
Pagi-pagi sekali Aksa datang ke rumah kakek Toni, tentu saja untuk menjemput sang pujaan hatinya. Toni yang sedang santai membaca koran di halaman depan rumah nya itu menyadari kedatangan Aksa.
Toni sedikit merasa heran kenapa Aksa bisa datang kerumahnya sepagi ini. Ia melihat pemuda tampan itu sedang berjalan menghampiri dirinya.
" Assalamu'alaikum kek," sapa Aksa.
" Wa'alaikumsalam, ada apa nak tumben sepagi ini sudah kesini ?" selidik Toni.
"Aksa kesini mau izin untuk menjemput Emily dan mengantarnya berangkat kuliah kek."
Toni mengernyitkan alisnya, seraya menatap Aksa dengan serius.Aksa membaca pikiran pria paruh baya di depannya itu mungkin akan berpikiran aneh terhadapnya.
" Kalau tertarik sama anak gadis orang itu benar-benar di jaga, Cintai dengan sepenuh hati bukan mencintai sesaat karena nafsu, jika kau benar-benar mencintai nya maka kau tidak akan pernah menjamahnya karena kau yakin akan menjadikan ratumu nantinya." Ujar Toni memberi nasehat kepada Aksa.
" Inggih kek, insyaAllah Aksa akan menjaga Emily dan tidak akan menyentuhnya sembarangan sampai ia halal untuk Aksa kek."Tegas Aksa.
Tanpa mereka sadari ada hati seorang gadis yang merasa bergejolak hebat dengan mata yang tak henti mengeluarkan air mata. Betapa hatinya tersentuh oleh ucapan Aksa yang membuat hatinya berkecamuk.
"Apakah aku benar-benar pantas untuk kak Aksa, dirinya begitu baik dan tulus. Tidak sanggup rasanya aku terus membohonginya dengan keadaan ku yang seperti ini. Haruskah aku berterus terang saja dengan kak Aksa ? kak Aksa bisa menerima atau tidak, itu semua aku pasrah Ya Allah, aku benar-benar tidak sanggup membohongi laki-laki baik sepertinya. Hati Emily berkecamuk hebat.
Ketika sedang asyik bercakap dengan Aksa, Toni melihat Emily yang berdiri mematung di bawah tangga. Dengan segera Toni mengkode Aksa kalau yang di tunggu sudah ada di belakangnya. Dengan senyum mengembang Aksa melihat wajah Emily yang teduh, cantik nan anggun Dengan balutan tunik berwarna hijau zamrud senada dengan warna hijabnya. Emily berjalan menuju ke teras depan tempat kakek Toni dan Aksa berada.
" Kek, Emily izin ya untuk berangkat kuliah sama kak Aksa. Tadi nya mau mengajak Vina dan Bella sekalian, tapi mereka menolaknya, sehabis pulang kuliah mau pergi ke salon dulu jadinya pulangnya agak lama katanya." Emily meminta izin.
"Iya nak, kamu hati-hati ya. Jaga diri baik-baik, kalau Aksa aneh-aneh mengadu saja sama kakek nanti supaya enak kakek gantung dia tu dibawah pohon.", ujar kakek dengan nada bercandanya.Perkataan Toni mengundang tawa Aksa Dan Emily.
" Baiklah kek,kami pamit dulu, Assalamu'alaikum." Ucap Emily.
__ADS_1
" Wa'alaikumsalam, hati-hati nak." Ujar Toni.
Aksa meminta Emily berjalan lebih dulu, Kemudian Aksa membukakan pintu mobilnya untuk Emily tentu saja semua itu tak lepas dari pandangan si kakek. Lima menit kemudian mobil mereka pun berlalu pergi.
Suasana di dalam mobil hening tanpa ada yang memulai pembicaraan, Aksa menatap lekat wanita yang berada di sebelahnya itu, lalu tersenyum sendiri. Emily masih diam tanpa kata bahkan dirinya tidak memperdulikan, lebih tepatnya tidak sadar jika dirinya sekarang terus dipandangi oleh laki-laki yang berada di sebelahnya. Aksa lalu membawa laju mobil ke pinggir jalan dan memberhentikan mobilnya, Emily masih juga tidak menyadarinya.
" Sayang, kamu kenapa dari tadi diam saja. Kamu baik-baik aja kan ?." tanya Aksa heran, namun Emily masih saja diam tak menggubris pertanyaan dirinya. Aksa mengambil inisiatif untuk mencubit pipi Emily yang masih berlapis hijab di sisi pinggir dengan gregetnya.
" Awww, kakak sakit.!!!" gadis itu meringis kesakitan. " Kakak apaan sih kurang kerjaan banget nyubit aku kayak gitu." Emily memajukan bibirnya manja dengan sesekali meringis merasakan cubitan Aksa.
Aksa hanya tersenyum simpul melihat nada bicara Emily yang manja." Habisnya kamu dari rumah diem aja nggak ada omongnya sama sekali, bahkan aku berhenti dan aku bicara aja kamu nggak denger. Kamu ngelamuni apa."Selidik Aksa.
" Mana ada aku ngelamun, kak Aksa aja yang cari kesempatan supaya bisa pegang-pegang pipi aku." ketus Emily.
Aksa yang mendengar alasan wanita itu langsung mendekatkan dirinya hingga hanya berjarak beberapa senti saja. Bahkan Emily bisa merasakan hembusan nafas Aksa yang berbau mint, aroma parfum Aksa yang meskulin pun menyeruak di hidungnya. Emily merasakan detak jantungnya tidak beraturan, dengan spontan ia sedikit menggeser posisinya.
Aksa menggigit bibirnya menahan senyum, dan kemudian tergelak tak sanggup menahan tawanya. Melihat Aksa seperti itu tentu saja membuat Emily semakin cemberut.
"Udah nggak usah cemberut gitu, nanti kakak bisa khilaf Lo. kamu kenapa, kamu mikirin apa sayang ?." Ucap Aksa seraya meraih tangan kekasihnya.
" Aku mau membahas sesuatu yang penting kak sama kakak, tapi aku minta sama kakak, setelah kakak mendengarkan semuanya kakak janji nggak akan marah dan apapun keputusan kakak, aku mohon jangan sampai ada yang tau dengan semua yang akan aku sampaikan." Matanya menatap serius manik mata Aksa yang kecoklatan itu.
Aksa agak sedikit penasaran, namun dirinya berusaha tetap terlihat tenang.
"Kamu mau ngomong apa sayang ? kakak siap dengerin, dari kemarin ngomongnya begitu terus tapi nanti ujung-ujungnya beda." ucap Aksa sambil mengelus kedua tangan Emily.
"Kak, aku pasrah atas keputusan kakak nanti yang terpenting sekarang aku ingin jujur sama kakak. Sebenarnya aku ini sudah tidak suci kak." Emily tertunduk lemah dengan sekuat tenaga menahan air matanya.
__ADS_1
DEG...
Tiba-tiba saja Aksa merasa jantungnya seperti berhenti berdetak, bagaimana bisa wanita di depannya ini berkata seperti itu.
" Sayang kamu bicara apa, jangan bikin kakak bingung." ujar Aksa.
" Aku serius kak, keadaan ku tidak seperti yang kakak pikir. Tapi semua yang terjadi padaku bukan atas kehendak ku kak." ucapnya.
Emily mulai menceritakan kronologi pahit yang ia alami dulu semasa SMA nya dengan berlinangan air mata. Sementara Aksa menjadi pendengar setia sambil sesekali mengusap air mata sang kekasih. Aksa hanya diam, ia ingin mendengar semua cerita Emily tanpa memotong cerita nya sedikit pun.
Emily menarik nafas panjang, lalu kembali menatap Aksa." Aku sudah menceritakan keadaan ku yang sebenarnya kepada kakak, aku serahkan semua keputusan sama kakak. Aku pasrah kak, karena aku menyadari keadaan ku." ujar Emily dengan isakan tangisnya.
Suasana hening, Aksa masih terdiam seraya menatap lekat wajah sang kekasih yang kini terlihat sembab karena tangisnya. Jujur dirinya sedikit terkejut mendengar semua pengakuan Emily. Namun entah mengapa ia merasa perasaan nya tidak berkurang sama sekali terhadap kekasihnya itu.
"Sayang, aku sungguh kagum dengan kejujuran yang kamu lakukan. Sungguh hal ini luar biasa bagiku, karena mungkin jarang ada wanita seberani dirimu. Namun satu hal yang harus kamu ketahui, cukup cerita ini hanya kamu ceritakan sama kakak saja, jangan kamu ceritakan semua ini pada lelaki manapun,karena ini aib mu sayang. aib yang harus kamu tutup rapat, Karena Allah selalu menutup rapat aib setiap hambanya maka jangan sekali-kali kamu yang membuka aibmu sendiri sayang."
" Aku mengerti kak, tapi cepat atau lambat aku harus menjelaskan nya sama kakak lebih dulu sebelum kakak mendengar hal ini dari orang lain, aku tidak mau kakak anggap aku sebagai wanita penipu." Ucap Emily yang semakin terisak .
" Sayang, dengerin kakak. Kakak mencintaimu dengan setulus dan sepenuh hati karena Allah. Apapun keadaan mu, bagaimana pun kamu yang kakak lihat kamu yang sekarang, bukan masa lalu kamu. Kamu harus percaya semua hal itu, setiap orang mempunyai masa lalu sayang, namun setiap orang yang mempunyai masa lalu kelam bukan berarti dirinya tak memiliki masa depan yang cerah." Ucap Aksa.
" Jadi kakak..-" Ucapan nya terhenti karena bibirnya di tutup oleh jari Aksa.
" Tidak usah diteruskan, kakak menerima mu dengan segala kekurangan dirimu. Aku mencintaimu karena keridhoan Tuhanku bukan karena nafsuku. Dan kamu dengarkan ucapanku ini baik-baik ya, cepatlah selesaikan pendidikanmu, lalu aku dan keluargaku akan datang melamarmu." ucapan Aksa sungguh membuat Emily lega.
Perkataan Aksa membuatnya merasa sangat tentram, bahkan masih merasa tidak percaya atas kebesaran hati seorang Aksa untuknya.
" Sudah ya, kita jangan bahas ini lagi dan jangan pernah meragukan perkataan ku lagi, kubur semua masa lalu, jadikan hanya sebagai pelajaran bukan sebagai kenangan. Masa depanmu akan kamu raih bersamaku."
__ADS_1