
"Duh, sialan.” kata-kata itu terlontar begitu saja dari bibir Lea saat sadar kalau buku tugas Matematikanya tak ada. Spontan ia melirik kiri kanan, takut ada pendengar umpatan Lea yang tak terkontrol. Aman.
Hanya saja masalah Lea saat ini adalah ketika sudah bertekad bulat akan mengumpulkan tugas, namun sepertinya buku itu tertinggal di Toko atau bisa jadi di kamar.
Padahal tadi pagi Lea sudah mengecek isi tas dan memastikan kalau semua buku jadwal hari ini sudah dibawa. Aneh, buku itu malah tertinggal lagi.
“Lea, kau menakjubkan. Seribu persen aku salut dengan kepikunanmu.” Yuni geleng-geleng kepala.
Sedang si teman sebangku sebatas nyengir mendengar pujian, atau lebih tepatnya cibiran. Lea menahan napas memperhatikan Bu Rahma yang mulai memeriksa satu persatu buku tugas sambil mengabsen.
“Kiandra Azalea!”
Bagus! Bu Rahma sudah memanggil nama Lea sebelum selesai memeriksa semua buku tugas, guru satu itu pasti sudah sangat muak terhadapnya. Entah hukuman apa lagi yang akan beliau berikan, mungkin kali ini mendapat skorsing?
Sebenarnya jika iya, maka itu baik sekali untuk Lea karena tak harus mengikuti pelajaran yang dibenci. Tapi tentu akan menjadi buruk bagi nilai pada rapor nanti, jika ada tanda merah di rapor maka tak mungkin lagi ia bisa lolos dari kelas sebelas dengan mudah.
“Keluar lagi ya, Bu?” tanya Lea gusar, menawarkan hukuman ringan untuk diri sendiri sebelum Bu Rahma memberi skorsing.
Bukannya menjawab, guru setengah baya itu malah tersenyum. Membuat Lea gemetar saja. sungguh senyum manis Bu Rahma ternyata lebih ngeri daripada amarahnya.
“Tentu tidak.” Bu Rahma menyodorkan sebuah buku pada Lea, “kerja bagus. Ibu kira kamu tak pernah mengerjakan tugas, tapi disini soal\-soal dari Ibu kamu kerjakan dengan baik. Ke depannya jangan tertinggal lagi ya.”
“I-iya, Bu.” Lea tergagap menerima buku tugas bersampul cokelat terlampau rapi.
Ia terheran, yakin sekali kalau buku itu bukanlah miliknya. Namun pada bagian depan sampul, tertera jelas nama lengkap Lea.
Sambil berjalan menuju bangku, Lea tak henti-hentinya memperhatikan buku aneh bin ajaib tersebut. Melirik sekilas teman-teman yang mungkin kehilangan buku tugas. Tapi Bu Rahma mengabsen nama-nama siswa kelas mereka dengan lengkap tanpa ada satu pun terlewat.
“Katanya buku kamu ketinggalan?” bisik Yuni ditengah pelajaran.
“Memang.” sahut Lea penuh keyakinan. Ia lantas membuka buku misterius itu di hadapan Yuni, “Ini bukan milikku, tulisannya pun jelas beda jauh denganku.”
“Wow! Rapi banget. Bener, kamu gak mungkin bisa nulis serapi itu.” Yuni manggut-manggut sendiri, Lea akui memang tulisannya seperti cakar ayam. Bahkan mungkin ia sendiri tak bisa membaca apa yang beberapa menit lalu ditulis.
Lea kemudian mengedar pandangan, mencari tahu mengenai orang yang diam-diam telah menyelamatkannya.
Tapi, tak seorang pun terlihat mencurigakan. Semua siswa nampak fokus memperhatikan Bu Rahma. Tidak sekarang, mungkin nanti ia akan menemukan. Bahkan bisa jadi saat pelajaran berakhir ada seseorang yang akan mengaku telah menolong Lea.
Kebingungan masih melanda, namun berkat buku itu ia akhirnya bisa mengikuti pelajaran Bu Rahma tanpa hambatan. Maka untuk sementara, Lea lebih memilih bersyukur atas bantuan tak terduga tersebut.
__ADS_1
֎
Arief dan Nandar menunggu Lea, Sarah juga Winda di Kantin. Keduanya sudah memesan bakso untuk Lea dkk. Tapi mereka yang ditunggu tak kunjung datang. Tak sabar, Arief memutuskan untuk menyusul Lea ke kelas. Membiarkan Nandar menjaga lima mangkuk bakso sendirian di Kantin.
Ia mendengus ketika melihat Lea dan kedua sahabatnya ternyata dihadang Rizal dekat kebun sekolah, beberapa meter dari kelas Lea. Pantas saja ketiga gadis itu tak kunjung datang ke Kantin.
Arief sempat ragu apa perlu mendekati mereka atau tidak. Sebab seperti kebanyakan siswa, ia juga takut pada Rizal yang urakan. Tapi dilain pihak ia tak bisa membiarkan Lea terus diganggu Rizal seperti itu.
Mengandalkan keberanian yang di ada-adakan, Arief pun mencoba menghampiri Rizal. Lelaki badung itu tengah cengengesan mendekati Lea. Sarah dan Winda sama sekali tak bisa berbuat apa-apa meski hanya menghadapi Rizal seorang diri.
“Zal. Biarin Lea pergi!” Arief mengepalkan kedua tangan, menghimpun nyali untuk menatap Rizal. Menempatkan tubuh diantara Rizal dan ketiga teman perempuannya. Si anak badung mendadak mengalihkan atensi pada Arief, menampakkan tatapan mata liar penuh dengan kemarahan.
“Oh, udah mulai berani lo ya?” Rizal berkacak pinggang, berjalan perlahan lebih mendekati Arief.
Begitu dramatis, ia dan keangkuhannya merasa jadi siswa paling ditakuti sejagat raya. Tentu, itu bukan bualan belaka. Memang secara nyata, aura yang dikeluarkan Rizal memang kelam dan menakutkan.
“Bu... bukan begitu...” Arief berusaha menghindari Rizal dengan melangkah mundur, nyalinya mendadak ciut.
Terlebih saat Rizal tiba-tiba menyambar kerah seragam Arief. Tangan sahabat Lea itu lantas naik untuk memegangi cengkraman Rizal, berusaha melepaskan genggam keras yang mulai menekan lehernya. Niat mau menolong, Arief justru malah terancam.
“Gimana nih?’ tanpa sadar Sarah mencengkram lengan Winda dan Lea.
“Sayaaang... Kalo mau nakutin yang bener dong.” ucap Rizal tanpa menoleh pada Lea sedikit pun.
Usaha Lea gagal total, Rizal lebih memandang horor Arief yang sudah gemetar ketakutan. Ia senang saat si lawan merasa lemah, maka lelaki itu mengambil ancang-ancang dengan mengangkat kepalan tangan kanan. Menghimpun kekuatan untuk ia hantamkan ke wajah mulus Arief.
Alis Rizal mendadak bertaut saat melihat wajah ketakutan Arief berubah sumringah. Segera lelaki itu melambaikan tangan seraya memperhatikan ke arah belakang tubuh Rizal,
“Hai, Lang.”
“Hmm.” suara berat seseorang menjawab sapaan Arief, ia adalah Elang.
Tak ketinggalan ketiga anteknya. Mereka sudah berdiri tepat disamping Lea. Rizal seketika menghempaskan Arief dan bergegas berbalik. Menggeram pada Elang yang memandangnya dingin.
“Gua gak punya urusan sama lo!” Rizal menunjuk tepat ke arah Elang, sesaat kemudian ia pergi dari tempatnya berdiri.
Menjauhi empat siswa yang sudah menyiapkan diri untuk bermain keroyokan.
Lea, Sarah, dan Winda mengulum senyum tatkala mendapati Rizal—orang paling ditakuti seantero—ternyata takut pada Elang.
__ADS_1
“Makasih ya, Lang.” Arief bangkit seraya penepuk pakaian yang sedikit kotor. Elang, seperti biasa sekadar mengangguk tanpa ekspresi. Arief lantas menghampiri ketiga teman perempuannya,
“Kalian gak apa-apa kan?”
“Enggak kok Rief.” jawab Winda diikuti gelengan kedua temannya, “Tapi tangan Lea agak lecet kena kuku Rizal tadi waktu dia narik paksa.”
Mendengar penuturan Winda, wajah Arief seketika menunjukkan ekspresi cemas. Ia lantas meraih tangan Lea dan memeriksanya. Membolak balik pergelangan tangan gadis itu. Benar saja, tepat di bawah ibu jari Lea terdapat beberapa luka gores yang hampir berdarah.
Sedang di lain pihak, Elang diam-diam menaruh atensi pada tangan Lea. Tri yang justru sejak tadi memperhatikan gelagat Elang, merasa aneh saat lelaki itu nampak gusar.
Meski tak terlalu kentara, namun Tri bisa menyimpulkan kalau Elang pun menaruh rasa cemas terhadap Lea sebagaimana Arief.
Ia lantas beralih pada tiga gadis di dekat Arief, saling melempar pandangan dengan Winda. Bersiap menggunakan modus ‘cara lama beraksi kembali’. Memberi perhatian tanpa ucapan, tapi menghantarkan tatapan hangat begitu dalam.
“Kita obati di Kantin, Nandar soalnya udah pesen makanan buat kalian juga.” ajak Arief, mengusapi luka gores Lea.
“Oke.” Lea mengangguk senang, bukan sebab perhatian Arief. Melainkan karena mendengar kata makanan telah dipesankan oleh Nandar.
Sungguh gangguan Rizal tadi membuat ia sangat lapar. Arief kemudian melepaskan tangan Lea dan melangkah mendekati Elang dkk.
“Kalian mau ikut kami ke kantin, aku yang terakir nih.” ajak Arief. Gentra, siswa tinggi gempal yang bersama Elang seketika mengangguk dengan sumringah. Tapi tangan Elang bergegas menahannya.
“Arief, kamu serius ngajak Elang?” celetuk Lea yang masih mengira Elang punya dendam karena peristiwa saat piket tempo hari, ia masih parno terhadap eksekusi si lelaki jangkung. Sesaat kemudian tatapan tajam Elang sangsung membungkamnya,
“Eh... Enggak maksudku...”
“Kalian duluan aja.” kata Elang tanpa mengalihkan tatapan dari Lea, “Gua khawatir ada yang gak bisa nelen makanan karena satu meja sama kami.”
Setelah berkata demikian Elang lantas mengajak yang lain untuk pergi dari hadapan Arief. Gentra menunjukkan gemeretak kesal pada Lea karena telah menghilangkan kesempatan untuk mendapat traktiran Arief.
Lea segera menyembunyikan diri dibalik tubuh Winda dan Sarah. Meski pun Elang sudah dua kali menolong temannya, tetap tak bisa mengubah pemikiran Lea kalau ia tak suka pada Elang.
“Rief, pokoknya lain kali gua tagih traktirannya.” teriak Gentra dari kejauhan.
“Oke. Haha.” Arief mengacungkan jempol lantas tertawa melihat Gentra yang ditimpuk ketiga temannya. Setelah Elang dkk tak terlihat lagi, Arief bergegas mengajak Lea,
Sarah, dan Winda menuju kantin. Menghampiri Nandar yang sudah menanti sampai kering sambil menjaga lima mangkok bakso.
֎
__ADS_1