.


Jadi jika pada jam istirahat tinggal pilih saja mau menu apa yang disuka.


"Ly, gue cobain dong batagornya dikit aja." Ucap Bella.


"Eh Bel, kalau mau bicara makanan dimulut tu dihabisin dulu. Jorok tau !." ketus Vina.


"Iya ni Bella, mesti kebiasaan kayak gitu. Jadi cewek tu yang anggun dikit." Jawab Emily.


"Iya.. iya, terus boleh nggak nih minta batagornya ?" Ucap Bella sambil memainkan alisnya


"Iya boleh, kalau gitu kita saling tukar menukar makanan. Ayo kita saling serbu !!."


Mereka saling berebut makanan, saling mencicipi makanan yang satu dengan yang lainnya.


Bella yang memang hobi makan menjadi juaranya, dia berhasil mencicipi lebih banyak dibandingkan Emily dan Vina.


Sedang asyik mereka bercanda, Tiba-tiba pengeras suara berbunyi untuk memberikan suatu pengumuman.


"Panggilan kepada siswi yang bernama Emily Putri Zahrana untuk segera ke kantor di tunggu untuk menghadap bu Sofi Kamila." Panggilan tersebut berulang sebanyak tiga kali.


"Eh Ly itu namamu bukan yang dipanggil Staf TU, hayo loh ada apa dipanggil ke kantor ?" Vina merasa cemas.


"Nggak ada apa-apa, tenang saja. Aku ke kantor dulu ya." kata Emily yang aslinya sedikit penasaran dan agak sedikit takut.


"Iya hati-hati ya, kalo ada apa-apa tinggal sebut aja nama gue 3x." Kata Bella sedikit Bercanda.


" Memangnya kamu jin dipanggil 3x, Hahahaha." kata Emily sambil berlalu.


...***...


Di kantor....


"Assalamu'alaikum Bu, permisi Ibu. Tadi saya dengar pengumuman katanya ibu memanggil saya ke kantor. Ada perlu apa ya Bu ? Sapa Emily yang baru datang dengan sembari mencium tangan sang guru.


"Terimakasih Bu."


"Begini Emily, sepekan lagi ada Olimpiade Ekonomi. Ibu berencana akan mendaftar kan kamu untuk mengikutinya. Apa kamu bersedia dan siap untuk mengikuti Olimpiade itu ?" Tanya Sofi.


Emily yang memang sangat menantikan Olimpiade itu dan sudah mempersiapkan nya dengan matang, sangat bahagia sekali mendengar kabar itu. Terlihat dari sorot matanya yang berbinar-binar.


"Siap Bu, siap. Saya juga sudah belajar Bu dari jauh-jauh hari, seperti yang ibu minta dulu."


Senyum mengembang pada bibir Sofi, dia tidak salah pilih orang. Dia yakin Emily bisa mengikutinya dan siap di bimbing olehnya.


"Baiklah kalau begitu ,kamu siap saya bimbing ya." tanya Sofi kembali.


"Siap Bu, benar-benar siap."


" Baiklah mulai besok,kamu izin dengan orangtuamu untuk pulang lebih sore karena harus pembinaan selama satu minggu ini."


"Baik ,Bu. Terimakasih, kalau begitu saya permisi dulu ya Bu."


"Iya, Silahkan".


Emily kemudian luar dari kantor dengan hati yang berbunga-bunga seperti orang yang habis menang undian.


Dirinya berlari tak sabar ingin segera menyampaikan kabar ini kepada kedua sahabatnya. Dan tak sabar juga ingin pulang untuk meminta izin kepada kedua orangtuanya.


"Bella...Vina....gue seneng banget." kata Emily berteriak sambil berlari lalu bergelayut manja memeluk kedua sahabatnya.


"Eh apaan sih Ly, geli. kesambet jin kantor kamu ya lompat-lompat kegirangan gitu, kamu masih waras kan ?" Ujar Vina sambil memeriksa dahinya Emily.


"Apaan si Vin, aku bukan kesambet atau sakit. Aku bahagia akhirnya apa yang aku inginkan terkabul. Aku di daftarkan untuk mengikuti Olimpiade Ekonomi tingkat Provinsi." Ucap Emily dengan bahagia.


" Wah beneran, Selamat ya Ly. Semoga dimudahkan dan berhasil lolos sampai final dan bisa dapat juara." Kata Vina dan Bella yang ikut bahagia melihat kebahagiaan sahabat mereka.


"Aamiin, Terimakasih banyak ya doanya, aku nggak sabar jadi ingin cepet-cepet pulang kasi kabar sama orangtua gue."

__ADS_1


...***...


Sepekan telah berlalu, Emily hampir tiap hari mengikuti pembinaan dengan meluangkan waktu selama 2 jam tiap harinya.


Kini tiba saatnya ia berjuang dalam ajang bergengsi tersebut. Inilah awal impian yang ia inginkan.


Tak berharap banyak, bisa mengikuti Olimpiade ini saja dirinya sudah merasa bangga. Dan kalaupun bisa dapat juara itu adalah bonus.


Emily berangkat bersama dengan Sofi ditemani dengan Farid. Kebetulan Farid di minta kepala sekolah untuk mengawal mereka berdua.


"Bismillah siap ya nak, kerjakan semua soal dengan teliti dan cermat. Jika sudah selesai kamu periksa lagi semuanya, kalau sudah merasa yakin baru kamu kumpulkan kerjaanmu ya. Kita sudah berikhtiar dengan belajar. Hasilnya kita serahkan sama Allah. Ujar Sofi memberikan dukungan kepada Emily.


"Tuh dengerin Ly, kamu harus semangat seperti Bu Sofi." Kata Farid ikut nimbrung.


"Apaan sih pak, bisa aja. saya cuma berusaha menyemangati Emily saja."


"Cie, ibu wajahnya merah Lo Bu, bu Sofi tersipu malu pak." Canda Emily.


Candaan hangat terus berlanjut sampai mereka tiba di tempat tujuan, Dan setelah satu jam menunggu akhirnya Emily masuk ke dalam ruangan untuk mengikuti tes.


"Bu Sofi kita menunggu nya disana saja yuk, sekalian cari makan dan minum. Saya tadi belum sempat sarapan soalnya." Ajak Farid


"Boleh pak , Ayo saya juga belum sempat sarapan tadi,karena buru-buru untuk nyiapin keperluan Emily..."


"Yes, Alhamdulillah akhirnya bisa ngobrol berdua dengan Sofi." bisik Farid di dalam hati."


2 jam kemudian....


Emily deg-degan menunggu hasil pengumuman, Sofi dan Farid juga berada di sampingnya untuk menemani nya.


Sofi juga sebenarnya sedang harap-harap cemas, namun ia tak menampakkan kecemasan itu agar Emily tidak semakin tegang.


"Pada tegang semua wajahnya, santai aja dong. Menang Alhamdulillah, kalau kalah ya syukuri aja kan bisa di ulang lagi di lomba berikut nya." Ujar Farid memecah suasana tegang.


"Iya pak, yang Emily takutkan peringkatnya pak. Takut nanti nilai Emily yang paling bawah."


" Ya jangan berpikir begitu Ly, harus optimis dong, Tapi jangan terlalu tinggi juga."


"Kalau ketinggian takut jatuh ya pak." Kata Emily


"Nggak, kalau ketinggian nggak bisa turun. Kan tangga sekolah masih rusak, hahahaha." kelakar Farid yang sukses memecah suasana tegang.


Suasana menjadi mencair. Emily dan Sofi pun tertawa lepas hingga melupakan ketegangan mereka.


Panitia lomba terlihat sudah menempelkan kertas pengumuman hasil Olimpiade di papan info...


Emily benar-benar merasa takut untuk melihat pengumuman hasil penilaian yang di tempel di papan. Dirinya memilih untuk melihatnya belakangan saja, menunggu agak sepi.


Tapi belum sempat ia kesana tiba-tiba Sofi berteriak lari dari dalam kerumunan itu.


"Emily, selamat ya nak... Selamat atas pencapaian mu,"


"Selamat untuk apa Bu ?" tanya Emily heran.


"Kamu meraih peringkat pertama Ly, kamu juaranya. Nilai kamu sangat tinggi jauh bedanya dari yang peringkat kedua." Ujar Sofi dengan mata yang berbinar-binar.


" Serius Bu ?" Emily yang tak percaya segera berlari ke depan papan pengumuman itu.


"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih banyak atas nikmatmu." Emily tersungkur dan kemudian sujud syukur atas pencapaiannya itu. Ia menangis hampir tidak percaya.


Farid dan Sofi yang melihat itu segera menghampiri nya. Sofi memeluk erat anak didiknya itu sambil berbisik di telinga Emily." Sayang, kamu sudah berhasil membuktikan, bahwa kamu masih bisa membuat bangga kedua orangtuamu."


"Selamat ya Ly, kamu terbaik." Ucap Farid.


"Terimakasih pak." Senyum Emily terus mengembang semakin menampakkan wajah manisnya.


Emily pun disambut untuk naik ke atas podium menerima penghargaan berupa Thropy dan uang pembinaan.


kamu nggak boleh puas begitu saja Ly, masih banyak yang harus kamu raih, dan gerbang pertamanya sudah berhasil kamu buka." gumam Emily di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2