
Hari minggu, Lea masih bertengger di Toko Kelontongnya. Sekalian menunggu waktu berbuka tiba. Sambil menunggu pembeli, iseng-iseng ia menuliskan rencana pelatihan menari yang akan mengiringi lagu baru dari Irwan saat mereka buka bersama tiga hari lalu.
Sambil bersenandung, ia mencoret-coret kertas di atas etalase. Sesekali tersenyum mengingat yang berkembang bukan hanya Ekskul baru, melainkan juga hubungan dengan Elang.
Mungkin karena berada disatu bidang, mereka terasa jadi akrab. Ia sudah terbiasa mendapat tatapan aneh dari para siswi populer pun mulai terbiasa dengan sikap berubah-ubah lelaki itu.
Lea bahkan kadang refleks mencandai lelaki itu, karena tanggapan Elang pun tak sedingin dulu. Ia lebih lunak, lebih pengertian dan sedikit lebih baik.
Walau itu hanya berlaku padanya, tidak pada orang lain. Paling tidak, Lea sekarang bisa menyebut Elang sebagai salah satu teman baik.
“Eh?” sedang sibuknya memikirkan Elang, tiba-tiba ia seolah melihat siluet orang itu masuk ke dalam rumah. Cepat ia mengucak mata beberapa kali, namun yang ada hanya pintu rumah yang tertutup,
“Duh apa sih, kok malah kepikiran Elang?”
Sibuk mengenyahkan pikiran tentang Elang, tiba-tiba ponsel ayahnya yang tertinggal di toko berbunyi keras. Sebuah panggilan dari nomor tak bernama bertengger di layar ponsel.
Lea mengabaikan karena disangka orang iseng, Tapi nomor itu kembali menelepon tuk kedua kali. Terpaksa Lea angkat.
“Ya, hallo.” Lea nampak tak berminat.
“Hari ini kita beli alat tambahan, gua udah ijin ke Om Dira. Ayo pergi.” ucap suara berat di seberang.
“Apa?” Lea masih tak paham.
Tapi sesaat kemudian ia melihat sosok Elang ada di halaman rumah, melambaikan tangan kiri, dengan tangan kanan masih menempelkan ponsel ke telinga.
Ayah Lea berada tepat di sebelah lelaki itu, saling melempar senyuman dengan Elang melihat reaksi terkejut si gadis.
“Cepet siap-siap, gua tunggu.” Elang seketika mematikan ponsel.
Jantung Lea mendadak berdebar tak karuan. Bagaimana tidak, orang yang sedang ia pikirkan tiba-tiba saja muncul di dan mengajak ia pergi. Lea bergegas masuk ke rumah.
Hana sang ibu juga mengatakan kalau Elang sudah dari tadi ada di rumah mereka untuk meminta izin. Makanya Hana cepat-cepat datang ke Toko untuk menggantikan Lea.
֎
Sekali lagi Lea mematut diri di cermin. Celana jins, kaos dan kemeja tebal yang tak dikancing sebagai pengganti jaket. Parno jika memakai rok mengingat seberapa mengerikkan motor Elang.
Hati-hati ia menguncir rambut panjangnya, namun ia menggeleng dan kembali di urai. Tak sengaja ujung mata Lea melihat kerudung tergantung di balik pintu. Pemberian Arief. Netra gadis itu mendadak mengembun mengingat Arief.
__ADS_1
“Maaf, Rief. Aku belum bisa pake.” guammnya mengambil topi putih senada dengan kemeja di sebelah kerudung. Ia kenakan di kepala, lantas bergegas keluar kamar untuk pamit pada Dira.
Wajah Lea mendadak panas melihat Elang berdiri di dekat motor. Lelaki itu mengenakan jins dan kaos abu polos dengan lengan digulung sesikut. Menjadikan tubuh atletis dan dada bidang Elang tercetak sempurna.
Ia melangkah pelan sambil sesekali mengipasi wajah, menghampiri lelaki yang dengan gelisah beberapa kali melihat jam tangan.
“Lima belas menit gua matung disini.” Elang nampak menahan kesal.
“Kenapa gak nunggu di dalem aja?”
“Gua pikir gak akan selama itu, sayang.” Elang menggertakkan gigi. Namun kalimat terakhir Elang cukup membuat Lea geer sesaat. Setelahnya gadis itu segera tersadar kembali,
“Udah buruan, tar keburu magrib lagi.”
“Boleh aku bilang sesuatu?” tanya Lea saat Elang menyodorkan helm.
“Hmm.” lelaki itu masih sabar menanti si gadis siap naik ke motornya.
“Pernah terpikir olehmu enggak sih kalau aku tak sebanding dengan motormu ini? Aku tak suka joknya yang condong ke depan, membuatku tak nyaman saat tubuhku hampir berimpitan denganmu. Lagipula dengan motor Ninja dan helm ini aku berasa jadi toge tau gak?”
“Udah ngeluhnya?”
Elang tak segera melajukan motor, ia merapatkan helm dan menoleh ke belakang, “Helm itu udah gua jamin pas sama ukuran lo. Lagian lo masih belum nyaman aja setelah kita beberapa kali pelukan, mau gua peluk lebih sering sampe bikin lo nyaman?”
“Elang!” Lea memukul helm Elang dengan keras membuat lelaki itu terkekeh lantas segera melajukan motor secepat kilat.
Menikmati udara sore dengan melaju di atas motor sangat menyenangkan, apalagi udara begitu sejuk terasa. Rambut Lea yang menyembul dari balik helm tampak berkibar.
Kedua tangan mencengkram kuat pinggiran jaket kulit hitam milik Elang, menahan tubuh agar tak jatuh karena mereka berkendara dengan kecepatan tinggi.
֎
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Toko Alat Musik, Elang dan Lea disambut oleh pelayan bernama Fadly. Ia cukup ramah dan bersahabat, mengajak kedua pengunjung tersebut untuk berkeliling melihat-lihat alat musik untuk Marching Band.
Sesekali Elang bertanya pada Lea ketika ia memilih merek, gadis itu bertanya terlebih dahulu pada Fadly sebelum memberikan pendapat. Selalu seperti itu saat mereka mendatangi beberapa sudut penyedia peralatan.
Selagi Elang masih sibuk melihat-lihat Mellophone. Lea iseng mendekati sebuah Grand Piano. Sejak kecil ia bermimpi menjadi seorang pianis, hanya saja sejak masuk Ekskul Dance ia jadi lebih senang menari daripada berusaha bermain Piano yang jelas ia tak bisa miliki.
“Kalo pengen nyoba, ya coba aja.” Elang yang tiba-tiba datang mengagetkan Lea. gadis itu menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum tengil khasnya.
__ADS_1
“Kalau bisa udah dari tadi aku tetotet itu tutsnya.”
Elang tersenyum simpul, dengan halus ia menuntun Lea untuk duduk berdampingan di kursi pianis. Elang memijit beberapa nada dengan telunjuk seperti anak kecil yang baru belajar.
Semua berubah ketika sepuluh jari Elang terulur. Alunan melodi lembut mulai terdengar, begitu tenang dan perlahan. Namun semakin lama, Lea kian mengenali nada apa yang sedang Elang mainkan.
“Semua tentang kita, Peterpan?” terkanya. Lea menyunggingkan senyum lebar, “Ini lagu kesukaanku.”
“Gua tahu.” ucap Elang singkat sambil terus memainkan lagu tersebut dengan tempo lambat.
Tentu saja ia tahu, lagu itu selalu Lea senandungkan ketika Elang masih sering mengendap-ngendap ke depan jendela kamar si gadis di tengah malam dulu.
Lea menggerakkan bibir, bernyanyi diam-diam sambil mengikuti alunan musik piano. Sesekali memperhatikan Elang, mengingat dulu ia sangat benci dan takut pada Elang. jangankan berteman, bicara saja ia tak sudi mengingat seberapa buruk perangai lelaki itu ketika mereka kebetulan bertemu.
Hingga sekarang mereka menjadi dekat, Lea belum tahu pasti alasan mengapa dulu Elang tampak begitu emosi saat melihatnya.
Lea membenarkan ucapan Irwan dahulu, sebelumnya ia memang belum mengenal bagaimana Elang sama sekali. Tapi dengan perlahan, Lea sedikit bisa menilai orang seperti apa Elang. Walau kadang emosi Elang berubah-ubah dalam waktu singkat, ia merasa sangat aman saat di dekat Elang.
Jauh di sudut hati Lea, ia senang Elang bisa bersikap seperti baik, tertawa lepas dan mengutarakan apa pun yang ingin lelaki itu utarakan. Serta pandangan memusuhi yang sering ia dapatkan dulu dari Elang kini sudah tak pernah terlihat lagi.
Seusai memainkan satu lagu, Elang mencatat semua pesanan dalam secarik kertas lalu ia berikan pada Fadly. Mereka sepatakat kalau Fadly akan mengantaran alat-alat pesanan Elang ke sekolah esok hari.
“Hanya memesan?” Lea bertanya saat Elang mengajaknya keluar dari Toko tanpa membawa satu alat pun. Lelaki itu mengangguk.
Lea merasa dongkol sudah ikut dengan Elang, “Kalau begitu, kenapa ngajak aku segala?”
“Pengen aja.” lagi-lagi ia seenaknya.
Bersamaan dengan itu suara adzan maghrib berkumandang. Elang membeli sebotol air mineral dan sebungkus kolak pisang untuk mereka takjil. Saling berbagi, satu porsi berdua. Setelahnya, Lea mengajak Elang sembahyang di Mesjid terdekat.
“Gua emang full puasa, tapi gua…” Elang ragu-ragu saat Lea sudah melangkah ke teras Mesjid, “Jarang sholat.”
“Jarang bukan berarti tak pernah kan? Lagipula ini berjamaah, kau tinggal ikuti aja.”
Lea memberi dorongan, membuat lelaki itu mendadak salah tingkah. Ia mengelap seluruh pakaian dengan telapak tangan. Seolah apa yang ia kenakan begitu kotor, kemudian dengan was-was ia pun melangkah ke teras. Mengikuti jamaah lelaki menuju tempat wudlu.
֎
__ADS_1