
“Aduh!” seorang gadis memekik lantaran terseok turun dari angkot. Tak sedang buru-buru tapi kakinya malah tergelincir di pintu angkot, membuat ia hampir terperosok ke trotoar.
Pak sopir dan beberapa penumpang mengulum senyum, sedang si tokoh utama malah cengar-cengir menahan malu seraya menyodorkan beberapa rupiah ke tangan kernet.
Ia menghela napas beberapa kali, meredakan gemuruh jantung akibat tragedi yang hampir saja mencela paginya. Hidung mungil itu menyesap udara sejuk Kota Intan sebanyak mungkin.
Sambutan embun pagi mengiringi ia dalam mengambil langkah mantap melewati gerbang besar SMA Garut.
Lea, begitulah teman-teman memanggilnya. Gadis dengan nama lengkap Kiandra Azalea itu memainkan bola mata ke kiri dan ke kanan. Tatapan ia edar untuk menelaah lingkungan sekolah. Masih sepi.
Mendapati segerombol geng siswi berkumpul di teras kelas, sekilas mencuri dengar pembicaraan mereka tak lepas dari obrolan mengenai cowok-cowok populer pangeran sekolah. Bibir Lea hanya menyunggingkan senyum tipis, dan lewat begitu saja. Tak tertarik dengan pembicaraan unfaedah tersebut.
Satu-satunya hal paling menarik dimata Lea ialah seorang siswa berpenampilan kumal sedang celingukan di tepi lapangan. Otaknya dalam sedetik langsung memberi perintah untuk menginjak rem tak kasat mata pada telapak sepatu. Langkah gadis itu terhenti di ujung koridor, menahan napas ketika siswa itu tengah sibuk mengoleskan gel pada rambut hingga membuatnya kaku.
Rizal, anak paling badung se-antero. Tukang cari gara-gara dan paling hobi berurusan dengan guru BP. Naas, ia naksir berat pada Lea dan terlalu gencar mengejar gadis itu. Tapi Lea, jangankan menerima perasaan Rizal. Melihat punggung lelaki itu saja sudah membuatnya merinding disko.
Lea berbalik dengan tangan bergerak kesana kemari mencari jalan memutar agar bisa menghindari Rizal. Sampai akhirnya ia menyeret kaki ke kebun samping sekolah. Rute yang lumayan jauh, namun tak masalah selama bisa luput dari atensi Rizal. Untung lelaki itu sibuk memainkan ponsel sehingga ketika Lea lewat tepat di belakangnya, ia tak sadar.
“Hai girl, mantul nih semangatnya. Pagi-pagi gini udah rajin aja nyapu kelas.” Lea berbasa-basi pada Yuni yang sibuk mengerjakan tugas piket, padahal ia hanya mengalihkan perhatian dari kegugupannya. Gadis berambut pendek di depan Lea mendengus sambil berkacak pinggang.
“Mantul, mantul. Kamu juga piket, nyadar diri keleus.” gerutu Yuni membuat Lea nyengir kuda. Ia lupa.
Yuni menjinjing sapu dan bergeser ke belakang Lea, mendorong gadis itu menuju bangku mereka. Lea menaruh ransel, sedang Yuni mengambilkan sapu yang sejak kemarin bertengger di sudut kelas untuk Lea gunakan. Sedikit kesal menjejalkan alat kebersihan tersebut ke tangan teman sebangkunya.
“Wow wow wow sabar Ibu Negara!” Lea bergegas menggelung rambut sepinggang yang hampir kering, lantas menyambar sapu sebelum Bendahara Kelas perfeksionis tersebut semakin murka.
Apa yang kemudian dilakukan Lea membuat Yuni berdecak kagum. Teman sebangkunya sungguh memiliki tenaga ekstra untuk mengerjakan tugas piket.
Saking terlalu bersemangat, Lea mendorong sampah di lantai keras-keras sampai berserakan. Naas, gairah berapi-api Lea memakan korban. Semua kotoran beterbangan mengenai sepatu dan setengah celana orang yang berdiri kaku di ambang pintu.
“Ups!” Lea terkejut bukan main.
Spontan menutup mulut bersamaan dengan kaki mundur satu langkah, mengutuk diri sendiri akan kecerobohannya yang mendarah daging. Penasaran mengenai sosok sang ‘korban’, ia pun menaikkan pandangan. Mendengus karena hanya bisa melihat kemeja putih dikeluarkan tak rapi.
Inget Lea, kamu itu terlalu mungil. Lea menganggukkan kepala tatkala mendengar suara batinnya sendiri, tak ingin mengakui jika ia pendek. Sedikit mendesis ia pun mendongak, mengangkat dagu dengan wajah datar.
Namun, kedua netra gadis itu mendadak ingin lompat dari kelopak tatkala melihat sosok sasaran semangat Lea.
Hari apa sekarang? Oh Selasa ya,? Api dong? Duh, gak nyambung! Lea menelan ludah kasar menyadari hari itu adalah hari paling sial sepanjang sejarah.
__ADS_1
Sifat ceroboh memang membuat ia selalu tertimpa masalah, tapi kali ini cukup rumit. Bulu kuduk Lea meremang tatkala beradu pandang dengan wajah dingin seorang siswa jangkung, ‘si ganteng kalem’ julukan yang disematkan orang untuknya.
Kulit sawo matang, tubuh ranping tegap, rahang tegas, alis tebal dan tatapan tajam membuat ia hampir sempurna. Namun membuat Lea seketika menunduk sebab lelaki itu kian menghujamkan tombak es ke tubuh kecil Lea.
Napas Lea mendadak satu dua, ia telah salah memilih sasaran. Tak lama lagi keadaan akan berbalik dan menjadikan Lea sebagai satu-satunya korban disana.
Siapa yang tak kenal Elang, salah satu siswa populer di SMA Garut. Anak band, orang paling berpengaruh di Ekskul Seni Musik, dan juara umum tahun lalu. Akrab dengan semua lelaki baik disekolah dan dikenal sebagai pembenci wanita.
Elang, satu-satunya siswa tampan yang tak pernah memanfaatkan wajah untuk menaklukan lawan jenis. Bahkan cenderung menghindari mereka kecuali ada urusan penting.
Namun bukan perihal sikap dingin Elang menjadi masalah. Melainkan menurut rumor, orang itu selalu mendahulukan tinju daripada kata. Ia pupuler justru karena bogem besi yang telah mencicipi semua wajah anak badung di sekolah.
Lea melihat kedua tangan Elang terkepal kuat di samping tubuh. Ia belum pernah mendengar gosip kalau Elang pernah menyakiti perempuan, maka Lea yakin setelah ini ia akan jadi trending topic sebab menjadi gadis pertama yang dipukul Elang.
Sedetik kemudian, keberanian Lea mendadak muncul, mengingat sejak tiga bulan lalu mereka sekelas di kelas sebelas lelaki itu tak pernah jadi temannya. Elang kerap tampak marah saat tak sengaja berdekatan dengan Lea. Benar, untuk apa ia peduli? Toh dipukul sekali saja tak akan membuat ia mati. Mungkin.
“Kenapa hm?” Lea menengadahkan wajah. Memasang tampang segarang mungkin, namun jatuhnya malah lucu.
Yuni dibelakang Lea bahkan melihat kalau kedua tangan gadis itu gemetar hebat, memaksa diri mempersiapkan segala resiko berurusan dengan Elang.
Tak diduga, si pangeran es justru menyunggingkan senyum miring sesaat lalu kembali memasang tampang datar. Sengaja melangkah sambil menabrak bahu Lea dan menerobos masuk.
“Itu teman kita? Siapa sih dia?” Lea menyilangkan tangan di dada dengan tingkah sok angkuh. Padahal ia sungguh lega karena wajahnya berakhir mulus tanpa tergores sedikit pun.
“Setengah celana Elang kotor karenamu.” Yuni mengingatkan.
Lea mencebik, “Maksudmu aku harus minta maaf sama dia? Ih, gak banget.”
“Haaah kamu emang gitu, udah tahu kamu yang salah.” Yuni geleng-geleng melihat tingkah Lea yang kadang sok manja sekaligus keras kepala.
“Udah ah, bete.” Lea kembali melanjutkan menyapu lantai.
Kepala kecil gadis itu ingat saat pertama kali naik ke kelas sebelas. Setiap tahun komposisi kelas dirubah sehingga banyak yang belum saling mengenal akibat penempatan murid secara random.
Saat itu, ketika Lea memperkenalkan diri tak sengaja ia menjatuhkan bolpoin hingga menggelinding ke dekat kaki Elang. Lea minta tolong agar Elang bisa mengambilkan, namun jawaban lelaki itu membuat ia jadi benci hingga sekarang.
“Atas dasar apa lo berani bicara sama gua?” kalimat pertama dari Elang untuk Lea yang membuat ia ditegur Guru. Namun tentu saja si wajah datar tak menunjukkan penyesalan sama sekali.
“Yun, setan bernama Elang itu bukan pendendam kan?” Lea tiba-tiba mencekal tangan Yuni dengan wajah cemas ketika hayalannya berakhir. Ia semakin ketakutan ketika yang ditanya sekadar mengendikkan bahu sebagai jawaban.
__ADS_1
֎
“Gak ada delman yang mau ngangkut Sarah apa? Lima menit lagi mau masuk dia belum datang.” Lea berjinjit di pintu gerbang melongok ke luar, padahal gerbang masih terbuka lebar.
Winda sang sahabat karib setia menemani di sebelah dalam menanti gadis behijab sahabat mereka sejak SMP. Mereka bertiga beda kelas, jadi ketiganya hanya punya waktu bekumpul di luar jam belajar.
“Kan ada ojeg, masa dia nekat nungguin kuda pup dulu sih makanya lama?” timpal Winda memilin-milin rambutnya yang sudah keriting.
Satu-persatu wajah para siswa yang melewati gerbang mereka perhatikan. Berharap menemukan sosok gadis cantik berhijab mirip Barbie Muslimah diantara mereka.
Tak ada hujan tak ada angin, bahkan matahari pun bersinar cerah. Bulu kuduk Lea tiba-tiba meremang, merasa ada sepasang mata tengah mengawasi.
Segera Lea mengedar pandangan, melirik para siswa di sekitar yang sibuk dengan hajat masing-masing. Anehnya perasaan Lea begitu kuat kalau dirinya sedang diawasi.
“Sejak kapan sekolah jadi horor gini? Perasaan kemarin masih aman-aman aja.” bisik Lea mengusap tengkuk.
“Kamu belum sarapan ya? Panas gini dibilang horor.” Winda mengerutkan kening menatap heran Lea.
Namun, perasaan Lea bukan halusinasi belaka. Tepat dari bawah pohon cengkeh terakhir yang berjejer rapi dekat benteng sekolah ada sepasang mata tajam memperhatikannya.
Tak perlu diduga-duga lagi karena memang tepat tertuju pada Lea. Seketika, udara dingin mendadak menyelimuti permukaan kulit Lea tatkala tatapan sarat aura setan itu semakin menajam.
Elang menyender santai di batang pohon cengkeh, kedua tangan terlipat apik di dada. Tapi sorot dingin itu sama sekali tak sesantai gestur tubuhnya. Tatapan yang memiliki arti tersembunyi, seolah sedang menargetkan Lea menjadi samsak tinju.
Lea benar-benar tak nyaman dengan mata kelam Elang. Andai ia memang marah, sebaiknya langsung saja lampiaskan dengan satu pukulan sejak tadi.
Bukan malah mengintimidasi dengan tatapan penuh dendam. Membuat Lea berharap cemas menanti hari dimana ia akan menerima ‘eksekusi’ dari Elang.
“Hei! Malah bengong.” satu tepukan di pundak Lea membuat jantung gadis itu hampir kabur dari tempatnya. Si pelaku yang tiada lain adalah Sarah lantas mengikuti arah pandang Lea menuju kebun samping sekolah, “Liatin apaan sih? Serius amat.”
“Ada yang aneh, Le?” Winda ikut terheran.
“Eh… Nggak, nggak apa-apa kok,” Lea tergagap sambil melirik lagi ke bawah pohon cengkeh. Padahal ia hanya berpaling sesaat tapi Elang sudah tak nampak di tempatnya.
Tinggallah barisan pohon cengkeh dan melinjo saling berselang tanpa ada seorang siswa pun. Karena tempat itu memang tak pernah didatangi siswa. Kecuali hari ini, ia melihat Elang ada disana.
”Saya hanya sekadar melihat pepohonan kesepian... Kasihan.” decak Lea sekenanya, spontan dihadiahi toyoran Winda.
“Sok puitis banget!” cibir Sarah, lantas menarik tangan Lea dan Winda bersamaan, “Masuk yuk.”
__ADS_1
֎