
“Ngerti kan bedanya kalimat terbuka sama kalimat tertutup?” tanya Arief pada Lea yang masih sibuk menulis di buku catatannya. Lea mendongakkan kepala.
“Hmm, sedikit.” kata Lea tersipu. Arief menghela napas, padahal ia sudah menerangkannya dua kali. Namun Lea masih terlihat belum paham,
“Oke. Aku jelaskan dengan cara lain deh. Gini...”
Arief kembali menjelaskan materi pada Lea dengan sabar. Memang perlu kesabaran ekstra untuk membuat Lea memahami sesuatu.
Gadis itu sedikit lamban, namun setidaknya ada satu hal positif yang bisa Arief ambil. Setahun lebih berteman dengan Lea, ia terlatih jadi lelaki penyabar.
Diam-diam ayah dan ibu Lea memperhatikan mereka dari Toko. Nampak sekali kedua insan yang tengah lesehan di teras itu sangat akrab. Tak lupa Ayah mengingatkan kalau itu adalah Arief yang selama ini Lea andalkan agar ia tak salah mengira lagi Elang sebagai Arief.
“Lea, menurutmu Elang gimana?” tanya Arief ditengah pembahasan mereka. Lea menghentikan aktivitas dengan kening berkerut.
“Lho? Kok tiba-tiba nanyain Elang?” Lea menaruh pensil di meja, menutup buku catatan lantas memandang Arief yang menanti awaban.
“Dia kasar, angkuh, dan egois. Ya, meski pun dia udah nolong aku tapi tetap saja aku gak suka sama dia.
Aku udah cerita kan sama kamu, Nandar, Winda dan Sarah soal dia nganterin aku pulang? Aku sebenarnya gak nyangka, tapi dia emang datang. Aku sempat ngira dia bakal jadi temanku, tapi nyatanya enggak. Dia tetap angkuh dan aku tetap gak suka padanya.” jelas Lea panjang lebar.
Lancar sekali saat menceritakan keburukan orang, “Dia gak kayak kamu, Rief.”
“Jelaslah. Aku yakin kalau diriku yang terbaik untukmu.” seru Arief menepuk dada.
“Huuu pede!” Lea melempar penghapus ke kepala Arief, namun sesaat kemudian ia berdehem dan menatap Arief lurus,
“Tapi serius, satu-satunya cowok yang aku sayangi selain Papa hanya kamu Rief. Aku beneran sayang sama kamu.”
Seketika Arief bungkam, ada sesuatu yang meronta dalam hati. Padahal ia sendiri tahu pasti kalau sayang menurut Lea itu seperti apa, maksud Lea adalah sayang sebagai sahabat atau saudara. Tapi tetap saja Arief dibuat merona karenanya.
֎
Hari-hari penuh kesibukan berakhir juga, kini tibalah saat dimana seluruh Ekstra Kurikuler menampilkan kebolehan untuk menarik anggota dari para siswa baru. Setiap tahun memang acara inilah yang paling dinanti.
Pasalnya mereka bisa melihat semua kebolehan para siswa dalam satu hari sekaligus, dan lebih menyenangkan lagi meski mengenakan seragam tapi tidak ada jadwal belajar seharian penuh. Siswa yang sering bolos di hari biasa pun, pasti tak ingin ketinggalan untuk menghadiri hari ini.
Lea baru saja sembuh dari sakit, namun ia langsung di hadapkan dengan kesibukan dua Ekskul yang harus diurus. Pada Ekskul Dance ia termasuk orang paling diandalkan, di Ekskul Seni Musik pun Elang dengan sikap dinginnya terus menyeret Lea kesana kemari untuk membantu persiapan tim musik dalam pembukaan Gebyar.
Padahal mengurus Ekskul Musik bukanlah tanggung jawab Lea, tapi entah mengapa ia malah ikut terseret dalam kegiatan mereka hanya karena menjadi vokalis pengganti di Band Inti.
Bertepatan dengan Ekskul Musik yang sedang menampilkan musik tradisional, Band Inti sibuk merias diri. Mengenakan kostum serba hitam, pakaian itu menurut Lea sangat cocok dengan karakter setan Elang.
Lea mengenakan kaos dan rok pendek dengan jubah menjuntai hingga ke mata kaki, kostum itu biasanya dipakai Desi.
Lea meninggikan ikatan rambut, berencana menyemprotkan hairspray untuk menjaga rambut tetap rapi. Tanpa diduga Elang yang kebetulan lewat di belakangnya malah menarik ikatan rambut Lea dan membuat rambut sepunggung itu tergerai bebas, ia menyodorkan sebuah bando kecil ke tangan Lea.
__ADS_1
“Pake ini.” ucapnya tanpa ekspresi. Lea menurut tanpa membantah, tak ada yang dirasakan selain rasa gugup luar biasa. Ini adalah pertama kali ia akan bernyanyi di depan umum.
“Jadi, gadis kecil ini yang gantiin aku?” bentak Desi sang vokalis dengan suara serak menghampiri Lea yang sibuk memoles wajah dengan make up sederhana.
Semua orang di Ruang Musik langsung menghentikan aktivitas tatkala gadis itu menerobos masuk ke Ruang Band. Lea melirik Desi sesaat kemudian kembali melanjutkan acara bersoleknya.
“Cih! Gadis kecil sok cantik.”
“Kita ini seangkatan ya, jadi gak usah panggil gadis kecil segala.” Lea setengah membanting alat make up ke meja. Jelas-jelas dirinya yang direpotkan karena ketidak hadiran Desi.
Gadis berambut pendek dengan tubuh seindah dewi itu menghampiri Elang dengan langkah persis seorang primadona. Melihat sekilas ia memang amat rupawan, apalagi dengan wajah angkuh dan sorot mata tajam. Sungguh Elang versi perempuan.
“Aku sudah bilang, aku akan melakukannya.”
“Kau belum sembuh, kalau dipaksa radangmu bisa makin parah.” Elang penuh perhatian memegangi kedua bahu Desi, Lea sempat terkejut dengan perlakuan tersebut.
Elang begitu lembut dengan menyebut si macan putih sebagai ‘kamu’ bukan ‘lo’. Lea lantas melihat anggota lain, mereka nampak biasa saja menyaksikan hal demikian.
Karisma Desi memang luar biasa, wajar jika Elang sampai bertekuk lutut pun.
“Itu alasan kamu aja kan? Aku ngerasa kamu berubah akhir-akhir ini, pasti karena dia kan? Kamu ada rasa sama dia? Hah?” tuding Desi memandang Elang sengit, namun tangannya menunjuk mantap ke sebelah kanan, dimana Lea duduk membelakangi dan sibuk merias diri. Lea acuh tak acuh melihat interaksi antara Desi dan Elang melalui cermin.
“Ini bukan persoalan pribadi, aku hanya ingin band kita tampil.” lagi-lagi suara Elang merendah.
Membuat Lea menebak-nebak sejauh mana hubungan keduanya. Ia pernah mendengar dari Winda kalau Elang hanya cocok untuk Desi, seolah hanya gadis itu yang ditakdirkan untuk memiliki Elang. Namun tak pernah tersiar kabar mereka memang jadian, apalagi menggema dari si lambe turah kalau Elang memiliki penyimpangan seksual.
“Des, cuma kali ini saja. Gak ada yang mau nyingkirin lo dari sini.” Tri akhirnya angkat bicara.
Bersamaan dengan itu terlihat para pemain musik tradisional berdatangan ke Ruang Musik. Irwan yang datang bersama mereka langsung menghampiri Desi dan menjelaskan semua perihal Lea, ia mengerti Desi pasti takkan bisa menerima kehadiran Lea semudah itu. Reka juga turut meyakinkan Desi kalau Lea hanya sementara waktu.
“Giliran kita.” Gentra menepuk bahu Lea. Gadis itu bangkit, menatap Desi sesaat lalu melangkah mengikuti semua anggota yang mulai bergerak menuju lapangan dimana panggung berada. Ia sedikit kesal dengan semua ucapan Desi, namun juga merasa bersalah karena mengambil posisi gadis itu meski hanya sekali.
“Aduh!” pekik Lea pelan tatkala ia menabrak punggung Elang yang tiba-tiba berhenti.
“Mau mengacaukan semuanya?” Elang menoleh dengan tatapan dingin dan tajamnya. Membuat Lea semakin gugup dan ketakutan.
Seperti balita yang sedang dimarahi, gadis itu menunduk sambil menggeleng keras. Ia ingat sepanjang latihan dua hari terakhir Elang bersikap sangat kasar dan menakutkan. Mereka tak pernah berbicara santai sebab Elang selalu meluncurkan nada memerintah atau marah.
“Fokus makanya.” nada suara Elang masih saja tak bersahabat. Lea hanya menggigit bibir lantas mengangguk.
Sorak sorai penonton mengiringi langkah kaki personel Band Inti dalam meniti tangga menuju panggung. Beberapa penonton tampak menyebut satu persatu personel. Namun mereka sedikit bingung sebab band lokal anak SMA itu berganti vokalis. Maka Tri yang kini sebagai pemimpin menjelaskan perihal Lea dan Desi.
Setelah semua mengambil posisi yakni Gentra drum, Elang bass, Adi melody, dan Tri memegang keyboard, sedang Lea berada di tengah mereka. Maka dengan aba-aba Elang musik pun dimainkan.
Tiga lagu ciptaan Tri yang memang sudah sejak lama menjadi andalan mereka. Berkat latihan singkat dan keras yang dia jalani, Lea akhirnya mampu menyanyikan semua lagu dengan baik. Penampilan mereka bisa dikatakan sukses setelah mendengar Elang dengan wajah cerah mengucap terima kasih secara tulus pada semua personel saat mereka turun panggung dengan sorak sorai masih riuh.
__ADS_1
“Lea habis ini kita kum...”
“Tri waktuku sempit.” Lea dengan wajah memelas memotong ucapan Tri. Lelaki itu baru ingat kalau setelah ini Ekskul Dance akan tampil.
“Hm, oke. Semangat!” ucapan Tri mengantarkan Lea menuju ruang ganti di ujung Ruang Band.
Gadis itu mengganti pakaian dengan sebuah gaun penari Tanggo dengan dominasi warna merah menyala. Sedikit memberi bocoran pada anggota Ekskul Musik kalau Lea akan menarikan tarian klasik kali ini, hal yang sangat jarang dipertontonkan oleh Ekskul Dance karena mereka biasanya akan menampilkan modern dance.
“Tugasku sudah selesai sampai disini.” Lea menghampiri Irwan dan Reka.
“Terima kasih atas kerja samanya.” Reka menyalami Lea penuh keramahan.
Irwan lantas memegang kedua bahu Lea, “Aku berharap kau mau pindah ke Ekskul Musik. Kemarin-kemarin aku melihatmu membantu Elang, rasanya kombinasi Lea Elang sangat pas untuk mengkokohkan Ekskul ini.”
Lea tersenyum lebar mendengar penuturan Irwan, tapi sedetik kemudian ia memasang wajah sengit, “Aku dipaksa, kau juga tahu itu.”
Irwan melepaskan kedua bahu Lea dengan segan, sepertinya Lea tersinggung atas ucapannya barusan, “Ka-kau jadi sedikit mirip Elang.”
“Semuanya, aku pamit dulu. Terimakasih atas kerja samanya.” Lea tergesa menuju pintu, namun sebelum ia keluar ruangan Desi lebih dulu menahan sikut gadis itu.
“Jangan muncul lagi di hadapanku, apa lagi berharap gantiin aku. Huh enak aja.” Desi dengan kasar mendorong Lea ke meja rias hingga beberapa make up berjatuhan ke lantai.
Suasana mendadak hening melihat Desi bersikap kasar. Lea bangkit dan menatap Desi dengan rona penuh amarah, namun sesaat kemudian ia tersenyum miring.
“Aku anggap ini ucapan terima kasihmu.” Lea mendorong bahu Desi lantas merangsek keluar menuju teman-teman penarinya.
Sepeninggal Lea, Irwan langsung menegur perbuatan Desi yang menurutnya tak patut ia tunjukan. Sementara Elang justru berlari keluar ruangan, gelagapan berusaha mencari sosok Lea.
***
Setibanya di Aula tari, Lea langsung mengadukan semua perbuatan Desi pada Ririn. Ibarat seekor anak ayam yang mengadu pada induknya, ia dengan cerewet terus mengeluh soal Desi. Bukan membela, Ririn malah menertawakan lantas bersyukur.
“Kakak bersyukur karena kamu hanya berurusan dengan Desi, bukan bermasalah dengan Elang.” ralatnya melihat Lea cemberut. Cekikiknya membuat Lea kesal,
“Setidaknya kadar kekasaran Desi masih jauh dibawah Elang kan?”
“Mana kutahu.” Lea mendelik.
“Aku pernah melihat Elang menghajar seseorang dari awal sampai orang itu masuk UGD. Orang itu lebih tua darinya beberapa tahun.” cerita Ririn membuat Lea menutup mulut dengan tangan,
“Kau pasti takkan menduga kalau Elang itu bukanlah seorang anak SMA biasa. Nyali dan amukannya sama sekali tak kenal batas.”
Lea kembali mengingat saat dia dan Elang berlatih bersama, tegasnya luar biasa. Bahkan saat kesal, ia seolah bukan marah pada manusia. Elang sangat semena-mena.
Tapi tak terbayang kalau ternyata sifat buruk Elang melebihi apa yang terlihat. Selain tak suka, Lea kini jadi lebih takut pada Elang. Kengerian tatapan mata dingin Elang kembali terasa di sekujur tubuh Lea.
__ADS_1
“Dia benar-benar setan.”
֎