Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Ancaman


__ADS_3

selamat membaca 📖


.


.


.


Pagi ini Emily berangkat sekolah dengan hati yang sangat gembira.


Hari ini dia dan adiknya diantar oleh sang papa langsung ke sekolah.


Tak bisa berhenti bibir mungil itu tersenyum karena mengingat-ingat momen bahagia tadi bersama sang papa.


Rasanya dirinya ingin cepat-cepat pulang kerumah lagi.


Flashback on


Emily sedang menyiapkan buku serta keperluan sekolah lainnya yang akan ia bawa ke sekolah nanti.


Setelah semua siap ia kemudian turun menuju ke lantai bawah, dimana semuanya sudah berkumpul untuk saratan pagi di meja makan.


Tapi iya datang bukan untuk ikut sarapan bersama melainkan hanya untuk berpamitan saja.


Belakangan ini Emily memang sering melewatkan sarapan bersama, karena enggan makan satu meja dengan sang papa.


Bukan karena dia membenci papa nya, Namun ia tak mau membuat papanya kurang nyaman karena keberadaannya.


Tapi hari ini berbeda, Saat Emily berpamitan serta mencium tangan kedua orangtuanya, Sang papa menyambutnya dengan hangat.


"Nak...putri papa yang paling cantik, sini sarapan dulu nak. Selesai sarapan kita langsung berangkat ke Sekolah. Hari ini biar papa yang antar kamu dan Alvin ke sekolah ya." Ucap Roy kepada putrinya.


Emily tercengang sejenak, iya merasa seperti terhembus semilir angin segar di pagi hari. Sapaan hangat yang begitu ia rindukan.


Tidak terasa air matanya mengalir tanpa diminta.


Bukan !!!, kali ini bukanlah air mata kesedihan. Tapi air mata bahagia.


Roy membuka lebar tangannya mengizinkan putrinya itu jatuh dalam dekapannya.


Emily yang melihat itu tanpa berpikir panjang langsung bergegas meraih tangan itu dan langsung memeluk sang papa.


Keluar seruak tangisan bahagia yang tak terbendung dari keduanya.


Ia peluk erat tubuh sang papa, papa nya pun segera menghujami kepala putrinya itu dengan kecupan hangat.


Ada rasa rindu yang mencair, ada rasa sesak yang terlampiaskan, ada suasana yang dulu membeku sekarang telah mencair.


"Pa, Lily sangat rindu sama papa, maafin Lily pa. Lily janji akan terus membuat papa bangga ,jadi anak yang baik buat papa, Ly sayang banget sama papa."


Roy kemudian melepaskan pelukannya, dan memegang dagu putrinya.


"Papa juga sangat merindukan mu sayang, maafkan atas sikap papa selama ini kepadamu ya nak. Papa sangka dengan bersikap seperti itu kamu bisa menjadi lebih mandiri, Lebih kuat, tapi ternyata itu malah membuat mu tersiksa nak.


Dila dan Alvin yang berada di sana tak terasa ikut menangis, dan kemudian ikut berpelukan juga.


" Papa sayang kalian semua, kalian adalah penyemangat hidup papa."


Flashback off...


Semily merasa bertambah percaya diri. Dia yakin orang-orang yang menyayanginya dengan tulus selalu ada untuk menguatkan dirinya, Walau sesuatu yang berharga itu takkan pernah kembali lagi.


Emily berjalan menuju kelas, Baru saja ia akan masuk, ada yang berteriak memanggil dirinya.


Emily melihat ke arah orang itu, yang ternyata Brian, teman sekelas Emily sekaligus yang ia Emily ketahui, dia adalah tetangga Devan.


"Brian, ada apa tumben banget dia pagi-pagi gini udah nyamperin gue." gumam Emily.


Emily tetap melangkah masuk ke dalam kelas tanpa menghiraukannya.


"Assalamu'alaikum.." sapa Emily kepada kedua sahabatnya Vina dan Bella yang kebetulan datang terlebih dahulu darinya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam." jawab keduanya, dan mereka saling berpelukan.


Emily langsung duduk dan ikut gabung dengan kedua sahabatnya itu.


Brian kemudian datang dan memecah suasana.


Brian datang dengan nafas tak beraturan. Ia langsung duduk di kursi sebelah Emily.


Sebelum mulai bicara, Brian mengatur nafasnya terlebih dahulu.


"Kamu kenapa, lari-lari begitu kayak orang dikejar setan aja." tanya Vina.


"Ini si Emily aku panggil-panggil bukannya di tungguin, malah di cuekin gitu aja." ketus Brian.


"Memang ya ada apa, tumben banget kamu nyari aku ?." Tanya Emily dengan penuh kecurigaan.


"Sorry aku nggak bisa ngomong disini, kamu ikut aku aja sekarang ke taman belakang sekolah." Pinta Brian.


"Nggak bisa gitu dong, kita berdua juga harus ikut kemana Emily pergi." kata Vina yang khawatir ada apa-apa dengan Emily.


Emily negakin kedua sahabatnya, lalu ikut dengan Brian menuju ke taman belakang sekolah.


Mereka duduk berteduh di salah satu pohon yang rindang disana.


"Kamu mau ngomong apa, buruan aku nggak mau lama-lama disini !."


Brian sedikit menghela nafas, lalu mengeluarkan sebuah surat dari dalam tas nya dan memberikannya kepada Emily.


"Surat apa ini ?" tanya Emily.


"Kamu baca aja nanti akan tau sendiri itu surat dari siapa, Dan aku juga hanya menyampaikannya saja. Kalau begitu aku tinggal ke depan dulu ya." kata Brian.


"Tunggu dulu." Emily menahan lengan Brian.


"Kamu dapat surat ini dari siapa ?" tanya Emily.


Brian kemudian mengurungkan niatnya untuk pergi, dan ikut duduk kembali bersama Emily.


Emily yang ditanya, seketika merasa seperti ada aliran listrik yang menyengat dirinya.


Darahnya serasa mendidih. Kenapa bisa tega Brian bertanya seperti itu, pertanyaan yang seakan mengundurkan dirinya, tanpa mencari tau versi dari dirinya.


"Silahkan kamu berpikir sesuai apa yang ada di pikiran kamu. Terserah kamu meilai aku seperti apa !!. Kalau pun aku jelasin, percuma juga kan kalau aku cerita panjang lebar tapi kamu hanya mau menerima cerita dari versi mereka ?."tegas Emily.


Emily langsung membuka surat itu, dan membacanya.


*Isi surat*


"Dear sayangku, Dari orang yang mencintaimu.


*Sayang, apa kabar ?


Aku harap kamu baik-baik saja.


Kamu sedang menguji diriku ya sayang ??


Kemana janjimu yang dulu tidak akan pernah meninggalkanku. Akan selalu setia bersamaku.


Apa kamu takut dengan papamu ?


kamu takut akan di usir dari rumah jika kamu tetap bersamaku ?


Tenang sayang aku akan melindungimu. Tetaplah bersamaku, jangan pernah mendua. Aku akan tetap setia disini sayang.


Aku disini mempunyai dua penawaran kepadamu sayang .


Pertama kamu bilang ke orangtuamu untuk mencabut laporan nya ini dan kamu akan aman.


Atau yang kedua,kamu tidak usah mencabut laporan ya tapi seluruh orang-orang disekolahmu akan tau dan menghina dirimu habis-habisan.


Aku harap kamu memikirkannya baik-baik*.

__ADS_1


Salam sayang dariku yang mencintaimu"


^^^Devan^^^


Devan sangat tau Kelemahan Emily, karena Emily tidak akan mungkin sanggup membuat kedua orangtuanya malu.


Dan tidak akan sanggup berbicara kepada papanya karena dia sangat takut papanya itu.


Mengetahui hal itu Emily meremas kertas tersebut lalu melemparkan nya ke arah Brian.


Brian yang dilempar terkejut, Emily yang Ia kenal sangat lembut dan sangat sopan santun itu bisa seperti itu.


Belum sampat Brian berbicara , Emily menyergahnya duluan.


"Apa ?!, kaget ?!."


Emily mendekati Brian dan mencengkram kuat Kerah bajunya.


"Kamu sampaikan ke dia, Aku tidak akan pernah takut dengan ancaman apapun. Justru dia yang harus takut dengan sebuah karma yang akan dia terima,atas apa yang sudah dia lakukan terhadapku. Seumur hidupnya tidak akan mendapat kan ketenangan. Aku tidak akan memaafkan dia sampai kapanpun."


Brian yang melihat Emily seperti itu tidak bergeming apapun. Brian berpikir ia akan mendengarkan cerita versi dari Emily nanti, setelah Emily merasa tenang.


Brian yakin pasti gadis di depannya ini sedang hancur, kalau tidak Emily yang Ia kenal tak akan bisa bertingkah sekasar ini.


"Baik, aku pergi dulu, kamu tenangin diri dulu disini." ucap Brian sambil berlalu memberikan kertas yang dilemparkan Emily tadi ke dalam genggaman tangan Emily


...***...


Di dalam kelas Vina dan Bella merasa khawatir sekali dengan Emily.


Karena mereka tau saat Emily mengingat peristiwa itu dia pasti akan menangis sejadi-jadinya layaknya seperti orang yang lagi depresi.


" Kira-kira apa yang akan dikatakan Brian kepada Emily ya, Vin. Aku khawatir banget sama Emily." kata Bella


"Aku juga Bell, khawatir banget Lily kenapa-napa. Secara Emosinya itu belum stabil. Gimana kalau susul dia ke belakang ?".


"Ide bagus, ayo Vin Lets Go !!!"


Bella dan Vina pun pergi mencari Emily ke taman belakang, Namun sebelum nya Ia berpapasan dengan Brian di tengah jalan.


"Eh Brian, Emily mana kenapa kamu jalan sendirian ?" tanya Vina.


"Emily masih di taman belakang, aku nggak tega lihat keadaan dia, mending kalian cepet samperin dia di belakang. Takut nanti dia kenapa-napa."


Mendengar hal itu, Vina dan Bella bergegas lari untuk menemui Emily.


Sesampainya disana mereka menemukan Emily sedang duduk dan menyandarkan kepalanya di salah satu pohon rindang.


"Ly, ada apa ?" tanya Vina dan Bella khawatir.


Vina memeluk Emily yang masih terisak itu dan menemukan surat di tangannya.


Vina mengambil surat itu dan memberikannya kepada Bella.


Bella membuka dan membaca surat itu.


Setelah membacanya Bella mengepalkan tangannya.


"Brengsek, berani-beraninya orang itu mengancam Emily, aku sumpahin biar orang itu busuk di penjara."


"Apa sih Bel, coba sini aku lihat."


Vina pun ikut membaca surat tersebut dan langsung meluk Emily.


"Ly, kamu lihat ke kita. Kamu yang tenang ya kita akan selalu ada buat kamu. kamu jangan takut ya ?!".


Emily menatap Vina dan Bella dengan senyum. Ia lalu memeluk keduanya.


"Terima kasih ya, aku sayang banget sama kalian. Kalian tenang aja, aku baik-baik aja. Aku sudah cukup kuat untuk mengatasi semua ini".


"Emmmm....Lily....Good ladies".

__ADS_1


Mereka bertiga berpelukan bersama.


__ADS_2