
Setelah mendapat info dari Azam, Emily langsung pergi untuk menghampiri Vina yang kebetulan juga sudah selesai mengikuti tes tersebut.
Hari ini Emily benar-benar merasa sangat bahagia dan lega tentunya, akhirnya dia bisa menjadi bagian dari Fakultas impiannya itu tanpa tes yang ia takutkan.
Awalnya dirinya bercita-cita untuk menjadi seorang guru Ekonomi, Namun wali kelas tercintanya dulu yaitu ibu Sofi menyarankan dirinya untuk mengambil jurusan Ekonomi menajemen dan bisnis saja, karena mungkin itu akan lebih banyak membawa peluang untuk dirinya. Jika nanti dirinya tetap ingin menjadi seorang guru, ia hanya perlu untuk mengambil akte mengajar saja.
Sekarang yang terpenting bagi Emily hanyalah, dirinya bisa melanjutkan pendidikan sampai ia bisa sukses nantinya, dan fokus untk bisa membanggakan kedua orangtuanya.
Dari jarak jauh Emily sudah bisa melihat keberadaan Vina yang sudah menunggunya di area parkir mobil.
Sebelum Emily menghampiri Vina, tiba-tiba muncul ide dikepalanya untuk menjahili sahabatnya itu, Emily akan berpura-pura sedih jika dirinya tak lulus dalam tes itu dan ia akan segera pulang dan tak bisa tinggal bersama mereka lebih lama lagi di Jogja. Dengan sengaja dirinya dari jauh memasang raut wajah sedih.
Vina yang melihat Emily dari kejauhan itu pun mengernyitkan dahinya, dan menaikkan satu alisnya.
"Ada apa dengan Emily, kenapa wajahnya murung begitu ya. Jangan-jangan..-."Hati Vina mulai merasa cemas.
"Ly, lo kenapa ? lirih Vina yang sedikit panik melihat wajah Emily. Lalu Vina berinisiatif untuk langsung mengajak Emily masuk ke dalam mobil, karena tidak mungkin juga dia akan membuka cerita Emily di tempat ramai.
" Lo yang sabar ya Ly, ceritanya dirumah aja nanti bareng sama Bella juga. Jangan nangis terus dong, gue jadi ikutan sedih ini." Ujar Vina yang terus melihat air mata Emily mengalir di pipinya itu.
Vina mempercepat laju mobil agar segera sampai di rumah dan menenangkan Emily , Dan akan mencari jalan keluar yang terbai buat sahabatnya itu.
Sepanjang perjalanan Emily terus berakting layaknya seperti orang yang betul-betul sedang bersedih atau mungkin bisa dibayangkan seperti orang yang baru saja habis diputusin sama pacar.Ups!
Dan di sepanjang perjalanan itu pula Vina terus merasa sangat khawatir, di dalam hatinya terus saja menerka-nerka dan memikirkan ide untuk menghibur Emily nanti jika sudah sampai rumah.
Setelah hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di kediaman Toni, Vina segera memarkirkan mobilnya dan bergegas membuka pintu mobil. Dirinya dengan sigap membopong Emily yang kelihatannya seperti rapuh itu. Beruntungnya sang kakek Toni sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi Vina tidak mengkhawatirkan kejadian seperti ini akan dilihat oleh Toni dan pastinya akan membuat beliau curiga.
" Ayo masuk Ly, gue bantu ya." Vina menawarkan diri.
" Nggak usah nggak apa-apa Vin, gue masuk sendiri aja jangan di gotong seperti ini. Nanti Yang ada seisi rumah curiga sama gue, terus gue mau menjelaskan apa nanti ke mereka !!" Ucap Emily yang langsung berlari sambil menangis masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Vina yang begitu mengkhawatirkan dirinya itu.
__ADS_1
Bella yang melihat mereka dari atas balkon tentu saja kebingungan melihat tingkah mereka berdua. Bella langsung masuk ke dalam untuk melihat keduanya, Namun di saat bersamaan pun ia melihat Emily menangis langsung masuk ke kamarnya, dan tampak pula Vina yang mengekori di belakang.
"Vina, ada apa ini ?" Tanya Bella kepada Vina yang akan masuk menyusul ke dalam.
" Seperti yang kita duga tadi mungkin terjadi Bel." lirih Vina.
Mata Bella membulat sempurna, karena benar-benar kaget dan tak menyangka dugaan mereka akan benar terjadi.
" Ah masak sih,Vin. Ayo kita tanyain aja langsung ke dalam." Ucap Bella.
Saat mereka berdua masuk ke dalam kamar,mereka melihat Emily yang tidur dengan posisi tengkurap sambil menangis. Melihat sahabat mereka seperti itu, hati mereka terasa perih.
Bella dan Vina menghampiri Emily untuk memberikan kekuatan dan dukungan.
" Ly kenapa, Lo gagal ya ikut tes itu ya ? gue bantu ngomong sama panitianya ya. kali aja mereka bisa ngubah keputusan mereka." Ucap Vina .
" Iya Ly, nanti kita usahakan deh agar Lo tetap bisa kuliah disani." Sambung Bella.
" Ly, Lo kenapa, masih sadar kan ?" tanya Bella yang kali ini begitu khawatir jika sahabatnya itu tertawa seperti itu karena berpikir depresi nya kambuh dan malah semakin bertambah parah.
Melihat reaksi wajah keduanya ,membuat Emily semakin tidak tega untuk melanjutkan aktingnya.
" Lo berdua ini kenapa sih ? gue belom ngomong apa-apa sudah main nyerocos mulu. terus pada pusing sendiri sama pikiran masing-masing." ujar Emily masih dengan ketawanya.
"Jadi maksud lo gimana ini. Jangan bilang kalau lo ngerjain kita berdua gitu ?" Seringai Bella dengan tatapan tajam ke arah Emily.
Mendengar hal itu Emily tawanya semakin menjadi-jadi, ditambah lagi kedua sahabatnya menggelitiknya bergantian.
"Dasar kurang kerjaan banget sih Lo, kita berdua sangat khawatir setengah mati sama lo, lo malah ngerjain kita berdua." Rengek Vina yang mulai menangis.
Kemudian Emily merangkul keduanya dengan pelukan hangat merasa bersalah." Gue minta maaf, tadinya cuma niat mau ngerjain kalian, tapi malah gue yang nggak tega sama kalian." Ucap Emily.
__ADS_1
"Jadi gimana, lo lulus kan ikut tes tadi ?" Dan Emily hanya mengangguk pelan.
" Serius ?? bagaimana caranya lo bisa lulus ?" Tanya Vina yang masih sesenggukan.
" Alhamdulillah,gue lulus berkat doa kalian."Ucap Emily tersenyum.
"Gimana bisa ?" tanya Vina dan Bella bersamaan.
"Jadi tu ceritanya, tadi pas gue udah deg-degan banget menunggu giliran tes saking gugupnya gue sampai pingsan.nah-" Belum selesai berbicara cerita Emily dipotong oleh Bella yang panik mendengar Emily pingsan.
" Ya Allah Lo pingsan, Ly ? tapi sekarang Lo nggak apa-apa kan." tanya Bella sambil memeriksa kening Emily khawatir.
" Nggak apa-apa Bu bid, tadi tu gue cuma panik aja. makanya dengerin dulu dong cerita gue."
Kemudian Bella dan Vina pun mendengar kan cerita Emily dengan seksama. Mereka mengucapkan rasa syukur atas kelulusan sahabat mereka itu.
" Syukurlah gue lega banget dengernya, akhirnya kita bertiga tetap bisa sama-sama belajar di kota ini. Tapi awas Lo ya lain kali kalau ngerjain kita lagi kayak tadi." ketus Bella.
" Iya nih dasar, kita berdua t udah panik dan kepikiran sama Lo dari tadi pagi tau, malah dijahilin kayak tadi." Vina mendengus kesal.
" Iya, iya maaf....kan gue mau bikin kejutan tapi gagal. kalian berdua emang best friend gue paling terlope -lope deh." Jawab Emily cengengesan.
" Oh ya Ly, hampir aja gue lupa nyampein salam. Ada salam dari kak Aksa, nanti malam gue disuruh ngajak Lo pergi ke cafe Manglung jam 07.00 nanti malam." ujar Vina
" Kalian berdua aja nih, gue nggak di ajak ?." ketus Bella.
" Ya iyalah Bella, kan nggak lucu kalau Lo nggak ikut. masa sih Emily dinner sama kak Aksa gue jadi obat nyamuk." Vina terkekeh sendiri dengan ucapannya.
" Mau nggak Ly ?." Vina menegaskan sekali lagi, ia melihat wajah Emily tampak berubah.
" Emmmm...-, kita lihat nanti aja ya." jawab Emily menggantung lalu beranjak meninggalkan Bella dan Vina kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Vina yang merasakan gelagat aneh Emily, dengan segera membuntutinya dari belakang.