Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Minder duluan


__ADS_3

Malam hari saat akan tidur, Vina teringat kembali ucapan Aksa yang mengatakan jika dirinya ingin dekat dengan Emily. Vina ragu apakah Emily sudah bisa membuka hatinya untuk pria lain, karena sepertinya Emily masih cukup terpukul dengan keadaan nya.


" Kalau gue nggak cari tahu langsung ke Emily, gue nggak bakalan tau gimana suasana hatinya Emily sekarang. Sebaiknya nanti gue pura-pura tanya dulu sama Emily."


Seperti gayung bersambut, Tiba-tiba terdengar ada yang mengetuk pintu kamar Vina. Dan dari suaranya, Vina yakin jika itu adalah suaranya Emily.


"Tok...tok...tok..." Suara ketukan di pintu.


"Vina...Vin... udah tidur ya, bukain gue pintu dong." Pinta Emily.


Tak lama pintu pun terbuka, dan tampak wajah lesu Vina yang menahan kantuk.


" Hoaam, Ada apa Ly ? Lo belum tidur jam segini ketok-ketok pintu kamar gue." ucap Vina.


" Gue nggak bisa tidur Vin, gue boleh masuk nggak ?"tanya Emily.


"Boleh ayo masuk, gue juga belum bisa tidur dari tadi. Padahal mata gue tu udah ngantuk banget." Vina mempersilahkan Emily untuk masuk, dan langsung merebahkan badannya di atas kasur.


" Vin, gue mau curhat boleh nggak ? sebenarnya nggak cukup penting sih. cuma sedikit menggangu pikiran gue juga kalau nggak di ungkapin." Ujar Emily yang menundukkan kepalanya dan kemudian sedkit terisak menahan tangis.


Sontak saja Vina yang melihat Emily seperti itu terlonjak kaget. Ia langsung duduk menghampiri Emily.


"Eh Lo kenapa, Tiba-tiba nangis kayak gini, Lo kangen sama nyokap bokap atau adek Lo ?"Tanya Vina yang betul-betul panik.


Lalu Ia inisiatif mengambil segelas air di sebelah tempat tidurnya , yang kebetulan ia siapkan untuk jaga-jaga jika tengah malam ia merasa haus.


"Minum dulu agar lebih tenang," Vina menyodorkan segelas air kepada Emily.


"Terimakasih, Vin." Ucap Emily sambil meneguk air yang diberikan Vina.


Vina menganggukkan kepala, lalu mengelus punggung Emily, kemudian memeluknya agar merasa lebih tenang. Dia tidak akan bertanya lagi, karena jika ia bertanya pasti akan membuat Emily semakin sesak.

__ADS_1


"sebaiknya gue tunggu aja dia lebih tenang, biarkan saja dia yang memulai bercerita. Sebenarnya apa yang menyebabkan ini anak tiba-tiba menangis seperti ini." Bisik Vina dalam hati.


Suasana sedikit hening, setelah Emily merasakan dirinya sudah agak tenang, ia membuka pembicaraan.


" Vin, Lo inget nggak dulu gue pernah cerita sempet naksir sama cowok yang gue tabrak pas lagi Jogging di taman. Waktu itu gue pergi ke kamar mandi sendirian, Lo dan Bella beli makanan untuk sarapan."


"Iya gue inget, kenapa ? Lo kangen sama cowok itu. atau..-. Jangan bilang Lo nangis hanya karena cowok yang Lo nggak kenal itu Ly.!!! tuduh Vina.


"Bukan, bukan gitu. Makanya dengerin gue dulu dong." Tampak muka polos Emily memohon.


" Ya udah gue dengerin dulu dah cerita Lo. Lanjutkan ceritanya." Perintah Vina.


" Jadi ternyata cowok itu kak Aksa, Vin." Ucap Emily pelan.


"What ??? kok bisa kebetulan gini ya." Ceplos Vina.


Mendengar ucapan Vina, Emily langsung menatapnya heran.


Vina gugup mendengar pertanyaan Emily, namun ia mencoba tenang agar Emily tidak curiga. Di dalam hatinya ia berbisik.


"Pantesan kak Aksa minta gue deketin dia sama Emily, sepertinya dia juga suka sama Emily waktu pertama kali mereka ketemu."


"Terus yang bikin Lo nangis kayak gini tu apa Ly, kalau Elo emang suka sama ka Aksa ya udah pepet terus. Kan Lo yang bilang sendiri waktu itu Lo kagum dan penasaran sama tu cowok yang nabrak Elo." Vina terus memancing Emily, agar mendapat celah untuk bisa mendekatkan Aksa dengan Emily.


"Nggak bisa deh kayaknya Vin, gue udah minder duluan. Gue sadar diri Vin, Gue ni nggak pantas buat ka Aksa. Dia itu baik, anak orang terpandang, Sholeh, ahhhh perfect deh pokoknya." Emily mendengus pasrah.


"Emmm...jadi yang buat Lo nangis itu Lo sedih karena takut kak Aksa nggak bisa terima lo kalau dia tau keadaan Lo yang sebenarnya, gitu.!!"


Emily mengangguk, wajahnya tampak pasrah dan lesu sekali.


" Tapi, gue harus segera menghilangkan perasaan kagum ini sebelum benar-benar berubah jadi cinta Vin. Gue nggak mau ujung-ujungnya nanti seperti kisah gue sama Dannis." Emily menangis kembali dipelukan Vina.

__ADS_1


"Gue ngerti banget di posisi Lo,Lo sayang dan menginginkan orang yang sesuai dengan kriteria Elo. Tapi, saking sayangnya, Elo nggak mau buat orang yang Elo sayang itu nyesel ngedapetin Elo." Vina memberikan pendapat apa yang ia mengerti dari perasaan Emily. Tapi Elo juga nggak baik kalau terus merasa diri elo itu nggak baik buat siapapun, Ly. kalau Elo terus kayak gini kapan Elo bisa move on dari diri sendiri." Vina menyambung ucapannya.


" Karena gue takut, mereka nggak bisa menerima keadaan gue Vin. Bagaimana bisa kita menginginkan orang yang baik-baik untuk, kalau kita sendiri nggak baik-baik." Emily meninggikan suaranya.


"Ssst, jangan berisik nanti ada yang dengar." Vina merangkul Emily yang sudah mulai terlihat depresi kembali.


Vina memilih untuk tidak meneruskan, Vina akan mengantar Emily ke kamarnya dulu dan memintanya untuk istirahat terlebih dahulu agar bisa lebih tenang.


"Ayo gue antar ke kamar Lo, Lo butuh istirahat dulu. Nanti kalau sudah merasa lebih tenang kita lanjut cerita lagi. Besok kita ajak Bella juga, siapa tau dia bisa memberikan solusi."


Mendengar Vina akan bercerita hal itu kepada Bella, Emily menarik tangan Vina dan menggenggamnya erat.


"Gue mohon Vin, jangan cerita sama Bella. Dia nggak akan ngerti apa yang gue rasain sekarang. Justru nanti dia akan marah sama gue."Mohon Emily kepada Vina.


Vina menghela nafas panjang, kemudian mengiyakan permintaan Emily. " Ya udah sekarang gue anter Lo ke kamar ya ." Vina memapah tubuh Emily yang lemah karena depresinya kambuh.


Saat akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba Toni datang dan menegur mereka.


" Emily, Vina. Kenapa sudah larut begini kalian belum tidur ?" tanya kakek.


" Iya kek, mungkin karena belum terbiasa dengan Susana jadi agak susah tidurnya kek." Jawab Vina dengan cengar-cengir nggak jelas.


Lalu Toni memperhatikan wajah Emily yang sembab seperti terlihat orang yang habis menangis. Toni yang penasaran pun segera bertanya kepada kedua gadis itu.


" Kamu kenapa Emily, seperti habis nangis." Ucap Toni Curiga.


" Nggak apa-apa kek, ini tadi Emily habis mimpi buruk katanya, terus datang ke kamar aku nangis-nangis minta di temeni. Ya udah sekarang aku temenin Emily tidur dulu ya kek." Vina membuat alasan yang cukup masuk di akal.


"Ya sudah tidur sana, istirahat. Besok kalian juga harus kuliah."ucap Toni tanpa merasa curiga sama sekali.


" Baik kek, selamat malam." ucap Vina.

__ADS_1


"Selamat malam". Toni pun pergi untuk kembali ke kamarnya. kebetulan tadi dirinya habis dari ruang kerja yang jaraknya dekat dengan kamar milik ketiga gadis itu.


__ADS_2