
“Lea sayang!” seru Rizal berlari menuju Lea, Sarah dan Winda yang sedang asyik berbincang di tepi lapang basket.
Ketiga gadis yang sedang berkumpul itu mendadak memasang wajah pucat pasi. Mereka sudah pasti takkan sempat melarikan diri karena Rizal telah sangat dekat.
“Stop!” tiba-tiba seorang siswa datang menahan tubuh Rizal dengan kedua tangan, “Kamu ini selalu aja ganggu Lea.”
“Minggir!” Rizal menghempas siswa itu dengan mudah sampai ia terjatuh ke tanah.
“Arief!” pekik Lea, Winda, dan Sarah bersamaan.
Mereka mendapati Rizal melangkah mantap mendekati Lea. Tangan si lelaki badung terulur hendak menarik tangan Lea, namun gadis itu segera melangkah mundur sejauh mungkin.
“Ng... ngapain kamu?” tanya Lea gusar.
“Sayang, aku cuma pengen bicara sama kamu. Ikut aku yuk!” Rizal memasang sikap semanis mungkin di hadapannya.
“Gak mau!” Lea menolak keras. Bel masuk bahkan belum berbunyi, tapi mengapa pagi-pagi begini ia sudah mendapat banyak sekali gangguan.
Semakin Lea menolak semakin Rizal tertantang. Seraya menyeringai ia memajukan kaki kian mendekat pada si gadis pujaan. Lea bisa bernapas lega saat seorang siswa kurus menghampiri dan menahan bahu Rizal.
“Bos, gawat! Si Bobi dihajar Elang!” napas siswa itu terengah-engah.
“Apa?” mendengar kabar dari temannya, Rizal mendadak lupa pada tujuan awal berada disana.
Ia bergegas lari mengikuti sang pelapor yang sudah lebih dulu terbirit ke arah kebun sekolah. Rasa penasaran mendorong Arief, Lea, Sarah dan Winda untuk turut serta menyusul Rizal.
Jelas terjadi keributan, terbukti dengan beberapa siswa nampak berkerumun di kebun sekolah. Mereka berupaya melerai kedua orang yang sedang sibuk saling memukul, tiada lain yakni Elang dan Bobi.
Rizal yang baru tiba tanpa aba-aba langsung menarik seragam Elang dari belakang dan tak segan melayangkan pukulan ke wajah Elang. Membuat lelaki jangkung itu terhempas seketika karena mendapat serangan tak terduga. Sedang siswa yang sudah babak belur satunya langsung menghampiri Rizal.
“Berani-beraninya lo ngusik temen gua!” Rizal mengacungkan telunjuk ke wajah Elang yang masih duduk di tanah dengan beberapa memar.
Elang terkekeh seraya bangkit mengelap darah yang keluar dari ujung bibir, “Emang lo pikir gua gak berani gitu?”
Ia langsung menyongsong Rizal dengan mengepalkan tangan, begitu juga Rizal yang siap melayangkan pukulan kedua untuk Elang.
__ADS_1
Dua orang penuh amarah itu saling melempar tatapan tajam nan beringas. Lupa umur dan tempat, kalau mereka hanya dua bocah ingusan di sekolah. Sebelum keduanya bentrok, beberapa siswa segera menarik Elang dan Rizal agar saling menjauh.
“Udah cukup, Lang.” seorang siswa berkulit putih terang berkata dengan nada terlampau halus seraya memegangi pergelangan tangan Elang.
“Tapi, Tri...”
“Cukup.” ucapnya lagi setengah berbisik.
Ibarat tunduk pada seorang ayah, Elang mengusap wajah dengan kasar. Memijit keras-keras cuping hidung dengan telunjuk dan ibu jari, berusaha keras meredam amarah yang sudah merambat ke ubun-ubun.
Elang, dengan wajah merah menghampiri seorang siswa berkacamata, menepuk bahunya sesaat kemudian berlalu begitu saja. Mengabaikan makian frontal Rizal yang mengatakan kalau Elang pengecut.
Arief dan lainnya bergerak menghampiri siswa berkacamata.
“Kamu kenapa, Ndar?” Lea heran melihat sahabat Arief yang selalu menempel padanya itu gemetar. Sebelum Nandar buka suara, siswa tinggi berwajah sayu bernama Tri itu menghampiri mereka.
“Tadi si Bobi gangguin si culun ini, ampir aja dia dihajar. Untung Elang keburu liat, jadi begitu deh hasilnya.” terang Tri merasa tak perlu menjelaskan detailnya karena akhir kisah telah mereka lihat sendiri.
“Bener gitu, Dar?” tanya Arief, Nandar mengangguk pelan. Arief lantas memandang Tri penuh keramahan, “Sampaikan terimakasihku pada Elang karena undah nolong Nandar.”
Tri berlalu begitu saja disaksikan semua anak yang ada disana. Meski Lea tak kenal dengannya tapi ia pernah mendengar kalau Tri adalah orang paling bijaksana diantara geng Elang. Pernah terpilih sebagai Calon Ketua OSIS seminggu lalu, namun kalah dari Mulya dengan selisih satu suara.
Ia seorang siswa tampan, ramah, dan sangat baik hati. Tapi bukan geng Elang namanya kalau kebaikan itu bukan keramahan ‘sesat’. Bertolak belakang dengan Elang, ia adalah playboy berhati rusa di SMA Garut.
Lincah dalam hal tebar pesona sehingga banyak gadis bertekuk lutut dan bisa ia pacari lalu diputuskan setelah tiga hari. Anehnya orang-orang yang menjadi mantan Tri malah masih berharap untuk menjadi pacar. Salah satunya adalah Winda. Saat kelas sepuluh ia pernah termakan dengan rayuan si evil angel tersebut.
Lea memandang kepergian Tri dari belakang, menimang perihal Elang dan teman-temannya itu baik atau jahat. Selama ini ia selalu memukul rata semua anak badung, dimata Lea mereka semua sama-sama anak tak baik.
Tapi hari ini Elang menolong salah seorang temannya dari gangguan Bobi, membuat pandangan Lea terhadap geng Elang sedikit bergeser. Hanya sedikit.
“Tau ah, pusing!” seru Lea tiba-tiba sambil mengacak rambut.
“Pusing kenapa, Lea?” tanya Arief dengan nada cemas. Membuat Lea gelagapan karena tiba-tiba memikirkan Elang. Untuk mengalihkan perhatian ia malah menunjuk Winda.
“Pusing liat Winda merona gitu, jangan-jangan masih ngarep ya sama Tri?”
__ADS_1
“Ih? Mana ada?” Winda menggeplak lengan Lea. Lantas mengipasi wajahnya, membuat Lea dan yang lain malah semakin gencar menggoda. Pengalihan situasi sukses besar.
֎
Elang melihat sekeliling, entah kapan ia tiba di sebuah kelas kosong. Tersentak melihat di depannya berdiri seorang gadis pemilik dua netra bulat berkilauan.
Tatapan polos yang selalu mengintimidasi Elang. Ketika dalam heningnya mereka saling menatap, Elang justru mendengar berjuta makian. Siapa yang memaki? Ia sendiri. Elang selalu merasa jadi orang terhina di dunia jika dihadapkan dengan sepasang mata polos si mungil.
Kiandra Azalea, satu nama yang hampir saja mengoyak titel jomblo abadi Elang.
Selama ini Elang lebih dikenal sebagai orang dengan orientasi seksual menyimpang. Ia tak ambil pusing saat teman-teman menilainya seperti itu, justru Elang menjadikan hal itu sebagai ideologi sebab tak mau repot dengan urusan perasaan, emosi, terutama cinta. Sampai akhirnya seorang Kiandra Azalea membuat semua tersangkal. Elang sadar kalau ia adalah lelaki normal.
Teringat saat pertama kali menginjakkan kaki di SMA Garut. Masa orientasi membuat Elang yang baru pindah dari Jogjakarta mendapat teman baru. Kebetulan ia dan Lea satu kelompok, tapi mereka belum saling kenal.
Lea bukan gadis yang menonjol saat itu, dengan tubuh mungil dan sikap polos ia benar-benar seperti anak kecil.
Hal yang menarik perhatian, justru saat penutupan Mos. Semua saling bertukar hadiah dengan teman sebelah. Elang menyerahkan kado pada Lea, hadiah berisi buku tulis yang sepupunya buatkan semalam.
Sementara benda yang Elang terima dari si gadis mungil adalah kubus cantik dengan pita biru. Sial, saat Elang membukanya. Seekor katak hidup melompat begitu saja, membuat beberapa orang berjingkrak dan menjerit karena ada katak melompat di sekitar kaki mereka.
Elang sendiri masih terpaku, melirik Lea yang cengar-cengir sendiri melihat Panitia dan para OSIS sibuk menertibkan Peserta karena ulahnya. Memberi kode pada Elang dengan menempelkan jari ke bibir, meminta Elang agar diam ketika Ketua OSIS berteriak menggunakan pengeras suara mencari si pembuat ulah.
“Hidup itu penuh kejutan bukan?” Lea tersenyum hingga kedua matanya membentuk bulan sabit. Lantas bergerak menjauh dari Elang yang masih menelan ludah beberapa kali. tiga hari sekelompok, mereka tak pernah berinteraksi karena malas.
Ia kira Lea adalah gadis pendiam. Ternyata kepala kecil itu berisi otak sinting. Namun tak disangka, ayunan rambut Lea yang berjalan menjauh entah mengapa membuat jantung Elang berdebar hebat.
“Siapa namanya ya?” Elang bergumam, berpikir sesaat. Kemudian ia mengankat tangan hendak berseru, “Kiand...”
“LANG!” Tri berteriak keras tepat di telinga Elang. Lelaki yang dipanggil itu mengerjapkan mata. Ia baru sadar kalau ternyata dirinya tidur di belakang sekolah dengan posisi duduk dan bersandar pada tembok.
“Buseet dah, gua tidur?” Elang mengusap wajahnya yang kusut.
“Iya, lo udah berantem langsung molor gitu aja. Ke kelas gih, udah bel.”
֎
__ADS_1