
Malam sudah larut, Namun mata Emily belum bisa dipejamkan. Pikirannya selalu terbayang wajah Dannis, kata-kata Dannis selalu terngiang-ngiang di telinganya.
Bantal yang dipakai nya mungkin sudah berapa kali iya bolak-balik, Ke kamar mandi berkali-kali, bahkan sampai turun ke lantai bawah untuk pergi ke dapur membuat secangkir teh agar bisa rileks dan segera bisa tidur, semua itu pun tak kunjung berhasil membuatnya tidur.
Jika mengikuti kata hatinya, sebenarnya ia masih sangat menyayangi Dannis, dan sangat ingin kembali merajut hubungan yang sempat terputus itu.
Namun entah mengapa hati kecilnya bertolak belakang, tak sejalan dengan apa yang ia inginkan.
"Andaikan saja mas, dulu kamu tidak lebih percaya dengan Delisa. Mungkin tidak akan seperti ini. Dan yang paling menyakitkan buatku, bisa-bisa nya kamu menjalin hubungan dengan nya dalam waktu yang tak lama setelah putus dari aku. Tapi nggak ada salahnya juga aku mencoba untuk menjalin kedekatan tanpa sebuah ikatan, mungkin seiring berjalan waktu aku bisa melupakan luka hatiku, Tapi rasa sakit itu terlalu mendalam."
Emily kemudian melirik ke arah ponsel miliknya. Ia ingin menghubungi Dannis, Dia ingin membuat kehebohan di sekolah.
Niat itu langsung ia laksanakan, satu pesan terkirim ke nomor Dannis.
Setelah itu Emily mengulas senyum.
"Baiklah kita lihat besok bagaimana kehebohan akan terjadi. hihihi... sekali-kali jahilin orang nggak apa-apa kan."
Emily melanjutkan bermain ponselnya, dan tanpa terasa ia tertidur pulas.
...***...
Di sisi lain, di sebuah kamar tampak Dila dan Roy belum tidur. Karena kebetulan malam itu Roy pulang agak larut ada pekerjaan di kantornya yang harus ia selesaikan.
Setelah menemani suaminya makan malam, serta bersih diri. Dila dan suaminya berbaring ke tempat tidur untuk beristirahat.
Namun saat suaminya akan memejamkan mata, Dila memulai percakapan.
"Pa, tadi Dannis kesini." Ucap Dila.
Mendengar ucapan Dila, Roy yang akan memejamkan mata sedikit terkejut dan langsung terperajat dari tidurnya.
Roy menautkan alisnya karena merasa heran.
"Siapa, Dannis ?" Roy bertanya kembali, ia ingin mendengar ulang ucapan istrinya.
Dila akhirnya ikut duduk, dan menghadapi ke arah suaminya.
"Iya pa, Dannis. Tadi anak itu kesini untuk bertemu Emily dan...."
Belum selesai Dila menjelaskan Roy malah memotong omongannya.
"Untuk apa dia kesini lagi ma, mau mentertawakan anak kita ?." ucap Roy dengan Mada yang sedikit terdengar kesal.
"Sabar dulu dong, mama kan belum selesai cerita."
"Hmmmm, iya maaf. Terus bagaimana ma ?."
"Iya Dannis itu kesini untuk meluruskan kesalahpahaman diantara mereka berdua, pa." Jelas Dila.
"Kesalahpahaman apa ? bukannya sudah jelas dia memutuskan Emily secara sepihak." ucap Roy bertambah geram dengan cerita istrinya itu.
__ADS_1
"Kalau itu mama juga kurang tau pa, waktu Dannis mau ngejelasin ke mama,mama menolaknya karena mama pikir itu bukan urusan mama. Mama nyuruh Dannis untuk ngejelasin langsung sama Emily."
"Aku rasa hati Emily sudah terlanjur sakit hati ma, mama tau sendiri anak kita punya prinsip yang begitu kuat. Dia pernah ngomong sendiri kan sama kita, pas kita bercandain dia waktu itu."
"Iya mama ngerti, tapi Dannis itu sudah sangat dekat sama kita pa, dan kita juga tau anak itu sebenarnya sangat baik. Hanya ada kesalahpahaman saja di antara mereka."
"Iya itu menurutmu, siapa tau menurut Emily berbeda, ma. Sudahlah ma, kita serahkan semuanya sama Emily saja, kita nggak usah iku campur urusan mereka.
"Ya tapi kalau boleh jujur,mama masih sangat berharap mereka bisa kembali seperti dulu lagi pa."
"Ya sudah kita minta yang terbaik saja buat Emily, lagian masa depan anak kita itu masih panjang ma, siapa tau kan nanti Emily bertemu dengan seseorang yang lebih baik lagi dari pada Dannis."
"Iya pa, siapapun dia, semoga nanti Emily bisa mendapatkan laki-laki yang baik yang bisa menerima dia dengan segala kekurangannya ya pa."
"Aamiin, ya sudah sekarang kita istirahat. Besok papa harus berangkat ke kantor lebih pagi ma."
mereka berdua pun beranjak tidur, lampu kamar dimatikan, dan keduanya pun terlelap.
...***...
Pagi ini nampak sebuah mobil sport berwarna merah terparkir di halaman depan rumah Emily, yang tidak lain adalah milik Dannis.
Kemarin Emily meminta Dannis untuk menjemputnya kerumah untuk mengantarkan dirinya ke sekolah.
"Sudah Sarapan nis ...".Tanya Dila kepada Dannis.
"Sudah Tante, sebelum berangkat kesini."jawab Dannis.
"Emmmm...anu...ma...."Emily bingung mau menjawab apa.
Namun Dannis yang membantu menjawabnya.
"Nggak apa-apa Tante, aku juga seneng kok bisa antar Emily ke sekolah." Jawab Dannis dengan senyuman.
"Ya sudah kalau begitu, kalian hati-hati ya. Alvin kamu ikut sama kak Dannis juga kan ?" Dila melihat ke arah putranya seperti memberikan sebuah isyarat.
Seakan mengerti dengan isyarat sang mama, Alvin langsung menyetujui apa yang diucapkan oleh mamanya.
"Iya dong, ma. Aku udah lama juga nggak ngobrol dengan kak Dannis. Iya kan kak ? Ujar Alvin.
" Iya bener,Vin. Nanti kalau ada waktu kita nongkrong lagi yuk." Jawab Dannis.
"Wah, beneran ini kak ?? udah lama kak aku nggak nongkrong, lama-lama jenuh juga sih diem dirumah terus."
"Ya salah mu lah, anak cowok udah kayak anak perawan aja. Di kamar aja kerjaan nya." ledek Emily ke adiknya.
"Yeee, enak aja ngeledek aku kayak anak perawan, huuuuu." Emily dan Alvin saling lempar kacang yang ada di meja.
"Eh...eh..eh..udah malu dong ada tamu disini, kok malah ribut di meja makan." kata Dila melerai kedua anaknya.
"Lily udah selesai ma, Alvin juga udah selesai tu kelihatannya. Kita berangkat dulu ya." Ucap Emily.
__ADS_1
"Ya sudah,kalian hati-hati ya. Dannis tante titip anak-anak tante ini ya."
"Baik, insyaAllah tante."
...***...
Tak menunggu lama, mereka sampai di depan sekolah, Kebetulan seluruh siswa sedang berkumpul di depan gerbang utama, karena kebetulan sekolah sedang mengadakan kegiatan gotong royong.
Seluruh mata tertuju ke arah mobil itu, dan tertegun melihat ketampanan sang pengendara mobil.
"WOW ganteng banget." Celetuk salah satu siswi.
Dan diantara kerumunan itu ada Delisa in the gengs.
Delisa tersenyum dan bergegas melangkah untuk menghampiri. Dia yakin sang pemilik akan menghampiri dirinya.
Namun baru selangkah Ia maju Ia dibuat tercengang oleh pemandangan yang ada di depannya.
Delisa melihat Emily dan Alvin sang adik turun dari mobil itu. Bahkan Dannis dan Emily tampak begitu mesra saling melempar senyuman satu sama lainnya.
Dannis mengantar Emily sampai ke depan pintu gerbang.
"Hai Del, apa kabar ?sapa Emily pura-pura tidak mengerti kalau gadis di depannya itu sedang sakit hati.
Bukannya Delisa menjawab sapaan Emily, dirinya malah tersenyum manis ke arah Dannis. Delisa pun memeluk lengan Dannis.
"Kak Dannis, apa kabar ? Kak, maafin Delisa ya. itu semua Delisa...." Belum selesai Delisa berbicara Dannis memotongnya.
"Lily, aku balik dulu ya. Nanti kalau pak sopir nggak bisa jemput biar aku yang jemput kesini."Ucap Dannis mengelus kepala Emily dan berlalu menghampiri Alvin.
"Vin, mas pulang dulu ya."
"Iya, terimakasih banyak ya mas hati-hati." Ucap Alvin yang langsung bergegas masuk ke dalam sekolah. Ia sangat enggan ikut campur urusan kakaknya.
"Kak, kak Dannis.." Teriak Delisa.
Dannis tetap masuk ke dalam mobil tanpa memperdulikan teriakan Delisa, Dan pergi berlalu.
"Duh, pagi-pagi udah ada yang sarapan kacang nih, Emang enak dikacangin ?Makanya kalau ingin punya cowok baik itu harus dengan cara yang baik dong, jangan dengan cara kotor. Sekuat apapun kamu mau merebutnya, Jika hati tak berpihak ke kamu maka kamu tidak akan pernah bisa memilikinya seutuhnya. Kebenaran akan selalu menang, say."Emily menyunggingkan bibirnya tersenyum puas sudah berhasil membuat Delisa terbakar cemburu.
Delisa yang mendengar hal itu mencengkram kuat genggaman tangannya namun tak mampu berbuat apa-apa karena disana ada banyak orang.
Emily pun pergi meninggalkan Delisa sendiri.
"Kurang ajar kamu Emily, sudah berani kamu menabuh genderang. Awas saja, Aku akan kembali merebut Dannis dari tanganmu." Dengus Delisa kesal.
______________________
Hai kakak semua, author harap nggak bosan ya dengan kisah Emily.
Mohon dukungannya dengan like, komen, dan Taburan bunganya🌹🌹🌹 agar author lebih semangat💃💃
__ADS_1