Mawar Tak Bermahkota

Mawar Tak Bermahkota
Debaran hati


__ADS_3

Hari ini pertama kalinya ketiga gadis cantik itu masuk ke kampus. Mereka bertiga belum sah menjadi mahasiswi di Universitas itu, melainkan masih harus mengikuti satu tes lagi, Dan dari info sebelum-sebelumnya banyak yang mundur karena adanya tes itu, mereka memilih untuk tidak melanjutkannya meskipun mereka sudah lolos di tahap sebelumnya.


Walaupun mereka bertiga belum sah menjadi mahasiswi di kota pelajar tersebut, Mereka memang sengaja lebih dulu memutuskan menetap di Jogja supaya tidak banyak menghabiskan uang orangtua mereka, hanya karena sekedar bolak balik Surabaya-jogja saja.


Hari ini mereka berangkat bersama. Namun di tengah perjalanan Bella yang turun lebih dulu, karena letak kampus Bella lebih dekat dibandingkan kedua sahabatnya.


" Gue masuk duluan ya, Selamat meyambut hal baru." ucap Bella yang terlihat semringah untuk mengikuti langkah selanjutnya sebagai pertanda bahwa dia sudah resmi sebagai mahasiswa di fakultas kebidanan disana.


"Iya , Semangat juga buat Lo, Bel. Kita berangkat dulu. Sampai ketemu lagi dirumah ya." ucap Vina dan Emily.


"Iya, hati-hati." ucap Bella yang sudah ditinggalkan laju mobil kepunyaan Toni yang diperuntukkan kepada mereka sebagai sarana pergi kemana saja yang mereka mau.


" Vin, perasaan gue kenapa sering nggak enak gini ya, bahkan dari sebelum berangkat kesini, Vin." Ucap Emily.


"Nggak enak gimana, Ly ? perasaan lo aja kali.Istighfar yang banyak, dan harus tetap semangat dong, gue aja yang masih mengikuti tes berikutnya untuk menentukan lulus


atau nggak nya aja santai, harusnya Lo bisa lebih santai dari gue, secara Kan lo sudah pasti keterima karena masuk jalur undangan prestasi, sampai disana pastinya lo tinggal duduk manis aja." Ucap Vina menghibur.


"Emang tes yang terakhir di fakultas Lo apa sih Vin." tanya Emily.


" Kalau yang gue tau di Fakultas gue itu nanti ada yang namanya di tes keperawanan, Ly. nanti yang ketahuan udah nggak perawan mungkin akan diberikan beberapa pengarahan atau bagaimana keputusannya juga gue kurang paham." lugas Vina.


"Degh,


jantung Emily berdentak lebih kencang. Seakan terasa mau lepas. Vina yang juga menyadari ucapannya itu pun seketika mematung.


"Vin, Lo sadar nggak sih. Apa mungkin hal ini yang menjadi penyebab hati gue selalu merasa nggak enak Vin, Gue mau pulang aja Vin." Emily langsung panik dan menarik-narik tangan Vina ingin agar laju mobil itu segera diberhentikan.


"Ly, Lo tenang dulu kenapa sih. Jangan panik gitu. Gue lagi nyetir ini, harus fokus. Nanti kalau kita nabrak gimana ?." Ucap Vina yang juga ikut panik.


" Iya gue takut aja, Vin. Gue takut nanti di prodi gue juga di tes seperti itu bagaimana. Gue nggak mau semua orang tau kalau gue udah nggak perawan." Kepanikan Emily semakin terlihat memuncak, Vina yang melihatnya dengan segera mengemudikan mobil itu untuk minggir ke tepi jalan l


alu berhenti.

__ADS_1


" Sabar, nggak boleh kebiasaan panik gitu Ly. Kan belum tentu juga di fakultas Lo ada tes seperti itu. Yang tenang, kalau Lo terus berpikir buruk ,ya Lo nggak akan bisa tenang. Udah Ayo positive thinking aja." Vina berusaha meyakinkan Emily dan membuatnya agar lebih tenang.


Emily menarik nafas panjang lalu mengeluarkan nya lagi, begitu seterusnya sampai ia merasa tenang.


" Tapi gue bener-bener takut Vin, gue nggak mau jadi bully an orang-orang lagi." aura kecemasan semakin tampak di wajahnya.


" Dengerin gue baik-baik ya, dulu lo sendiri yang bilang kalau lo nggak akan terpengaruh tentang penilaian buruk semua orang , karena tidak semua orang menyukai kita dan memaksakan kehendak kita sama orang lain. Nggak usah takut kalau kita memang merasa benar. Lo sendiri kan yang bilang !!! Emily menganggukkan kepalanya.


" Kalau begitu kenapa harus seperti ini lagi ?" Ucap Vina penuh dengan penekanan agar sahabat nya itu kembali percaya diri.


Mendengar ucapan Vina, Emily diam tak bergeming. Ia berusaha mencerna setiap perkataan sahabatnya itu yang memang benar. Dia harus lebih bisa mengendalikan emosi dan perasaan nya.


" Dengerin gue,-.Kalaupun tes itu nanti ada dan Lo bisa ngejelasin kenapa Lo sudah nggak suci lagi, gue yakin pasti semua pada ngerti. Nggak bakalan Lo ditolak gitu aja, mereka semua itu orang berpendidikan, yang segala sesuatu nya mereka pikirkan baik-baik."


Emily hanya bisa menganggukkan kepalanya, tidak bisa menyangkal pernyataan Vina. Terkadang dia merasa paling bodoh kalau sudah masalah seperti ini.


"hemmmm..." Emily menghembuskan nafasnya perlahan-lahan mengatur suasana hatinya.


" Sudah lebih tenang ?." selidik Vina.


Gerbang besar sudah tampak di depan, Wajah Vina begitu semringah melihat universitas yang sangat ia impikan sedari masa SMA dulu. Langkahnya masih diikuti oleh Emily yang masih terlihat agak sedikit canggung untuk masuk kesana.


Saat akan berjalan masuk jalan menuju fakultas mereka masing-masing, Emily dikejutkan dengan tangan yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Sontak saja Emily melihat ke arah tangan itu, dan berapa terkejutnya ia melihat siapa sang empunya tangan tersebut.


" Kak Aksa.-" Ucap Emily yang sedikit heran dengan kedatangan Aksa yang begitu tiba-tiba.


" Kakak ngapain kesini, sedang ada keperluan juga ?" Emily menimpali pertanyaan nya kepada Aksa.


Aksa terkekeh geli melihat ekspresi wajah Emily tersebut. Dan langsung mengusap-usap kepala Emily dengan lembut sebagai ungkapan yang ia sendiri belum terlalu mengerti tentang perasaan yang ada dihatinya. Yang ia tau, hatinya akan merasa tenang jika sudah bertemu dengan Emily.


Pandangan mereka saling bertaut, tatapan mata Aksa yang menyiratkan penuh kasih sayang namun sama sekali tidak bisa diartikan oleh Emily. Kalau pun Emily bisa mengartikan bisa dipastikan ia akan membuang jauh-jauh perasaan nya agar tidak kecewa jika suatu saat nanti Aksa tau keadaan dirinya sebenarnya.


" Kak, LiLy nanya Kak Aksa ngapain kesini. Ada keperluan atau bagaimana ? pertanyaan Emily menyadarkan lamunan Aksa yang sudah melayang entah sejauh mana.

__ADS_1


"Emmm, anu..tadi..Emm..."Aksa bingung mau menjawab apa, karena kalau boleh jujur sebenarnya ia kesana hanya untuk melihat Emily sebelum ia berangkat ke kantor. Tapi ia tidak mungkin berkata jujur kepada Emily.


"Ka Aksa lmau nganter barang aku yang ketinggalan kan, untung aja kak Aksa kesini." sergah Vina yang sengaja menutupi kegugupan Aksa.


"Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu aku duluan masuk ya." pamit Emily.


"Iya duluan aja nanti aku nyusul," jawab Vina yang langsung berjalan menarik tangan Aksa menuju mobil milik Aksa yang terparkir di depan kampus.


Aksa hanya mengikuti saja tanpa berkata apapun, yang terpenting sekarang ia merasa sedikit lega sudah bisa melihat Emily hari ini. Dan itu akan menambah mood booster nya dalam bekerja.


"Kakak ngapain kesini, untung saja tadi aku ngeliat kakak datang kesini, coba kalau nggak, mau jawab apa tadi ?." ketus Vina kesal dengan Aksa.


Aksa hanya menanggapinya dengan cengengesan. " Terimakasih ya adek ku yang baik. Kakak kesini tu hanya ingin lihat Emily dan mau ngucapin semangat eh kamunya malah narik kakak kesini." kelakarnya.


"Ya tapi waktunya nggak tepat, hari ini itu mood nya Emily lagi nggak bagus."ujar Vina


"Nggak bagus gimana, ya udah kakak mau samperin aja dia lagi. kakak mau nemenin dia sampai moodnya bagus." Ucap Aksa yang kembali berjalan untuk menyusul Emily.


"Eits..eits..No kakak. Please jangan sekarang !!!" tegas Vina sambil menghalangi jalan Aksa.


"Oke tidak sekarang, tapi nanti malam ya. Kakak minta tolong ajak Emily jalan."


Vina mengernyitkan keningnya, dan menautkan alisnya.


" Kemana ?"


"Di manglung cafe jam 07.00 malam! Oke, no tapi no debat dan no lainnya!" ucap Aksa seraya mengacungkan jempolnya dan mengerlingkan satu matanya kepada Vina sambil berjalan masuk kedalam mobilnya.


"Tapi kak,-" belum selesai Vina berbicara Aksa sudah melajukan mobilnya dengan cepat


"Is dasar, emang susah ya kalau orang sudah terlanjur bucin." gerutu Vina.


Sekarang yang menjadi keluhannya bagaimana dia bisa merayu Emily agar mau dinner dengan Aksa.

__ADS_1


"Ck, sungguh bikin diriku mumet." Vina menggerutu.


__ADS_2