
Pulang sekolah Lea menghampiri sepasang orang tua di sebuah Toko Kelontong sebelah rumah, dengan santun ia mencium kedua tangan malaikat yang hampir dihinggapi garis usia dalam wajah mereka.
Sebenarnya keluarga Lea berasal dari Bandung, namun mereka akhirya memutuskan pindah ke Garut setelah kakak Lea meninggal.
“Selamat sore Nyonya Hana dan Tuan Dira.”
“Hmm, kau mulai lagi.” Ayah Lea menjewer pelan telinga puterinya. Ia selalu gemas dengan tingkah si anak bungsu, apalagi sekarang Lea telah jadi anak tunggal.
“Ayah, Ibu, Lea bersihin badan dulu ya? Entar kalo beres baru Lea jaga Toko.” Lea menggerak-gerakkan badan, membujuk kedua orang tua dengan menunjukkan puppy eyes.
“Ya sudah sana.” Ibu mendorong pelan punggung Lea keluar toko, pura-pura marah. Namun tatkala Lea masuk ke dalam rumah, Ibu Lea mendadak melotot pada suaminya.
"Mas, kamu udah isi bak mandi belum?”
Bukannya menjawab, Ayah Lea malah mesem-mesem.
Lea tergesa menaruh tas di dalam kamar, berlari kecil menuju kamar mandi di belakang rumah. Tak sabar untuk segera menyiram badan lengket itu dengan air dingin.
Namun ia menunjukkan wajah kecewa tatkala mendapati bak mandi mereka kosong melompong. Kemarau yang terjadi selama sembilan bulan memang membuat bak mandinya selalu kering.
“Bagus...” Lea menggertakkan gigi, entah harus kesal pada siapa.
Segera ia mengambil dua buah ember untuk mengambil air dari penampungan mata air di kaki gunung. Tak jauh dari rumah Lea, hanya agak repot karena mungkin ia harus beberapa kali bolak balik agar bisa mengisi penuh bak mandi.
Desa dimana Lea tinggal bernama Haruman, sebuah desa kecil di Lembah Gunung Guntur dengan sebagian besar penduduk berprofesi sebagai petani, termasuk Dira sang Ketua RT yang tiada lain adalah Ayah Lea.
Desa Haruman adalah hasil dari membuka hutan oleh orang terdahulu, jadi bisa dibayangkan bagaimana sejuknya tempat tinggal Lea tersebut.
Tempat itu nyaman dan asri, sekeliling desa dipenuhi kebun Jeruk Garut, dilanjutkan dengan ladang penduduk yang ditanami beragam tanaman.
Sumber air berada di puncak Gunung Guntur, sehingga mereka tak terlalu kesulitan soal air meski kemarau panjang melanda. Setidaknya mereka masih beruntung, masih ada air mengalir meski sebesar ekor tikus. Tak seperti desa lain yang sudah benar-benar tak memiliki air.
“Hmm lumayan.” Lea datang dengan mengenakan kaos dan hotpants sambil menjinjing air memperhatikan antrean di bak penampungan.
Tak terlalu panjang seperti pagi hari. Namun, tetap saja, apa sih yang bisa diharapkan dari air sebesar kabel charger tersebut selain bersabar. Ada tiga orang ibu mengantre di depannya, mengurangi kejenuhan Lea ikut nimbrung pada obrolan ketiga ibu yang lebih banyak menggosipkan menantu mereka.
“Neng, kapan dong nikah? Ranti temen kamu aja udah punya anak dua tuh.” celetuk wanita tambun bernama Bu Heni ketika ia mulai mengisi ember.
“Lah? Sekolah aja belum beres, Bu.”
“Ngapain sekolah tinggi-tinggi? Di desa kita yang masuk SMA cuma kamu sama si Gilang anak Pak Lurah. Apa enggak percuma? Kan yang penting bisa nanem Jagung sama Cabai aja Neng, nerusin tani Pak Dira.” Sahut Bu Minah baru datang.
Lea hanya bisa tersenyum menanggapi obrolan mereka yang selalu sama setiap kali bertemu. Ya, memang sesederhana itu kehidupan Lea.
Hanya mendengarkan ocehan ibu-ibu rumpi sambil mengambil air selama beberapa kali bolak-balik. Berlanjut dengan makan bersama dan mengerjakan PR sambil menjaga Toko Kelontong. Jauh dari ingar bingar pusat kota tak membuat ia berharap yang muluk-muluk. Ketika teman-temannya sibuk memikirkan tempat tongkrongan bagus, Lea justru sudah cukup senang saat melihat bak mandi terisi penuh untuk digunakan esok hari.
֎
Pulang sekolah adalah hal paling tak menyenangkan bagi Elang. Entah sejak kapan hal itu terjadi, namun ia selalu enggan bertemu sang Mama.
Elang bersyukur ada Desi sepupunya ikut pindah ke Garut, paling tidak hal itu bisa mengurangi sikap diktator Mama Elang. Membuat ia bisa pergi kemana saja bersama Tri, Gentra, dan Adi. Karena fokus Mama Elang sedikit teralihkan dengan mengawasi dan menjaga Desi.
Seperti hari itu, Elang memacu motor dengan cepat diiringi ketiga sahabatnya menuju sebuah Kafe di pinggiran kota. Hal yang bisa membuat ia merasa bebas dari kekangan sang Mama hanya saat berada di atas motor.
__ADS_1
Para pelayan Kafe sudah mengenal Elang dkk dengan sangat baik, tak bisa dipungkiri tempat itu memang telah menjadi tempat berkumpul keempat sekawan tersebut selama satu tahun terakhir. Tiap mereka memesan makanan ringan, Hasan sang pelayan selalu diam-diam menyelipkan beberapa bungkus rokok pada empat orang yang selalu menyembunyikan seragam dengan jaket kulit lusuh tersebut. Mereka tak ingin berurusan lagi dengan sekolah karena selalu menyesap rokok dengan harga selangit.
“Lang, Bang Eka manggil.” Gentra menunjukkan layar ponsel pada Elang.
“Angkat aja.” Elang terlalu khusyuk menyesap asap dari sebatang rokok yang ia pegang.
Gentra mendekatkan ponsel itu ke telinga. Elang terus mengawasi apa yang mereka bicarakan. Lebih tepatnya ucapan seseorang bernama Bang Eka di seberang sana, sebab Gentra tak bicara sama sekali.
Ia hanya mendengar dengan seksama lantas mengangguk beberapa kali. awalnya wajah Gentra menegang, sesaat kemudian ia tersenyum dengan mata berbinar.
“Ada apa, Tra?” tanya Tri tak sabar ketika Gentra menyimpan kembali ponsel ke meja.
“Biasa, geng sebelah ngajak kencan di Limbangan.” Gentra menaik turunkan kedua alis. Orang yang dipanggil ‘mereka’ adalah geng musuh kelompok Elang, dengan sebagian anggota adalah para siswa dari sekolah seberang SMA Garut.
“Taruhannya apa?” Adi mencondongkan tubuh ke arah Gentra. Orang yang ditanya malah menatap Elang di sebelahnya.
“Motor Elang.” jawab Gentra singkat, refleks tangan Elang memukul kepala lelaki tinggi besar itu.
Tentu saja tak serius, ia bisa dicincang Elang kalau memang motor yang menjadi kekasih si wajah dingin menjadi taruhan. Gentra menghabiskan cola miliknya dalam sekali teguk,
“ Seperempat teritori, mereka pengen memperluas wilayah. Tapi kalau Elang yang maju kayaknya malah kita yang bakal dapet tambahan teritori.”
“Ogah ah, males.” Elang memalingkan wajah, menopang dagu dengan tangan.
Menyapukan pandangan keseluruh ruangan Kafe yang agak sepi. Menyesapi setiap gerak para pelayan, terkekeh sendiri melihat tingkah laku mereka. Semua palsu.
Kafe dan suasana itu hanyalah kamuflase belaka untuk menutupi operasi mereka yang sesungguhnya pada malam hari. Bar penyedia beragam jenis minuman beralkohol, pun beragam jenis wanita.
Sama seperti Elang, anak seorang tentara amat diandalkan di rumah. Pemimpin dalam Ekskul Seni Musik, si jenius yang dinobatkan menjadi juara umum. Satu lagi, siswa populer di Sekolah. Digilai banyak wanita namun tetap jomblo. Tapi semua itu topeng belaka, sekadar bungkus dari kebusukan Elang sesungguhnya.
Mulai dari mencoba rokok, sampai obat-obatan terlarang. Mabuk juga balapan liar bersama anak-anak berandal jadi kegiatan sehari-hari. Tak ketinggalan ikut tawuran dengan sekolah lain.
Awalnya semua Elang lakukan sebagai pelarian belaka dari sikap sikap sang Mama, namun lama-lama si lelaki haus kebebasan itu malah menikmati. Semakin hari semakin brutal tak terkendali, sementara seluruh keluarga tak tahu perihal keliaran Elang kecuali sepupunya Desi.
Saat di rumah ia adalah Erlangga, putera Pak Permana yang amat teladan dan berprestasi. Namun di luar rumah dialah Elang, seorang pemuda penakluk arena balapan dan mampu melayangkan seribu tinju.
Selama ini hanya Desi yang selalu susah payah melindungi Elang, mencegah lelaki itu dari rasa candu. Terus mengontrol pergaulan Elang dari belakang.
Lumayan juga, setidaknya ada tali kekang dari gadis itu pada leher Elang agar ia tak lepas kendali. Sebagai balasan, Elang akan siap berdiri disamping Desi kapan pun ia membutuhkan.
Ketika orang tua Desi meninggal, gadis itu mengajak Elang pindah ke Garut. Rumah lama keluarga Desi.
Masih teringat jelas apa yang Desi katakan pada Elang usai pemakaman kedua orang tuanya, dengan jiwa masih diselimuti kesedihan Desi memeluk erat pinggang sang sepupu dari samping.
“Sekarang aku hanya punya kamu, Lang. Ayo kita buka lembaran baru, tinggalkan mereka semua.”
Itulah awal kepindahan Elang ke Garut. Desi sangat berharap dengan kepindahan mereka, Elang bisa meninggalkan dunia lamanya. Sayang sekali hal itu tak terjadi.
Ketika tiba di Garut, Elang bertemu dengan Adi dan Tri. Bawahan Bang Eka sang ketua geng motor di Garut. Teman pertama Elang yakni Gentra juga jadi ikut terseret dalam pergaulan mereka.
Tentu saja disini ia malah meneruskan hobi, kecuali obat-obat yang masih sangat menggoda baginya. Desi sudah mewanti-wanti agar ia tak mendekati mereka lagi, dan Elang tak ingin mengecewakan gadis itu lebih dari sekarang.
“Woy! Malah ngeceng...” Adi menepuk pundak Elang sampai ia hampir terjatuh dari kursi, dengan malas Elang melirik teman-temannya yang ternyata sudah siap pergi.
__ADS_1
“Lah? Mau pada kemana nih?”
Tri dan Gentra menarik lengan Elang bersamaan, memaksanya bangkit.
Tanpa basa-basi mereka beranjak keluar Kafe setelah membayar makanan. Lantas meluncur membelah jalanan kota Garut sore itu menuju sebuah tempat.
Setelah membelokkan motor, Elang dan yang lain menyusuri jalan setapak. Kiri-kanan jalan merupakan perkebunan Pohon Kapas, membuat tak banyak orang menyadari ada jalan setapak ini. Motor mereka berhenti tepat di sebuah rumah besar di ujung perkebunan. Rumah Bang Eka, markas puluhan bawahan dari lelaki berusia dua puluh tujuh tahun itu.
Tak perlu basa basi, sang tetua ternyata sudah menunggu di teras rumah. Elang sedikit menyayangkan ia yang memilih menjadi ketua geng. Padahal dengan harta keluarga berlimpah ruah dan paras lebih dari alakadar, Bang Eka lebih pantas jadi seorang model atau pemain sinetron.
Kembali lagi pada penantian Bang Eka, ia sudah bersiap dengan teman-teman yang lain menuju lokasi ‘kencan’. Elang telah terbiasa menjadi pembalap andalan, sehingga memacu kencang motor di arena balapan bukanlah hal aneh lagi baginya.
Justru satu hal yang Elang nantikan adalah ketika mereka menang. Sesuatu hal besar dan menyenangkan pasti akan menanti di markas. Pesta miras.
֎
“Elang! Kau mau kemana lagi tengah malam begini?” Desi setengah berbisik menahan tangan Elang yang hendak melangkah keluar rumah di tengah malam.
Gadis berambut pendek dan berparas Dewi itu memandang Elang penuh kecemasan. Sang sepupu berbalik dan melepaskan tangan Desi dengan lembut.
“Hanya pergi sebentar, aku janji takkan mabuk hari ini.” Elang berucap sangat lembut penuh kesungguhan. Ia paham betul kalau Desi memang khawatir.
Awalnya Desi enggan membiarkan pergi, tapi melihat Elang begitu memberi tatapan meyakinkan, ia pun mengangguk juga. Yakin kalau sepupunya itu tak akan pernah ingkar janji.
“Jam satu aku akan ada disini lagi.” Elang memberi penegasan kalau ia akan segera kembali. Mengelus kepala Desi sejenak lalu mengenakan helm yang sejak tadi dijinjing. Keluar rumah dengan langkah secepat citah, deru motor halus ia yakini takkan membuat sang mama bangun tengah malam.
Elang menginjak gas membelah jalanan yang sepi. Semakin ia menuju arah pedesaan, semakin jarang kendaraan umum terlihat. Paling hanya beberapa bus malam menderu pelan melewati, atau kendaraan milik pribadi yang kemalaman di jalan. Itu pun hanya satu dua. Selebihnya, dialah penguasa jalanan.
Jauh dari ingar bingar perkotaan, Elang membelokkan motor ke jalan setapak.
Melewati beberapa rumah panggung penduduk dan hamparan kebun jeruk. Terus melaju menuju satu rumah tepat berada di kaki Gunung Guntur.
Elang melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan kalau keadaan benar-benar sepi. Tentu saja, tengah malam hanya ada derik jangkrik dan sesekali suara burung hantu yang terdengar. Pemuda pemberani itu mematikan mesin motor di depan sebuah rumah. Memperhatikan satu ruangan masih menyala, sedang ruangan lain telah gelap.
Mengendap -ngendap ia mendekat ke arah ruangan itu, merapatkan tubuh ke tembok. Berdiri tak jauh dari jendela. Itu adalah rumah Lea yang selama satu tahun terakhir ini sering ia kunjungi diam-diam.
Sayup-sayup ia mendengar suara senandung di dalam kamar, Elang tersenyum manis saat mendengarnya. Tangan lelaki itu bergegas terangkat menutupi satu gigi gingsul ketika ia tersenyum. Takut kalau keberadaannya diketahui dan malah disangka maling.
“Sudah gua duga, lo tidur larut kayak sebelumnya.” bisik Elang.
“Malam ini gua cuma kangen. Gua juga kesini pengen ngucapin, selamat malam Kiandra.”
Dunia Elang dan Lea memang terbatas jauh sekali perbedaan. Namun bukan Elang namanya jika tak menembus semua batasan. Menghancurkan segala dinding perbedaan dan tektek-bengeknya. Memenuhi tuntunan rasa ingin bertemu meski hanya ia sendiri yang merasakan.
Sepuluh menit lamanya bersandar pada tembok kamar Lea, ia telah merasa puas. Membasahi rasa rindu pada hati gersang Elang yang selalu muncul tanpa diduga. Menikmati setiap alunan senandung Lea saat gadis itu mengerjakan sesuatu.
Maka kini lelaki itu pun memutuskan untuk pergi. Kembali ke rumah memenuhi janji terhadap Desi yang sudah jelas masih menanti kepulangannya di rumah.
“Sampai jumpa besok, Kiandra. Maaf gua masih jadi Elang buruk rupa dan pengecut yang tak berani menampakkan diri di depan lo.”
Sementara itu Lea masih terjaga, sibuk memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas untuk dibawanya esok hari ke sekolah. Ia sempat terdiam karena mendengar suara kerosak dekat jendela kamar, namun ketika ia menengok keluar Lea tak melihat apa-apa.
Jadi ia mengabaikan dan segera melompat ke tempat tidur. Takut kalau lama-laga begadang malah jadi melihat hal-hal aneh yang membuatnya paranoid.
__ADS_1
֎