Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Sebuah Kesaksian


__ADS_3

Setelah kemarin malam bercengkarama penuh kehangatan dengan sang papa, Pagi ini Emily kedatangan orang spesial lagi. Emily kedatangan pamannya yang bernama Tomy...


Tomy adalah adik kandung dari Papanya Emily. Tomy sendiri sudah di anggap seperti ayah kandung oleh Emily, karena sejujurnya dari dulu ia lebih dekat dengan pamannya ini.


Tidak ada satu rahasia pun diantara mereka. Termasuk mengenai kasusnya ini, Emily baru berani membuka mulutnya saat ditanya oleh uncle Tomy.


"Om Tomy...." teriak Emily berlari dengan cepat ketika melihat pamannya ada di depan gerbang. Ia berlari dari balkon kamarnya menuju lantai bawah dan langsung keluar halaman untuk menyambut paman nya.


Begitu sampai, ia langsung memberi salam,mencium tangan Om nya dan langsung memeluknya bergelayut manja.


"Om kenapa nggak kasih kabar mau kesini sama LiLy, kan bisa Lily jemput dulu di bandara." Lily merajuk.


"Om sengaja mau kasih surprise sama kamu, kalau kasih tau duluan itu namanya bukan surprise, tapi pemberitahuan. Hahahaha" mereka berdua tertawa bersama saling melepas rindu.


"Om bisa aja, Tante sama kak Septi nggak ikut ?"Emily bertanya karena baru menyadari kalau pamannya datang sendirian.


"Iya, bibi kamu kasian mau ninggalin kakakmu sendiri dirumah, walaupun ada asisten rumah tangga. kakakmu itu masih suka manja sama mamanya."


"Emmm, begitu. ya sudah ayo silahkan masuk om." Emily mempersilahkan Tomy untuk masuk dan duduk. Sementara itu dia bergegas ke dalam untuk memanggil mama dan papa nya.


Emily mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya dan dipersilahkan untuk membukanya. Emily pun membuka pintu, lalu masuk dan ia memberitahu mama dan papa nya.


"Maa....paa.... Om Tomy udah sampai, tuh lagi di ruang tamu." kata Emily.


"Ya tunggu sebentar nak, minta tolong sama bi Mira dulu untuk buatkan om Tomy minum dan makanan kecil dulu ya." titah mamanya.


"Baik ma, LiLy ke dapur dulu yaa mau cari bi Mira."


" Iya sayang," Kata Dila.


Emily pun langsung berjalan menuju dapur untuk meminta bantuan kepada bi Mira.


"Bibi, bi Mira.. where are you ?" Emily mencari ART nya itu tidak ada di dapur.


"Mungkin di ruang belakang lagi cuci atau setrika baju" batin Emily.


Emily mencari Mira lagi ke ruang tempat cuci dan setrika baju. Namun tidak juga ia temukan.


"Kemana ya bibi, disini juga nggak ada. Mungkin bi Mira lagi ada keperluan di luar, Sambil nunggu bibi ada baiknya aku buat sendiri saja minuman untuk Om Tomy."


Karena tak kunjung menemukan Mira, Akhirnya Emily membuat minuman dan menyiapkan sedikit camilan untuk Om nya.


Setelah selesai membuatnya barulah Mira datang. Dan terkejut melihat sang anak majikannya sedang membuat minuman sendiri.


"Aduh Neng, kenapa malah Neng yang buatin minum untuk tuan Tomy sih ? biar bibi aja." ucap Mira dengan cekatan menggapai kerjaan yang di kerjakan oleh anak majikannya itu.


"Nggak apa-apa bi, tadi Lily nyari bibi tapi bibi nggak ada. Ya udah Lily kerjain aja sendiri, gampang juga buatnya nggak susah. Kalau masak baru Lily masih perlu belajar banyak dari bibi."


"Emmmm, Neng Lily ini bisa saja. Maafin bibi ya Neng, tadi bibi keluar sebentar disuruh beli amplop coklat sama Tuan ke warung depan."


Emily heran mendengar ART nya disuruh membeli amplop. Ia mengernyitkan alisnya, sejenak berpikir dan bertanya kepada Mira.

__ADS_1


"Untuk apa papa minta bibi beli amplop coklat, mau dipakai apa sama papa, Bi ?"tanya Emily.


"Kalau itu bibi kurang tau Neng, Coba Neng tanyakan langsung sama Tuan. Nanti minuman sama makanannya biar bibi yang bawa ke depan." ucap Mira.


"Ya udah kalau gitu aku ke depan duluan ya bi, tolong semua ini bibi bawakan ke depan ya , terimakasih banyak sebelumnya bi."


"Baik non, sama-sama."


Emily langsung berjalan menuju ke ruang tamu, dia sangat penasaran untuk apa amplop coklat yang notabene nya untuk menyimpan berkas penting itu. Ketika ia hampir sampai Samar-samar ia mendengar pembicaraan Om, papa serta mamanya di ruang tamu.


"Emily belum tau mas, kalau hari ini sidang pertama pemberian kesaksian untuk menghukum bocah gemblung itu ?." tanya Tomy.


"Belum Tom, mas sengaja belum kasi tau dia, mas nunggu kamu, karena kamu yang paling tahu caranya berbicara dengan Emily, bahkan dia tidak pernah merasa canggung berbicara yang sangat pribadi kepadamu. Aku sempat berpikir, apa sebaiknya dia tidak usah hadir saja ya Tom di sidang kali ini ?"Ujar Roy.


"Ya nggak bisa paa, kan harus Emily sendiri juga memberikan kesaksian langsung." sambung Dila.


"Apaa, LiLy harus memberi saksi ? Lily nggak mau ketemu orang itu ma. Lily nggak siap, Lily takut ma ." sontak semua mata tertuju dengan suara nyaring itu.


"Lily..." tiga orang itu kaget dengan kedatangan nya.


"Sayang, kamu yang tenang, Nggak usah khawatir ya nanti disana ada paman dan papa kamu juga yang nemenin kamu." Ucap Tomy menenangkan Emily namun tetap saja gagal untuk menenangkannya.


Melihat kondisi putrinya, tiba-tiba muncul ide dalam benak Dila untuk mengatasi anaknya itu.


"Pa, mama tau siapa yang harus ikut ke pengadilan dan bisa benar-benar menenangkan Emily pa." pertanyaan Dila itu membuat suaminya merasa heran.


"Siapa ma ?" Roy menautkan alisnya.


"Dannis pa." celetuk Dila.


...***...


Setelah Roy dan Tomy setuju dengan ide Dila. Dila langsung menghubungi Dannis dan meminta nya untuk segera kerumahnya sekarang juga.


Tak menuggu lama, sosok yang mereka nanti itu pun tiba di kediaman mereka.


"Assalamu'alaikum, Om Tante..." Dannis langsung masuk saja karena kebetulan pintu utama tidak di tutup. Dan semua juga masih berkumpul di ruang tamu.


"Dannis, syukurlah kamu datang nak. Om sama Tante mau minta tolong sama kamu nak." Roy dengan memasang wajah memohon.


" Tolong apa om, tante. Selama Dannis bisa membantu akan Dannis bantu." Jawab Dannis dengan seutas senyum.


"Kami minta tolong temani Emily ke pengadilan sekarang, untuk memberikan kesaksian. Apa kamu mau nak ? Dila memohon.


Dannis tampak berpikir sejenak, dirinya sedikit khawatir jika harus ikut dan diketahui oleh Devan. Karena laki-laki itu mengenal dirinya, adik Devan adalah teman satu sekolah dengannya, Dia Khawatir jika Devan tahu dirinya kembali mendekati Emily, dia pasti akan mendapat ancaman. Mengingat Devan mempunyai banyak mata-mata yang siap menghabisinya. Namun demi wanitanya, Dannis mengesampingkan egonya, lalu menyanggupi permintaan mereka.


"Baik Om, tapi saya punya syarat. Syarat yang saya ajukan ini hanya untuk menjaga keselamatan saya dan kebaikannya Emily."


"Syarat apa Dannis ?, mengapa harus seperti itu ?" tanya Roy yang sedari tadi merasa janggal.


"Om, Devan itu kelihatannya saja polos namun dia mempunyai teman-teman yang tidak segan akan memberikan pelajaran jika ada yang berani mencampuri urusannya. Apalagi jika ia tahu aku kembali mendekati Emily, pastinya dia akan berbuat sesuatu yang diluar dugaan kita."

__ADS_1


"Baiklah, sebutkan saja apa syaratnya, kita tak cukup banyak waktu untuk segera berangkat."


"Nanti di pengadilan jangan ada yang menyebut namaku atau memanggil namaku. Dan nanti aku akan sedikit menyamar agar tidak ada yang mengenaliku, serta aku tidak akan ikut masuk ke ruang sidang."


"Baik, Om setuju dengan syarat itu. Yang penting nanti ada yang menenangkan Emily disana.


Dannis yang melihat wajah wanitanya pucat pasi Karena traumanya kambuh itu pun langsung ia hampiri.


"Ly, kamu yang tenang. Mas akan menemani mu satu hari ini. Dengarkan baik-baik apa yang akan mas katakan" Ujar Dannis seraya memegang dagu Emily lalu menaikkan wajahnya agar terlihat lebih jelas.


Kenapa harus takut kalau kamu merasa tak melakukan kesalahan, kecuali kalau kamu salah baru kamu takut. Sekarang papa tanya, kamu merasa salah nggak ? ujar Emily yang cengengesan.


" Tentu saja tidak, tapi aku hanya sedikit trauma kalau harus bertemu dengan Devan, mas." ungkap Emily dengan jujur.


"Nah kalau begitu kamu harus rileks, kamu tunjukkan kalau kamu sudah move on, kamu yang sekarang itu jauh lebih hebat daripada yang dulu. Kamu sendiri yang bilang sama mas kamu itu wanita hebat. Nah sekarang saatnya kamu tunjukkan semua itu dong." Ujar Dannis menyemangati Emily.


Mendengar kata-kata Dannis, semangat Emily kembali bangkit.


"Mas Dannis benar, kenapa aku harus takut. Aku harus buktikan kalau aku benar. Dan aku harus mampu membungkam mulut Devan. Dia harus menyadari kalau apa yang dia perbuat itu salah. Dan dia harus menerima hukuman yang setimpal."


"Emily... bagaimana, kamu siap ? tanya Tomy. "kalau sudah ayo kita berangkat." Ajak Tomy.


Akhirnya Emily, Dannis, Tomy, Dila serta Roy pun berangkat dengan menggunakan dua mobil. Dannis dan Emily terpisah di mobil milik Dannis.


"Kamu pakai masker ini ya, agar menutupi wajahmu. soalnya pasti nanti akan ada wartawan yang mencari berita." kata Dannis.


" Aku juga akan menyamar agar tidak ada yang mengenalku.


...***...


Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai ke tempat tujuan. Karena gedung pengadilan tidak jauh dari daerah tempat tinggal Emily.


Emily, sedikit gugup. Namun tangannya di genggam erat oleh Dannis. Dan hal itu membuat Emily sedikit merasa lega.


Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sidang dimulai, Emily memberikan kesaksian dengan lantang seperti tanpa beban. Dan dewan hakim pun mempercayai sepenuhnya.


Tampak tatapan Devan sedikit pun tidak beralih untuk menatap wajah Emily. Dirinya masih sangat yakin jika sebenarnya Emily masih mencintainya.


Sidang pun selesai, Emily bisa bernafas lega. Namun tiba-tiba saja Emily serasa ingin buang air kecil, dirinya berpamitan sebentar mau ke kamar mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan suara seseorang. "Puas Lo sekarang, sudah membuat seseorang masuk penjara ha ?!!!"Tatapan mata orang itu sangat tajam seperti ingin membunuh saja.


"Lo siapa, gue nggak kenal ya sama Lo. Lebih baik Lo minggir kasi gue jalan, atau gue teriakin Lo maling ?!! Emily tidak takut bahkan berbalik mengancamnya.


"arkhhhhh, takut gue. tapi bohong!!! dengerin omongan gue baik-baik ya. Gue nggak akan biarin siapa aja bisa ngedeketin Lo. Lo tetep hanya milik Devan seorang. Siapapun yang berani ngedeketin Lo itu berarti dia cari mati sama gue." orang itu kemudian berlalu meninggalkan tempat itu setelah mengancam Emily dengan suara tawa yang menggelegar.


Degh....


Seketika pikiran Emily teringat pada sang Mantan tercinta.


Dannis...

__ADS_1


__ADS_2